NovelToon NovelToon
Doa Kutukan Dari Istriku

Doa Kutukan Dari Istriku

Status: tamat
Genre:Kutukan / Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Vandra tidak menyangka kalau perselingkuhannya dengan Erika diketahui oleh Alya, istrinya.


Luka hati yang dalam dirasakan oleh Alya sampai mengucapakan kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya selama ini.


"Doa orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan oleh Allah di dunia ini. Cepat atau lambat."


Vandra tidak menyangka kalau doa Alya untuknya sebelum perpisahan itu terkabul satu persatu.


Doa apakah yang diucapkan oleh Alya untuk Vandra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Vandra menarik napas panjang. Wajahnya tampak tenang, tapi di matanya masih ada sisa ketegangan.

“Aku ingin membangun kembali rumah tanggaku yang sempat rusak dengan Erika, Pa. Aku tidak ingin semuanya hancur lagi.”

Suasana langsung berubah tegang. Zara yang sedari tadi diam, tiba-tiba menatap kakaknya tajam seperti pisau.

“Jangan pernah bawa wanita itu ke rumah ini!” ucap Zara penuh amarah. Suaranya bergetar, namun tegas. “Kalau kamu berani, aku sendiri yang bakal patahkan kakinya!”

“Hush! Jangan kasar begitu, Zara!” tegur Mama Vany cepat, mencoba menenangkan suasana.

Namun, Zara tak menggubris. “Pokoknya aku enggak mau wanita itu menjadi bagian dari keluarga ini! Dia punya kelakuan buruk dan udah cukup bikin kita semua malu dan terhina!”

Zara berdiri dari kursinya, menatap Vandra seperti tak percaya bahwa kakaknya masih memikirkan perempuan yang sama setelah semua yang terjadi. "Aku tidak main-main!"

Papa Indera menggeleng pelan, wajahnya muram. “Zara, duduk. Jangan memperkeruh keadaan,” katanya pelan, tapi otoritatif.

Vandra hanya diam. Ia tahu, dalam hati kecilnya, Zara tidak salah. Entah kenapa, perasaan bersalahnya pada Erika lebih kuat dari logikanya sendiri. Ia ingin menebusnya, meski mungkin yang akan ia bangun hanyalah reruntuhan yang tidak bisa berdiri lagi.

Di sisi lain Vero duduk manis menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara. Bocah itu hanya menatap ayahnya sesekali dengan tatapan datar. Bukan benci, bukan pula rindu, hanya kosong.

Bagi Vero, dunia sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan keputusan ayahnya yang berulang kali menyakiti ibunya. Selama ia masih punya bunda dan adiknya, semuanya akan baik-baik saja.

“Vero, kamu nggak mau bilang apa-apa sama Ayah?” tanya Mama Vany pelan, mencoba mencairkan suasana.

Anak itu berhenti mengunyah, lalu berkata lirih, “Ayah jaga diri aja, ya. Jangan bikin aku sedih lagi.”

Kata sederhana itu membuat dada Vandra bergetar. Ia ingin memeluk putranya, tetapi Vero sudah lebih dulu menunduk, melanjutkan makan tanpa menatap wajahnya lagi.

Menjelang sore, Vandra berpamitan. Ia bilang ingin menemui seseorang. Mama Vany sempat menatapnya dengan curiga, tapi tidak menahan.

“Jangan bikin masalah lagi, Nak. Tolong ...!” kata Mama Vany sebelum Vandra pergi.

Langit sudah mulai jingga ketika Vandra tiba di depan rumah Pak Erwin. Rumah besar itu tampak sunyi, jendela tertutup rapat. Vandra menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.

Pintu terbuka setelah Vandra mengetuk beberapa kali. Wajah Pak Erwin muncul, tampak lebih keras dari yang ia ingat.

“Kamu bebas juga hari ini?” tanya Pak Erwin tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi ada nada sinis yang tak bisa disembunyikan.

“Iya, Pa,” jawab Vandra dengan nada rendah, hampir seperti anak kecil yang tertangkap basah. “Apa Erika sudah sampai di rumah?”

Pak Erwin menatapnya lama. Sorot matanya dingin dan penuh perhitungan. “Kamu masih peduli sama dia, setelah semua ini?” tanyanya, nyaris seperti ujian.

Vandra menelan ludah. Ia tahu jawaban yang akan keluar bisa menentukan arah hidupnya lagi. Tapi sebelum sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Langkah itu pelan, tetapi mantap. Bayangan seseorang perlahan muncul di balik pintu ruang tamu.

Vandra terpaku. Dadanya berdebar. Bayangan itu semakin jelas.

Sosok perempuan dengan rambut terurai sepunggung muncul dari balik ruang tamu. Wajahnya tampak lebih tirus, kulitnya sedikit kusam, dan mata itu masih menyimpan bara yang sama seperti dulu, hanya kini diselimuti kelelahan dan kebencian yang dalam.

"Erika," batin Vandra.

Vandra mematung. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tak ada kata yang keluar. Dunia seperti berhenti berputar untuk beberapa detik.

“Mas Vandra!” Suara Erika mengalun merdu dan menggema di ruang hening di antara mereka.

Erika berdiri beberapa langkah dari pintu, kedua tangannya saling menggenggam gugup, tetapi sorot matanya tetap tajam.

“Kamu ... sudah pulang rupanya,” balas Vandra akhirnya. Senyum kecil muncul di wajahnya, tapi cepat pudar ketika melihat ekspresi dingin Erika.

“Sudah,” jawab Erika sinis. “Dan sepertinya semua orang sudah melupakan aku.”

Nada sinisnya menembus dada Vandra. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar keluhan, tetapi juga tuduhan.

Pak Erwin menatap keduanya bergantian, kemudian berkata dengan nada datar, “Kalau kalian mau bicara, bicara lah baik-baik. Aku masuk dulu. Tapi jangan buat ribut di rumah ini.”

Setelah itu, Pak Erwin melangkah pergi, meninggalkan dua orang yang dulu saling jatuh cinta, lalu saling menghancurkan.

Hening. Yang terdengar hanya detak jam di ruang tamu dan napas mereka yang berat.

“Aku kira kamu nggak bakal datang menemui aku lagi,” ucap Erika, menatap lantai.

“Bagaimana aku nggak datang? Kamu itu istriku dan aku khawatir sama kamu,” balas Vandra, langkahnya maju setapak.

Erika mendongak, menatapnya dengan senyum getir. “Khawatir? Setelah sembilan bulan kamu diam, baru sekarang bilang khawatir?”

Vandra terdiam, matanya menunduk. “Aku nggak bisa apa-apa, Erika. Kita sama-sama tahu, di sana komunikasi nggak semudah itu. Aku yakin kalau kamu kuat.”

“Kuat?” Erika tertawa kecil, tapi suaranya getir. “Mas, kamu tahu nggak, aku harus tidur dengan rasa takut tiap malam. Aku dihina, dicaci, bahkan nyaris—”

Erika berhenti bicara sejenak. Air matanya jatuh tanpa izin. “Nyaris kehilangan harga diri aku sebagai manusia. Semua karena kesalahan yang kita buat bersama!”

Vandra menatapnya, rahangnya mengeras. Dia menggenggam kedua tangan Erika.

“Aku tahu. Aku juga nyesel. Tapi, aku juga menderita, Erika. Aku kehilangan semuanya, anak-anak, pekerjaan, nama baik. Sekarang aku cuma ingin memperbaikinya.”

“Memperbaiki?” Erika melangkah mundur dan melepaskan genggaman Vandra, suaranya meninggi.

“Kita nggak bisa memperbaiki apa pun, Mas! Semuanya udah hancur! Dunia nggak akan lupa siapa Erika si pelakor yang tidur dengan suami orang, yang masuk penjara karena dosa sendiri!” lanjut Erika.

Vandra menelan ludah. Ia tahu Erika benar, akan tetapi di balik kemarahannya, ia masih melihat luka yang sama dengan miliknya. Luka kehilangan, penyesalan, dan ketakutan akan masa depan yang tak menentu.

“Erika,” kata Vandra lembut. “Aku masih punya niat baik. Kita mulai dari awal, ya? Mungkin bukan jadi pasangan sempurna, tapi kita bisa saling bantu buat berdiri lagi. Aku nggak mau kamu sendirian.”

Erika menatapnya lama. Mata itu bergetar, seolah ada pertempuran di dalam dirinya. Antara ingin percaya dan ingin membenci.

“Mas Vandra.” Suara Erika melemah. “Kamu selalu begitu. Datang dengan kata-kata manis seolah semua bisa diperbaiki. Tapi tahu nggak? Aku nggak seperti dulu lagi.”

Vandra mendekat perlahan. Dia kembali meraih tangan Erika dan menatapnya lembut.

“Aku juga nggak sama, Erika. Semua udah berubah.”

“Kalau begitu,” Erika menarik napas panjang, “buktikan. Jangan cuma kata-kata.”

1
pipi gemoy
👍🏼🙏🏼☕
pipi gemoy
welcome baby girl 🌹
pipi gemoy
congrats Philip🌹
Raisha
kapooooookk
Raisha
gimana rasanya semua sakit yg di rasakan Alya suatu saat akan kamu rasakan juga Erika? bener² sakit tak berdarah & sampai akhir hayat😪😮‍💨😮‍💨
Raisha
kapooooookk...1 per 1 kutukan mulai di ucapkan,siap² mereka jalan 1 per 1 menghampiri kalian,terima dg ikhlas & apa adanya,semoga kalian suka🤣🤣🤣🤣
Raisha
tobat sambel,besok di ulangi lagi,gak jelas banget🙄😒😠😡
mooociii
temen alya ada berapa? rianti, cristina, maria, gue pikir tmenya cm 2 ada 3 ternyta
🌸Santi Suki🌸: Cristina itu anaknya Maria. itu typo, Kak 🤭
total 1 replies
pipi gemoy
congrats biru n Alya 🌹
bye bye mantan 👻👻🤣
pipi gemoy
🌹
pipi gemoy
nga kapok si warik ini, bakalan ada sesion ke2 dipenjara 👻
💙💙Xiena💙💙
citra atau Cindy?
pipi gemoy
mampus noh Vandra menukar seluruh dunia dengan kenikmatan sesaat 😂👻
V3
Alhamdulillah Vandra mulai Istiqomah dalam perubahan nya. 🤗
Alya dan keluarga jg sdg menunggu warga baru nya launching
Philips jg sdh menemukan pelabuhan terakhir hati nya setelah menahan kecewa sndri Krn melihat Alya yg sdh menikah.
semoga semuanya kebahagiaan mereka TDK lekas memudar 🤗🤗
aamiin 🤲🏻
V3
alamaaaak ... ternyata Philip toh yg mo menikah dg Mona ,, teman nya Alya jg ,,,, ttp gak jauh-jauh dr Alya 🤣🤣🤣
pipi gemoy
hadir Thor
wow Zara adek ipar hebat👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼🌹
V3
siapakah yg ada di depan rumah Mona ❓🤔
V3
Vandra mmg butuh kesabaran yg extra dan hati yg lapang agar bisa menerima takdirnya 🤗
V3
smg kebahagiaan sllu menyertai kehidupan mu 🤗
💙💙Xiena💙💙
pak Rasyid atau pak Erwin?
Raisha: namanya mungkin Erwin Rasyid itu🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!