NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mempersiapkan Diri

Dalam pingsannya, ingatan asing perlahan muncul satu per satu ke dalam otaknya. Dia melihat dirinya berada di sebuah sekolah megah, dengan seragam yang indah dan mengagumkan. Dia melihat dirinya tersenyum dan tertawa bersama seorang gadis bernama Auretheil, yang terlihat sangat akrab dengannya.

Ingatan-ingatan itu semakin jelas dan mendetail. Dari Shahinaz yang kehilangan orang tuanya, menjadikan dirinya hidup sebatang kara, lalu dia yang mengambil alih beberapa toko bunga yang selama ini dikelola oleh orang tuanya. Semuanya terasa sangat nyata, seolah-olah dia benar-benar pernah mengalami semua itu.

"Meski Shahinaz sendirian, Shahinaz akan tetap berjuang untuk kehidupan Shahinaz sendiri." kata perempuan yang mirip dengannya, dengan suara yang terdengar cukup lembut dam mengena di otaknya.

Namun, di tengah ingatan-ingatan ini, muncul bayangan lain yang lebih suram. Dia melihat rumahnya yang terbakar, api yang melahap setiap sudut rumah, dan dirinya yang terjebak di dalamnya. Rasa panas dan sakit ketika beton jatuh menimpa dirinya kembali terasa. Dua kehidupan yang saling bertentangan ini berputar-putar di dalam pikirannya, membuatnya semakin bingung dan panik.

Ketika Shahinaz akhirnya tersadar, dia masih berada di UKS. Namun, kali ini dia merasa sedikit berbeda. Ingatan-ingatan dari kedua kehidupan itu masih ada, tetapi dia merasa lebih mampu mengendalikannya. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengatur napasnya yang berat.

"Anjirrr, gue beneran transmigrasi kayak yang di novel-novel? Dan gue transmigrasi jadi cewek yang mirip banget sama gue gitu? Gue nggak nyangka, bener-bener mustahil dan nggak bisa diterima sama akal sehat gue."

Bedanya, rasa pusing yang sebelumnya terlalu mendera kepalanya itu mendadak hilang. Seolah dia sudah sehat bugar kembali, tidak ada jejak pusing lagi di dalam tubuhnya. Shahinaz menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja dia alami.

"Dari kebakaran itu, kalau gue terlambat ditolong, harusnya gue udah mati kan? Terus Tuhan ngasih gue kesempatan kedua buat hidup, tapi kenapa harus tetep sebatang kara juga?" dasarnya Selana yang kurang bersyukur, atau memang dirinya yang mengharap lebih. Yang jelas, Shahinaz harus pergi dari UKS sekarang juga.

Ini mungkin sudah waktunya bel pulang sekolah, dan intuisi Shahinaz tampaknya tidak meleset. Dengan langkah ringan, seolah dia sudah akrab dengan lingkungan sekolah, tanpa sadar kakinya membawanya ke kelas 11-IPA 1. Dia berhenti di depan sebuah tas yang tampaknya milik pemilik dari tubuh ini.

"Ini milik lo kan? Karena gue udah jadi diri lo, harusnya itu udah jadi milik gue kan?" tanya Shahinaz berbicara pada dirinya sendiri. Untung saja, kelasnya sudah tidak berpenghuni, dan dia dengan bebas mengobrak-abrik tasnya sendiri sekarang, "Namanya tetep sama, Shahinaz Zerrin Johara juga, persis kayak name tag di seragam yang gue pakai. Gue jadi bingung, ini ingatan gue sendiri atau gue emang terdampar di tubuh orang lain? Tapi muka kita juga persis sama."

Shahinaz merogoh tas itu dan menemukan sebuah buku catatan. Dia membukanya dan melihat tulisan tangan yang rapi di halaman-halaman awal. Semuanya tampak sangat familiar, seolah-olah dia sendiri yang menulisnya. Dia menelusuri halaman-halaman itu, membaca catatan pelajaran, coretan-coretan iseng, dan beberapa catatan pribadi yang semakin membuatnya merasa aneh.

"Ini benar-benar aneh." gumamnya, mencoba memahami situasi yang tidak masuk akal ini. Dia menemukan sebuah foto yang diselipkan di antara halaman-halaman buku catatan itu. Foto itu menunjukkan dirinya bersama Auretheil dengan binar bahagia di sebuah taman.

"Mungkin gue beneran transmigrasi," pikir Shahinaz. "Tapi kenapa gue tetep punya nama yang sama dan muka yang sama? Apa ini dunia paralel atau semacamnya?"

"Gue cari lo di UKS, ternyata ada di kelas. Masih amnesia nggak sama gue?" tanya seseorang yang membuat Shahinaz menolehkan kepalanya. Dia Auretheil, perempuan tadi pagi yang datang ke UKS untuk menemuinya.

Shahinaz mengerjapkan matanya, berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu. Dia harus mencari kata-kata yang pas, dan menutupi hatinya dirinya sendiri lalu bertingkah seolah dia dan pemilik tubuh sebelumnya adalah orang yang sama.

"Sorry ya, mungkin karena kebentur bola basket, terus gue terkena serangan pusing yang bener-bener sakit banget, makanya gue tadi sempet ngelupain lo." kata Shahinaz beralibi. Ini bukan dunia mimpi, dia nyakin ini nyata, tapi entah di dunia mana sekarang Shahinaz berada.

Auretheil menghela napas lega dan tersenyum, "Syukurlah, gue kira lo beneran lupa sama gue. Lo bikin gue khawatir tadi."

Shahinaz berusaha menampilkan senyuman terbaiknya, meski dalam hati dia masih merasa bingung dan cemas. "Maaf ya, Aure. Gue nggak bermaksud bikin lo khawatir kok tadi."

Auretheil mengangguk dan menepuk bahu Shahinaz dengan ramah. "Nggak apa-apa. Yang penting lo udah baik-baik aja sekarang. Yuk, kita pulang. Udah bel pulang nih, lo masih nebeng gue kan?"

Shahinaz mengangguk, berusaha mempertahankan senyum. "Iya, makasih banget, Aure. Gue masih nebeng lo."

Mereka berjalan beriringan keluar kelas, menuju parkiran. Shahinaz merasa janggal, tapi dia berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkan kebingungannya. Di perjalanan, Auretheil bercerita tentang hal-hal yang terjadi di sekolah hari ini, mencoba membuat percakapan ringan dengan dirinya.

"Lo tau nggak sih? Lo cewek paling beruntung di sekolah ini, karena berhasil ngedapetin perhatian besar dari Kak Dreven. Lynelle si tukang menye-menye itu aja meskipun dapet perhatian Kak Dreven, perhatiannya nggak sebesar lo tau." cerita Auretheil yang membuat Shahinaz seakan tersadar akan sesuatu.

Auretheil? Lynelle? Dreven? Dia jadi merasa kalau tokoh-tokoh ini tidak terlalu asing di dalam otaknya sekarang. Shahinaz jadi merenung sejenak, tapi jantungnya sudah berpacu cepat sejak tadi.

"Ini Kingsley High School? SMA yang katanya sebagian besar isinya orang-orang elit?" tanya Shahinaz untuk memastikan.

"Lo kenapa sih Sha, kayaknya dari tadi aneh banget. Iya, ini Kingsley High School, kenapa? Lo lupa ingatan lagi?" ujar Auretheil yang sudah kembali kesal, "Gue jadi baru sadar, kok lo jadi banyak ngomong ya? Mana suara lo nggak ada lembut-lembutnya lagi."

Shahinaz sebenarnya sudah panik, tapi Shahinaz berusaha untuk menenangkan diri. Dia menghela napas panjang, lalu tersenyum bak orang bodoh setelah itu, "Maaf, Aure. Mungkin karena efek benturan tadi, gue jadi agak linglung. Maaf sekali lagi ya, gue nggak sengaja bikin lo khawatir lagi."

Auretheil mengangguk, meski raut wajahnya masih menunjukkan sedikit kekhawatiran. "Ya udah, ayo cepetan masuk mobil. Gue nggak mau ketahan macet di jalan. Mau balik ke rumah atau ke toko bunga?"

"Rumah aja, kepala gue kayaknya pusing lagi." balas Shahinaz sambil menggerutu kecil setelah itu. Dia ternyata terikat lagi dengan toko bunga, apa ini sudah menjadi takdirnya ya?

"Btw, ketua OSIS kita namanya Naveen Salvaris Argyle kan? Yang katanya protagonis utama dan bakalan ngejar-ngejar si Lynelle?" tanya Shahinaz yang masih penasaran dengan kehidupannya sekarang.

Auretheil menggerutu kesal, dia jadi tidak fokus mengemudi lagi, "Lo ngomong aneh sekali lagi, gue bakal turunin lo di sini aja."

Shahinaz cepat-cepat menenangkan Auretheil. "Eh, maaf Aure. Gue cuma penasaran aja, soalnya ada yang aneh aja di ingatan gue. Jangan marah, oke?"

Auretheil menghela napas dalam-dalam dan melanjutkan perjalanan. "Ya udah, gue ngerti kok. Mungkin efek benturan tadi bikin lo jadi aneh. Tapi jangan ngomong sekali lagi, ya. Gue udah cape banget sama perubahan aneh lo itu."

Shahinaz akhirnya mengunci mulutnya rapat-rapat. Daripada diturunkan paksa, lebih baik dia membisu saja disepanjang perjalanan. Setibanya di rumah, Shahinaz mengucapkan terima kasih kepada Auretheil dan bergegas masuk ke dalam. Meski asing, ini pasti rumah yang akan menemani hari-hari kesepiannya nanti bukan?

Merogoh kunci di dalam tasnya, untung saja apa yang dicari ada di sana dan bergabung dengan barang penting lainnya. Dia membuka gerbang rumah, membuka rumah seolah-olah ini benar-benar miliknya, lalu terdiam sejenak. Dia beneran masuk ke dalam novel sahabatnya sendiri?

"Gue masih hidup, tapi kenapa harus tetep jadi diri gue di dunia lain. Venelattie, andai lo mau revisi novel dan buat hidup gue bahagia, harusnya sekarang gue nggak sefrustasi ini kan?" akhirnya keluar juga khodam yang selama diperjalanan tadi dia tahan dengan sedemikian rupa.

Shahinaz menggaruk rambutnya secara kasar, namun dia kembali mencoba menenangkan dirinya dan menghilangkan kebingungan yang terus menerus mengganggu pikirannya sekarang ini.

Shahinaz menutup pintu rumah dengan lembut dan mulai mengamati sekelilingnya.

Rumah ini memang terasa familiar, itu karena dia sudah mendapat ingatan dari duplikat Shahinaz yang dibuat oleh sahabatnya sendiri!

"Entah ini nyata apa enggak, seenggaknya gue harus bersyukur kan sekarang? Kejatuhan beton rumah dan ikut kebakar bareng barang-barang di rumah itu, harusnya gue nggak selamat dan masih sehat wal'afiat seperti ini kan?" pikir Shahinaz sekali lagi, "Kalau gue selamat, fisik gue juga mungkin bakalan nggak sempurna lagi. Jadi gue berharap, semoga diri asli gue di sana sudah disemayamkan dengan sebaik mungkin."

Dia meletakkan tasnya di sofa dan mengunjungi ruang tamu yang tampak tenang. Ruang itu terlihat sama persis dengan ingatannya tentang rumah ini dari ingatan yang baru saja dia lihat. Di dinding, dia melihat foto-foto yang memperlihatkan momen-momen bahagia bersama orang tuanya-momen yang sekarang terasa lebih seperti kenangan orang lain daripada miliknya sendiri.

"Venelattie, lo buat tokoh gue terlalu lemah lembut. Padahal aslinya gue bar-bar, dan ucapan gue terlalu ceplas-ceplos. Lo nggak mungkin buat gue menderita di novel buatan lo sendiri kan?" ujar Shahinaz yang terus berbicara sendiri, "Thanks ya, meskipun lo udah buat gue jadi manusia sebatang kara, tapi nasib gue di sini kayaknya lebih baik daripada aslinya."

Mata Shahinaz sekilas menemukan tumpukan kertas di atas meja depan figura yang sedang dia lihat dengan teliti. Dia membacanya, barangkali itu surat atau catatan penting dari pemilik tubuh sebelum ini. Dan diantara tumpukan kertas itu, dia menemukan sebuah agenda dengan jadwal yang terperinci. Ini tampaknya membantu untuk memetakan kegiatan hariannya dan mungkin bisa memberinya petunjuk tentang rutinitas yang akan datang.

"Ternyata jadwal harian gue sepadat ini ya sekarang?" gumamnya, kemudian mengedikkan bahu.

Dia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum memulai jadwal hariannya itu. Tapi besok saja, sekarang lebih baik dia tidur kan?

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!