Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Naga Udara
Cahaya putih membutakan meledak di dalam kabin pesawat tempur Naga Laut saat petir raksasa menghujam antena luar dan mengalir melalui bilah Bailong-Jian. Li Wei meraung, seluruh ototnya menegang kaku layaknya kawat baja yang ditarik hingga titik putus. Arus listrik jutaan volt itu merobek sistem sarafnya yang baru saja mulai pulih dari racun saraf, menciptakan sensasi terbakar yang jauh lebih hebat dari api mana pun yang pernah ia rasakan.
"Li Wei! Bertahanlah!" Chen Xi menjerit, namun suaranya segera tenggelam oleh dentuman guntur yang mengguncang badan pesawat.
Tubuh Li Wei bergetar hebat di tengah pusaran energi. Dragon Heart di dalam dadanya berdenyut liar, mencoba menyerap lonjakan daya yang tidak masuk akal itu untuk melakukan reboot paksa pada sistem Neuro-Sync-nya. Di bawah kakinya, sirkuit pesawat mulai mendesis, menyerap energi sisa dari tubuh Li Wei untuk menghidupkan kembali turbin yang sempat mati suri.
"Xiao Hu... pindah ke... kemudi!" Li Wei terengah, suaranya bercampur dengan desis listrik yang keluar dari mulutnya.
"Tapi Kak, aku tidak bisa! Aku hanya mekanik!" Xiao Hu menangis, memegangi kursi kopilot tempat Chen Xi merosot tak berdaya.
"Kau harus bisa!" Li Wei memaksakan matanya terbuka, menatap Xiao Hu melalui kabut rasa sakit. "Chen Xi pingsan karena trauma gas saraf... hanya kau satu-satunya yang tersisa. Pegang kemudinya... sekarang!"
Xiao Hu gemetar hebat, namun saat melihat drone-drone pengejar Kekaisaran mulai mengunci posisi mereka dengan laser merah yang menembus kaca kokpit, ia merangkak ke kursi pilot. Tangan kecilnya menggenggam tuas kendali yang terasa terlalu besar baginya.
"Aktifkan protokol... Naga Laut," bisik Li Wei, ia berlutut di lantai kabin, membiarkan pedangnya tetap menempel pada terminal energi. "Biarkan sistem pesawat... membaca chip saraf Chen Xi... meskipun dia pingsan. Aku akan menyuplai dayanya."
"Sistem meminta otorisasi manual, Kak Li Wei!" Xiao Hu berteriak panik saat layar hologram di depannya berkedip merah. "Ada banyak peringatan kerusakan!"
"Abaikan peringatannya! Tarik tuasnya ke atas... sekarang!"
Xiao Hu memejamkan mata dan menarik tuas kendali sekuat tenaga. Pesawat itu melonjak tajam, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat tulang-tulang mereka terasa seperti akan remuk. Di luar, barisan drone L2 Kekaisaran melepaskan rentetan tembakan kinetik yang menghantam perisai energi pesawat yang masih belum stabil.
"Terlalu banyak drone, Kak! Mereka mengepung kita!" Xiao Hu menangis sambil berusaha menstabilkan pesawat di tengah badai.
Li Wei merasakan detak jantungnya bersinkronisasi dengan mesin pesawat. Melalui hubungan listrik yang menyakitkan ini, ia bisa merasakan posisi setiap drone di sekitarnya. Ini bukan lagi sekadar penglihatan, melainkan pemetaan sensorik yang melampaui batas manusia.
"Jangan gunakan senjata utama... amunisi kita habis," perintah Li Wei, keringat dingin bercampur darah menetes dari dahinya. "Aku akan melepaskan EMP... dari sisa petir ini. Xiao Hu, saat aku memberi aba-aba... matikan semua sistem listrik selama tiga detik."
"Tapi kita akan jatuh kalau mesinnya mati, Kak!"
"Hanya tiga detik, Xiao Hu! Percayalah padaku!"
Li Wei mengumpulkan seluruh energi yang tersisa di dalam sel-sel sarafnya. Ia membiarkan Dragon Heart mencapai ambang batas overload. Pedang Bailong-Jian di tangannya mulai memancarkan cahaya biru pekat yang meretakkan lantai kabin.
"Sekarang! Matikan!"
Xiao Hu menekan tombol pemutus arus utama. Seketika, pesawat itu menjadi gelap gulita dan mulai jatuh bebas di tengah badai. Pada saat yang sama, Li Wei menghantamkan pedangnya ke lantai logam pesawat. Gelombang kejut elektromagnetik terpancar keluar, menyebar melingkar seperti riak air di danau yang tenang.
Drone-drone Kekaisaran yang berada dalam radius seratus meter mendadak mati total. Lampu-lampu indikator mereka padam, dan satu per satu mesin terbang itu jatuh seperti batu menuju kegelapan di bawah sana.
"Hidupkan lagi! Sekarang!" Li Wei berteriak dengan sisa tenaganya.
Mesin pesawat menderu kembali saat Xiao Hu memutar kunci daya. Mereka kembali stabil hanya beberapa puluh meter sebelum menghantam puncak gedung pencakar langit di pinggiran kota.
"Kita berhasil? Kita berhasil melampaui mereka?" Xiao Hu bertanya dengan napas memburu.
Li Wei tidak menjawab. Ia tersungkur sepenuhnya di lantai kabin, pedangnya terlepas dari genggamannya. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam, dan ia bisa merasakan sistem NS-nya mulai mengalami kerusakan permanen.
"Kak Li Wei! Bangun!" Xiao Hu meninggalkan kemudi sejenak untuk menghampiri Li Wei.
"Kembali ke kursi... Xiao Hu," bisik Li Wei, matanya mulai meredup. "Lihat ke depan... kita hampir sampai di perbatasan Hutan Nadir."
"Tapi pesawat ini mengeluarkan asap hitam, Kak! Mesin kanannya terbakar!"
Li Wei menatap ke luar jendela. Langit yang tadinya dipenuhi kilat kini mulai menampakkan hamparan hijau gelap yang luas di kejauhan. Itu adalah Hutan Nadir, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan mereka, namun kini justru terlihat seperti kawah maut yang siap menelan mereka.
"Lihat... langit tak luas lagi bagi kita," gumam Li Wei saat melihat indikator ketinggian pesawat menurun drastis secara otomatis.
"Kak Chen Xi belum bangun juga! Aku takut, Kak!" Xiao Hu memeluk lengan Li Wei yang masih dialiri sisa listrik statis.
"Jangan takut," Li Wei mencoba mengelus kepala Xiao Hu dengan tangan yang gemetar. "Kau sudah menjadi pilot yang hebat. Sekarang... arahkan pesawat ini ke bagian hutan yang paling lebat. Kita harus mendarat... entah bagaimana caranya."
Tiba-tiba, sebuah ledakan hebat mengguncang sayap kiri pesawat. Sebuah drone elit yang berhasil selamat dari EMP tadi telah melepaskan rudal pelacak terakhirnya. Pesawat tempur Naga Laut itu berputar tak terkendali, meluncur turun menuju lautan pohon di bawah sana.
Suara gesekan logam yang memekakkan telinga merobek keheningan kabin saat sayap kiri pesawat menghantam dahan-dahan raksasa Hutan Nadir. Guncangan hebat melemparkan Li Wei dari posisinya, menghantam dinding baja kabin hingga pandangannya menjadi gelap sesaat. Di depan, Xiao Hu menjerit seraya sekuat tenaga menarik tuas kemudi, mencoba mengangkat hidung pesawat agar mereka tidak menghujam tanah secara vertikal.
"Bertahan, Xiao Hu! Jangan lepaskan!" Li Wei meraung, mencoba merangkak di lantai yang miring tajam.
"Sistemnya mati total, Kak! Aku tidak bisa mengendalikannya lagi!" Xiao Hu berteriak di tengah suara alarm yang melengking panjang sebelum akhirnya padam karena sirkuit pusat terbakar habis.
Pesawat itu kini hanyalah sebongkah logam panas yang jatuh bebas. Li Wei melihat Chen Xi yang masih pingsan mulai terlepas dari sabuk pengamannya. Dengan sisa tenaga terakhir, Li Wei melompat, memeluk tubuh wanita itu dan menggunakan punggung zirahnya sendiri sebagai bantalan saat pesawat akhirnya menabrak permukaan bumi dengan dentuman yang menggetarkan seluruh hutan.
Keheningan yang mencekam menyusul kemudian. Hanya terdengar desis uap panas dari mesin yang hancur dan suara gemeretak api yang mulai melahap sisa bahan bakar di sayap pesawat. Cahaya kemerahan dari kebakaran kecil di luar menerobos masuk melalui retakan badan pesawat, menyinari debu dan asap yang memenuhi kabin.
"Xiao Hu..." bisik Li Wei pelan. Paru-parunya terasa sesak, dan setiap kali ia mencoba bergerak, rasa nyeri yang tajam menusuk tulang belakangnya.
"Aku di sini, Kak..." suara Xiao Hu terdengar lemah dari balik reruntuhan kursi kokpit. Gadis kecil itu merangkak keluar dengan wajah yang bersimbah debu, namun ia tampak tidak mengalami luka serius berkat sistem keamanan pasif kursi pilot yang sempat aktif di detik terakhir.
Li Wei menghela napas lega. Ia melonggarkan pelukannya pada Chen Xi, memastikan wanita itu masih bernapas meskipun denyut nadinya sangat lemah. "Bantu aku... memindahkannya keluar. Pesawat ini bisa meledak kapan saja."
Dengan usaha yang sangat berat, mereka berdua menyeret tubuh Chen Xi keluar melalui robekan besar di sisi pesawat. Udara hutan yang lembap dan berbau tanah basah menyambut mereka, kontras dengan bau oli dan logam terbakar di dalam kabin. Mereka terbaring di atas hamparan lumut tebal, menatap bangkai pesawat yang kini tersangkut di antara batang-batang pohon raksasa yang hangus.
"Kita di mana, Kak Li Wei?" tanya Xiao Hu pelan, matanya menatap pepohonan yang menjulang tinggi secara tidak alami, tertutup oleh kabel-kabel bio-mekanis yang berdenyut pelan di kegelapan.
"Hutan Nadir," jawab Li Wei singkat. Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia melihat ke bawah, ke arah pedang Bailong-Jian yang tersampir di pinggangnya. Bilah pedang perak itu kini dipenuhi retakan halus berwarna keunguan akibat beban listrik petir yang ia salurkan tadi.
"Kakak terluka parah," Xiao Hu mendekat, menyentuh zirah Li Wei yang retak. "Darahnya keluar banyak sekali."
"Hanya luka permukaan," dusta Li Wei, meski ia tahu sistem saraf pusatnya sedang berada di ambang kolaps. "Xiao Hu, periksa sisa perlengkapan di dekat pintu kargo yang jatuh itu. Kita butuh obat-obatan untuk Chen Xi."
Xiao Hu mengangguk patuh dan berlari kecil menuju serpihan pesawat. Li Wei bersandar pada sebatang pohon, menatap langit di atas celah hutan yang mulai tertutup kabut hitam. Suara-suara aneh mulai terdengar dari kejauhan—suara gesekan logam pada kayu dan raungan rendah yang tidak terdengar seperti binatang organik.
"Hutan ini memakan teknologi..." gumam Li Wei teringat peringatan di arsip intelijen Kekaisaran yang pernah ia baca. Segala sesuatu yang memiliki sirkuit di tempat ini akan mengalami degradasi cepat.
Li Wei melihat ke arah Chen Xi yang mulai merintih dalam tidurnya. Wajah wanita itu dipenuhi keringat dingin. Tanpa dukungan peralatan medis di pesawat, kondisi Chen Xi akan terus memburuk akibat sisa racun saraf yang belum sepenuhnya ternetralkan oleh filter darah darurat tadi.
"Kak Li Wei! Aku menemukan tas medis dan beberapa biskuit!" Xiao Hu kembali dengan wajah sedikit lebih cerah. "Tapi... baterai di senter ini mendadak mati."
"Jangan gunakan senter," cegah Li Wei. "Cahaya akan mengundang sesuatu yang lebih buruk dari drone."
Li Wei mengambil kain pembalut dari tas medis dan mulai membalut luka di paha Chen Xi yang terkena serpihan logam. Tangannya gemetar, bukan hanya karena luka, tapi karena rasa takut yang mulai merayapi hatinya—ketakutan bahwa ia tidak akan cukup kuat untuk melindungi mereka berdua di tempat yang terkutuk ini.
"Kenapa kita masih hidup, Kak?" Xiao Hu bertanya tiba-tiba, duduk bersila di samping Li Wei sambil memandangi api yang perlahan padam di bangkai pesawat.
Li Wei terdiam sejenak. Ia memandangi tangannya yang kasar dan penuh bekas luka, lalu memandangi Xiao Hu yang tampak begitu kecil di bawah bayang-bayang hutan raksasa. "Mungkin karena dunia belum selesai menyiksa kita. Atau mungkin... karena ada sesuatu yang harus kita selesaikan."
"Aku ingin kita pulang," bisik Xiao Hu dengan mata berkaca-kaca. "Pulang ke tempat yang tidak ada asapnya."
"Kita akan menemukannya," janji Li Wei, meski ia sendiri tidak tahu ke arah mana mereka harus melangkah.
Tiba-tiba, semak-semak di depan mereka berdesir hebat. Li Wei dengan refleks cepat menarik Bailong-Jian, meski pedang itu mengeluarkan suara peringatan dari sistem internalnya yang rusak. Dua titik merah menyala muncul dari balik kegelapan hutan, menatap mereka dengan penuh rasa lapar.
"Xiao Hu, berdiri di belakangku," desis Li Wei, posisi berdirinya kini tidak stabil, namun tatapan matanya kembali berubah menjadi dingin—tatapan sang Algojo yang tidak akan membiarkan apa pun menyentuh sisa kemanusiaan yang ia miliki.