Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Gencatan Senjata dan Upeti Batagor
Setelah drama pemecatan Clarissa yang menegangkan di ruang dosen, Antares tidak membiarkan Zea pulang begitu saja, ia tetap memaksa istrinya mengikuti kelas asistensi terakhir demi menjaga integritas akademik Zea. Sepanjang dua jam kuliah, Zea hanya menekuk wajahnya, sesekali melirik sinis ke arah Antares yang sedang di depan kelas . duduk di barisan belakang dengan bibir mengerucut, sesekali membanting penggaris arsitekturnya hanya untuk memancing perhatian Antares yang sedang menjelaskan teori struktur di depan kelas dengan wajah tanpa dosa. Begitu kelas berakhir, Zea langsung mengemas tasnya dengan gerakan kasar dan melangkah keluar tanpa memedulikan Antares yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Zea, berhenti melangkah seperti sedang ikut lomba lari, kondisi fisik kamu sedang tidak dalam performa maksimal untuk melakukan gerakan impulsif seperti itu," tegur Antares sambil menarik lembut lengan Zea saat mereka berada di koridor yang mulai sepi.
Zea menepis tangan Antares dengan dramatis, matanya masih menyiratkan sisa-sisa kecemburuan yang membara. "Oh, jadi sekarang Mas peduli sama performa fisik aku? Kenapa nggak peduli sama perasaan aku pas lihat Mas berduaan sama tante-tante elegan itu pagi-pagi? Aku mau pulang sendiri aja! Mau naik ojek!" seru Zea yang langsung membuat beberapa mahasiswa yang melintas menoleh dengan penasaran.
Antares menghela napas, ia menarik Zea masuk ke dalam lift dan segera menekan tombol ke parkiran basement agar perdebatan mereka tidak menjadi tontonan publik. "Saya sudah katakan berkali-kali, Clarissa adalah variabel masa lalu yang sudah saya eliminasi secara permanen dari sistem hidup saya, Zea. Jangan biarkan hormon kehamilanmu merusak logika yang biasanya kamu miliki," ucap Antares dengan suara rendah namun otoriter.
"Logika aku udah mati gara-gara Mas! Pokoknya aku nggak mau pulang ke apartemen, aku mau batagor Mang Dadang yang di gang sempit belakang kampus sekarang juga!" Zea menatap Antares dengan tatapan menantang, tangannya bersedekap di dada. "Kalau Mas nggak mau beliin, aku bakal berdiri di sini sampai besok pagi dan biarin anak Mas kelaparan micin!"
Antares terdiam, ia menatap istrinya dengan dahi berkerut dalam seolah sedang memecahkan rumus fisika tersulit di dunia. "Zea, bukankah kita sudah sepakat untuk menjaga asupan nutrisi yang lebih higienis setelah kejadian cilok kemarin? Dan siapa tadi? Mang Dadang? itu tidak memiliki sertifikasi higienis, dan gang sempit itu adalah sarang polutan udara yang buruk untuk pernapasan kamu," debat Antares mencoba memberikan argumen medis yang kuat.
Zea justru mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya; matanya mulai berkaca-kaca dan bibirnya gemetar seolah akan pecah menjadi tangisan hebat. "Oh, jadi Mas lebih milih higienis daripada kebahagiaan istri dan bayinya yang lagi sedih ini? Mas lebih sayang sama kehigienisan! Kesehatan! daripada sama keinginan dan kebahagiaan istri dan bayinya sendiri. Mas jahat! Jangan-jangan Mas masih kepikiran Clarissa ya makanya pelit banget sama aku?"
Antares memejamkan matanya, merasa harga dirinya sebagai Profesor paling disegani sedang dipertaruhkan demi sepiring batagor. "Baiklah, saya akan belikan. Tapi dengan satu syarat mutlak: kamu tetap di dalam mobil dengan AC menyala, dan saya yang akan turun ke tempat yang kamu sebut 'autentik' itu. Kesepakatan?" Zea langsung tersenyum lebar dan mengangguk cepat, membuat Antares menyadari bahwa ia baru saja kalah telak dalam negosiasi ini.
"Saya rasa, menjadi suami kamu jauh lebih menguras energi daripada memecahkan teori fisika kuantum, Zea," gumam Antares pelan. Zea tertawa renyah, ia menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Antares tanpa peduli pada tatapan iri para mahasiswa yang mereka lewati. "Itu namanya seni berumah tangga, Mas Antar sayang, nikmati saja dinamikanya!"