"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 01
BAB 01 - Sepatu Kanvas
Langit Jakarta masih menyisakan warna abu-abu pucat ketika Mayang Sari menarik tuas kompor. Api biru padam. Aroma beras yang dimasak hingga menjadi bubur kental menguap, memenuhi dapur sempit berukuran dua kali tiga meter itu. Bau bawang goreng, kaldu ayam, dan kerupuk murah bercampur menjadi satu. Aroma kehidupan.
“Sudah jam lima, May.” Suara serak terdengar dari balik tirai kamar. Budhe Sumi batuk dua kali.
Mayang tidak menoleh. Tangannya sibuk memindahkan panci besar ke atas gerobak dorong di depan rumah kontrakan. “Sudah siap, Budhe. Tinggal dorong.”
“Kamu berangkatlah. Nanti telat. Biar Paklemu yang dorong ke depan gang.”
Mayang mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan. Ia melirik jam dinding plastik yang retak kacanya. “Mayang bantu dorong sampai tikungan. Seragam Mayang sudah di tas.”
Tidak ada drama pelukan atau kata-kata penyemangat berlebihan. Hidup mereka terlalu praktis untuk sentimen semacam itu. Mayang hanya menyalakan keran air, mencuci tangan sebatas siku, lalu menyambar tas ransel kanvas berwarna hitam yang warnanya mulai memudar menjadi abu-abu.
Di luar, jalanan gang becek sisa hujan semalam. Mayang mendorong gerobak bubur itu dalam diam. Roda gerobak berdecit, beradu dengan suara kokok ayam tetangga.
Dua jam kemudian, dunia berubah 180 derajat.
Gerbang SMA Pelita Bangsa berdiri megah seperti pintu masuk istana kerajaan Eropa. Pilar-pilarnya putih menjulang, dihiasi ukiran emas di bagian atas. Pagar besi otomatis terbuka perlahan, mempersilakan deretan mobil mengkilap masuk satu per satu.
Alphard hitam. BMW seri terbaru. Mercedes-Benz dengan sopir berseragam safari.
Di seberang jalan, sebuah angkot biru berhenti mendadak. Asap knalpot hitam menyembur keluar, membuat pejalan kaki menutup hidung.
“Kiri, Bang!” suara Mayang terdengar, sedikit keras karena harus mengalahkan suara mesin tua.
Sopir angkot menoleh, wajahnya masam. “Lama amat turunnya, Neng. Macet nih.”
Mayang tidak menjawab. Dia menyodorkan uang lima ribu rupiah yang sudah lecek. Kakinya melangkah turun. Sepatu kanvas hitam merek lokal seharga lima puluh ribu itu mendarat di aspal yang masih basah. Ada sedikit lumpur di ujung sol karetnya.
Dia berdiri di trotoar. Menunggu celah di antara antrean mobil mewah yang hendak masuk gerbang sekolah.
Kaca jendela sebuah mobil sedan sport merah perlahan turun tepat di depannya. Seorang siswi berkacamata hitam melirik keluar, lalu menaikkan kaca lagi dengan cepat seolah takut udara luar mencemari AC mobilnya.
Mayang menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia membenarkan letak tas ranselnya, menundukkan kepala sedikit, dan mulai berjalan menyeberang.
Dia bukan bagian dari mereka. Dia tahu itu. Beasiswa penuh yang didapatkannya adalah tiket emas, sekaligus vonis hukuman sosial.
Di gerbang, seorang satpam bertubuh tegap dengan seragam safari biru tua menghadang. Tangannya terangkat, telapak terbuka. Gestur berhenti.
“Mau ke mana, Mbak? Pengantaran katering lewat pintu belakang.”
Mayang berhenti. Dia mengangkat wajah. Tidak ada raut tersinggung. Wajahnya datar. Tangannya merogoh saku kemeja putihnya yang terlalu besar, mengeluarkan kartu pelajar sementara yang baru dicetak kemarin.
“Siswa baru. Kelas sepuluh,” kata Mayang. Singkat.
Satpam itu mengerutkan kening. Dia mengambil kartu itu, membolak-balikannya, lalu menatap penampilan Mayang dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sepatu kanvas kusam. Rok abu-abu yang bahannya sedikit kasar. Tas ransel yang ujung resletingnya diganti peniti.
“Beasiswa?” tanya satpam itu. Nada suaranya turun, kehilangan hormat.
“Iya.”
“Masuk. Lewat jalur pejalan kaki sebelah kiri. Jangan jalan di tengah, menghalangi mobil.”
Mayang mengangguk sekali, mengambil kembali kartunya, dan berjalan masuk.
Lantai koridor utama sekolah itu bukan keramik biasa. Itu marmer. Licin, dingin, dan memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Suara langkah sepatu Mayang terdengar ciit, ciit pelan karena sol karetnya yang lembab. Bunyi yang sangat berbeda dengan ketukan tegas sepatu kulit mahal murid-murid lain.
Dia berjalan menunduk, menghindari kontak mata. Telinganya menangkap potongan-potongan percakapan di sekitarnya.
“Liburan kemarin di Swiss membosankan. Saljunya sedikit.”
“Papa ganti mobil lagi. Gue nggak suka warnanya. Terlalu norak.”
“Lo lihat tas Hermes yang dipake Bu Siska? Itu palsu, gue yakin.”
Dunia yang asing. Bahasa yang sama, tapi dialek kemakmuran yang tidak Mayang pahami. Dia mempercepat langkah, mencari letak ruang tata usaha untuk melapor sebelum masuk kelas.
Koridor Gedung A terlihat sepi. Jam pelajaran belum dimulai, tapi murid-murid lebih suka berkumpul di kafetaria atau lobi utama. Mayang berbelok ke lorong perpustakaan karena salah membaca peta denah di dinding.
Lorong itu sunyi. Lantainya bersih tanpa debu. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kaca patri yang tinggi, menciptakan pola warna-warni di lantai.
Di salah satu bangku panjang di sisi lorong, seseorang sedang duduk.
Seorang siswa laki-laki. Seragamnya rapi, tapi dasinya sedikit longgar. Kemeja putihnya terlihat sangat putih di bawah sinar matahari, kontras dengan kulitnya yang bersih. Dia tidak memegang ponsel seperti kebanyakan remaja seusianya.
Di tangannya ada sebuah buku tebal. Hardcover. Judulnya tertulis dalam bahasa Inggris: The General Theory of Employment, Interest and Money karya John Maynard Keynes. Bukan bacaan anak SMA.
Mayang melambatkan langkah. Dia harus melewati siswa itu untuk sampai ke ujung lorong. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena gugup bertemu lawan jenis, tapi karena insting pertahanan dirinya menyala setiap kali melihat siswa yang terlihat "berkuasa".
Dia mencoba berjalan sepelan mungkin, menahan napas agar tidak mengganggu.
Tiga langkah lagi.
Dua langkah.
Satu langkah.
Angin berhembus pelan dari ventilasi atas, membawa udara dari arah Mayang menuju bangku itu.
Siswa itu berhenti membalik halaman.
Gerakannya tiba-tiba terhenti. Bukan karena suara langkah kaki Mayang, tapi karena sesuatu yang lain.
Hidungnya bergerak sedikit. Mengendus samar.
Aroma itu.
Bukan aroma parfum Jo Malone atau Chanel yang biasa dia cium dari teman-teman wanitanya. Bukan juga bau keringat apek sisa olahraga.
Itu aroma bawang putih yang ditumis. Aroma lada. Aroma beras yang tanak. Aroma dapur yang sibuk. Aroma kemiskinan yang berusaha ditutupi sabun mandi batangan murah.
Mayang sudah melewatinya dua langkah ketika dia merasakan tatapan itu menusuk punggungnya.
Mayang berhenti. Ragu. Apakah dia harus menoleh?
Siswa itu menutup bukunya. Suaranya pelan tapi tegas di lorong yang sunyi. Buk.
Mayang menoleh perlahan.
Siswa itu—Vino—sedang menatapnya.
Mata itu dingin. Cokelat tua, hampir hitam. Tidak ada senyum ramah. Tidak ada ketertarikan romantis. Tatapan itu seperti tatapan seorang ilmuwan yang baru saja menemukan spesies serangga baru di bawah mikroskop. Menilai. Membedah. Mengkalkulasi.
Dia melihat sepatu kanvas Mayang. Naik ke rok yang bahannya murahan. Naik ke tas ransel dengan peniti di resleting. Lalu berhenti di wajah Mayang.
Mayang membalas tatapan itu. Dia tidak menunduk kali ini. Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk tidak terlihat lemah di depan mata yang begitu arogan itu.
Hening.
Lima detik yang terasa seperti lima jam.
Vino tidak bertanya "Siapa namamu?" atau "Anak baru ya?". Itu terlalu basa-basi. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, matanya menyipit sepersekian milimeter. Otaknya sedang memproses data: Gadis ini tidak seharusnya ada di ekosistem ini.
Mayang merasa telanjang di bawah tatapan itu. Dia mengeratkan pegangan pada tali tasnya, lalu memutus kontak mata. Dia berbalik dan melanjutkan langkahnya, sedikit lebih cepat.
Dia tidak lari. Dia hanya berjalan menjauh.
Di belakangnya, Vino tidak memanggil. Dia kembali membuka bukunya. Tapi kali ini, dia tidak langsung membaca. Dia melihat punggung Mayang yang menghilang di belokan koridor.
"Bubur," gumam Vino pelan. Hampir tak terdengar.
Satu kata. Sebuah kesimpulan observasi. Lalu dia kembali tenggelam dalam teori ekonomi makro, seolah Mayang hanyalah anomali data statistik yang tidak signifikan.
Mayang akhirnya menemukan pintu kelas X-1. Papan nama akrilik di pintu terlihat mengkilap. Dia menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin, lalu mengetuk pintu.
Pintu terbuka.
Kelas itu dingin. AC sentral bekerja maksimal. Wangi ruangan itu seperti lobi hotel bintang lima. Ada sekitar dua puluh meja di sana, bukan meja kayu reyot, tapi meja individual yang ergonomis. Papan tulisnya digital.
Guru belum datang. Tapi hampir seluruh kursi sudah terisi.
Suara obrolan riuh seketika mati begitu Mayang melangkah masuk.
Dua puluh pasang mata menoleh ke arah ambang pintu.
Mayang berdiri kaku. Dia merasakan sensasi yang sama seperti saat di gerbang tadi, tapi kali ini lebih intens. Di sini, dia terperangkap dalam kotak tertutup bersama mereka.
“Siapa tuh?” bisik seorang siswi di barisan depan. Rambutnya dicat ash-grey, kukunya penuh hiasan nail art.
“Anak baru kali,” jawab teman sebangkunya yang sedang memegang cermin kecil.
Mayang berjalan menuju meja guru yang kosong. Dia tidak tahu harus duduk di mana.
“Permisi,” kata Mayang pelan. Suaranya hilang ditelan dinginnya AC.
Seorang siswi di barisan tengah, yang duduk dengan kaki disilangkan di atas meja, menatap Mayang dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. Namanya tertulis di nametag yang tersemat di blazer mahalnya: Vivie.
Vivie menatap tas Mayang.
“Eh, Guys,” suara Vivie lantang, memecah keheningan. “Cleaning service kita ganti seragam ya sekarang? Kok bawa ransel?”
Tawa meledak. Bukan tawa lepas, tapi tawa mengejek yang tajam.
“Bukan, Vie. Itu mungkin kurir paket yang nyasar,” sahut siswa lain di pojok, sambil melempar bola kertas ke arah tong sampah.
Mayang tidak menjawab. Wajahnya tidak memerah. Dia sudah biasa mendengar ini. Di pasar, orang-orang berebut tempat dengan kata-kata kasar. Di sini, mereka menggunakan sarkasme. Sama saja. Intinya penolakan.
Dia melihat satu bangku kosong. Paling belakang. Di sudut dekat jendela. Jauh dari pusat perhatian.
Mayang berjalan ke sana. Langkahnya mantap. Dia mengabaikan tatapan-tatapan itu.
Saat dia melewati meja Vivie, gadis itu sengaja memanjangkan kakinya.
Mayang melihat gerakan itu. Refleksnya terlatih karena sering menghindari lubang jalan saat mendorong gerobak. Dia melangkahi kaki Vivie dengan mulus, tanpa tersandung.
Vivie mendengus kesal karena rencananya gagal. “Cih. Mata udik.”
Mayang sampai di kursinya. Dia duduk, meletakkan tas di lantai. Dia mengeluarkan buku tulis biasa—buku tulis tipis dengan sampul cokelat standar—dan sebuah kotak pensil plastik.
Dia membuka kotak pensil itu. Kosong, kecuali satu pulpen hitam dan penghapus kecil.
Mayang menekan ujung pulpennya. Macet. Dia menggores-goreskannya di kertas bagian belakang buku. Tidak ada tinta keluar.
“Habis,” desisnya pelan. Sial. Dia lupa mengisi ulang tintanya semalam karena terlalu lelah mengupas bawang.
“Perlu bantuan?”
Sebuah suara terdengar dari meja sebelahnya.
Mayang menoleh.
Seorang siswa laki-laki tersenyum padanya. Wajahnya ramah, tipikal wajah baby-face yang mudah disukai. Rambutnya sedikit berantakan tapi modis. Di meja siswa itu, berjejer pulpen-pulpen mahal berbagai warna, lengkap dengan iPad Pro.
“Macat ya?” tanya siswa itu lagi. Dia mengambil salah satu pulpen dari kotaknya. Sebuah pulpen Parker silver. “Pakai ini aja. Gue punya banyak.”
Mayang ragu. “Nggak usah. Nanti hilang.”
“Ini bukan pinjaman bank, nggak ada bunganya,” canda siswa itu. Dia meletakkan pulpen itu di meja Mayang. “Gue Naufal. Lo?”
Mayang menatap pulpen mahal itu. Harganya mungkin setara dengan pendapatan bersih Budhe selama tiga hari.
“Mayang,” jawabnya singkat.
“Nama yang bagus. Klasik,” kata Naufal tulus.
“Heh, Fal!” Suara Vivie memotong interaksi itu dari depan. Dia memutar kursi, menatap Naufal dengan alis terangkat. “Ngapain lo ngasih barang mahal ke dia? Nanti dia nggak bisa ganti kalau rusak, lho. Pulpen itu lebih mahal dari harga diri dia kayaknya.”
Naufal mengerutkan kening, senyumnya hilang. “Mulut lo dijaga dikit bisa nggak, Vie? Masih pagi.”
“Gue cuma realistis. Barang rongsok jangan dicampur sama barang branded. Nanti ketularan jamur,” balas Vivie santai, lalu kembali menghadap depan sambil memperbaiki rambutnya.
Naufal menatap Mayang dengan pandangan bersalah. “Jangan dengerin dia. Vivie emang gitu. Kurang asupan kasih sayang.”
Mayang tidak tersenyum pada lelucon Naufal. Dia hanya memegang pulpen mahal itu. Terasa berat dan dingin di tangannya.
“Terima kasih,” kata Mayang pelan.
“Sama-sama.”
Tiba-tiba pintu kelas terbuka lebar. Guru masuk. Suasana kelas hening seketika.
Namun, perhatian Mayang bukan pada guru itu.
Matanya menangkap sosok yang berjalan masuk tepat di belakang guru. Sosok yang tadi dia temui di lorong.
Vino.
Vino masuk dengan santai, satu tangan di saku celana, tangan lain memegang buku tebal tadi. Dia berjalan melewati meja guru tanpa menyapa, seolah dia pemilik sekolah ini. Tatapannya lurus ke depan, kosong dan bosan.
Dia duduk di bangku paling depan, di barisan tengah. Tempat strategis.
Saat Vino duduk, dia meletakkan bukunya di meja. Gerakannya tenang.
Lalu, tanpa menoleh ke belakang, tanpa melihat ke arah Mayang yang duduk di sudut paling jauh, Vino mengeluarkan sebuah botol hand sanitizer kecil dari saku. Dia menuangkannya ke tangan, menggosoknya perlahan.
Mayang melihat itu.
Jarak mereka sepuluh meter. Tapi pesan itu sampai dengan jelas.
Vino merasa kotor setelah insiden di lorong tadi. Dia sedang membersihkan diri dari "aroma" yang dibawa Mayang.
Mayang menunduk, menatap sepatu kanvasnya lagi. Dia menggenggam pulpen Naufal erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ini bukan sekolah. Ini medan perang. Dan dia baru saja masuk ke garis depan tanpa senjata.
Bersambung.....