Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Orang Asing di Meja Makan
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi di ruang makan yang luas itu. Ruangan tersebut didesain dengan gaya minimalis modern yang mewah, namun terasa sedingin es.
Di ujung meja panjang berbahan marmer, Arash duduk dengan kemeja kantor yang masih rapi, meski dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Wajahnya yang tegas dan garis rahang yang kaku tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain keletihan yang dalam.
Di sisi lain meja, Raisa duduk dengan punggung tegak, berusaha menelan potongan steak yang terasa seperti bongkahan kayu di tenggorokannya. Ia mengenakan piyama satin sederhana, kontras dengan Arash yang seolah baru saja pulang dari medan perang bisnis.
Arash meletakkan garpunya dengan perlahan, lalu meraih segelas air putih. "Besok ada rapat dewan direksi," suaranya memecah keheningan, berat dan dingin.
Raisa menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap mata hitam pekat milik suaminya—pria yang baru tiga bulan ini berbagi atap dengannya, namun terasa lebih asing daripada orang yang ia temui di jalanan.
"Aku tahu, Pak. Jadwalnya sudah aku siapkan di meja Bapak sebelum aku pulang tadi."
Arash sedikit menyipitkan mata mendengarkan panggilan itu. Ia meletakkan gelasnya dengan dentuman kecil yang sengaja ditekan. "Di sini tidak ada orang lain, Raisa. Berhenti memanggilku 'Pak'. Itu terdengar menjijikkan di rumahku sendiri."
"Kebiasaan di kantor sulit dihilangkan," jawab Raisa pelan sembari menunduk kembali. Ia menggeser piringnya yang masih terisi separuh, nafsu makannya benar-benar menguap karena tatapan tajam pria di hadapannya. "Lagi pula, bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa di luar kamar ini, kita bukan siapa-siapa?"
Arash terdiam. Ia memutar-mutar gelas di tangannya, memperhatikan pantulan lampu kristal pada permukaan air.
"Benar. Aku hanya tidak ingin kau melakukan kesalahan konyol di depan orang lain. Satu kali saja kau terpeleset memanggil namaku di kantor, sandiwara ini selesai. Kau tahu konsekuensinya."
Raisa tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang hanya ditujukan pada piringnya. Ia bangkit dari kursi, merapikan piring kotornya dengan gerakan efisien, seolah-olah ia adalah pelayan di rumah itu sendiri. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan Arash. Saya sangat tahu posisi saya. Saya hanya karyawan divisi administrasi yang kebetulan memiliki nama Anda di buku nikah saya. Itu saja. Tidak lebih, dan selamanya tidak akan lebih."
Arash memerhatikan setiap gerak-gerik Raisa. Ada rasa tidak nyaman yang menyelinap di dadanya saat melihat istrinya bersikap begitu formal, namun ia segera menepisnya. Ia berdiri, membuat kursi marmer itu berderit pelan di atas lantai granit, menambah ketegangan di antara mereka.
"Besok, pastikan kau datang tiga puluh menit lebih awal," ucap Arash melangkah mendekat, berhenti tepat di samping Raisa hingga aroma parfum sandalwood-nya yang maskulin menusuk indra penciuman wanita itu. "Jangan sampai ada yang melihatmu turun dari mobil yang sama denganku. Aku akan menurunkanku di persimpangan seperti biasa."
Raisa menoleh, menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Jarak yang seharusnya diisi dengan kemesraan, namun di antara mereka hanya ada tembok tak kasat mata. "Aku akan naik bus, Arash. Itu lebih aman. Persimpangan itu terlalu dekat dengan lobi kantor. Aku tidak mau mengambil risiko ada rekan kerja yang melihatku keluar dari mobil mewahmu."
Arash mencengkeram pinggiran meja, matanya berkilat tidak suka. "Aku tidak suka mengulang perintah, Raisa. Naik bus hanya akan membuatmu terlambat."
"Dan naik mobilmu hanya akan membuatku dipecat atau menjadi bahan gosip satu kantor," potong Raisa dengan nada yang lebih berani dari biasanya. Ia menatap Arash lurus-lurus. "Bukankah tujuan utama pernikahan rahasia ini adalah agar hidupmu tidak terganggu? Biarkan aku mengatur caraku sendiri untuk tetap menjadi 'orang asing' di kantormu."
Arash terdiam sesaat, rahangnya mengeras. Ia menatap Raisa dengan pandangan yang sulit diartikan—antara amarah dan kekaguman tersembunyi atas keberanian wanita itu. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya di lantai atas. Suara langkah sepatunya yang berat bergema di lorong yang sepi.
Raisa menghela napas panjang setelah punggung Arash menghilang. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja makan yang dingin, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menatap cincin polos di jari manisnya, sebuah benda yang seharusnya menjadi simbol cinta, namun baginya tak lebih dari rantai pengikat hutang.
"Hanya perlu bertahan," bisiknya pada diri sendiri di tengah kesunyian dapur. "Satu rumah, dua asing. Itu kesepakatannya."
Di lantai atas, Arash berdiri di balik jendela besar ruang kerjanya, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kota. Ia mengepalkan tangannya di saku celana. Pernikahan ini seharusnya menjadi solusi praktis untuk mengamankan posisinya di perusahaan, namun entah mengapa, setiap kali Raisa menyebut dirinya sendiri 'hanya karyawan', Arash merasakan dorongan aneh untuk membantahnya.
Namun ego dan logika selalu menang. Bagi Arash, cinta adalah variabel yang tidak pasti, dan ia tidak suka sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Sementara itu, Raisa membawa piring-piring kotor itu ke wastafel dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia butuh waktu untuk menenangkan debar jantungnya. Air dingin yang mengalir membasahi jemarinya tidak cukup untuk mendinginkan rasa panas di wajahnya setelah konfrontasi singkat tadi. Ia selalu bertanya-tanya, sampai kapan mereka bisa bertahan dalam sandiwara yang melelahkan ini.
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat kembali terdengar menuruni tangga. Raisa menegang, bahunya otomatis mengeras. Ia mengira Arash sudah mengunci diri di ruang kerja seperti biasanya.
Arash muncul di ambang pintu dapur. Ia sudah melepas kemejanya, menyisakan kaos dalam hitam yang membungkus tubuh atletisnya dengan ketat. Di tangannya terdapat sebotol obat yang labelnya sudah agak memudar.
"Aku lupa memberitahumu," ujar Arash, suaranya kini sedikit lebih rendah, kehilangan nada tajam yang tadi ia gunakan. Ia melangkah mendekat, membuat ruang dapur yang luas itu mendadak terasa sempit bagi Raisa. "Besok malam akan ada jamuan makan malam di rumah Kakek. Kau harus ikut."
Raisa mematikan keran air, lalu berbalik sambil mengelap tangannya pada kain serbet. "Jamuan keluarga? Tapi bukankah Kakek sedang berada di luar kota?"
"Beliau pulang lebih awal. Dan beliau bertanya tentangmu."
Arash meletakkan botol obat itu di atas meja bar. Matanya menatap Raisa dengan intensitas yang sulit dibaca. "Ingat, di depan Kakek, kita adalah pasangan yang harmonis. Jangan tunjukkan wajah kaku seperti ini."
Raisa mendengus pelan, sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Anda meminta saya menjadi aktris dalam sekejap? Pak Arash, pagi sampai sore saya harus menjadi staf administrasi yang tidak Anda kenal, lalu malamnya saya harus menjadi istri yang mencintai Anda? Tidakkah itu terlalu banyak tuntutan dalam satu hari?"
Arash melangkah maju satu tindak lagi, membuat Raisa terdesak hingga punggungnya menempel pada pinggiran wastafel yang dingin. Arash menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Raisa, mengurung wanita itu dalam jarak yang berbahaya.
"Itu adalah bagian dari kontrak, Raisa," bisik Arash tepat di depan wajahnya. Aroma mint dan sisa kopi dari napas pria itu memabukkan. "Aku membayarmu untuk peran ini. Jadi, pastikan aktingmu sempurna."