Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab2 Sang Predator Terbangun
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden yang tipis, membawa debu-debu halus yang menari di udara. Bau minyak kayu putih dan aroma nasi yang baru matang perlahan-lahan mengusik indra penciuman Dante. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menghujam dari perutnya—sebuah pengingat tajam akan pengkhianatan yang ia alami semalam.
Dante membuka matanya secara tiba-tiba. Instingnya sebagai seorang pemimpin mafia segera mengambil alih. Ia tidak mengenali langit-langit kayu yang retak ini. Ia tidak mengenali aroma deterjen murah yang tercium dari selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
Dengan gerak refleks yang cepat—namun menyakitkan—Dante mencoba bangkit.
"Argh!" Ia mengerang, kembali jatuh terduduk di atas karpet. Tangannya secara otomatis meraba pinggangnya, mencari Glock-17 miliknya yang biasa terselip di sana. Kosong. Jas mahalnya sudah hilang, menyisakan dirinya yang bertelanjang dada dengan balutan perban putih yang melingkari perutnya.
Matanya menyapu ruangan sempit itu dengan waspada. Sebuah ruang tamu kecil yang merangkap ruang makan. Ada mesin jahit tua di sudut, tumpukan kain, dan sebuah foto kecil di atas rak. Dante mendesis; ia terjebak di rumah warga sipil. Baginya, ini adalah situasi yang lebih berbahaya daripada dikelilingi musuh bersenjata. Di sini, ia tidak punya kendali.
Lalu, ia mendengar suara langkah kaki kecil.
Dante menajamkan pendengarannya. Langkah itu ringan, tidak beraturan. Bukan langkah seorang pembunuh. Ia menyipitkan mata saat seorang bocah laki-laki kecil muncul dari balik pintu dapur, membawa sebuah gelas plastik berisi air.
Bocah itu berhenti melangkah saat melihat Dante bangun. Bukannya lari ketakutan, bocah itu justru tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang mungil.
"Paman sudah bangun!" seru Bumi dengan nada riang. Ia berjalan mendekat tanpa rasa takut sedikit pun, seolah-olah pria di hadapannya bukanlah eksekutor yang paling dicari di seluruh negeri. "Ibu bilang Paman sedang tidur sangat lama karena sakit."
Dante terpaku. Ia tidak terbiasa dengan anak kecil. Baginya, anak-anak adalah makhluk berisik yang hanya menambah beban. Ia menatap bocah itu dengan tatapan dingin yang biasanya sanggup membuat nyali musuh-musuhnya menciut. Namun, bocah ini berbeda.
"Di mana aku?" suara Dante keluar seperti parutan kayu, kasar dan dalam.
"Di rumah Bumi," jawab bocah itu sambil menyodorkan gelas plastiknya. "Paman minum dulu. Ibu bilang Paman kehilangan banyak sirup merah."
Dante mengerutkan kening. Sirup merah? Ah, darah. Ia melirik pergelangan tangannya. Tidak ada borgol. Ia melirik perutnya. Jahitannya rapi—terlalu rapi untuk ukuran orang awam. Ia menerima gelas itu, namun matanya tetap mengawasi setiap gerak-gerik Bumi.
"Siapa ibumu? Di mana dia?" tanya Dante penuh selidik.
Tepat saat itu, pintu dapur terbuka lebih lebar. Aruna muncul dengan nampan berisi bubur hangat. Ia masih mengenakan daster batik yang tampak pudar warnanya, rambutnya diikat asal-asalan ke atas. Saat matanya bertemu dengan mata Dante yang tajam, Aruna nyaris menjatuhkan nampan yang dipegangnya.
"Anda... Anda sudah bangun," suara Aruna bergetar. Ia segera menghampiri Bumi dan menarik anaknya ke belakang punggungnya. Gestur perlindungan itu tidak luput dari pengamatan Dante.
"Kau yang menjahit lukaku?" Dante bertanya tanpa basa-basi, suaranya mengintimidasi.
Aruna mengangguk pelan, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar ketakutan. "Saya... saya dulu pernah belajar keperawatan. Saya hanya mencoba menghentikan pendarahannya. Anda pingsan di depan pintu saya semalam."
Dante menatap Aruna dari atas ke bawah. Wanita ini terlihat rapuh, wajahnya pucat karena kurang tidur, namun ada sinar keberanian di matanya. "Kau tahu siapa aku?"
Aruna menelan ludah. "Saya tidak tahu nama Anda. Tapi saya tahu Anda bukan orang sembarangan. Orang biasa tidak akan datang dengan luka tembak dan jas yang harganya mungkin setara dengan rumah ini."
Dante tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Jika kau pintar, kau seharusnya membiarkanku mati atau menelepon polisi. Menampungku di sini hanya akan membawa maut ke pintu rumahmu."
"Saya tahu itu sekarang," balas Aruna, suaranya sedikit lebih keras. "Tapi anak saya melihat Anda. Saya tidak bisa membiarkan anak saya melihat ibunya membiarkan seseorang mati begitu saja. Sekarang, makanlah bubur ini. Setelah Anda cukup kuat untuk berjalan, silakan pergi dari sini."
Dante terdiam. Belum pernah ada yang memerintahnya untuk makan bubur, apalagi seorang wanita yang tinggal di rumah yang luasnya tak lebih besar dari kamar mandinya di mansion. Ia menatap bubur itu, lalu menatap Bumi yang mengintip dari balik pinggang Aruna.
Tiba-tiba, tangan Dante meraba keningnya sendiri. Ia merasakan sesuatu yang ganjil menempel di sana. Dengan kasar, ia mencabut benda itu.
Sebuah plester bergambar robot biru.
"Itu plester jagoan Bumi!" seru bocah itu. "Supaya Paman cepat sembuh!"
Dante menatap plester di tangannya dengan tatapan tak percaya. Di dunia luar, orang-orang memberinya penghormatan karena rasa takut. Mereka memberinya upeti agar nyawa mereka diampuni. Tapi bocah ini... bocah ini memberinya plester robot seolah-olah Dante hanyalah manusia biasa yang terluka saat bermain.
Rasa aneh bergejolak di dada Dante. Bukan rasa sakit, tapi sesuatu yang asing. Sesuatu yang terasa seperti... kehangatan. Ia segera menepis perasaan itu. Kasih sayang adalah racun.
"Aku butuh telepon," tuntut Dante, mencoba mengembalikan otoritasnya.
"Saya tidak punya ponsel pintar. Hanya ada telepon rumah tua di sana," Aruna menunjuk ke pojok ruangan.
Dante berusaha berdiri. Rasa nyeri kembali menghujam, membuat penglihatannya kabur sejenak. Aruna secara refleks maju untuk membantunya, namun Dante mengangkat tangannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!" bentaknya.
Aruna tersentak mundur, wajahnya menegang. Bumi mulai terlihat ketakutan dan mengeratkan pelukannya pada kaki ibunya.
Dante menyadari ia telah melampaui batas. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan amarah dan rasa sakitnya. Ia tertatih menuju telepon rumah itu, memutar nomor yang ia hafal di luar kepala.
"Ini aku," ucap Dante singkat saat sambungan terangkat. "Amankan area sektor 4. Cari pengkhianat itu. Aku berada di..." Dante terhenti. Ia tidak tahu alamat rumah ini.
"Jalan Kenanga Nomor 12," bisik Aruna dari kejauhan.
"Jalan Kenanga Nomor 12," sambung Dante ke telepon. "Datanglah dengan satu unit medis dan tim pembersih. Jangan ada sirine. Jika ada yang melihat kalian, kau tahu apa yang harus dilakukan."
Dante menutup telepon. Ia berbalik dan melihat Aruna yang kini sedang memeluk Bumi erat-erat. Ketakutan di mata wanita itu kini nyata. Aruna bukan wanita bodoh; dia baru saja mendengar perintah yang terdengar seperti vonis mati bagi siapa pun yang berani ikut campur.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Aruna dengan suara hampir berbisik.
Dante menatapnya lama. Cahaya matahari pagi kini menyinari wajah Aruna, menonjolkan kecantikan alaminya yang selama ini tersembunyi di balik kelelahan. Dante melangkah mendekat, meski setiap langkahnya terasa seperti api. Ia berhenti tepat di depan Aruna, menjulang tinggi di atasnya.
"Namaku Dante Valerius," ucapnya perlahan, seolah setiap suku kata adalah ancaman. "Dan mulai detik ini, hidupmu bukan lagi milikmu sendiri. Kau telah menyelamatkan nyawaku, Aruna. Dan di duniaku, nyawa dibayar dengan nyawa."
Bumi tiba-tiba melepaskan pelukannya dari ibunya dan mendekati Dante lagi. Bocah itu menarik-narik celana kain yang dipinjamkan Aruna untuk Dante. "Paman, plesternya kenapa dilepas? Nanti setannya masuk lagi lewat luka Paman."
Dante menunduk, menatap bocah kecil itu. Kemarahan di matanya memudar, digantikan oleh kebingungan yang murni. Ia melihat kembali plester robot di tangannya yang sudah lecek. Dengan gerakan yang kaku, hampir canggung, Dante menempelkan kembali plester itu di keningnya—sedikit miring.
"Sudah terpasang," gumam Dante pelan.
Aruna terpaku melihat pemandangan itu. Pria yang baru saja memberikan perintah dingin di telepon, kini tunduk pada permintaan sederhana seorang anak kecil.
"Makanlah buburnya, Dante," ucap Aruna, kali ini tanpa rasa takut. Ia merasa, meskipun pria ini adalah monster, ada bagian kecil di dalam dirinya yang masih berdetak sebagai manusia. "Kau butuh tenaga untuk menghadapi dunia gelapmu lagi."
Dante tidak menjawab. Ia duduk kembali di karpet, mengambil mangkuk bubur itu, dan mulai makan dalam diam. Di luar, suara mesin mobil-mobil hitam mulai terdengar mendekat, merobek ketenangan Jalan Kenanga.
Dante tahu, begitu ia keluar dari pintu ini, ia harus kembali menjadi "The Vulture". Tapi ia juga tahu satu hal: ia tidak akan pernah membiarkan wanita dan anak ini menghilang dari jangkauannya. Mereka adalah hutang yang tidak akan pernah selesai ia bayar.