Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Rumah Orang Tua
Hujan masih deres banget waktu Nayara sampe di depan rumah orang tuanya. Rumah kecil satu lantai cat hijau muda yang udah pudar. Pager besi berkarat. Halaman sempit penuh tanaman ibu dalam pot-pot bekas.
Nayara turun dari angkot sambil gendong Aldi yang nangis kenceng karena kehujanan. Bajunya basah semua Air hujan campur air mata di pipinya sampe dia gak tau mana yang mana.
Tas ranselnya berat banget di punggung. Satu tangan gendong Aldi satu tangan bawa tas yang lain. Kakinya gemetaran jalan ke pintu
Belum sempet ketuk pintu, pintunya udah kebuka.
Bu Siti berdiri di sana. Rambutnya diiket asal, kain batik kusut, wajahnya kaget campur khawatir.
"Ya Allah, Nayara! Kamu kenapa basah kuyup gini?" Bu Siti langsung tarik Nayara masuk
"Bu," Nayara cuma bisa bilang satu kata itu. Terus nangis. Nangis keras sampe tubuhnya gemetaran hebat.
"Astaga nak, kenapa kamu? Aldi juga basah semua! Sini sini masuk dulu!" Bu Siti panik. Ambil Aldi dari gendongan Nayara. Bayinya nangis kejer, muka merah, badan dingin.
Pak Hasan keluar dari kamar pake sarung sama kaos putih Matanya langsung melotot. "Nayara? Kenapa kamu pulang? Gilang mana?"
Nayara gak bisa jawab Bibirnya gemetaran, napasnya sesek. Dia cuma bisa nangis sambil meluk ibunya erat erat.
"Udah Pak tanya-tanya nanti dulu. Sekarang Nayara perlu ganti baju sama hangetin badan. Aldi juga," Bu Siti langsung ngambil alih keadaan. "Pak tolong siapin handuk sama baju Nayara yang lama. Masih ada kan di lemari?"
Pak Hasan ngangguk cepet. Langsung masuk kamar ambil handuk.
Bu Siti bawa Aldi ke kamar, lepasin baju bayinya yang basah kuyup. Ngelap tubuh mungilnya pake kain lembut Aldi masih nangis tapi udah mulai pelan.
"Cucuku sayang, kenapa basah begini? Kasian," Bu Siti bisik-bisik sambil pake baju kering buat Aldi. Baju bekas Nayara waktu kecil yang masih kesimpen.
Nayara berdiri di ruang tamu. Basah kuyup. Gemetar. Kayak patung. Gak gerak sama sekali.
Pak Hasan dateng bawa handuk tebal. "Ini Nak, lap dulu. Nanti masuk angin."
Nayara nerima handuknya tapi gak dipake. Cuma dipegang aja. Tangannya kebas kayaknya.
"Nayara, kamu kenapa nak? Cerita sama Bapak," Pak Hasan coba tanya lagi. Suaranya lembut tapi khawatir banget
"Aku, aku cerai sama Gilang, Pak" Nayara akhirnya bisa ngomong. Suaranya serak banget kayak abis teriak berjam jam
Pak Hasan dan Bu Siti yang baru keluar dari kamar sambil gendong Aldi langsung terdiam. Shock.
"Cerai? Maksudnya gimana?" Pak Hasan bertanya pelan
"Tadi, tadi aku dari pengadilan. Kami udah resmi cerai," Nayara jawab sambil nangis lagi Air mata gak bisa berhenti ngalir.
Bu Siti melangkah maju, peluk Nayara erat sambil masih gendong Aldi. "Ya Allah, nak. Kenapa kamu gak bilang-bilang? Kenapa sendirian aja?"
"Aku, aku malu Bu. Malu sama Bapak sama Ibu. Aku gagal jadi istri. Gagal," Nayara nangis di pelukan ibunya Tubuhnya gemetaran hebat.
"Ssshhh jangan bilang gitu. Kamu gak gagal. Kamu korban nak. Korban," Bu Siti mengelus rambut Nayara yang basah. "Udah, ganti baju dulu. Nanti kamu sakit."
Tapi Nayara gak gerak. Kakinya lemes banget. Kayak mau roboh.
"Nak, ayolah. Dengerin Ibu," Bu Siti coba lagi
"Aku gak kuat Bu. Aku gak kuat lagi. Rasanya pengen mati aja," Nayara bisik pelan tapi Bu Siti denger jelas.
"JANGAN BILANG GITU!" Bu Siti bentak keras. Nayara tersentak.
"Jangan pernah bilang pengen mati! Kamu punya Aldi! Dia butuh kamu!" Bu Siti nangis sekarang. Air matanya jatuh di pipi Nayara yang basah.
Aldi di gendongan Bu Siti nangis lagi. Mungkin ngerasa suasana tegang banget.
Pak Hasan ambil Aldi dari Bu Siti. "Sini Bapak gendong. Kamu bantu Nayara ganti baju"
Bu Siti ngangguk. Peluk Nayara lebih erat. "Ayo nak, ke kamar. Ganti baju dulu ya."
Nayara ngikutin ibunya ke kamar dengan langkah gontai. Kakinya nyeret nyeret di lantai keramik yang dingin
Di kamar, Bu Siti bantuin Nayara lepas baju basahnya. Gamis hitam yang berat karena penuh air. Hijab yang nempel di kepala
Begitu telanjang, Bu Siti kaget. Badan Nayara kurus kering. Tulang rusuknya kelihatan jelas Bekas lebam di lengan yang udah menguning.
"Ya Allah, Nayara. Kamu, kamu diapain sama dia?" Bu Siti nanya dengan suara gemetar sambil nunjuk lebam-lebam itu.
"Dia, dia pernah dorong aku Bu. Sampe jatuh. Bekas itu dari dulu," Nayara jawab pelan. Suaranya datar. Udah mati rasa kayaknya.
Bu Siti nangis. Tangannya nutup mulut. "Kenapa kamu gak pernah cerita? Kenapa kamu simpen sendiri?"
"Aku malu Bu. Malu ngaku kalo suamiku nyakitin aku. Aku pikir aku bisa bertahan. Aku pikir dia bakal berubah," Nayara nangis lagi sambil pake baju kering yang ibunya kasih. Kaos oblong pink lusuh sama celana training cokelat.
"Udah nak, udah. Sekarang kamu udah di rumah. Udah aman," Bu Siti peluk Nayara yang udah pake baju. "Kamu udah kuat. Kamu udah berani ninggalin dia. Ibu bangga sama kamu."
"Tapi aku gak ngerasa kuat Bu. Aku ngerasa hancur. Kayak pecahan kaca yang gak bisa disatuin lagi," Nayara terisak di pelukan ibunya.
"Kamu bakal sembuh nak. Pelan-pelan. Ibu sama Bapak bakal bantu. Kita bakal jaga kamu sama Aldi," Bu Siti bisik sambil mengelus-elus punggung Nayara.
Mereka pelukan lama. Bu Siti nangis. Nayara nangis Cuma ada suara isakan di kamar kecil itu.
Keluar dari kamar, Pak Hasan udah duduk di sofa sambil gendong Aldi. Bayinya udah gak nangis, malah udah tidur pulas di pelukan kakeknya.
"Udah mendingan?" Pak Hasan tanya pelan pas liat Nayara.
Nayara ngangguk pelan sambil duduk di samping bapaknya. Natap Aldi yang tidur pulas
"Cerita sama Bapak, kenapa sampe cerai?" Pak Hasan tanya lagi. Suaranya lembut gak menghakimi
Nayara menarik nafas panjang Terus mulai cerita. Semua. Dari awal. Dari perselingkuhan Gilang sama Sandra Kekerasan verbal. Kekerasan fisik. Diabaikan waktu hamil. Melahirkan sendirian. Semuanya.
Bu Siti sama Pak Hasan dengerin sambil sesekali ngelap air mata. Marah. Sedih. Shock. Semua campur jadi satu di wajah mereka.
"Kenapa kamu gak pernah cerita nak? Kenapa kamu tanggung sendiri semua ini?" Pak Hasan nanya dengan suara bergetar.
"Aku malu Pak. Malu ngaku kalo pernikahanku hancur. Aku takut Bapak sama Ibu kecewa," Nayara jawab sambil nunduk.
"Kecewa? Kita kecewa sama siapa? Sama kamu? Enggak! Kita kecewa sama Gilang! Sama keluarganya yang gak bisa didik anak!" Pak Hasan mulai emosi. "Kalau Bapak tau dari dulu, Bapak udah hajar tuh anak!"
"Udah Pak, udah terjadi. Sekarang yang penting Nayara udah di sini. Udah aman," Bu Siti menenangkan suaminya.
Pak Hasan menarik nafas dalam. "Iya Ibu bener. Yang penting sekarang Nayara sama Aldi udah di sini. Kalian tinggal di sini aja. Gak usah mikirin Gilang lagi."
"Tapi Pak, aku jadi beban buat Bapak sama Ibu. Aku bawa Aldi juga. Nanti nambah pengeluaran," Nayara ngomong dengan nada bersalah.
"Beban apanya! Kamu anak Bapak! Aldi cucu Bapak! Gak ada istilah beban di keluarga!" Pak Hasan ngomong tegas. "Kamu istirahat dulu. Nanti kalau udah siap, cari kerja. Bapak sama Ibu bakal bantuin jaga Aldi."
Nayara nangis lagi. Kali ini bukan nangis sedih. Tapi nangis lega. Lega karena keluarganya nerima dia walau dia udah gagal di pernikahan.
"Terima kasih Pak, terima kasih Bu," Nayara bisik sambil peluk orang tuanya.
Malem itu Nayara tidur di kamar kecilnya yang dulu. Kamar yang udah puluhan tahun gak dia tinggalin. Kasur single kecil. Lemari kayu tua. Poster artis jaman SMA yang udah kusam.
Aldi tidur di sebelahnya. Nayara bikinin tempat tidur dari bantal bantal yang ditumpuk biar Aldi gak jatuh.
Nayara memeluk Aldi yang tidur pulas Ngeliatin wajah anaknya yang polos damai.
"Maafin Mama ya Nak," Nayara bisik pelan sambil mengelus pipi Aldi yang lembut "Maafin Mama karena gak bisa kasih kamu keluarga yang utuh. Maafin Mama karena Papa kita jahat. Maafin Mama karena Mama lemah"
Air mata Nayara jatuh lagi. Entah udah berapa kali dia nangis hari ini. Kayaknya air matanya gak bakal abis abis.
"Tapi Mama janji bakal jaga kamu baik baik. Bakal kasih kamu hidup yang lebih baik. Walau cuma berdua, kita bakal bahagia. Mama janji," Nayara terus bisik sambil cium kening Aldi berkali kali.
Aldi tidur pulas gak tau apa apa Napasnya teratur. Mulutnya sedikit terbuka. Tangan kecilnya mengepal di samping kepala.
Nayara memeluk anaknya erat. Nangis pelan sampe akhirnya ketiduran karena kelelahan.
Tidur dengan mimpi buruk tentang Gilang. Tentang Sandra Tentang semua luka yang dia alami
Tapi besok dia harus bangun.
Harus kuat.
Harus mulai hidup baru
Untuk Aldi.
Dan untuk dirinya sendiri yang udah terlalu lama mati di pernikahan yang toxic itu.
***
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭