Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20🩷 Peran Rifal
Dea menghela nafasnya, "maafin gue Ing. Gue sayang sama Lo, gue ngga mau lo kaya gini, gue pengen Lo sadar kalo Kenzi...." gumam Dea setelah menghubungi Nara dan menceritakan semua rencana Inggrid dan Kenzi.
"De, ayo, kita cari sate kelinci! Bagus loh buat yang punya asma, katanya sih..." kekeh bang Arsya, adik Fani.
"Oh iya, bang."
~~
Sementara Rifal, ia sedang sibuk mengkoordinasikan anak-anak Thunderbolt untuk ikut rencana yang dibuat demi menjerat pelaku penjebakan Rama.
Vian menepuk pundak Rifal, dengan dengusan gelinya, "gue sebenernya....percaya ngga percaya, ada angin apa kita percaya sama musuh sendiri."
"Dea bukan musuh, Ian." Rifal bersandar di tembok sementara kakinya menggantung sebelah sebab ia duduk di tembok pembatas teras bangunan rumah ini. Kebetulan sekali Vian membahasnya karena sejak tadi otak Rifal itu berisik saja menggunakan nama Dea.
"Apa jaminannya kalo kita ngga ikut-ikutan dijebak mereka?"
Rifal meringis getir nan sumbang, menatap Vian dengan sorot mata kaku dan dinginnya itu, "gue jaminannya, kalo Dea ngga ikut-ikutan mereka sekarang. Toh Nara juga percaya kan? Orang mau berubah jadi baik itu di dukung, bener kan? Begitu kan, cara kerja MIPA 3?"
Vian mengangguk membenarkan, benar jika Rifal sedang menyukai Dea dan benar jika MIPA 3 itu akan selalu menjadi rumah kedua anak-anak bermasalah, "jadi Hana?" tembaknya tiba-tiba memancing Rifal untuk menarik alisnya sebelah, mendatangkan perasaan canggung dan Rifal sepertinya tak mau membahas ini, "tau apa Lo sama perasaan gue sekarang, Ian? Hana punya tempatnya sendiri. Tapi manusia hidup ngga bisa dibandingkan atau disandingkan sama yang udah ngga ada."
Vian mengangguk kembali membenarkan, tak lagi mendebat Rifal.
"Fal. Kang Miftah ada telfon, katanya disuruh ketemu." longok temannya, membuat obrolan itu berakhir.
Dan siang itu, Nara mengikuti langkah sesuai rencana. Mengikuti acara yang dibuat-buat oleh Inggrid cs termasuk mau tak mau Gibran dan Willy ada demi mengelabui dan menjerat Nara. Nara mengikuti maunya mereka sebagai *umpan*, demi menangkap Kenzi dan Inggrid dan mendapatkan bukti kelakuan kriminal mereka.
"Gue ikut!" rengek Muti.
"Ngga usah boncel!" Rifal menepuk jidat Muti, "Lo tunggu aja di rumah. Ini kerjanya laki."
Tasya tergelak, "do'a aja do'a. Biar dajjal-dajjal pada keluar dari sekolah."
"Kalo rencana ini mulus, bisa ngeluarin Rama kayanya gue mesti minta maaf sama si Dea," ringis Merry, "udah ngumpatin dia kemaren nuduh-nuduh."
"Ogah ah. Ngapain! Makin terbang idungnya, balik lagi sombong. Cuma akal-akalan aja, dia juga banyak salahnya kok...anggap aja impas." gidik Vina.
Rifal tak menanggapi obrolan anak-anak MIPA 3 yang masih meributkan Dea, padahal gadis itu tak mengharapkan apapun apalagi permohonan maaf mereka. Sungguh, menjadi baik itu sulit. Sementara menjadi jahat itu mudah sekali.
"Berarti Lo sama aja kaya kelakuan Dea sebelumnya. 11-23." ujar Yusuf.
Gilang tertawa, "sebelas dua belas kunyukkk."
"Lah, sebelas tambah dua belas berapa?" tanya Yusuf membuat Dian tertawa, "dengerin nih seksi kerohanian."
"Tobat Vin, tobat ....bentar lagi kiamat nih." alih-alih diam, mereka justru semakin ribut.
Lagi-lagi, Rifal menatap layar ponselnya yang sejak tadi hanya diberisiki oleh koordinasi anak-anak Thunderbolt dan kang Miftah. Tak ada satupun chat dari nomor baru, yang mengatakan jika dirinya adalah Dea. Apa Dea belum sadar? Jika sampai detik ini ia baru menerima nasi goreng dan martabak darinya saja, namun belum memberi nomornya pada Rifal?
*Lagi ngapain lo, De*?
*Ngga pengen liat kita lagi chaos disini*?
/
Dea masih berendam di kolam air hangat resort, merasakan udara pagi yang dingin. Dan lihatlah uap panas yang keluar dari air kolam ini.
"Abis ini ke kawah putih dulu baru liat rusa di Ranca Upas." Dea mengangguk pada kak Fani, yang kemudian ia bersama mas Huda terlihat mesra sekali di kolam renang dengan tertawa bersama sambil berpelukan. Ia jadi ingat dengan, astaga! Sudah berapa hari kejadian itu berlalu, namun Dea masih saja ingat bagaimana rasanya dan wajah Rifal ketika menciumnya.
"Ngga usah pengen, masih kecil." Tepuk mas Elok di jidatnya.
"Apa sih, mas!" manyunnya menyerbu, wajahnya mendadak merah dipergoki mupeng begitu.
"Idih, itu apa mukanya merah?!"
Dea ia menyipitkan matanya lantas meraih kakak keduanya ini dan melompat ke arah punggungnya sehingga riak air membuat riuh, "muka ku merah kena uap ihhhh! Mama mas Elok si Alan...."
Sementara Elok tertawa saja ia di serang adiknya begitu hingga tenggelam-tenggelam ke dalam air.
Nara udah cabut...
Rifal melirik jam tangan, setelah lewat beberapa detik, ia dan Gilang mengikuti, lalu dalam runtutan waktu yang rapi, anak-anak Thunderbolt dan sebagian MIPA 3 menyusul demi tak terlihat mencurigakan.
Rifal menarik slayer yang menutupi wajahnya. Jika dirinya dan Gilang tak membawa apapun, lain hal dengan anak-anak Thunderbolt yang sudah melengkapi diri dengan tongkat baseball, dan beberapa sajam.
Narasheila
Gue masih oke, Lang...Fal.
Gilang
Oke. Masih jarak aman. Gue sama Rifal di belakang.
Sesiang ini Rifal dan yang lain mengikuti kemana Nara pergi dibawa, mulai dari mall yang menghabiskan waktu siang. Sampai akhirnya, mendadak mobil Willy terpecah. Disana Willy dan Gibran menuju ke arah pulang sementara.
Narasheila
Gue ngikut di mobil Kenzi sama Inggrid.
Gilang menatap Rifal tanpa bicara, kini mereka percaya sepenuhnya pada apa yang Dea katakan.
Dea, apa gadis itu memang benar-benar ingin berubah? Rifal memang sudah notice sejak mengikutinya ke apotik. Atau justru sudah lama, sejak ia sering menemukan perbedaan Dea dari yang lain saat di club malam.
Nara memang dibawa ke sebuah rumah yang cukup jauh. Dan disana.
Rifal menyeringai, "an jirr Lang, Lo liat ngga itu emang udah direncanain." tuduh Rifal ke arah rumah dengan beberapa orang preman, dan teman Kenzi. Untuk apa? Tentu saja menjaga, antek-antek dan dipersiapkan untuk berkelahi kalau-kalau Rama mengerahkan teman-temannya.
Rifal menghentikan laju motornya sementara Gilang menghubungi yang lain.
Gilang bahkan menghubungi Nara yang kemudian panggilannya itu diterima oleh Kenzi di dalam dan kreseekk...kreseekkk tuuttt ....ponsel Nara mendadak padam.
Microphone kecil yang sengaja dibawa Nara sebelumnya, sudah merekam semua yang dikatakan Kenzi dan diperdengarkan oleh pihak kepolisian dimana kang Miftah, Rama dan abah ada disana.
Bukti jika Kenzi dan Inggrid menjebak Rama, darimana Kenzi mendapatkan sabu dan ekstasi untuk menjebak Rama, seluruh rencana kriminalnya.
"An jing psycho. Stress ....." umpat Rifal setelah mendengarkan obrolan Gilang dan Nara--Kenzi tadi, nasibnya dan Kenzi boleh dikatakan hampir sama, tapi ia tidak se-sakit itu. Ia dan Kenzi bisa dikatakan korban orangtua, broken home, namun bedanya ia masih waras untuk tidak berbuat kriminal yang merugikan.
"Kenzi bipolar, ditambah orangtuanya yang anggota DPR itu selalu push dia buat jadi nomor satu dalam hal apapun, membentuk pribadi Kenzi yang ambisius dan obsesian. Begitupun sama Nara, dia suka Nara jadi----"
Rifal paham tanpa harus Gilang menjelaskan, "ngga usah pake penjelasan secara medis sama gue. Udah cukup bilang dia gila, gue paham." Ujar Rifal, "jadi, Rama Otewe?"
"Iya, bareng pihak kepolisian, abangnya Nara. Tapi kita dipersilahkan sikat duluan dekeng-dekengnya yang ada di luar." jawab Gilang membuat Rifal tersenyum, "my pleasure."
Ia segera memberikan aba-aba pada yang lain untuk ikut maju, "geer gue ngga lupa dibawa?" tanya Rifal pada Vian yang menyerahkan benda tajam itu pada Rifal, "oke. Maju." Rifal menarik lagi slayer agar erat menutupi wajahnya.
.
.
Dea ikut kalian aman, Dea kalian tahan, kalian gk selamat.
itu ketua Genk cuma lagi tatrum aja, bukan Maslah Gedhe kog
bukan Kirana kalian di halangi Genk motor tapi karena dea
jari nya di tahan, belum tau kenyataan nya kenapa Kirana memanfaatkan willy😁
aku yg nonton sambil nyemilin kacang
perlu kayak pernyataan.
kamu kan belum secara tega bilang Dea aku suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
cuma Hts, moro² cium paksa, tiba² ngajak jalan², tanpa diminta jadi donatur...
jangan salahkan Dea ,klo Dea nganggep kalian bukan siapa²
dari sini dea-rifal mulai landing 😁😁