NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Lumbung

"Bu, omongan Bapak ada benarnya. Kita nggak usah ke sana, ya? Uang sembilan puluh sembilan ribu ini lumayan banget, lho.

Toto, anak sulung mereka, mengangguk setuju mendengar ucapan bapaknya.

Baginya, uang segitu bisa buat modal jajan atau beli bensin motor bebeknya selama sebulan.

Namun, reaksi Bu Imah justru di luar dugaan.

Wajahnya memerah padam, napasnya memburu.

Ia menepis tangan suaminya dengan kasar.

"Istighfar, Pak! Toto, kamu juga! Kalian ini sudah gila, ya?" suara Bu Imah meninggi, membuat ayam di kandang samping rumah berkotek kaget.

"Kalian tahu sendiri gimana Nduk Tari, bisa menebak dengan tepat di mana simpanan kita yang hilang? Itu bukan kebetulan! Kalian mau nipu dia? Kalian nggak takut kualat? Nggak takut kesiku?"

Bu Imah mengatur napasnya yang tersengal, matanya berkaca-kaca.

"Kalau kalian berani macam-macam sama 'Anak Lumbung' itu, jangan salahkan kalau setahun ke depan kita kena sial terus-terusan! Nyawa taruhannya! Aku nggak setuju! Kalau Bapak tetap ngotot mau makan uang itu, ceraikan aku sekarang juga! Pulangkan aku ke rumah orang tuaku!"

Jantung Bu Imah berdegup kencang setelah melontarkan ancaman itu.

Pak Halim terperanjat.

Ia tak menyangka istrinya yang biasanya penurut bisa semarah ini, sampai berani minta cerai. Nyalinya langsung ciut.

"Duh, Bu... jangan ngomong sembarangan. Iya, iya, Bapak yang salah. Bapak khilaf, mata Bapak gelap lihat duit segitu." Pak Halim buru-buru memegang lengan istrinya, suaranya melunak.

"Kita sudah puluhan tahun bangun rumah tangga, masa mau pisah gara-gara duit? Besok pagi-pagi kita antar uang maharnya ke rumah Pak Kosasih, ya?"

Pak Halim memang sayang uang, tapi ia lebih takut kehilangan istrinya, dan sejujurnya, ngeri juga membayangkan kualat.

Bertahun-tahun mereka mencari simpanan uang dan emas warisan yang hilang itu, tapi bocah lima tahun bernama Sri Lestari alias Tari itu hanya perlu menunjuk arah sekali, dan barangnya ketemu.

Kalau dia nekat curang, bisa-bisa biaya berobat karena sakit atau sial malah jauh lebih besar dari sembilan puluh sembilan ribu rupiah.

"Uang simpanan kita kan sudah ketemu, jadi kita nggak susah-susah amat lagi. Selain bayar mahar ke Nduk Tari, besok kita mampir ke Toko Mas Binar Jaya. Bapak belikan kamu suweng, ya? Bapak minta maaf, Bu. Ini semua salah Bapak."

Pak Halim memungut beberapa lembar uang kertas pecahan besar dari kaleng biskuit Khong Guan, tempat rahasia mereka.

Tadi setan keserakahan memang sempat hinggap, tapi melihat air mata istrinya, akal sehatnya kembali.

Bu Imah menatap suaminya, mencari kejujuran di matanya.

Melihat penyesalan yang tulus, amarahnya perlahan surut.

"Asal Bapak janji nggak neko-neko lagi. Ingat, Pak, rezeki itu ada yang ngatur. Kalau hak orang, ya harus dikasih. Jangan makan nangka, orang lain kena getahnya."

Pak Halim mengangguk mantap, senyum kikuk tersungging di bibirnya di bawah sorot lampu petromak yang remang-remang.

"Iya, Bu. Bapak janji."

Suasana rumah kembali adem.

Bu Imah menoleh pada Toto.

"Kamu juga, To. Kalau rezeki kita lancar begini, lamaranmu ke anak Pak RT bisa segera kita urus."

Wajah Toto dan Pak Halim langsung cerah.

Beban di dada mereka rasanya terangkat.

Sementara itu, di rumah sederhana keluarga Hidayat.

Sri Lestari Hidayat, atau yang akrab dipanggil Tari, baru bangun tidur saat matahari sudah condong ke barat.

Cahaya sore yang keemasan menembus celah dinding gedek.

Ada sensasi hangat yang menjalar di dadanya.

Tari bisa merasakannya, energi halus yang mengalir dari rasa percaya orang-orang yang ia tolong.

Energinya yang sempat terkuras habis oleh bisnis Bapak kandungnya yang serakah, kini perlahan mulai terisi kembali. Napasnya terasa lebih lega, tidak seberat kemarin.

Tari berjalan gontai ke halaman belakang.

Di sana, para wanita sedang sibuk.

Budhe Mira, Mak Sari, dan ibunya tampak cekatan bekerja. Suara gesekan pisau dan obrolan ringan terdengar harmonis.

"Nduk, sudah bangun?" sapa Mak Sari hangat.

Tari tersenyum, lalu matanya menangkap sosok belang berbulu di dekat kandang ayam.

Itu Blorok, anjing kampung penjaga kebun mereka.

Blorok yang tadinya tidur-tiduran, langsung bangkit dan berlari menyambut Tari dengan ekor bergoyang heboh.

"Lihat tuh, Blorok seneng banget kalau Tari bangun," goda Budhe Mira sambil mengupas bawang.

"Tari main di sini aja ya, Bu? Mau nulis-nulis di tanah," pinta Tari.

"Iya, Nduk. Jangan jauh-jauh ya."

Tari mengambil ranting kayu, lalu mulai mencoret-coret tanah lempung yang agak keras.

Setelah beberapa saat, Tari menguap lagi.

Energinya memang belum pulih total.

Ia melirik Blorok yang kembali tidur mendengkur di dekat kakinya. Ide jahil muncul di kepala bocah lima tahun itu.

"Blorok, bangun!" Tari menggoyangkan tubuh si anjing.

"Ayo belajar baca! Biar kamu jadi anjing paling pinter sekecamatan!"

Tingkah polos Tari membuat orang-orang dewasa yang melihatnya tertawa renyah.

Kinar hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya.

Biarin aja, batinnya, asal dia bahagia.

Tari dengan telaten menunjuk huruf-huruf yang ia tulis di tanah.

"Ini A... Ini B..."

Blorok hanya menatap dengan mata sayu, sesekali menguap lebar, pasrah dijadikan murid dadakan oleh juragan ciliknya.

Tak lama kemudian, Kinar selesai membereskan pekerjaannya.

Ia menghampiri Tari, mengusap peluh di dahi anaknya.

"Tari, mau ikut Ibu jalan-jalan sebentar? Kita cari buah-buahan di pinggiran alas," ajak Kinar.

Mata Tari langsung berbinar.

"Mau, Bu! Mau!"

Sejak kembali ke desa, Kinar memang belum sempat mengajak anaknya melihat-lihat kebun dan pinggiran hutan.

Kinar mengambil tenggok kecil, menggendong Tari di punggungnya, lalu berjalan keluar pekarangan.

Sepanjang jalan desa, para tetangga menyapa ramah.

"Eh, Nduk Tari... mau ke mana sore-sore?"

"Makin seger aja anaknya, Mbak Kinar."

Tari menyembunyikan wajahnya di punggung ibunya, malu-malu.

Pipinya merona.

"Nanti kalau udah sampai jalan kebun, Tari turun ya, Bu. Tari berat lho," bisik Tari.

Kinar tertawa pelan.

"Iya, Sayang. Nanti di sana kamu jalan sendiri. Mumpung Ibu masih kuat gendong. Nanti kalau kamu sudah besar, Ibu yang nggak kuat."

Mendengar itu, hati Tari menghangat.

Kasih sayang Kinar begitu tulus, kontras dengan ayahnya di kota yang hanya melihatnya sebagai jimat keberuntungan.

"Budhe Kinar! Boleh ikut nggak?"

Suara cempreng anak-anak terdengar.

Itu Wati dan dua temannya, bocah-bocah desa seumuran Tari.

Mereka menatap Tari dengan penuh minat, ingin mengajak main anak baru itu.

"Boleh, yuk. Bantuin jagain Tari ya," jawab Kinar ramah.

Mereka melewati pematang sawah.

Di sana, Kang Jaka, masih sibuk menyiangi rumput liar.

Kinar tersenyum. Dulu, ia juga sering melakukan ini.

Sesampainya di pinggiran hutan, Kinar menurunkan Tari.

"Tari, pernah makan ini nggak?" Wati menyodorkan sebatang akar rumput yang sudah dibersihkan tanahnya.

Tari menggeleng.

"Ini namanya akar alang-alang, rasanya manis lho. Dikunyah aja, nanti ampasnya dilepeh," ajar Wati layaknya kakak senior.

Tari mencobanya.

Matanya membulat.

"Eh, iya manis!"

Kinar meninggalkan anak-anak bermain sebentar untuk masuk sedikit lebih dalam ke rimbunan semak.

Matanya yang jeli menyisir dedaunan.

"Alhamdulillah," gumamnya.

Ia menemukan apa yang dicerinya: Juwet.

Buah-buah kecil berwarna ungu gelap itu bergerombol, tampak ranum.

Kinar memetiknya dengan hati-hati. Sebagian masih ada yang merah, rasanya pasti asam, tapi cocok sekali untuk kakak iparnya, Mira, yang sedang ngidam.

"Musim hujan sebentar lagi datang," pikir Kinar sambil melihat langit.

"Nanti kalau tanah sudah basah, jamur pasti tumbuh banyak. Bisa buat tumis jamur kesukaan Tari."

Di desa, alam adalah pasar swalayan gratis asalkan kita rajin.

Saat sedang asyik memetik, telinga Kinar menangkap suara krasak-krusuk.

Ia menoleh dan melihat seekor ayam hutan jantan dengan bulu warna-warni mengkilap sedang mengepak-ngepakkan sayapnya, terjerat akar gantung yang kuat.

Rezeki nomplok!

Kinar dengan sigap menangkap ayam itu.

Ayamnya gemuk, sekitar satu kiloan lebih.

"Lumayan, buat bikin kaldu Tari biar badannya isi dikit," gumamnya senang. Ia mengikat kaki dan sayap ayam itu dengan tali rami yang selalu ia bawa, lalu memasukkannya ke dalam bakul, ditutupi daun pisang agar tidak stres.

Kinar keluar dari rimbunan semak dengan wajah sumringah.

"Budhe Kinar! Itu apa yang gerak-gerak di tenggok?" tanya Wati penasaran.

"Ayam hutan. Kejebak akar tadi," jawab Kinar sambil tersenyum.

Mata anak-anak itu langsung membelat.

Bagi anak desa, ayam hutan jantan adalah harta karun karena bulunya yang indah.

"Budhe, nanti kalau ayamnya dipotong, bulu ekornya buat aku ya? Mau bikin kok!" pinta Wati antusias.

"Iya, boleh. Nanti ambil aja di rumah," janji Kinar.

Ia kemudian membagikan juwet hasil petikannya.

Tari mendapatkan tangkai dengan buah paling ungu dan manis.

Tari mencicipi satu.

"Mmm! Manis, Bu! Ada asemnya dikit, seger!"

Kinar tersenyum puas.

Melihat matahari mulai tenggelam, ia mengajak pasukan kecil itu pulang.

"Yuk, balik. Keburu Maghrib."

Saat melewati jalan setapak dekat sawah, Kang Jaka sudah selesai bekerja.

Ia melihat adiknya menggendong bakul dan menggandeng Tari.

"Sini, Dik. Biar Tari sama temen-temennya Mas yang bawa," seru Kang Jaka.

Ia menurunkan pikulan bambunya.

Di satu sisi keranjang pikulan ada rumput gajah untuk ternak.

Sisi lainnya kosong.

"Ayo, Tari masuk sini. Wati, kamu muat nggak? Sini sekalian!"

Anak-anak itu bersorak girang.

Tari, Wati, dan satu temannya berdesakan masuk ke dalam keranjang bambu yang besar itu.

Kang Jaka dengan enteng mengangkat pikulan itu di bahunya. Otot-otot lengannya yang kecoklatan menegang, tanda kerja keras bertahun-tahun.

"Pegangan yang kenceng ya! Pesawat mau terbang! Wuuuzzz!" canda Kang Jaka sambil mempercepat langkahnya.

Gelak tawa Tari dan teman-temannya memecah kesunyian sore di pematang sawah.

Kinar berjalan di sampingnya, hati terasa penuh.

Sampai di rumah, suasana dapur sudah sibuk.

Aroma kayu bakar yang khas memenuhi udara.

"Masya Allah, dapet ayam alas, Dik?" tanya Budhe Mira saat Kinar mengeluarkan hasil tangkapannya.

"Iya, Mbak. Rezeki si Nduk. Sama ini, ada juwet. Asem-asem seger, cocok buat Mbak Mira," Kinar menyodorkan bungkusan daun jati berisi buah-buahan itu.

Mata Mira berbinar.

"Walah, pucuk dicinta ulam tiba. Dari kemarin pengen yang asem-asem. Makasih ya, Dik."

Sementara Kang Jaka membawa ayam hutan ke belakang untuk disembelih secara syar'i, Kinar dan Mak Sari mulai menyiapkan makan malam.

"Malam ini kita makan enak," kata Mak Sari sambil mengulek bumbu.

Tari duduk di dingklik di dapur, memandangi kesibukan itu.

Di sudut dapur, perapian menyala hangat.

Kinar sedang menyiapkan adonan bakso ikan, dagangan andalannya. Sisa adonan ikan itu ia sisihkan sedikit.

"Nduk, ini Ibu bikinin sup bola ikan ya. Biar nggak pedes," kata Kinar.

"Makasih, Ibu," jawab Tari.

Makan malam itu terasa istimewa.

Ada sup bola ikan hangat, nasi putih pulen dari sawah sendiri, dan sambal terasi.

Untuk Budhe Mira yang sedang hamil, dibuatkan versi yang lebih pedas sesuai seleranya.

"Abah Kung mana, Bu?" tanya Tari pada neneknya.

"Lagi sholat di langgar, bentar lagi pulang," jawab Mak Sari lembut.

"Ayo dimakan mumpung anget. Tari makan yang banyak ya, biar cepet gede, biar pinter kayak Abah."

Tari menyuap nasi dengan lahap.

Rasa sup ikannya gurih, ikannya terasa segar, tanpa penyedap buatan tapi rasanya jauh lebih nikmat dari makanan mahal di kota.

Setelah makan, Tari menyisihkan sedikit nasi dan kuah sup dan beberapa butir baso ikan ke dalam piring seng bekas.

Ia membawanya keluar.

"Blorok... makan..." panggilnya pelan.

Anjing itu datang sambil mengibas-ngibaskan ekor.

1
mom SRA
mengikuti alur nya dr awal upah segitu untuk buruh tani kemahalan Thor..itu upah buruh tani di desaku sekarang
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!