NovelToon NovelToon
Anak Kembar Sang Milyarder

Anak Kembar Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"

Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.

Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?

Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Penculikan

"Apa? Sa—saya?" Liana tercengang saat CEO meminta jawaban darinya. "Saya belum lama tinggal di sini Pak, jadi mana mungkin kalau kita sudah pernah bertemu sebelumnya."

Reynan manggut-manggut. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Liana, mana mungkin ia pernah bertemu dengan wanita itu, mungkin hanya prasangkanya saja. "Yaudah, kamu boleh lanjut kerja."

"Baik pak."

Setelah kepergian Liana Reynan langsung menghubungi Dion sahabatnya. Ingin memastikan kalau wanita itu memang tidak memiliki hubungan khusus dengan sahabatnya, mengingat Dion sendiri sudah menikah dengan saudara sepupunya.

("Halo Ion, kamu lagi sibuk nggak?")

("Nggak terlalu. Kenapa? Apa ada  hal penting?")

("Hm..., iya lumayan penting.")

("Yaudah kita ketemuan gimana? Di cafe biasanya.")

("Oke, bisa diatur. Sekalian makan siang.")

Reynan mematikan sambungannya dan memutuskan keluar untuk menemui sahabatnya. Dia harus mendapatkan penjelasan secara detail mengenai wanita bernama Liana Adelia yang tak lain salah satu karyawan di perusahaannya.

Liana kembali ke ruangannya dan duduk termenung memikirkan penjelasan bosnya mengenai tawaran kerja. Menjadi asisten pribadi dan mendapatkan penghasilan tiga kali lipat dari hasilnya bekerja itu cukup menjanjikan, karena dengan begitu ia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk buah hatinya, tapi masalahnya, apakah itu baik untuknya? Sedangkan ia baru beberapa hari diangkat menjadi karyawan di perusahaan itu, sedangkan karyawan yang bekerja lebih lama darinya saja tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa naik jabatan.

"Liana! Kok ngelamun aja!"

Saskia menepuk lengannya hingga membuatnya terkejut dan sadar dari lamunannya.

"Ah! I—iya, ada apa Sas?"

"Tuh kan, habis dari ruangan CEO langsung ngelamun. Hayo ngaku, habis diapain kamu sama pak Reynan?"

Liana berdecak dan menata posisinya. "Ck, diapain apa maksudnya? Aku nggak diapa-apain lah, kamu itu otaknya jangan traveling mulu, jangan ngebayangin yang jorok-jorok!"

"Ya kan aku cuma nanya! Kenapa dibuat seriusan? Cerita dong! Apa aja tadi yang diobrolkan?"

Saskia sudah tidak sabar ingin tahu apa saja yang dibicarakan Liana dengan atasannya. Selama berada di perusahaan Pratama Grup, ia ataupun karyawan yang lain jarang sekali bisa mengobrol langsung dengan CEO, tapi Liana yang baru bekerja seminggu sudah diminta untuk menemuinya, tentu itu suatu hal yang patut untuk dipertanyakan.

"Dia tadi cuma nanya, sebelum bekerja di sini aku kerja di mana, sebagai apa, dan tinggal di mana, udah itu doang. Tapi yang aku pikirkan, kenapa dia tiba-tiba memintaku untuk menjadi asisten pribadinya? Menurutmu gimana? Apa aku harus menerimanya?"

"Hah? Kamu diminta untuk menjadi asisten pribadinya? Terus kamu jawab apa, An?"

Liana menggeleng. "Aku masih belum kasih jawaban. Aku minta waktu untuk berpikir ulang."

Liana bimbang harus memberikan jawaban apa agar tak membuat CEO kecewa. Ia masih berpikir sangatlah tak pantas menerima jabatan tersebut.

"Kau itu gimana sih Na! Bukankah semua orang menginginkan jabatan itu. Tidak semua orang ditawari jadi asisten CEO loh, dan kamu baru ketemu sekali langsung mendapatkan tawaran, bukankah ini rezeki nomplok?"

Liana diam dengan  tatapan kosong sembari menggumam. "Tapi kalau aku menerimanya bagaimana dengan karyawan lain? Pasti mereka bakalan berpikir aku sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan kepercayaan CEO. Rasanya  nggak enak Sas, Aku kan baru beberapa hari diangkat menjadi karyawan di sini mana mungkin tiba-tiba naik jabatan menjadi asisten pribadi CEO, kayaknya aku bakalan menolaknya, masih banyak karyawan yang lebih berpengalaman dibandingkan aku."

Saskia mendengus dan mengumpat cukup keras. "Dasar bodoh! Ini kesempatan emas untukmu, kenapa kau malah memikirkan orang lain? Pak Reynan itu selalu pilih-pilih orang untuk bisa dekat dengannya, dan kamu salah satu orang yang terpilih untuk dipercaya menjadi asisten pribadinya. Kurasa beliau sudah memikirkannya matang-matang, jadi pikirkan baik-baik tawaran itu, atau kamu bakalan menyesal."

Liana menoleh dengan tatapan nanar. Di saat hatinya tak tenang ada sahabat yang berusaha untuk menyemangatinya. Haruskah ia mengecewakannya? Memang ia butuh banyak uang untuk bertahan hidup agar kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, tapi tawaran itu apa tidak membahayakannya?

"Memangnya kamu senang tinggal di kontrakan selamanya? Nggak ada kepikiran buat beli rumah sendiri gitu? Kamu kan sudah memiliki anak. Apa kamu nggak ada keinginan untuk memberikan tempat tinggal yang layak buat mereka? Ya bukannya aku terlalu ikut campur, Liana! Semua  ini kulakukan karena aku terlalu peduli padamu. Di saat kau tak punya keluarga yang mendukungmu, di sini aku yang belum lama kau kenal memberikan dukungan penuh padamu. Ayolah Liana, kalau bukan demi dirimu sendiri setidaknya lakukan untuk anak-anakmu!"

Terus-terusan didesak dan disemangati oleh sahabatnya akhirnya Liana memutuskan untuk menerima tawaran kerja dari atasannya.

"Baiklah, aku bakalan menerimanya."

"Nah..., gitu dong! Semangat!"

***

Reynan pergi menuju cafe di mana ia tengah berjanji mengajak ketemuan sahabatnya. Di perjalanan dia tak sengaja melihat dua orang dewasa tengah menarik-narik tangan anak kecil yang masih mengenakan seragam sekolah.

"Tolong! Tolong lepaskan kami!"

"Diam! Jangan berisik!"

Dua pria itu membentak dan memaksanya untuk ikut bersamanya.

"Tidak! Kami mau pulang! Tolong lepaskan!" Suara jerit bocah laki-laki terdengar cukup keras. Reynan pun meminta asistennya untuk menghentikan mo

"Doni, ayo minggir! Lihatlah di depan. Itu sepertinya ada modus penculikan anak. Ayo kita bantu!"

"Ba-baik, Tuan."

Doni, sang supir langsung meminggirkan kendaraannya dan bergegas keluar untuk menghadang dua pria yang hendak mendorong masuk dua bocah kecil itu ke dalam mobil box. Reynan juga menyusul dan langsung melakukan perlawanan terhadap mereka.

"Lepaskan bocah itu!"

"Kalian siapa? Mereka ini anakku, kalian nggak punya hak buat ikut campur!"

"Bu—bukan! Kami bukan anakmu, bodoh! Lepaskan kami!"

"Rupanya kalian ingin mengelabuhi kami? Kalian pikir kami orang bodoh yang mudah untuk ditipu?! Cepat lepaskan bocah itu atau akan kubuat tak bernafas lagi!"

Reynan menoleh pada Doni dan memintanya untuk segera meminta bantuan. "Doni, cepat hubungi kantor polisi! Katakan ada dua orang berniat untuk melakukan penculikan terhadap anak kecil."

Reynan mengambil handphonenya dan langsung memvideonya untuk dijadikan barang bukti. Dua pria itu panik dan akhirnya melepaskan dua bocah kecil yang digenggamnya. Mereka langsung kabur meninggalkan mobilnya.

"Kalian pikir bisa lolos dengan mudah?  Sembunyi ke ujung dunia pun kalian nggak bakalan selamat."

Reynan tersenyum smirk dan kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.

Dua bocah kecil itu tersengal-sengal kehabisan nafas setelah diseret dari jarak yang lumayan jauh. Mereka terlihat begitu syok dengan tatapan kosong.

"Doni, ambilkan air minum yang ada di dalam mobil."

"Baik Tuan."

Reynan mengajak dua bocah itu duduk di pinggiran jalan untuk dimintai keterangan.

"Kalian hanya berduaan saja? Di mana orang tua kalian?" tanya Reynan.

"Mommy lagi kerja, nggak bisa jemput kami," jawab salah satu dari mereka.

"Ya Tuhan..., bocah segini udah ditinggal kerja dan dibiarkan pulang sekolah sendirian. Kalau  sampai terjadi penculikan gimana? Kalian hampir diculik. Memangnya kalian nggak takut?"

"Kalau misalnya hal ini terjadi pada Om, apa sekiranya om nggak takut? Pertanyaan bodoh macam apa ini, Om?!"

Reynan dan Doni tercengang bertatapan satu sama lain.

1
Evi Lusiana
reinan bosmu itu,ayah dr anak²mu ana
tia
dobel up thor
tia
udah gk sabar siapa ayah dari si kembar
tia
lanjut thor jgn digantung 🤭
tia
lanjut thor
Ika Dw: oke...
total 1 replies
tia
ada kemungkinan liana tidur dgn rey,,, semangat thor
tia
lanjut thor
Ika Dw: siap👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!