Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Laki-laki Mata Keranjang
Sore hari, akhirnya motor yang ditunggu-tunggu Kenzie pun tiba. Namun, Kenzie masih di kamar dan tidak mendengar saat ada orang datang. Kenzo yang menerima kedatangan mereka karena nomornya yang dihubungi.
"Mbak Kenzie dimana, Mas Ken?" tanya orang suruhan Zaky bernama Angga.
"Ada di kamar, Om." jawab Kenzo.
Kenzo sudah menebak, selain mendapatkan perintah untuk mengantarkan motor, pria itu juga diminta untuk memastikan apakah Kenzie dan Kenzo benar-benar dirumah yang sama.
"Hehe, maaf ya Mas, kami hanya melaksanakan perintah," ucap Angga.
Kenzo mengangguk paham dan langsung mempersilahkan dua pria itu untuk duduk setelah perjalanan jauh. Mereka tidak mau duduk di dalam dan memilih duduk di kursi yang ada di teras karena lebih sejuk.
"Gue harus akting lagi nih!" bathin Kenzo.
Kenzo langsung bergegas mengambilkan air dingin dan cemilan dari dalam kulkas dan segera mengantarnya ke depan. Tak lama kemudian, ia kembali ke dalam untuk memanggil Kenzie.
"Aduh! kalau pakai ketuk pintu dulu, yang ada mereka bisa dengar, terus ketahun deh kalau kita nggak sekamar!" gumam Kenzo bingung.
Akhirnya Kenzo mencoba menghubungi lewat telepon dan nomornya justru tidak aktif.
"Dasar cewek tengil! bisa-bisanya nomor nggak aktif!" omel Kenzo.
Dengan ragu-ragu, Kenzo memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut dan ternyata tidak dikunci.
"Pantesan, orang lagi molor!"
Kenzo seperti maling dirumahnya sendiri, ia berjalan dengan mengendap-endap.
"Heh, bangun!"
"Cewek tengil! bangun heh!"
Bukannya langsung bangun, Kenzie justru menggeliat.
"Ssttt!"
Dengan sigap, Kenzo membungkam mulut Kenzie yang hendak berteriak ketika sudah membuka mata dan membuka mulut.
"Jangan berisik, gu ... eh, aku terpaksa! di depan ada orang yang ngantar motormu," bisik Kenzo.
Kenzie langsung duduk dengan rambut yang berantakan, wajahnya sampai membentuk garis bantal.
"Eh, malah ditinggal!" protes Kenzo karena Kenzie langsung pergi.
Kenzie keluar tidak langsung menemui mereka, tetapi masih akan mencuci wajahnya terlebih dahulu agar terlihat segar.
"Sudah," ujar Kenzo ketika Kenzie hendak membawa air dan cemilan ke depan.
"Oh, kirain belum." balas Kenzie sambil mengembalikannya ke kulkas.
Kenzie melihat motornya dengan sangat sumringah. Ia langsung berterima kasih pada dua pria yang mengantarkan motornya itu.
"Titip salam buat om Zaky dan tante Mia, eh papa mama maksudnya, hehe." ujar Kenzie langsung mengoreksi kesalahannya.
"Baik Mbak, nanti saya sampaikan," jawab Angga.
Mereka menatap Kenzie dengan menahan tawa. Kenzie masih mengenakan kaos milik Kenzo dengan dimasukkan ke celana kolornya itu.
"Ya sudah kalau begitu, kami permisi dulu. Salamnya pasti akan kami sampaikan, termasuk kalau menantu kesayangannya ini sudah nyaman pakai kaos suaminya, xixixi."
Baru saja Kenzie membuka mulut, Kenzo langsung menahannya.
"Baju suami juga baju istri, Om." balas Kenzo.
"Benar-benar pintar akting?" bathin Kenzie.
Setelah mobil pickup itu meninggalkan kediaman Kenzo, Kenzie langsung membereskan meja teras.
"Kenapa kamu nggak jadi aktor aja!" protes Kenzie.
"Boleh juga idenya, besok ikut casting," balas Kenzo.
Kenzie sangat malas berhadapan dengan Kenzo, ia memilih untuk memanasi mesin motornya.
"Aku mau pulang sekarang," ujar Kenzie.
"Bajumu tak pakai dulu, nanti tak cuci." lanjutnya.
"Tak bawa ke LOUNDRY!" lanjut Kenzie dengan menaikkan dan menegaskan suaranya.
Kenzo langsung menutup botol air mineral itu.
"Sekalian anterin gu ... sekalian anterin ke bengkelku," pinta Kenzo dengan santai meskipun masih harus mengoreksi kata gue ke aku.
"Lah, mobilmu buat apa?" balas Kenzie.
"Mau ambil motor, mau apa nggak?!" balas Kenzo memaksa.
"Siapa yang butuh pertolongan, siapa pula yang ngegas!" gerutu Kenzie.
Kenzie tidak langsung mengiyakan, ia ke dalam untuk siap-siap. Ia hanya berganti celananya yang sudah kering, namun, tetap membawa celana kolor Kenzo yang sudah kotor.
"EH EH, mau berangkat sekarang?" tanya Kenzo langsung berdiri dan menghadang Kenzie.
"IYA," jawab Kenzie.
"Awas kalau nggak nungguin!" ancam Kenzo langsung bergegas masuk.
Kenzo hanya mengambil helm dan dompetnya tanpa mengganti pakaian meskipun hanya mengenakan celana pendek, karena tujuannya hanya satu yaitu mengambil motor.
"Kamu mau cod musang kah?" cibir Kenzie.
"Yang penting dompet tebal!" jawab Kenzo.
"Cih! sombong amat!" protes Kenzie.
"Bilang dompet tebal, eh, modal dari bapak!" lanjut Kenzie menyindir.
"Sirik aje lu!" protes Kenzo.
Kenzie langsung memberikan tatapan tajam.
"Ya, KAAAAAAMU!"
"PUAS?"
"Istighfar anaknya pak ZAKY!!" balas Kenzie.
Setelah saling berdebat, suami istri penuh drama itu akhirnya berada di motor yang sama dan disupiri oleh Kenzie karena Kenzo sedang malas.
Meskipun dengan bibir mengerucut dan hati yang berisik, Kenzie tetap berusaha untuk fokus menyetir, meskipun kali ini bebannya lebih berat.
"Bengkel kamu dimana?" tanya Kenzie setelah masuk jalan raya.
"WOY!" seru Kenzie kesal karena Kenzo tidak menjawab.
"APA!" jawab Kenzo ikut berteriak karena tidak mendengar suara Kenzie.
Akhirnya Kenzie menepi dengan perasaan kesal.
"BENGKELMU DIMANA?" tanya Kenzie yang sudah sangat kesal.
"Oooooo," balas Kenzo.
"A O A O!" protes Kenzie.
"Dahlah, sini biar gue aja yang nyetir!" pinta Kenzo menyuruh Kenzie turun lebih dulu.
Dengan raut wajah yang sudah tidak mampu menutupi rasa kesalnya, Kenzie turun dari motornya sendiri dengan kasar dan duduk di ujung agar tidak bersentuhan langsung.
Tanpa basa-basi, Kenzo langsung tancap gas membuat Kenzie merasa waspada. Tapi, ia masih gengsi untuk berpegangan.
"KENZO! HATI-HATI NGAPA!" seru Kenzie saat melewati polisi tidur membuatnya langsung reflek memeluk Kenzo.
Kenzo justru tertawa.
Setelah menyadari, Kenzie kembali menjaga jarak karena dadanya nempel di punggung Kenzo. Ia pun spontan memukul punggung itu dengan tangannya.
"Dasar laki-laki mata keranjang!" omel Kenzie.
"Mending check out di keranjang kuning, Kakak." balas Kenzo yang semakin terdengar menyebalkan bagi Kenzie.
Saat tiba di bengkel, Kenzie langsung teringat sudah beberapa kali ke sini karena tidak jauh dari pabrik tempatnya bekerja. Namun, kali ini bengkel sudah tutup karena sore dan Kenzo pun menghentikan motor di belakang yang terdapat garasi disana.
"Ini bengkelmu?" tanya Kenzie.
"Punya KIM JONG UN!" jawab Kenzo.
"Anak set4n!" umpat Kenzie merasa menyesal sudah bertanya.
Karena Kenzo sudah di tempat tujuannya, Kenzie langsung memutar arah motor untuk segera pulang ke kontrakan.
"Heh, tunggu!" seru Kenzo.
Kenzie langsung menghela napas dalam-dalam.
"APA?!" tanya Kenzie.
"Jangan matikan hp seenaknya, buat jaga-jaga kalau ada perlu." ujar Kenzo.
"YA!" jawab Kenzie.
Baru satu kali mengegas, Kenzo kembali menghentikan Kenzie.
"APA LAGI SIH!" protes Kenzie.
Kenzo langsung mendekat seraya mengambil dompet.
"Buat pegangan sementara," ujar Kenzo memberikan sejumlah uang.
"Kalau kamu ada rekening, nanti kirim ke gue, eh, aku." lanjutnya.
Kenzie menatap uang yang sudah dipastikan tidak sedikit itu.
"Nggak usah, kamu simpan aja." tolak Kenzie.
Sudah berusaha untuk bersikap baik, ternyata Kenzie masih bersikeras sehingga membuat Kenzo langsung geram.
"NGGAK TERIMA PENOLAKAN!" gertak Kenzo memasukkan uang itu ke dalam tas Kenzie meskipun harus berusaha payah.
Kenzie pun berubah ingin mengikuti drama ini, ia langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum manis.
"Terima kasih ya suamiku atas nafkah pertamamu ini. Sebagai istri yang baik, aku akan selalu mendo'akanmu. Sekarang aku harus pulang dulu, ya." ucap Kenzie sambil menahan rasa mual saat merangkai kata-kata itu.
"Kesambet kah?" balas Kenzo.
Kenzie langsung berdecih dan kembali menghidupkan mesin motornya.
"JANGAN NGEBUT!" seru Kenzo.
"YA!" jawab Kenzie berteriak.
"Melarang orang lain jangan ngebut, dia sendiri ngajakin buru-buru ketemu malaikat maut!" gerutu Kenzie.
...
"Akhirnya balik ke sini! aku bisa tidur nyenyak tanpa gangguan si songong!" gumam Kenzie sembari merebahkan tubuhnya di dalam kontrakan.
Meskipun sederhana, hidup di kontrakan ini membuat Kenzie merasa jauh lebih tenang daripada di rumah Kenzo yang melelahkan dengan drama-dramanya.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍