Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Hukum Alam dan Drama Perut Ningrat
Antares menatap batagor dingin di pangkuannya dengan ekspresi horor, seolah itu adalah racun mematikan yang siap merusak seluruh sistem pencernaannya yang sudah teruji. Zea menatapnya dengan mata berbinar, menunggu sang Profesor menuntaskan "hukuman" yang ia berikan. Zea duduk bersandar dengan tangan terlipat di dada, menaikkan alisnya dengan tatapan menuntut. "Mas, kok cuma dilihatin? Tadi katanya mau dimaafin, katanya aku pusat semesta, masa makan batagor demi pusat semestanya aja nggak mau? Bayinya juga nungguin tuh papanya makan!" cerocos Zea dengan bibir dikerucutkan.
"Ayolah Mas, nanti kalau Mas nggak makan, bayinya nangis lho di dalam perut, kata bayi jangan biarkan mama gendut sendiri papanya juga harus ikut gendut," bujuk Zea dengan nada manja, Antares menghela napas panjang, ia mengambil tusuk lidi dan menusuk satu potong batagor yang sudah mengeras. "Zea, ini adalah makanan yang melawan seluruh logika nutrisi yang saya pelajari selama tiga puluh tahun hidup saya. Mengapa kamu begitu gigih ingin melihat saya mengonsumsi zat ini?" tanya Antares dengan suara yang terdengar sangat tertekan.
"Karena Mas udah bikin aku cemburu! Udah, jangan banyak tanya, Mas Profesor, satu... dua... tiga... masuk!" Zea memberikan komando layaknya pelatih militer. Antares akhirnya menutup mata dan memasukkan potongan itu ke mulutnya. Ia mengunyah dengan susah payah, wajahnya yang biasanya tampan dan berwibawa kini tampak menegang hebat. "Rasanya... seperti tepung yang digoreng dengan minyak yang sudah kehilangan kejernihannya," gumam Antares setelah berhasil menelan dengan paksa.
"Enak kan? Nah, sekarang habisin batagornya, terus sedot es teh manis plastiknya sampai bunyi sruk-sruk!" perintah Zea lagi, yang kini mulai tertawa puas melihat suaminya yang "ningrat" itu terlihat sangat menderita. Antares hanya bisa pasrah, ia menghabiskan sisa batagor itu secepat mungkin agar penderitaannya segera berakhir, lalu menyedot es teh cair dari plastik "dicekek" itu dengan wajah yang sulit dideskripsikan.
Namun, baru lima menit mobil berjalan membelah kemacetan Jakarta, wajah Antares mendadak berubah pucat pasi. Ia memegang perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram erat sandaran kursi mobil. "Zea..." panggil Antares dengan suara rendah yang sedikit bergetar, "Perut saya... sedang mengalami turbulensi yang sangat tidak lazim."
Zea yang tadinya tertawa, langsung berhenti dan menoleh dengan cemas. "Mas kenapa? Mas sakit perut?" tanya Zea polos, namun ia masih sempat tersenyum kecil karena menganggap ini lucu. "Mas lebay banget deh, cuma makan batagor Mang Dadang masa langsung sakit?"
"Ini bukan lebay, Zea! Ini adalah protes massal dari organ dalam saya terhadap polutan yang baru saja kamu masukkan!" desis Antares, keringat dingin mulai sebesar biji jagung muncul di dahinya. Ia menekan tombol interkom ke arah sopir dengan gerakan panik. "Pak, cari SPBU atau toilet umum terdekat sekarang! Langgar lampu merah kalau perlu, saya sudah berada di ambang batas kendali biologis!"
"Mas, jangan bercanda! Ini mobil mewah, Mas, jangan sampai Mas... Mas mau...?" Zea menutup mulutnya sendiri, menyadari gawatnya situasi saat melihat Antares memejamkan mata rapat-rapat sambil menahan napas. "Mas, maafin Zea! Mas tahan ya, jangan di sini! Aku janji nggak bakal maksa Mas makan micin lagi!"
"Diam, Zea! Jangan bicara soal makanan itu sekarang, setiap kata yang kamu ucapkan hanya membuat sistem pencernaan saya semakin tidak stabil!" Antares mengerang rendah, tubuhnya membungkuk menahan lilitan hebat di perutnya yang terbiasa makan salad organik. Zea yang melihat suaminya sampai gemetar hebat seperti itu, mendadak merasa sangat menyesal. Air matanya mulai menggenang karena rasa bersalah. "Mas, maaf... Zea nakal banget ya? Mas jangan pingsan, Mas... Pak Sopir cepetan dong!"
"Zea, jika saya... jika saya tidak berhasil mencapai toilet dalam dua menit, saya akan memastikan nama Mang Dadang masuk ke dalam daftar hitam seluruh aparat keamanan negara ini!" ancam Antares dengan suara tercekat, sementara Zea hanya bisa mengangguk-angguk sambil memegangi lengan Antares, antara ingin menangis karena bersalah dan ingin tertawa melihat Profesor jenius itu kalah telak oleh sepiring batagor gang sempit.
semoga ngak bikin kecewa 🙂