NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Konkrit

Esok paginya, udara di rumah itu terasa seperti kaca yang akan pecah. Amara bangun dengan kepala dingin dan tekad yang membatu. Dia melihat wajahnya di cermin: garis-garis kelelahan ada di sana, tetapi di baliknya, sebuah ketegasan baru membentuk sudut-sudut rahang dan lekuk bibirnya.

Dia tidak lagi wanita yang tersesat. Dia adalah seorang arsitek yang baru saja menemukan bahwa fondasi rumahnya telah digerogoti rayap; tugasnya sekarang adalah merancang ulang, memperkuat, atau—jika perlu—merobohkan.

Dia mengenakan pakaian zirahnya: kemeja putih linen yang sedikit oversized, celana trousers hitam yang jatuh sempurna di sepatu boots kulit hitam flat.

Dia mengikat rambutnya ke belakang dengan rapat, dan memakai anting-anting perak sederhana berbentuk paku. Dia ingin terlihat tak terbaca, tak tersentuh.

Di meja sarapan, Rafa sedang membaca berita di tabletnya. Yuni dengan cekatan mengoleskan selai pada roti Luna.

“Aku ada meeting dengan klien seharian,” ucap Amara, suaranya datar dan jelas.

“Aku akan menginap di Bandung malam ini untuk survei lokasi proyek Clara.”

Rafa mengangkat pandangannya, sedikit terkejut. “Bandung? Sendirian? Malam ini?”

“Ya. Sudah dijadwalkan. Luna baik-baik saja dengan Yuni, kan?” Dia menatap langsung ke arah Yuni. Tatapannya dingin, tajam.

Yuni tersenyum kaku, sedikit gelagapan.

“Tentu, Bu. Tenang saja.”

“Bagus,” kata Amara, lalu memalingkan muka.

“Aku berangkat.”

Dia tidak memberikan ruang untuk tanya lebih lanjut. Di mobil, dia mengambil ponsel dan menelepon Sari.

“Sar, butuh bantuan.”

“Apa yang terjadi? Suaramu aneh.”

“Aku butuh tempat untuk bernapas. Bisa aku menginap di tempatmu malam ini? Bukan untuk nangis. Untuk berpikir.”

“Tentu saja. Pintu selalu terbuka. Mau gue jemput?”

“Tidak. Aku akan ke Bandung dulu, urusan kerjaan. Nanti malam aku ke rumahmu.”

“Oke. Gue tunggu. Dan Mara… apapun itu, kita hadapi.”

Suara Sari yang solid seperti batu karang memberikan sedikit kehangatan di tengah kedinginannya.

Perjalanan ke Bandung diisi dengan meeting produktif dengan tim produksi Clara di sebuah workshop di daerah Dago. Amara, dengan fokus yang luar biasa, membahas detail teknis material, pola, dan tenggat waktu.

Dia tidak membiarkan emosinya mengganggu profesionalismenya. Justru, pekerjaan ini menjadi pelarian yang sehat—sebuah dunia di mana dia masih memiliki kendali penuh, di mana hasilnya hanya bergantung pada keahlian dan kerja kerasnya, bukan pada pengkhianatan orang lain.

Usai meeting, dia mengunjungi sebuah butik konsep di Braga yang menjadi inspirasi untuk koleksinya. Dia menyusuri rak-rak, meraba tekstur kain, memotret detail jahitan.

Di tengah-tengah itu, pikirannya bekerja dengan dingin. Dia tidak lagi terluka oleh gambar Rafa dan Yuni. Sekarang, itu adalah data. Sebuah fakta yang harus dihadapi dengan strategi.

Dia membeli sebuah notebook kulit baru—bukan untuk sketsa, tapi untuk perencanaan. Di halaman pertama, dia menulis dengan huruf kapital tebal: RENCANA A.

Sore hari, dia kembali ke Jakarta, tetapi tidak ke rumah. Dia menuju klinik dr. Oka. Proyek Ibu Dewi sudah masuk tahap akhir perencanaan, dan dia ingin memastikan semua detail di lapangan sebelum kontraktor mulai bekerja besok.

Saat dia tiba, Ibu Dewi sudah menunggu dengan wajah berseri-seri.

“Bu Amara! Kontraktornya sudah siap. Mereka bilang desainnya sangat detail, jadi mudah dikerjakan.”

“Alhamdulillah,” jawab Amara sambil membuka tas kerjanya. Dia mengenakan safety vest kuning yang disediakan, dan sepatu boots-nya yang sudah cocok untuk lokasi kerja.

Mereka masuk ke dalam ruang tunggu yang sedang dikosongkan. Suara bor dan palu berdentum. Debu beterbangan di udara yang diterangi sinar matahari sore yang masuk melalui jendela.

Amara langsung bekerja. Dia memeriksa titik-titik listrik yang baru dipasang, memastikan posisinya sesuai dengan rencana pencahayaan. Dia mengukur ulang sebuah dinding pembatas yang akan dirobohkan sebagian.

Dia berbicara dengan mandor, menjelaskan dengan sabar dan tegas tentang jenis cat yang harus digunakan (zero VOC, ramah anak) dan cara pemasangan panel akustik yang dia desain khusus.

“Ini bukan sekadar ganti cat, Pak,” jelasnya pada mandor yang terkesan.

“Kita menciptakan suasana. Jadi setiap detail, dari warna hingga tekstur, harus tepat.”

Ibu Dewi memperhatikannya dengan kagum.

“Anda lain sekali saat bekerja, Bu Amara. Sangat… berwibawa.”

Amara tersenyum tipis. “Ini bidang saya, Bu. Di sini saya tahu apa yang saya lakukan.”

Di tengah-tengah diskusi tentang jenis kayu untuk reception desk, ponsel Amara bergetar.

Sebuah pesan dari Rafa: “Sudah sampai Bandung? Hati-hati di sana.”

Dia membaca pesan itu, perutnya mual. Kepalsuan itu begitu mencolok sekarang. Dia tidak membalas. Biarkan dia bertanya-tanya.

Beberapa jam berlalu. Klinik itu perlahan mulai menampakkan wujud baru sesuai desainnya. Dinding lama yang suram sudah terkelupas, membuka ruang untuk cahaya dan kemungkinan baru. Melihat transformasi itu memberikan Amara kepuasan yang dalam. Ini yang bisa kukendalikan. Ini yang bisa kuperbaiki.

Saat hendak berpamitan, Ibu Dewi menariknya ke samping. “Bu Amara, ada sesuatu. Suami saya punya kenalan, seorang pengacara spesialis hukum keluarga. Sangat baik dan diskret. Namanya Bapak Handoko.

Barangkali… suatu saat Anda butuh.” Dia menyelipkan sebuah kartu nama ke tangan Amara, matanya penuh dengan pengertian yang tak terucap. Mungkin sebagai seorang wanita, Ibu Dewi bisa merasakan ada badai di balik ketenangan Amara.

Amara memegang kartu itu erat-erat. Sebuah jembatan yang tak terduga. “Terima kasih, Bu Dewi. Ini… sangat berarti.”

“Kita wanita harus saling mendukung,” bisik Ibu Dewi, memeluknya sebentar.

Pelukan itu hampir membuat Amara menangis, tapi dia menahan. Belum waktunya.

Malam telah turun ketika Amara akhirnya tiba di apartemen Sari di kawasan Kemang. Apartemen studio itu berantakan namun hidup—penuh dengan cetakan foto, buku seni, tanaman gantung, dan aroma kopi serta dupa.

“Welcome to chaos,” sambut Sari, membukakan pintu. Dia langsung menyodorkan segelas anggur merah. “Minum dulu. Lalu cerita.”

Amara duduk di sofa yang dipenuhi bantal, melepas sepatu bootsnya. Dia minum anggurnya dalam satu tegukan, lalu mengeluarkan notebook kulit barunya dan foto yang dia ambil dari kamar Yuni. Dia meletakkannya di atas meja kopi.

Sari mengambil foto itu, matanya membesar. “Apa ini?”

“Rafa dan Yuni. Diambil mungkin dua tahun lalu. Dan ini,” Amara membuka notebook, menunjukkan daftar yang dia buat: Jadwal Yuni, pola pulang Rafa, barang-barang pribadi di kamar Yuni, pernyataan bank terpisah, pengacara.

“Dia berselingkuh dengan asisten rumah tanggamu?” Sari hampir tercekik. “Dasar bajingan tingkat dewa!”

“Dan terapisnya, Dian? Mungkin benar ada. Tapi itu hanya kedok yang lebih meyakinkan untuk menutupi perselingkuhan yang sebenarnya dengan Yuni. Atau mungkin, dia berselingkuh dengan keduanya. Tidak penting. Intinya, dia pengkhianat yang berbohong dengan sangat baik.”

Sari duduk di depannya, wajahnya marah.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan membangun bentengku dulu,” jawab Amara, suaranya tenang namun berisi baja.

“Pertama, finansial. Aku sudah mulai menghasilkan dari proyek-proyek ini. Aku akan buka rekening terpisah. Kedua, bukti. Aku akan kumpulkan lebih banyak bukti, dengan hati-hati. Ketiga, dukungan hukum.”

Dia menunjukkan kartu nama dari Ibu Dewi. “Dan yang paling penting: Luna. Aku harus memastikan langkah-langkahku tidak melukainya, dan bahwa hak asuh ada di tanganku.”

“Kau butuh detektif swasta?” tanya Sari.

“Mungkin nanti. Untuk sekarang, aku punya akses ke rumah. Aku akan lebih observatif. Dan… aku akan mulai menjauhkan diriku secara emosional. Aku tidak akan lagi mempercayai sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.”

Sari menggeleng-geleng, masih tak percaya.

“Yuni… selama ini. Dia merawat Luna. Itu yang membuatku ngeri.”

“Aku tahu. Itu bagian dari rencanaku. Aku harus mencari pengganti Yuni yang bisa dipercaya, sebelum aku mengusirnya. Tapi itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati, agar Rafa tidak curiga.”

Mereka berdua membahas strategi hingga larut malam. Sari menjadi sounding board yang sempurna, memberikan ide, mengingatkan risiko. Di apartemen yang berantakan namun penuh cermat persahabatan ini, Amara merasa aman. Ini adalah markasnya.

Keesokan paginya, Amara kembali ke rumah seolah-olah baru pulang dari Bandung. Dia membawa oleh-oleh untuk Luna, bertukar cerita ringan dengan Rafa. Dia memainkan perannya dengan sempurna: istri yang sibuk dengan pekerjaan, sedikit lelah, namun tidak dingin.

Dia bahkan bertanya tentang “terapinya”, dengan kepura-puraan yang membuatnya sendiri ingin muntak.

Rafa tampak lega, mungkin mengira krisis telah berlalu. Yuni menghindari kontak mata, tetapi Amara tak peduli.

Satu minggu kemudian, di tengah kesibukan proyek klinik yang mulai dieksekusi dan revisi desain untuk Clara, Amara mengambil langkah konkret.

Dia menemui Bapak Handoko, pengacara yang direkomendasikan Ibu Dewi, di sebuah kafe yang tenang. Pria paruh baya dengan kacamata itu mendengarkan dengan seksama, tanpa penghakiman.

“Ibu perlu mengumpulkan bukti finansial bahwa Ibu juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap rumah tangga, dan sekarang mulai mandiri."

"Simpan semua kontrak dan bukti pembayaran dari proyek Ibu. Untuk perselingkuhan… foto itu awal yang baik, tapi kita butuh lebih."

"Rekaman percakapan, bukti transaksi, atau pengakuan. Tapi hati-hati, jangan sampai melanggar hukum. Fokus dulu pada pengamanan aset dan hak asuh.”

Dia keluar dari pertemuan itu dengan langkah lebih ringan. Ada jalan. Ada prosedur. Dia tidak sendirian.

Pada akhir minggu, saat mengawasi pemasangan lampu di klinik, Amara menerima telepon dari Clara.

“Mara, moodboard finalmu luar biasa. Itu… itu berdarah dan indah. Persis seperti yang kumau. Aku kirimkan advance payment-nya ya. Besar. Kau pantas menerimanya.”

Saat notifikasi transfer masuk ke rekening barunya yang rahasia, Amara merasa sebuah kekuatan baru mengalir. Ini lebih dari uang. Ini adalah validasi bahwa dia bisa berdiri sendiri. Bahwa bakatnya adalah mata pencaharian, bukan sekadar hobi.

Malam itu, di rumah, saat Rafa bercerita tentang rencana liburan keluarga (sebuah upaya rekonsiliasi yang telat), Amara hanya tersenyum tipis dan berkata, “Kita lihat nanti, aku tengah sangat sibuk dengan deadline.”

Dia melihat sedikit kekecewaan di mata Rafa, dan kepuasan yang dingin menyelimuti hatinya. Biarkan dia merasakan sedikit dari penantian dan ketidakpastian yang telah dia timpakan padanya selama bertahun-tahun.

Di kamarnya, Amara membuka notebook-nya. Di halaman RENCANA A, dia memberi tanda centang pada beberapa poin:

Bangun kemandirian finansial.

Temukan pengacara.

Amankan bukti awal.

Cari pengganti Yuni.

Kumpulkan bukti lebih kuat.

Siapkan mental Luna.

Dia menatap daftar itu. Perjalanan masih panjang. Rasa sakit itu masih ada, menggerogoti di suatu tempat yang dalam. Tapi sekarang, rasa sakit itu telah diubah menjadi bahan bakar. Menjadi motivasi untuk setiap garis yang dia gambar, setiap negosiasi dengan kontraktor, setiap langkah yang dia ambil menuju kebebasan.

Rumah mereka mungkin masih berdiri, tapi benteng pribadi Amara sudah dibangun. Kokoh. Tak tergoyahkan. Dan dari dalam benteng itu, dia mulai merencanakan penyelamatan dirinya dan putrinya—apa pun yang terjadi pada bangunan bernama pernikahan yang sudah lapuk itu.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!