Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kehadiran Thomas Alistair
Malam itu, Jakarta seolah tenggelam dalam kemewahan yang palsu. Acara tahunan yang diselenggarakan itu bukan sekadar ajang amal, melainkan panggung teater bagi dua aktor terbaik di dunia bisnis: Queen Elara Alexandra dan Adrian Alistair.
Namun, malam ini udaranya berbeda. Ada tekanan barometrik yang membuat sesak, sebuah ancaman yang nyata karena sang predator puncak telah memutuskan untuk keluar dari sarangnya.
Pintu besar ballroom terbuka, dan seketika kebisingan mereda. Thomas Alistair melangkah masuk. Pria paruh baya itu masih memiliki sorot mata yang bisa menghentikan detak jantung lawan bicaranya. Ia berdiri di sana, memegang tongkat berkepala perak, menatap ruangan dengan rasa kepemilikan yang mutlak.
Queen, yang sedang berdiri di dekat air mancur cokelat, merasakan jemarinya mendingin. Ia bisa merasakan tatapan Thomas menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat pada dirinya.
"Queen Elara," suara Thomas terdengar saat ia mendekat, serak namun berwibawa. "Kau tampak persis seperti ibumu. Cantik, tapi selalu membawa masalah bagi pria di sekitarmu."
Queen mengangkat dagunya, memaksakan senyum yang paling sinis. "Terima kasih atas pujiannya, Mr. Alistair. Sayangnya, saya mewarisi otak ayah saya, jadi saya tidak semudah itu untuk dikendalikan."
Adrian muncul di samping ayahnya, wajahnya adalah topeng besi yang tanpa ekspresi. "Ayah, jangan buang waktu dengan wanita yang sebentar lagi akan kehilangan lisensi bisnisnya ini."
Adrian menatap Queen dengan kebencian yang begitu meyakinkan. Tidak ada yang tahu bahwa di bawah meja tinggi di samping mereka, ujung sepatu Adrian menyentuh tumit Queen secara halus—sebuah kode rahasia yang berarti, Hati-hati, dia sedang mengawasimu secara langsung.
"Aku hanya ingin memastikan," Thomas menyipitkan mata, menatap putranya dan Queen bergantian. "Bahwa persaingan kalian di bursa saham bulan lalu bukan sekadar sandiwara untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih menjijikkan. Seperti... perasaan?"
Udara seolah berhenti mengalir. Queen tertawa, tawa yang terdengar sangat tulus dalam kehinaannya. "Perasaan? Pada putra seorang pembunuh karakter seperti Mr. Adrian? Saya lebih suka bangkrut total daripada harus menyentuh kulitnya, Mr. Alistair."
Thomas tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Bagus. Karena jika aku menemukan ada satu tetes pun simpati di antara kalian, aku sendiri yang akan memastikan ayahmu tidak akan pernah keluar dari penjara itu dalam keadaan bernapas."
Malam semakin larut. Saat Thomas sibuk berbicara dengan jajaran koleganya, Queen memberikan tanda kepada Rian melalui tatapan mata. Operasi yang telah mereka rencanakan berbulan-bulan harus dimulai malam ini.
Queen berakting seolah ia terlalu banyak minum dan butuh udara segar. Ia berjalan terhuyung menuju sayap kiri hotel yang sedang dalam renovasi. Tak lama kemudian, Adrian menyusul dengan alasan ingin menghisap cerutu.
Di sebuah ruangan sempit yang penuh dengan kain penutup furnitur, mereka bertemu. Begitu pintu terkunci, Adrian segera menarik Queen ke dalam pelukannya. Ia mencium kening Queen dengan kasar, seolah ingin memastikan wanita itu masih nyata.
"Dia tahu, Elara. Dia mencurigai kita," bisik Adrian cepat. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan sebuah alat peretas kecil dari saku jasnya.
"Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan," sahut Queen. "Rian sudah mematikan sistem keamanan di ruang kerja pribadimu di lantai atas selama sepuluh menit. Kau harus memasukkan alat ini ke komputer utama ayahmu yang terhubung di sana. Semua data pencucian uang itu ada di sana, Adrian."
Adrian menatap alat di tangannya. "Ini adalah pengkhianatan terakhir. Jika aku tertangkap, aku tidak akan bisa melindungimu lagi."
Queen memegang wajah Adrian, menatap mata abu-abunya yang penuh kegelisahan. "Kita melakukannya bersama. Setelah data ini terkirim ke server anonim di Swiss, ayahmu tidak akan punya kekuatan lagi untuk mengancam siapa pun. Kita akan bebas."
Dalam tekanan yang luar biasa itu, kerinduan mereka pecah. Adrian menarik Queen lebih dekat, mencium bibirnya dengan intensitas yang menyakitkan—sebuah perpaduan antara gairah dan rasa takut kehilangan. Queen membalasnya, jemarinya meremas bahu Adrian, mencoba menyerap kekuatan dari pria itu.
Cumbuan mereka terasa seperti salam perpisahan yang manis namun getir. Adrian menciumi leher Queen, meninggalkan jejak panas di kulitnya yang dingin. "Setelah ini selesai, aku ingin membawamu pergi. Jauh dari nama Alistair dan Alexandra."
Queen memejamkan mata, menikmati sentuhan Adrian yang terasa seperti satu-satunya hal yang benar di dunia yang salah ini. "Berjanjilah kita akan selamat, Adrian."
"Aku berjanji," bisik Adrian di antara napasnya yang memburu. Ia memberikan satu ciuman terakhir yang dalam di bibir Queen sebelum akhirnya melepaskan diri. "Sekarang pergi. Kembali ke pesta dan buatlah keributan. Aku butuh pengalihan."
Queen kembali ke ballroom. Namun, saat ia melihat Thomas Alistair sedang menelepon seseorang dengan ekspresi gelap, keraguan mulai merayap di hatinya. Apakah cinta mereka sepadan dengan risiko ini? Jika Thomas tahu, bukan hanya Queen yang hancur, tapi ayahnya di penjara akan menjadi sasaran empuk.
Apakah aku egois? pikir Queen. Apakah aku mempertaruhkan nyawa ayahku demi pria yang seharusnya kubenci?
Tiba-tiba, suara alarm pelan berbunyi di ponsel Queen—sebuah tanda bahwa Adrian telah berhasil menyusup ke ruang kerja. Namun, di saat yang sama, Thomas Alistair berbalik dan berjalan menuju lift pribadi dengan langkah cepat.
"Mr. Alistair!" teriak Queen, mencoba menghentikannya.
Thomas berhenti, menoleh dengan tatapan curiga. "Ada apa, Ms. Alexandra? Kau tampak sangat gelisah."
Queen harus melakukan sesuatu. Ia harus menjadi "Ratu" yang paling menjijikkan malam ini. Ia menyiramkan sisa sampanyenya ke gaun merahnya sendiri, lalu berteriak, "Anakmu! Dia baru saja menghinaku di lorong sana! Dia mengancam akan menghancurkan yayasan amalku!"
Orang-orang mulai menoleh. Thomas terpaku, matanya menatap Queen dengan rasa tidak percaya. Pengalihan itu berhasil. Thomas terpaksa berhenti untuk menangani skandal publik yang baru saja dibuat Queen, memberikan Adrian waktu beberapa detik yang krusial untuk melarikan diri dari ruang kerja.
Pesta berakhir dengan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Queen pulang dengan perasaan hancur, namun di tangannya, ia menggenggam sebuah pesan singkat yang baru saja masuk: Data terkirim. Kita memegang kartu as mereka.
Namun, saat Queen sampai di rumahnya, ia menemukan sebuah kotak hitam di depan pintunya. Di dalamnya terdapat foto ibunya yang sudah robek, dengan tulisan tangan Thomas: "Darah tidak pernah berbohong, Elara. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di kegelapan."
Queen jatuh terduduk. Perang belum berakhir. Adrian telah menjadi monster demi dirinya, dan sekarang, Queen harus siap menjadi iblis untuk mengakhiri segalanya. Persaingan mereka di depan publik akan menjadi semakin kejam, sementara di balik layar, mereka mulai menghitung mundur hari-hari menuju kebebasan... atau kehancuran total.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍