Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Perjanjian Tanpa Cinta
Reza menutup pintu kamar tanpa suara.
Tangannya masih gemetar saat ia melonggarkan kancing kemeja. Bukan karena marah. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus menekan dari arah mana.
"Wanita ini.." geramnya.
Ayza tidak melawan. Tidak menangis. Tidak meminta.
Dan justru itu yang membuatnya sadar.
Tak ada satu pun kata yang keluar untuk membela dirinya.
Namun punggungnya tetap tegak. Tak bergeser setapak pun. Ia berdiri karena keyakinannya sendiri.
Reza duduk di tepi ranjang. Menunduk.
"Ia bukan wanita yang bisa kuatur," batinnya.
Tapi menceraikannya sekarang berarti membiarkannya pergi dengan kepala tegak. Dan Reza belum siap untuk kalah seperti itu.
Ia menarik napas panjang.
"Kalau aku tak bisa menguasai perasaannya… maka aku akan menguasai ruang hidupnya."
Beberapa menit kemudian Reza dan Ayza sudah duduk di ruang keluarga. Hanya suara jangkrik di balik dinding yang berbunyi nyaring.
"Jadi, gimana keputusanmu?" tanya Ayza lembut, tenang, tegas seperti biasanya.
“Kita baru menikah beberapa hari,” ucap Reza akhirnya. “Menurutmu apa yang akan orang tua kita pikirkan kalau kita bercerai sekarang?”
Wajah Reza tetap datar. Suaranya stabil. Tak ada getar. “Jadi kau tetap istriku,” lanjut Reza. “Kita tinggal satu atap. Kamar terpisah. Tanpa kontak fisik.”
Ayza mendengarkan, tidak menyela.
"Aku sebagai suami menafkahimu secara materi dan kau sebagai istriku mengurus rumah ini."
Ayza mengangguk pelan. “Baik,” ucapnya. “Aku setuju.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi…”
Reza menegakkan punggung.
“Aku menyetujuinya karena orang tua kita,” lanjut Ayza. “Bukan karena aku memiliki perasaan apa pun padamu.”
Reza tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. "Baik. Tapi ingat meski kita bukan suami istri seutuhnya, kau harus tetap patuh padaku."
“Aku akan patuh,” sahut Ayza. “Selama itu tidak melanggar nilai keyakinanku.”
"Bagus," ucap Reza. “Dan sebagai suamimu,” lanjut Reza, “aku melarangmu bekerja di luar. Kau cukup mengurus rumah ini. Tidak perlu yang lain.”
***
Ruangan itu sunyi. Tumpukan berkas tersusun rapi di atas meja mahoni. Udara terasa segar, bercampur aroma jeruk dari pewangi ruangan.
Kaisyaf sibuk dengan berkas di depannya saat pintu diketuk. Tak lama, Ridho masuk setelah mendapat izin.
"Pak," ucap Ridho membuka percakapan. "saya sudah selidiki. Ayza sudah beberapa hari tak lagi tinggal di rumah itu."
Kaisyaf mengangkat pandangannya dari berkas. "Lalu... tinggal di mana?"
Ridho menghela napas berat. "Saya tidak tahu, Pak. Tetangganya di desa itu hanya tahu dari Bu Aini kalau Ayza tinggal bersama saudara jauh yang sedang sakit."
Ridho mengangkat wajahnya sedikit.
“Tetangga di desa itu sempat melihat sebuah mobil datang ke rumah Bu Aini. Seorang pria muda dan sepasang suami istri paruh baya. Wanita paruh baya itu terlihat sakit, lemah dan pucat.”
Kaisyaf memutar pelan pena di tangannya. "Saudara jauh? Siapa? Di mana mereka tinggal?"
"Tak ada yang tahu, Pak." jawab Ridho. "Bu Aini hanya bilang di kota."
Kaisyaf menghela napas panjang. "Tolong selidiki lebih detail. Di mana dia tinggal dan dengan siapa."
"Baik, Pak." Ridho mengangguk, lalu berbalik meninggalkan ruangan itu.
Kaisyaf memijat pelipisnya perlahan, seolah menahan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Kenapa begitu sulit bertemu denganmu?”
Kaisyaf tertawa pendek. Pahit.
“Semua tentang dirimu begitu misterius.”
Ia menatap ruang kosong di depannya.
“Menarik.”
***
Malam itu mendung menggantung menutup sinar rembulan. Reza merebahkan tubuh lelahnya. Suara Ayza yang melantunkan ayat suci terdengar samar namun entah mengapa membuat napasnya teratur dan otot-ototnya mengendur.
"Suaranya begitu merdu," gumam Reza tanpa sadar. Hingga ponselnya berdering. Wajah Zahra dalam foto profil terlihat. Panggilan video.
Reza segera menerima panggilan dan wajah Zahra langsung memenuhi layar.
"Sayang, I miss you," ucap Zahra dengan nada menggoda.
Reza menegang. Zahra mengenakan gaun tidur dengan tali kecil di pundak dan belahan dada yang jelas terlihat.
Reza menelan ludah kasar, berdehem kecil memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap layar.
"I miss you too. Kapan kau kembali?" tanyanya tenang.
Wajahnya tetap datar, sementara panas merayap pelan dari dada ke perutnya. Reza menggeser posisi, rahangnya mengeras, napasnya berubah pendek.
"Kau sudah rindu padaku?" tanya Zahra. Kali ini ia mengubah posisi dari duduk menjadi berbaring miring. Benda bulat di dadanya makin menantang.
Reza menarik napas dalam. "Sayang," suaranya sedikit serak. "Kau sengaja menggodaku?"
Zahra terkekeh kecil. "Kenapa? Kau..." ia menggantung kalimatnya.
Dengan sengaja meletakkan ujung jarinya di tengah bibir, lalu turun hingga menyentuh bibir bawah dengan mulut sedikit terbuka.
Jakun Reza turun naik, napasnya tak teratur. "Sayang, cukup." suaranya terdengar berat.
Zahra tertawa pendek. Puas. Lalu dahinya mengernyit. "Aku dengar suara orang ngaji?"
Dada Reza naik turun. Bukan marah, tapi mencoba meredam panas yang menjalar di tubuhnya.
"Itu suara Ayza," jawabnya akhirnya.
Zahra mendekatkan wajahnya ke layar. "Kau tak melihat wajahnya'kan? Gak melakukan kontak fisik sama dia?" tanyanya penuh selidik.
"Enggak," sahut Reza. "Aku kan udah janji sama kamu."
Zahra mengangguk tipis. "Bagus. Ingat janjimu."
"Iya, iya."
"Satu minggu lagi aku pulang," ucap Zahra. "Kita ketemu di apartemen."
Reza mengangguk. "Aku tunggu mau pulang."
Layar akhirnya gelap. Reza menarik napas panjang. Tubuhnya masih terasa panas, gelisah, seolah tak menemukan posisi yang benar.
"Sial!" umpatnya mengusap wajahnya kasar lalu pergi ke kamar mandi.
Reza berdiri di bawah shower. Air dingin mengguyur tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu ke dinding, wajahnya tertunduk, matanya terpejam. Dadanya terasa menyempit. Tubuhnya masih tegang.
"Ini gak bener," gumamnya hampir tenggelam oleh suara gemericik air yang menampar kulitnya.
"Aku menginginkannya," bisiknya. Tangannya terkepal menghantam dinding.
Di kamar sebelah, Ayza berhenti mengaji. Telunjuknya menyentuh huruf berikutnya yang seharusnya ia baca.
“Kenapa napasku terasa lebih sempit beberapa menit terakhir ini?” batinnya.
Ia memejamkan mata sejenak mencoba menarik napas melonggarkan napasnya, sebelum melanjutkan acaranya.
***
Kaisyaf duduk di meja makan. Hidangan telah tersaji di depannya. Kedua orang tuanya duduk di seberangnya. Mereka makan dengan tenang hingga piring mereka kosong.
"Kai," panggilan Husain, ayahnya. "tubuhmu sudah lebih segar dan sepertinya pakaianmu juga tak terlalu longgar lagi."
Kaisyaf mengusap sudut bibirnya. Alhamdulillah, Yah. Aku memang merasa lebih baik."
"Usiamu sudah dua puluh tujuh. Apa tak sebaiknya kau mencari calon makmummu sendiri?"
Kaisyaf terdiam sejenak. "Aku masih fokus pada kesehatanku, Yah."
Sang ibu yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Bukankah lebih bagus kalau ada yang mengurusmu?" ujar Fatima. "Satu setengah tahun kau koma, Syakila sering menjengukmu." ia tersenyum tipis. "Dari dulu dia selalu di sekitarmu."
Kaisyaf tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. "Bun, aku hanya menganggap dia teman. Gak lebih."
Husain menatap putranya lurus. "“Apa kau menyukai seseorang… sekarang?”
---
...🔸🔸🔸...
..."Satu atap. Dua hati. Dan jarak yang sengaja diciptakan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍