NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Terbawa

Hujan turun seperti kutukan malam itu. Deras. Menggila. Wiper mobil bergerak kencang tapi tetap saja pandangan Arga kabur. Atau mungkin memang matanya yang kabur. Entahlah. Ia sudah tidak peduli lagi.

Jalanan menuju desa terpencil di Semarang ini gelap. Gelap sekali. Lampu jalan mati semua, hanya sesekali kilat menyambar dan menerangi jalan berbatu yang rusak di sana sini. Tangan Arga mencengkeram setir dengan kuat, buku-buku jarinya memutih. Tapi bukan karena takut dengan jalan yang berbahaya ini.

Ia takut dengan bayangan yang terus menghantui kepalanya.

Bayangan itu muncul lagi. Ratih. Istrinya. Tidak, mantan istrinya. Wanita yang tiga hari lalu masih tidur di sebelahnya, berbagi selimut, berbagi kehangatan. Wanita yang setiap pagi membuatkannya kopi dan mencium keningnya sebelum ia berangkat kerja.

Wanita yang kemarin ia temukan di ranjang mereka sendiri. Dengan pria lain. Dengan Dimas. Sahabatnya sendiri.

"Sialan!" Arga memukul setir. Keras. Mobilnya sedikit oleng. Ia tidak peduli.

Kepalanya pusing. Ia masih bisa mendengar suara Ratih yang memohon saat ia menyeret tasnya keluar dari rumah. Masih bisa merasakan tangan Dimas yang mencoba menahannya. Masih bisa mencium parfum murah yang menempel di tubuh istrinya yang bertelanjang itu.

Tidak. Bukan istrinya lagi.

Muntah rasanya kalau mengingat semua itu. Arga menurunkan kaca jendela, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Dingin. Tapi tidak cukup dingin untuk membekukan luka di dadanya yang terasa menganga lebar.

"Kenapa, Ratih? Kenapa?" bisiknya pelan, suaranya serak. Ia sudah menangis tiga hari tiga malam. Suaranya sudah hilang. "Lima tahun... lima tahun aku... kita..."

Ia tidak sanggup melanjutkan. Kalimatnya terputus oleh isak tangis yang tiba-tiba meledak lagi. Bodoh memang. Menangis sambil menyetir di tengah hujan deras. Tapi Arga sudah tidak peduli lagi. Biarkan saja mobilnya terperosok ke jurang. Biarkan saja ia mati di tengah jalan ini. Toh hidup sudah tidak ada artinya lagi.

Tapi entah kenapa kakinya tetap menginjak gas. Tangannya tetap memegang setir. Tubuhnya seolah bergerak sendiri, otomatis, membawanya menuju rumah tua peninggalan almarhum neneknya.

Rumah yang sejak nenek meninggal dua tahun lalu tidak pernah ditempati siapapun.

Rumah yang kata ibunya angker.

Tapi Arga butuh tempat untuk mengasingkan diri. Tempat yang jauh dari Jakarta. Jauh dari Ratih. Jauh dari Dimas. Jauh dari semua orang yang mengenalnya sebagai Arga Maheswara yang sukses, yang bahagia, yang punya istri cantik dan kehidupan sempurna.

Sempurna. Hah. Semua itu palsu. Semuanya.

Setelah dua jam perjalanan yang terasa seperti dua tahun, Arga akhirnya melihat gerbang besar rumah itu. Cat besinya sudah mengelupas, berkarat dimakan waktu. Ia turun dari mobil, hujan langsung mengguyur tubuhnya. Ia membuka gerbang dengan susah payah, engselnya macet dan berkarat.

Saat gerbang terbuka, angin tiba-tiba bertiup kencang. Kencang sekali sampai Arga mundur selangkah. Dedaunan kering beterbangan, dan untuk sesaat, ia merasa... merasa ada yang mengawasinya.

Ia menoleh ke kanan, ke kiri. Gelap. Hanya gelap dan suara hujan yang memekakkan telinga.

Arga kembali masuk ke mobil, mengemudikannya masuk ke halaman rumah, lalu memarkir di depan teras. Saat ia turun dan menatap rumah besar bergaya kolonial itu, dadanya terasa sesak.

Rumah ini besar sekali. Megah. Tiang-tiang besarnya masih kokoh meski cat putihnya sudah mengelupas di mana-mana. Jendela-jendela tinggi dengan teralis besi yang berkarat. Pintu kayu besar dengan ukiran rumit yang sudah berjamur.

Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali sendirian.

Tapi itu justru yang Arga inginkan. Ia ingin tersesat di rumah besar ini. Ingin menghilang di antara kamar-kamarnya yang kosong. Ingin tidak ditemukan siapapun.

Dengan tangan gemetar, entah karena dingin atau karena takut atau karena masih menangis, Arga membuka pintu depan. Kunci yang diberikan ibunya pas. Pintu terbuka dengan bunyi kriet panjang yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Angin dingin langsung menyambutnya. Dingin yang tidak wajar. Bukan dingin karena hujan atau karena rumah ini lama tidak dihuni. Tapi dingin yang... aneh. Dingin yang merasuki tulang, yang membuat napas jadi berat.

Arga menelan ludah. Tangannya meraba dinding mencari saklar. Klik. Lampu menyala. Redup. Sangat redup. Tapi cukup untuk menerangi ruang tamu yang luas dengan furnitur-furnitur tua yang ditutupi kain putih.

Seperti hantu. Semua terlihat seperti hantu.

Ia masuk, menyeret kopernya. Pintu tertutup sendiri di belakangnya dengan bunyi dentum keras yang membuat jantungnya hampir copot.

"Hanya angin," gumamnya mencoba menenangkan diri. "Hanya angin, Arga. Jangan bodoh."

Tapi ia tahu ini bukan hanya angin. Ia bisa merasakannya. Merasakan kehadiran sesuatu. Sesuatu yang mengamatinya dari kegelapan.

Ia menoleh ke kanan. Ada koridor panjang yang menuju ke sayap kanan rumah. Gelap. Lampu di sana mati.

Ia menoleh ke kiri. Ada tangga besar yang menuju ke lantai dua. Redup. Hanya satu lampu yang menyala di atas sana.

Dan di ujung tangga, untuk sesaat... untuk sesaat Arga melihat bayangan. Bayangan wanita. Tapi saat ia berkedip, bayangan itu hilang.

"Sudah gila kau, Arga," ia mengumpat pada dirinya sendiri. "Baru lima menit di sini sudah mulai halusinasi."

Ia memaksakan kaki yang terasa berat untuk naik ke lantai dua. Setiap anak tangga berderit keras di bawah berat tubuhnya. Suara hujan di luar semakin keras, petir menyambar berkali-kali, kilat menerangi rumah ini dengan cahaya putih yang menyilaukan.

Di lantai dua ada lima kamar. Arga memilih kamar yang dulu sering ia pakai kalau menginap di sini waktu kecil. Kamar di ujung koridor. Kamar dengan jendela besar yang menghadap ke kebun belakang.

Ia membuka pintu kamar itu. Bau apek langsung menyeruak. Kamar ini lebih dingin dari ruangan lainnya. Tempat tidurnya masih ada, kasurnya masih terbungkus plastik. Lemari pakaian besar masih berdiri kokoh di sudut ruangan.

Arga menjatuhkan kopernya di lantai, menutup pintu, lalu merebahkan diri di kasur tanpa peduli debu yang beterbangan. Tubuhnya remuk. Hatinya lebih remuk lagi.

Ia menatap langit-langit kamar yang sudah menguning. Pikirannya melayang lagi. Ke Ratih. Selalu ke Ratih.

Kenapa ia tidak bisa menghapus wajah wanita itu dari kepalanya? Kenapa setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat adalah Ratih yang tersenyum, Ratih yang tertawa, Ratih yang bilang aku cinta kamu dengan bibir yang sekarang sudah ia ketahui penuh kebohongan?

Air matanya mengalir lagi. Deras. Ia bahkan tidak berusaha menahannya lagi. Biarkan saja. Biarkan ia menangis sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa. Sampai dadanya kering dan kosong.

Ia mengambil ponselnya dari saku. Layarnya retak karena ia banting kemarin saat keluar dari rumahnya di Jakarta. Tapi masih menyala. Dan di wallpaper-nya masih ada foto mereka. Foto pernikahan mereka lima tahun lalu.

Ratih yang cantik dengan gaun pengantin putihnya. Dirinya yang masih polos, masih percaya bahwa cinta itu nyata, bahwa pernikahan itu suci, bahwa sumpah setia itu berarti.

Bodoh. Bodoh sekali.

Dengan tangan gemetar, Arga menekan layar ponselnya, membuka galeri, dan menghapus semua foto Ratih. Satu persatu. Menghapus semua kenangan lima tahun itu. Setiap foto yang terhapus terasa seperti merobek daging dari tubuhnya sendiri. Sakit. Sakit sekali.

Tapi ia harus melakukannya. Ia harus move on. Ia harus melupakan wanita itu.

Tapi bagaimana caranya melupakan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupmu selama lima tahun? Bagaimana caranya melupakan seseorang yang setiap pagi tidur di sebelahmu, yang kau peluk setiap malam, yang namanya selalu ada di doamu?

Arga tidak tahu. Ia tidak tahu caranya.

Setelah semua foto terhapus, ia melempar ponselnya ke lantai. Terdengar bunyi retak lagi. Mungkin layarnya tambah rusak. Ia tidak peduli.

Ia meringkuk di kasur, memeluk bantal yang berbau apek, dan menangis. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Menangis sampai tenggorokannya sakit, sampai matanya bengkak, sampai tubuhnya gemetar hebat.

"Ya Allah..." bisiknya di sela isak tangis. "Ya Allah, kenapa Kau biarkan ini terjadi padaku? Apa salahku? Apa... apa dosaku sampai Kau hukum aku seperti ini?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan dan petir yang menggelegar.

Arga tidak tahu kapan ia tertidur. Yang ia tahu, saat ia membuka mata, kamarnya sudah gelap total. Lampu mati. Hujan sudah reda tapi masih gerimis. Dan jam dinding di kamarnya yang entah sejak kapan masih berjalan menunjukkan pukul dua pagi.

Ia terbangun karena... karena mendengar sesuatu.

Suara langkah kaki.

Langkah kaki pelan. Teratur. Di koridor luar kamarnya.

Jantung Arga berdegup kencang. Ia langsung bangun, duduk di kasur, mendengarkan dengan sekuat tenaga.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki itu semakin mendekat. Semakin dekat ke arah kamarnya.

Arga meraih ponselnya yang retak di lantai, menyalakan senternya. Cahaya terang langsung menerangi kamar yang gelap gulita itu.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki itu berhenti. Tepat di depan pintu kamarnya.

Arga bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu. Dadanya naik turun cepat. Tangannya gemetar memegang ponsel.

Lalu, pelan-pelan, gagang pintu kamarnya bergerak. Berputar. Pelan sekali. Seperti ada yang mencoba membukanya dari luar.

"Siapa... siapa di sana?" suara Arga serak, hampir tidak keluar.

Gagang pintu berhenti bergerak.

Hening.

Hening yang mencekam.

Lalu tiba-tiba, langkah kaki itu terdengar lagi. Tapi kali ini menjauh. Perlahan. Menuju ujung koridor.

Arga tahu ia seharusnya tetap di kamar. Tapi entah keberanian atau kebodohan apa yang merasukinya, ia berdiri, berjalan pelan ke pintu, dan membukanya.

Kriet.

Pintu terbuka. Koridor gelap. Gelap sekali. Hanya cahaya senter dari ponselnya yang sedikit menerangi.

Ia mengarahkan cahaya ke kanan. Kosong. Ke kiri. Ko...

Arga membeku.

Di ujung koridor, berdiri sosok wanita.

Wanita bergaun putih panjang. Rambutnya hitam panjang terurai. Membelakanginya.

Sosok itu diam. Sangat diam. Tapi Arga tahu... entah kenapa ia tahu, sosok itu menyadari kehadirannya.

Napas Arga tertahan. Ia ingin berteriak tapi suaranya hilang. Ia ingin lari tapi kakinya seperti tertanam di lantai.

Lalu pelan-pelan... sangat pelan... sosok wanita itu mulai menoleh.

Lehernya berputar. Kepalanya berputar. Ke belakang. Menatap Arga.

Dan saat wajah wanita itu terlihat, Arga hampir pingsan.

Wajah cantik. Sangat cantik. Kulit putih pucat. Bibir merah tipis. Mata hitam besar yang... yang menatapnya dengan tatapan sendu. Tatapan yang penuh kesedihan. Tatapan yang seolah mengatakan, aku sudah lama menunggumu.

Wanita itu tersenyum. Senyum tipis yang menyayat hati. Senyum yang bukan senyum senang, tapi senyum sedih.

Lalu dalam sekejap mata, sosok itu menghilang. Lenyap. Seperti asap yang tertiup angin.

Arga terduduk lemas di lantai koridor. Ponselnya terjatuh, senternya mati. Gelap total.

Ia menggigil. Seluruh tubuhnya menggigil hebat. Bukan karena dingin. Tapi karena ketakutan yang luar biasa.

"Itu... itu apa?" bisiknya dengan suara gemetar. "Itu... siapa?"

Tapi tidak ada yang menjawab. Hanya suara gerimis hujan di luar dan detakan jantungnya yang seperti hendak meledak.

Arga merangkak kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan keras, menguncinya dari dalam. Ia kembali ke kasur, meringkuk, menutupi kepalanya dengan bantal.

Tapi matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat adalah wajah wanita itu. Wajah cantik dengan senyum sendu yang menghantui.

Dan malam itu, Arga tidak tidur lagi sampai subuh tiba.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!