NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Mata Elang di Antara Debu

Enam bulan.

Setengah tahun telah berlalu sejak Alina mengubur masa lalunya di Rungkut. Musim hujan telah berganti kemarau panjang, mengubah gudang logistik PT. Abraham Textile menjadi oven raksasa yang memanggang siapa saja di dalamnya.

Namun, Alina tidak lagi mengeluh.

Gadis itu berdiri tegak di area loading dock, mengenakan rompi oranye keselamatan di atas kemeja kerjanya yang kini agak longgar karena berat badannya turun drastis. Rambutnya dicepol ketat tanpa ada satu helai pun yang lolos. Wajahnya tirus, tanpa riasan, namun sorot matanya setajam silet.

"Pak Tejo, jangan coba-coba memanipulasi data di depan saya," suara Alina terdengar datar namun menekan, memotong riuh rendah suara mesin forklift. Ia menunjuk faktur di tangannya dengan ujung pena. "Di surat jalan tertulis 500 roll kain Katun Jepang. Tapi di truk Bapak cuma ada 495. Kurang lima."

Sopir truk bertubuh besar itu menyeka keringat, mencoba menyeringai meremehkan. "Ah, Mbak Al ini kaku amat. Cuma kurang lima, Mbak. Nanti saya kirim susulannya besok. Tanda tangan aja dulu biar saya bisa jalan. Panas nih."

"Tidak bisa," potong Alina dingin. "Bapak mau kirim susulan besok, silakan. Tapi tanda tangan saya baru keluar besok saat barangnya lengkap. Atau saya catat di berita acara kalau pengiriman hari ini cacat? Bapak mau potong gaji?"

Sopir itu terdiam. Nyalinya ciut melihat ketegasan admin wanita yang terkenal "berdarah dingin" di seluruh kompleks pergudangan itu. Alina dikenal tidak pernah tersenyum, tidak pernah basa-basi, dan tidak mempan disogok rokok atau uang makan.

"Iya, iya, Mbak! Galak bener. Saya ambil sisanya di gudang ekspedisi sekarang," gerutu sopir itu sambil membanting pintu truknya.

Alina hanya menatap datar truk itu pergi. Ia tidak butuh disukai. Ia butuh dihargai. Dan selama enam bulan ini, ia berhasil membangun reputasi itu. Ia bukan lagi Alina yang cengeng. Ia adalah mesin yang efisien.

Tanpa Alina sadari, interaksi kecil itu disaksikan oleh sepasang mata dari lantai mezzanine gudang yang terbuat dari besi.

Wisnu Abraham berdiri di sana, kedua tangannya bersandar pada pagar pembatas, menatap ke bawah. Di sebelahnya, Pak Heru tampak gugup mendampingi sang pemilik perusahaan yang sedang melakukan inspeksi mendadak.

"Siapa dia, Pak Heru?" tanya Wisnu, dagunya menunjuk ke arah Alina.

"Oh, itu Alina, Pak Wisnu," jawab Pak Heru cepat sambil menyeka keringat di pelipisnya. "Admin baru yang saya ceritakan di laporan evaluasi kemarin. Kinerjanya luar biasa. Paling teliti, paling rajin lembur, dan data stok tidak pernah selisih satu sentimeter pun sejak dia pegang."

Wisnu menyipitkan mata. Ia jarang memuji bawahan. Tapi ada sesuatu dari gestur tubuh gadis itu yang menarik perhatiannya. Cara dia berdiri yang kaku, cara dia menatap lawan bicaranya tanpa rasa takut... itu mengingatkan Wisnu pada dirinya sendiri.

Dan wajah itu...

Wisnu merasa familiar. Ia pernah melihat wajah itu. Bukan di kantor, bukan di pesta bisnis. Di mana?

Ingatan Wisnu melayang mundur ke enam bulan lalu. Jalanan Surabaya. Hujan. Seorang gadis bergaun merah marun yang hampir ia tabrak. Gadis yang matanya kosong, membawa kesedihan yang begitu pekat hingga Wisnu bisa merasakannya dari balik kemudi. Gadis yang baru saja membuang kardus kenangan mantannya.

"Panggil dia," perintah Wisnu singkat.

"Baik, Pak." Pak Heru berteriak dari atas. "Alina! Dipanggil Pak Bos! Naik ke sini!"

Di bawah, Alina mendongak. Jantungnya berdegup sedikit kencang saat melihat Pak Heru dan seorang pria jangkung berjas rapi di atas sana. Alina mengenali siluet itu. Pemilik perusahaan. Pria yang mobilnya sering ia lihat melintas tapi tak pernah ia sapa.

Alina menarik napas panjang, merapikan sedikit kerah kemejanya, lalu menaiki tangga besi menuju lantai mezzanine.

Saat ia sampai di atas, ia berhadapan langsung dengan Wisnu Abraham.

Ini adalah momen pertama kali mereka saling bertatapan dalam jarak dekat dan dalam kondisi sadar sepenuhnya.

Wisnu menatap Alina lekat-lekat. Gadis itu sudah berubah. Rambutnya tidak lagi terurai panjang seperti saat insiden di jalan itu. Tubuhnya lebih kurus. Tapi matanya... mata itu masih menyimpan kegelapan yang sama.

"Selamat siang, Pak," sapa Alina datar, menunduk sopan namun menjaga jarak.

"Siang," jawab Wisnu, suaranya bariton dan tenang. "Saya melihat caramu menangani sopir tadi. Tegas. Jarang ada staf yang berani menahan truk ekspedisi demi lima roll kain."

"Itu prosedur perusahaan, Pak. Kalau saya loloskan, yang rugi Bapak, bukan sopir itu," jawab Alina lugas.

Wisnu melangkah maju satu langkah. "Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?"

Alina terdiam sejenak. Ia ingat kejadian itu. Kejadian di mana ia hampir mati konyol tertabrak mobil pria ini setelah memulangkan barang Rendy. Tapi Alina memilih untuk menutup rapat masa lalunya.

"Mungkin Bapak salah orang. Saya hanya admin gudang yang kebetulan wajahnya pasaran," elak Alina dengan nada sopan yang dibuat-buat.

Wisnu tersenyum tipis. Sangat tipis. Ia tahu gadis ini berbohong, dan ia menyukainya. Ia menyukai tembok tinggi yang dibangun gadis ini di sekeliling dirinya.

"Pak Heru bilang kamu tidak pernah ambil cuti. Kamu juga selalu pulang paling akhir. Kamu bekerja seperti orang yang sedang melarikan diri dari sesuatu," ucap Wisnu tajam.

Alina mengangkat wajahnya, menatap mata elang Wisnu. "Saya bekerja karena saya butuh uang, Pak. Dan saya bekerja keras karena saya ingin posisi yang lebih baik. Apakah ambisi itu salah?"

Pak Heru hampir jantungan mendengar jawaban berani itu. "Alina! Jaga bicaramu!"

Wisnu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Pak Heru diam. "Tidak apa-apa, Heru. Saya suka ambisi."

Wisnu menatap name tag di dada Alina. Alina Oktavia.

"Sekretaris saya di kantor pusat baru saja saya pecat karena terlalu banyak drama dan tidak teliti. Saya butuh pengganti. Bukan orang yang manis, tapi orang yang bisa bekerja sekeras robot. Orang yang tidak punya kehidupan pribadi yang mengganggu pekerjaan."

Wisnu mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Dan saya melihat itu di kamu, Alina. Kamu kosong. Sama seperti saya."

Kata-kata itu menohok Alina. Kosong.

"Besok pagi, datang ke Abraham Tower di jalan Basuki Rahmat. Lapor ke HRD pusat. Saya mempromosikan kamu menjadi asisten pribadi saya. Gajimu naik tiga kali lipat."

Tiga kali lipat.

Alina mengepalkan tangannya di samping tubuh. Angka itu berputar di kepalanya. Tiga kali lipat berarti kekuasaan. Tiga kali lipat berarti akses ke dunia atas—dunia di mana Rendy dan Sisca berada.

Ini adalah tangga yang ia butuhkan untuk naik dari selokan Rungkut menuju arena balas dendam.

"Saya terima tawaran Bapak," jawab Alina tegas, tanpa keraguan.

"Bagus." Wisnu berbalik badan, bersiap pergi. "Jangan kecewakan saya. Di kantor pusat, tekanannya bukan debu, tapi mental."

Wisnu berjalan menuruni tangga besi, diikuti Pak Heru yang masih bengong. Namun sebelum benar-benar hilang dari pandangan, Wisnu bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk didengar Alina.

"Senang bertemu denganmu lagi... gadis kardus."

Alina terpaku di tempatnya berdiri. Pria itu ingat. Wisnu Abraham ingat pertemuan sekilas mereka enam bulan lalu.

Alina menyentuh dadanya yang bergemuruh. Bukan karena asmara, tapi karena ia sadar takdir baru saja memutar rodanya dengan kencang. Sang Penenun telah menarik benang Alina dari gudang kumuh ini untuk dijahit masuk ke dalam pola hidupnya yang rumit.

Dan Alina siap. Ia siap kembali ke kota. Ia siap menghadapi dunia. Dan yang paling penting, dengan posisi barunya nanti, ia siap menghancurkan siapa saja yang dulu pernah menginjaknya.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!