Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Retakan di Menara Gading
Suara tumpukan kertas yang menghantam lantai marmer menggema di seluruh penjuru penthouse. Map biru dengan logo Wardhana Group itu terbuka, memuntahkan lembaran rincian anggaran yang baru saja dipresentasikan siang tadi.
Hendra berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam. Dasinya sudah longgar, kemeja putih mahalnya kusut di bagian lengan—pemandangan yang jarang terlihat dari sosok yang selalu menjaga citra sempurna.
"Kamu pikir saya bodoh?" suara Hendra rendah, namun getarannya membuat Siska yang berdiri di dekat sofa mematung.
Siska mencoba tersenyum, senyum manis yang biasanya meluluhkan pria itu, tapi kali ini bibirnya gemetar. "Mas, aku bisa jelaskan. Itu salah suppliernya. Mereka kasih harga lama, aku belum sempat cek ulang karena buru-buru..."
"Enam puluh persen, Siska!" Hendra memotong, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Bau alkohol dan tembakau menguar tajam dari napasnya. "Mark-up enam puluh persen untuk marmer Italia yang ternyata cuma keramik kualitas dua? Kamu mau bikin saya masuk penjara? Atau mau bikin perusahaan saya bangkrut di depan klien?"
Siska mundur selangkah, tumit stilettonya membentur kaki meja. "Mas, aku cuma mau bantu. Aku pikir kalau kita pakai vendor itu, kita bisa dapat cashback buat dana darurat kamu. Kamu sendiri bilang cash flow lagi seret..."
"Jangan bawa-bawa cash flow saya!" bentak Hendra. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Bayangan Alana saat presentasi tadi siang kembali menghantuinya. Putri kandungnya sendiri, berdiri tegak dengan setelan abu-abu yang pas badan, menunjuk angka-angka itu dengan presisi seorang ahli bedah yang sedang mengamputasi kaki busuk.
Yang paling menyakitkan bagi Hendra bukan kehilangan muka di depan Pak Gunawan, melainkan fakta bahwa Alana benar. Data yang dibawa anak itu valid. Dan data yang disiapkan Siska adalah sampah.
Hendra berbalik, berjalan menuju minibar dan menuang wiski tanpa es. "Mulai besok, akses kamu ke keuangan proyek Blue Coral dicabut. Semua invoice, sekecil apa pun, harus lewat tanda tangan saya atau Direktur Keuangan."
Mata Siska membelalak. "Mas? Kamu nggak percaya sama aku? Setelah semua yang aku lakuin buat ngurus kamu? Rumah ini?"
"Ngurus?" Hendra tertawa sinis, lalu meneguk wiskinya sekali habis. "Kamu ngurus rumah ini pakai uang saya. Kamu beli tas-tas itu pakai uang perusahaan saya. Dan sekarang, kebodohan kamu hampir membuat saya kehilangan proyek triliunan. Diam, Siska. Saya pusing."
Hendra membanting pintu kamar utama, meninggalkan Siska sendirian di ruang tengah yang luas dan dingin. Siska menatap pintu tertutup itu dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal hingga kuku-kukunya yang terawat menancap di telapak tangan.
Posisi Siska tidak lagi aman. Keran uangnya baru saja ditutup paksa. Ia melirik tumpukan kertas di lantai—bukti ketidakmampuannya. Jika ia tidak bisa mengambil uang dari proyek, ia harus mencari cara lain untuk mengikat Hendra. Ia butuh jaminan yang lebih kuat daripada sekadar tubuh dan pelayanan di ranjang.
***
Di sisi lain kota, suasana kontras terjadi di dalam kabin sedan hitam milik Elang. Hening, namun bukan jenis keheningan yang mencekam seperti di penthouse Hendra. Ini adalah keheningan purna tugas.
Elang duduk di kursi belakang, mengetik sesuatu di tabletnya. Alana duduk di sebelahnya, memandang jalanan Jakarta yang basah sisa hujan sore tadi lewat jendela. Lampu-lampu gedung pencakar langit tampak kabur, seolah dunia sedang melaju terlalu cepat.
"Kamu tidak menyentuh makan malammu tadi," suara bariton Elang memecah lamunan Alana.
Alana menoleh. "Aku kenyang. Adrenalin ternyata cukup mengenyangkan."
Elang meletakkan tabletnya. Ia menatap Alana dengan tatapan analitis yang khas. "Presentasimu solid. Pak Gunawan terkesan. Bukan karena desainnya saja, tapi karena kamu berani membongkar borok kompetitor secara elegan. 'Efisiensi biaya' adalah bahasa cinta para investor."
"Itu ayahku, Lang," gumam Alana, lebih kepada dirinya sendiri.
"Itu kompetitor," koreksi Elang tegas. "Di ruang rapat tadi, tidak ada ayah dan anak. Yang ada hanya Wardhana Group dan Terra Architecture. Kalau kamu masih baper, kita berhenti sekarang."
Alana menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke jok kulit. "Aku nggak baper. Cuma... melihat wajahnya pucat saat aku tunjukkan data supplier fiktif itu... ada rasa puas yang aneh, tapi juga rasa mual."
"Itu namanya nurani. Simpan itu untuk kegiatan amal di akhir pekan. Di bisnis, itu beban," ujar Elang dingin, namun kemudian ia melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia membuka laci kecil di sandaran tangan, mengambil sebotol air mineral, membuka tutupnya, dan menyodorkannya pada Alana.
Alana menerima botol itu, jarinya sempat bersentuhan dengan jari Elang yang hangat.
"Minum. Kamu butuh cairan. Tanganmu gemetar sejak keluar dari gedung tadi," kata Elang, nadanya sedikit melunak meski wajahnya tetap datar.
Alana menatap tangannya sendiri. Benar, jemarinya bergetar halus. Ia meneguk air itu, merasakan dinginnya membasuh tenggorokan yang kering.
"Apa yang akan terjadi pada Siska?" tanya Alana setelah menghabiskan setengah botol.
"Hendra bukan orang bodoh. Dia serakah, tapi logis," jawab Elang. "Dia pasti sadar ada kebocoran dana. Siska akan dipersempit ruang geraknya. Dan tikus yang terpojok biasanya akan melakukan dua hal: lari, atau menggigit sembarangan."
"Aku harap dia menggigit," kata Alana, matanya kini menajam, getaran di tangannya berhenti. "Biar Ayah merasakan sakitnya dikhianati orang yang dia bela mati-matian."
Elang tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Bagus. Pertahankan kemarahan itu. Kita baru memenangkan satu pertempuran, Alana. Perangnya masih panjang. Besok pagi, datang ke kantor saya jam delapan. Tim legal saya sudah menyiapkan draf kontrak untuk PT Terra. Kita akan formalkan struktur perusahaanmu agar Hendra tidak bisa lagi menyerang lewat jalur hukum ecek-ecek."
Mobil berhenti di depan lobi apartemen Alana.
"Terima kasih, Lang," ucap Alana tulus sebelum membuka pintu.
"Jangan lupa," Elang menahan pintu sejenak. "Mulai besok, kamu bukan lagi Alana yang diusir dari rumah. Kamu adalah Alana, CEO Terra Architecture. Berpakaianlah dan bicaralah sesuai peran itu."
***
Alana masuk ke unit apartemennya. Gelap. Ia tidak menyalakan lampu, membiarkan cahaya kota dari jendela besar menjadi satu-satunya penerangan.
Ia melempar tas kerjanya ke sofa, lalu berjalan menuju cermin besar di lorong. Bayangannya terpantul samar. Ia melihat setelan blazer mahal yang dibelikan Rini menggunakan kartu kredit perusahaan Elang. Rambutnya yang dulu panjang terurai kini dipotong bob sebahu, memberikan kesan tegas dan dewasa.
Ia menyentuh pipinya. Dulu, pipi ini basah oleh air mata saat memohon pada ayahnya agar tidak diusir. Hari ini, pipi ini kering. Matanya tidak lagi menyiratkan ketakutan, melainkan perhitungan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rini.
*"Mbak Al, info dari 'orang dalam' di rumah SCBD. Barusan Pak Hendra teriak-teriak marah besar. Bu Siska nangis-nangis di ruang tengah. Kayaknya bom yang Mbak lempar tadi siang meledak sukses."*
Alana membaca pesan itu tanpa ekspresi. Dulu, ia mungkin akan merasa kasihan. Siska adalah sahabatnya. Siska pernah meminjamkan bahu saat Alana putus cinta semasa kuliah. Siska pernah menjadi saudari yang tak dimilikinya.
Tapi ingatan itu langsung tertutup oleh bayangan Siska yang memakai antingnya di mobil ayahnya. Siska yang merendahkannya saat ia jadi drafter miskin.
Alana mengetik balasan singkat: *"Pantau terus. Cari tahu apakah Siska menghubungi seseorang malam ini."*
Ia meletakkan ponsel, lalu berjalan ke dapur kecilnya. Ia membuka kulkas yang nyaris kosong, hanya ada susu dan telur. Kontras sekali dengan dapur penthouse yang penuh makanan impor.
Namun, saat ia menggoreng telur dadar sederhana malam itu, Alana merasakan ketenangan. Ini telurnya. Ini wajannya. Ini apartemennya (meski sewaan Elang). Tidak ada yang bisa mengusirnya malam ini.
Ia duduk di kursi bar, memakan telur dadar dengan nasi hangat. Suapan pertama terasa hambar, tapi suapan kedua terasa seperti kemenangan.
"Satu langkah, Pa," bisiknya pada kesunyian ruangan. "Baru satu langkah."
***
Di saat yang sama, di kamar mandi tamu penthouse SCBD, Siska duduk di atas kloset tertutup. Pintu terkunci rapat. Air keran wastafel dinyalakan deras untuk menyamarkan suara pembicaraan.
Ia menempelkan ponsel ke telinga dengan tangan gemetar.
"Halo? Ini aku," bisik Siska.
"..."
"Jangan tanya kenapa aku nelpon malam-malam. Dengerin, Hendra nutup aksesku. Proyek itu gagal total gara-gara anak sialan itu."
"..."
"Nggak! Kita nggak bisa berhenti sekarang. Kalau aku nggak setor, utang judiku gimana? Orang-orangmu bakal diem kan?"
"..."
"Bangsat!" Siska memaki tertahan. "Oke, oke. Kasih aku waktu. Aku bakal cari cara lain. Ada aset pribadi Hendra yang nggak masuk pembukuan perusahaan. Lukisan-lukisan lama, jam tangan... Aku akan cicil dari situ."
Siska memutus sambungan telepon dengan kasar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Riasannya luntur, matanya merah. Ia terlihat tua dan lelah.
Ia membuka laci wastafel, mencari obat penenang yang biasa ia sembunyikan di balik kotak kapas. Saat mengaduk-aduk isi laci, tangannya menyenggol sebuah kotak kecil.
Kotak tes kehamilan yang ia beli dua bulan lalu, yang hasilnya negatif.
Siska menatap kotak itu lama. Sebuah ide gila, namun mungkin satu-satunya jalan keluar, mulai tumbuh di benaknya. Hendra terobsesi dengan pewaris laki-laki. Obsesi yang tidak pernah bisa dipenuhi oleh mendiang istri pertamanya yang hanya melahirkan Alana.
Jika ia tidak bisa mengikat Hendra dengan kecantikan atau bisnis, ia akan mengikatnya dengan darah. Atau setidaknya, ilusi tentang darah.
Siska mengambil kotak itu, meremasnya kuat-kuat hingga kardusnya penyok. Bibirnya melengkung membentuk senyum miring yang mengerikan.
"Kita lihat siapa yang menang nanti, Alana," desisnya pada cermin. "Kamu punya otak, tapi aku punya rahim."