NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Pengakuan

Di kediaman keluarga Rothwell, pesta pengakuan itu akhirnya resmi digelar.

Di tengah aula utama, sebuah meja panjang dipenuhi deretan hadiah yang dipamerkan tanpa rasa sungkan. Lima sertifikat rumah tersusun rapi dalam map eksklusif, di sampingnya emas batangan berkilau di bawah sorot lampu kristal. Kalung berlian, batu mulia langka, hingga beberapa artefak bernilai tinggi berjajar di dalam etalase kaca transparan, seolah sengaja dipajang agar semua tamu bisa melihat dengan jelas—tanpa perlu bertanya, tanpa perlu menebak-nebak.

Semua ini bukan sekadar hadiah. Ini adalah pernyataan.

“Apa katamu?” suara Adella Wirawan terdengar nyaring, penuh keterkejutan bercampur sinis. Putri kedua keluarga Wirawan itu menunjuk ke arah etalase dengan alis terangkat. “Ini semua hadiah dari keluarga Rothwell… cuma buat Mirea?”

Nada suaranya jelas bukan kagum.

“Ini sudah kelewat mewah,” lanjut Adella sambil tertawa kecil, tapi tawanya dingin. “Apa mereka takut orang-orang nggak tahu kalau mereka itu orang kaya baru, ya? Sampai harus pamer segila ini.”

Di sampingnya, Rosse Wirawan—putri sulung keluarga Wirawan—ikut memandangi deretan hadiah itu dengan sorot mata tak kalah tajam. Bibirnya melengkung tipis, jelas tidak suka.

“Nona Mirea itu tumbuh besar di panti asuhan,” ujar Rosse pelan, tapi nadanya menusuk. “Sudah terbiasa hidup serba kekurangan. Aku nggak yakin dia bisa benar-benar cocok dengan kehidupan kelas atas seperti ini.”

Rosse mengibaskan rambutnya ringan.

“Hah, jangan-jangan dia bahkan nggak bisa pakai gaun,” ledek Adella sambil menyunggingkan senyum mengejek.

“Paling juga baru jalan beberapa langkah pakai heels langsung jatuh,” tambahnya lagi, kali ini tertawa lebih keras, seolah sudah membayangkan adegan itu terjadi di kepalanya.

Rosse ikut tertawa kecil, menutup mulutnya dengan punggung tangan, tapi sorot matanya jelas penuh penghinaan.

“Lagi pula keluarga Rothwell itu kan cuma orang kaya baru,” ujar Rosse dingin. “Mereka memang nggak punya kelas. Uang bisa beli segalanya, tapi nggak bisa beli selera.”

Ia merapikan poni rambutnya yang sedikit menjuntai, lalu tersenyum miring.

“Nanti kalau nona Mirea bikin malu di depan umum, mereka juga pasti nggak akan terlalu peduli. Malu itu kan relatif, apalagi buat orang-orang yang baru belajar masuk dunia atas.”

Tawa mereka kembali pecah, ringan tapi tajam bukan tawa bahagia, melainkan tawa orang-orang yang merasa berada di posisi lebih tinggi, dan yakin gadis yang mereka bicarakan hanyalah tamu asing di dunia yang seharusnya bukan miliknya.

......................

Sementara itu, di sebuah pabrik bawah tanah yang sunyi dan remang-remang, Fang Yugala akhirnya bertemu dengan Red Monarch. Beberapa anak buah mereka berdiri berjaga di sekitar, sebagian memeriksa senjata, sebagian lagi sibuk mengangkat koper-koper hitam.

“Bos,” panggil Fang saat melihat Red datang. Ia melangkah maju sedikit. “Hadiah uangnya sudah kami siapkan,” ujarnya sambil memberi isyarat ke arah salah satu mobil di belakangnya. “Tinggal berangkat saja.”

Red Monarch berjalan ke arah bagasi mobil mewah yang terparkir di tengah ruangan. Ia membuka bagasinya. Di dalamnya terlihat tumpukan uang tunai yang tersusun rapi, memenuhi hampir seluruh ruang bagasi.

Setelah memastikan isinya, Red menutup kembali bagasi itu lalu berjalan mendekat ke arah Fang.

“Bukannya kami nggak mau ngasih banyak,” ujar Fang sambil melepas topi kuningnya dan menepuk-nepuknya di dada, “tapi bagasi mobil mewahmu ini… terlalu kecil.”

Ia terkekeh kecil. “Gimana kalau aku panggil truk sekalian?”

“Gak usah,” jawab Red Monarch datar. “Mobil mewah lebih keren. Lagipula, segitu juga sudah cukup.”

Red menoleh ke arah anak buahnya. Sorot matanya tajam dan penuh antusiasme.

“Berangkat,” perintahnya singkat. “Kita datang ke pestanya.”

Ia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi depan. Fang Yugala menyeringai tipis sebelum ikut masuk ke mobil di belakangnya.

Tak lama kemudian, lima mobil mewah keluar bersamaan dari pabrik bawah tanah itu, melaju beriringan.

......................

Di depan kediaman keluarga Rothwell, tamu mulai berdatangan. Suasana riuh dengan percakapan dan tawa memenuhi halaman, lampu-lampu gantung berkilau memantulkan cahaya ke pakaian para tamu yang berkelas.

Tiba-tiba, sebuah Rolls-Royce La Rose Noire Droptail meluncur perlahan di jalan masuk, suaranya halus namun meninggalkan kesan mewah dan berat. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Mirea. Pintu terbuka, dan Kaelion Blackwood keluar, diikuti Farel Alander, keduanya mengenakan jas hitam rapi yang menegaskan postur gagah dan berwibawa.

Kehadiran mereka sontak menarik perhatian semua orang. Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu:

“Aku nggak salah lihat kan?”

“Kenapa mereka datang ke sini?”

“Apakah ada masalah besar?”

“Perlu tambahan keamanan nggak ya?”

Tatapan orang-orang tertuju pada Kael dan Farel, kagum sekaligus penasaran. Aura dominan Kaelion Blackwood seolah menekan udara di sekitarnya, membuat bisik-bisik itu kian meninggi. Bahkan beberapa tamu yang biasanya percaya diri, mendadak menunduk sedikit, merasa tak enak berada di dekatnya.

Farel hanya tersenyum tipis, menyesuaikan diri dengan keramaian, sementara Kaelion tetap menatap rumah Rothwell dengan tenang, penuh perhitungan, seperti mengamati setiap detail dari pesta yang akan segera dimulai.

Suasana menjadi semakin tegang, tetapi sekaligus memikat.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!