Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayyan Arsyaq Senopati
#1
“Periksa sekali lagi, apakah hanya aku yang merasakan ada yang aneh?”
Tim quality control, kembali menuruti perintah Rayyan, sekali lagi, mereka mencicipi rasa cabai yang sudah diolah menjadi pasta.
Dari beberapa sampel yang masuk, yang mana masing-masing sampel tersebut berasal dari 3 petani berbeda. Ternyata resep yang sudah Rayyan pertahankan selama 3 tahun terakhir rasanya benar-benar berubah.
Mungkin ada banyak faktor yang mempengaruhi hasil panen, cuaca, pupuk, bahkan mungkin perubahan struktur tanah.
“Sudah, Tuan. Kami sudah memastikannya, dan memang benar rasa cabainya berbeda.”
Rayyan menggebrak mejanya, SN Food adalah impiannya, tombak serta tantangan yang akan menjadi acuan bahwa dirinya memang layak menduduki kursi tertinggi di Senopati Group, menggantikan sang Papa Gusman Senopati.
Sudah beberapa bulan terakhir, penjualan mereka mengalami penurunan. Tim quality control merasa ada yang tidak beres, jadi melaporkannya pada Rayyan.
Dan hari ini Rayyan sendiri yang turun ke bagian quality control untuk memastikan bahwa timnya yang salah.
“Mulai besok, hentikan produksi sambal kita!”
“Lalu produk turunannya?”
Produk turunan cabai yang mereka buat dalam bentuk kemasan sangat bervariasi, mulai dari cabai bubuk, dan aneka snack dengan taburan chili oil atau pun cabai bubuk, yang belakangan ini sangat di gandrungi para muda-mudi.
Fokus utama Rayyan adalah mengolah sambal nusantara dalam kemasan modern, namun tak meninggalkan kualitas dan rasanya yang autentik.
Sambal terasi, sambal hijau, sambal tomat, sambal matah, bawang, hingga ada yang sudah di mix dengan berbagai macam protein. Ikan tuna, udang, cumi, dan yang terbaru adalah resep hasil ciptaan Rayyan sendiri sambal gurita pedas. Semuanya sudah siap disantap, tanpa perlu dimasak kembali.
“Dan juga hentikan pemasaran sekarang juga, tarik semua produk, lalu muat surat permintaan maaf secara resmi. Sertakan juga alasan kenapa kita menghentikan proses produksi dan juga menarik produk yang telah terlanjur beredar.”
Rayyan tahu, keputusannya ini akan berpengaruh besar pada keuntungan perusahaan. Tapi Rayyan tak mau, mengecewakan konsumen yang menyukai produk buatan SN Food.
Rayyan sedikit menghembuskan nafas ke udara, mempelopori sebuah bisnis tak mungkin semudah menjentikkan ibu jari. Ada tantangan yang harus dilewati, ada hambatan yang harus ditaklukkan, dan bisa dipastikan kegagalan demi kegagalan itu tak akan berlangsung sekali dua kali. Bisa puluhan kali, ratusan kali, bahkan ribuan kali seperti makanan sehari-hari.
Setidaknya itulah wejangan papa dan mamanya yang masih Rayyan ingat jelas, mereka juga pernah mengalami pasang surut dalam memulai usaha.
Karena menjadi pemimpin adalah menjadi orang yang berjuang paling keras, menjadi pemimpin berarti memikirkan nasib bawahannya, menjadi pemimpin juga memikirkan keberlangsungan usahanya.
Dan jangan lupa, kita memang butuh uang untuk memulai usaha, tapi uang bukan segala-galanya dalam hidup. Karena keberadaan orang-orang di dalamnya, tetap jadi yang utama.
Wajah Rayyan kusut masai ketika keluar dari pabrik yang skala kecil miliknya, padahal ia ingin membuktikan keberhasilannya pada sang kekasih yang sudah mau bertahan dengan hubungan mereka.
“Selamat malam, Tuan Ray,” ucap Pak Satpam, ketika Rayyan melewatinya tanpa menoleh.
Rayyan langsung menoleh, “Selamat Malam, Pak. Terima kasih karena sudah bekerja keras hari ini,” balas Rayyan ramah. Ini juga adalah hal kecil yang dicontohkan kedua orang tuanya sejak kecil.
Pabrik ini adalah mimpi Rayyan memulai perusahaannya sendiri, semua uang tabungannya sejak masih di bangku SMA ia kerahkan demi mewujudkan bangunan pabrik yang tak seberapa besar ini. Lalu dimana saudara serta kerabatnya, mereka semua mendukung dari kejauhan. Rayyan sudah biasa, semua demi keselamatan dirinya yang seorang penerus Senopati Group.
Dulu selain Rayyan, tuan Gusman memiliki seorang anak laki-laki lain dari istri pertamanya, sayangnya Zidan harus meregang nyawa, karena ambisi pamannya yang ingin menguasai Senopati Group seorang diri.
Kini Rayyan harus rela tak menggunakan fasilitas mewah perusahaan, dan hingga detik ini, tak banyak orang yang melihat dan bertemu secara langsung dengan dirinya sang calon penerus Senopati Group tersebut, termasuk kekasihnya sendiri. Karena rahasia besar identitas dirinya yang disembunyikan rapat-rapat dari dunia.
Rayyan membuka layar ponselnya, menatap wajah cantik dan modis kekasihnya. Paramitha Amanda Sasmito, gadis yang sangat ia cintai, dan sebentar lagi gadis itu kembali ke tanah air, Rayyan berencana mengejutkannya dengan sebuah lamaran.
Rayan mengendarai city car mungilnya, ini juga mobil yang ia beli dari sedikit keuntungan pabrik yang masuk ke kantongnya. Mobil itu melaju pelan diiringi audio musik dari era awal 2000 an.
Mobil Rayyan berhenti dan parkir di halaman rumah kakak perempuannya, Rayyan tinggal di sana, sejak orang tuanya memilih tinggal jauh dari kota dengan alasan udara di pegunungan baik untuk kesehatan.
“Assalamu'alaikum,” ucap Rayyan.
“Waalaikumsalam,” jawab Fadly dan Diana bersamaan.
“Kenapa tidak pulang ke rumah?”
“Malas, Kak. Gak ada Papa Mama, rumah terasa Sepi.” Rayyan menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa dekat Diana, kemudian menyandarkan kepalanya yang berdenyut nyeri memikirkan urusan pabrik.
“Kenapa lagi?” Fadly meletakkan tablet yang barusan ia baca, kemudian melepas kacamatanya.
“Gagal, Mas. Padahal sudah beberapa tahun aku pakai cabe dari petani di sana. Tiba-tiba kali ini saja rasanya benar-benar berubah.” Rayyan memejamkan matanya.
“Lha, terus?”
“Terpaksa semua produk yang terlanjur beredar di pasaran kami tarik,” jawab Rayyan lemah.
Sebagai kakak ipar, Fadly bisa memahami masalah serta ambisi yang ingin Rayyan wujudkan. Sejauh ini Fadly cukup bangga dengan adik tiri sang istri, Rayyan termasuk pemuda tangguh, dan tak pantang menyerah.
“Apa tidak sebaiknya kamu istirahat sebentar?” usul Diana.
“Lalu para pegawaiku mau makan apa, Kak? Kami harus terus berinovasi.”
“Iya, Kakak tahu, sementara ini diam dulu, sambil memikirkan langkah selanjutnya. Tapi produksi yang lain tetap jalan,” saran Diana.
“Maksud Kakak?”
“Produk yang gagal di pabrikmu apa?”
“Sambal basah kami, kak. Karena kualitas cabe yang kami terima berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.”
“Nah, kalau begitu hentikan saja produksi sambal basah, coba fokus dulu ke sambal kering, tapi jelas gradenya harus diturunkan. Gak bisa di oleh menjadi cabai kualitas premium.”
Wajah Rayyan berbinar, “Boleh juga ide Kak Diana.”
Seolah mendapat suntikan semangat, Rayyan berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Besok ia akan memulai produksi, memanfaatkan bahan yang sudah terlanjur menumpuk di gudang persedian pabriknya.
Tak lama kemudian ponsel Rayyan berdering, “Om Agung,” gumamnya.
Agung adalah mantan asisten sang papa, dan kini pria itu menggantikan Rayyan sementara di kursi direktur. Sementara jabatan Direktur Utama saat ini dipegang Moreno Senopati, sepupu Rayyan.
“Halo, Om.”
“Ray, kamu dimana?”
“Di rumah Mas Fadly dan Kak Diana, Om.”
“Om, menunggumu di rumah, ya sudah Om kirim informasi yang kamu minta via email saja, ya?”
“Oke, Om. Aku buka sekarang.”
“Sebentar—” Di ujung sana terdengar suara mouse dan keyboard, pertanda Agung sedang mengirim informasi via email. “Oke, sudah terkirim semua.”
Rayyan segera membuka folder yang dikirim mantan asisten pribadi Tuan Gusman tersebut. “Kalau saran Om, sih. Sebaiknya kamu akhiri saja hubungan kalian. Om sudah lama mengamati sepak terjang Mitha, dan Om rasa dia tak cocok menjadi calon istrimu.”
Kalimat Agung hanya terdengar seperti angin lalu di telinga Rayyan, karena pria itu tengah shock dengan semua hal yang baru ia ketahui. Foto-foto mesra yang tak sedikit jumlahnya, memperlihatkan aktivitas Mitha di luar negeri yang katanya melanjutkan pendidikan.
Tapi ternyata, semua hanya kamuflase semata, padahal pabrik kecil Rayyan yang telah membiayai sebagian pengeluaran harian gadis itu selama ia tinggal di luar negeri.
Bukan karena Rayyan bodoh, belum menikah, tapi sudah memberi nafkah. Tapi itu adalah bukti keseriusan yang mampu ia tunjukkan pada orang tua Mitha, bahwa ia fokus kuliah sambil membangun bisnis di tanah air. Biarlah Mitha yang belajar ke luar negeri setelah lulus SMU.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭