NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Dendam dari Kedalaman

Saat yang sama, di mana hujan deras mengamuk di Desa Durian Berduri dan kegelapan menelan rumah Teh Sari, lautan Selat Sunda berubah menjadi neraka yang bergolak. Air hitam pekat bergelombang ganas, disertai angin ribut yang menderu seperti jeritan ribuan jiwa yang hilang.

Di tengah badai itu, kapal Phinisi megah bernama "Bintang Selatan" bergoyang-goyang, layarnya robek-robek oleh hembusan angin. Kapal ini milik H. Daeng Ambo, ayah Daeng Tasi—seorang saudagar kaya raya Batavia yang disegani bahkan oleh para tuan Belanda. Tinggal di Tanjung Priok, Daeng Ambo membangun kerajaan dagangnya dari rempah-rempah dan hasil laut, kapalnya sering menyusuri selat-selat berbahaya, tapi tak pernah seperti malam ini.

Daeng Tasi, sebagai kapten, berdiri tegar di geladak, tangannya menggenggam kemudi dengan erat. Wajahnya yang tegas, berjanggut tipis khas lelaki Bugis-Makassar, basah oleh cipratan air asin. Di sisinya, Kang Mamat—saudara iparnya, kakak laki-laki Teh Sari—memegang golok panjang, matanya menyipit menatap kegelapan. Kang Mamat, pemuda tangguh berusia 25 tahun, sudah biasa menghadapi badai, tapi malam ini ada sesuatu yang berbeda.

Rombongan peneliti Belanda, tiga orang profesor berjanggut putih dengan kacamata tebal, berbisik-bisik di belakang, ditemani beberapa prajurit Belanda bersenjata senapan dan pistol. Mereka datang untuk meneliti "monster laut" yang konon muncul sejak ledakan maha dahsyat Gunung Krakatau.

 ~~~~

Ah, Krakatau—nama itu saja sudah membuat bulu kuduk berdiri. Empat puluh tujuh tahun lalu, pada 1883, gunung api itu meletus dengan kekuatan setara 200 megaton bom, lebih hebat dari senjata manusia mana pun. Bunyinya terdengar hingga Australia, ribuan kilometer jauhnya. Pulau Krakatau hancur lebur, 70 persennya runtuh ke dalam caldera raksasa, melepaskan 20 juta ton belerang ke atmosfer. Tsunami setinggi 40 meter menyapu pantai Jawa dan Sumatera, membunuh lebih dari 36.000 jiwa—desa-desa lenyap seketika, kapal-kapal terlempar ke daratan seperti mainan anak. Abu vulkanik menutupi langit, menyebabkan "tahun tanpa musim panas" di seluruh dunia, suhu global turun 0.6 derajat Celsius selama lima tahun. Malam-malam berubah jadi biru aneh, matahari terbit seperti darah. Dan dari puing-puing itu, pada 1927-1928, muncul Anak Krakatau—anak gunung yang ganas, erupsi semi-reguler, tumbuh cepat seperti monster yang haus darah. Para peneliti Belanda yakin: ledakan itu tak hanya menghancurkan daratan, tapi juga mengubah kehidupan di kedalaman laut.

"Kapten! Lihat itu!" teriak salah satu prajurit Belanda, jarinya menunjuk ke arah Anak Krakatau yang samar-samar terlihat di kejauhan, asapnya mengepul hitam di tengah badai. Gelombang semakin tinggi, kapal Phinisi bergoyang seperti daun kering. Daeng Tasi mengangguk tegas. "Kang Mamat, siapkan anak buah! Ini bukan badai biasa."

Tiba-tiba, air laut mendidih. Gelembung-gelembung besar muncul dari kedalaman, disertai bau amis yang menyengat—seperti darah dan belerang bercampur. Para peneliti berteriak panik. "Ini dia! Mutasi genetik!" kata Profesor Van der Meer, suaranya gemetar. "Ledakan Krakatau melepaskan radiasi vulkanik ke lautan, mengubah makhluk biasa jadi... monster. Hipotesis kami benar—cumi-cumi raksasa ini adalah hasil mutasi, tentakelnya bisa mencapai 50 meter, kekuatannya cukup untuk menenggelamkan kapal perang!"

Sebelum kata-kata itu selesai, permukaan air pecah. Sebuah tentakel hitam pekat, sebesar batang pohon durian, menyembul dari bawah, melilit tiang layar kapal. Kapal miring tajam, air masuk ke geladak. Monster itu muncul sepenuhnya—cumi-cumi raksasa, matanya sebesar roda kereta, menyala merah seperti lava. Tubuhnya berlendir, penuh sisik aneh yang berkilau, tentakelnya berjumlah delapan, masing-masing berduri tajam seperti duri durian berduri. Ia menderu, suaranya seperti guntur Krakatau yang bangkit kembali, berusaha menarik kapal ke kedalaman.

"Ya Allah!" jerit Kang Mamat, goloknya menebas tentakel yang mendekat, tapi hanya meninggalkan goresan kecil. Prajurit Belanda menembakkan senapan, peluru-peluru menancap tapi monster itu tak goyah. Daeng Tasi berlari ke meriam kapal—meriam tua yang dibawa dari armada ayahnya. "Bang Jaim! Tembak sekarang!"

Bang Jaim, pemuda Betawi anak buah setia yang diangkat jadi anak sejak kecil  Daeng Ambo, melompat ke posisi. Wajahnya yang hitam legam karena asap, tangannya lincah memuat bubuk mesiu. "Siap, Kapten! Ini buat lo, monster busuk!" Meriam meledak, dentumannya bergema di selat. Peluru menghantam tubuh monster, darah hitam menyembur. Tapi cumi itu tak menyerah—tentakel lain menyambar, meremukkan pagar kapal, menarik seorang prajurit ke air. Jeritan pria itu lenyap di gelombang.

Bang Jaim tak gentar. Ia muat ulang, tembak lagi—dan lagi. Ledakan demi ledakan, asap mesiu mengepul tebal. Monster menderu kesakitan, tentakelnya melemah. Hipotesis peneliti terbukti: makhluk ini memang mutan, tapi tak abadi. Peluru ketiga menghantam mata raksasanya, meledakkan bola mata itu jadi lendir. Akhirnya, dengan jeritan terakhir yang menggetarkan Anak Krakatau, monster cumi-cumi raksasa itu ambruk ke air, tubuhnya tenggelam pelan ke kedalaman, meninggalkan lautan berlumur darah hitam.

Kapal selamat, tapi Daeng Tasi merasakan firasat buruk. "Teh Sari... Lilis..." gumamnya, tatapannya ke arah daratan Banten yang gelap. Badai mulai reda, tapi dendam dari masa lalu—baik dari hutan maupun lautan—baru saja dimulai.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!