Anara Kamala Alice tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya berubah selamanya di malam ulang tahunnya yang ke-23. Impiannya menjadi dokter hancur seketika ketika ia mendapati dirinya hamil di luar nikah—sebuah aib yang merenggut segalanya: beasiswa, pendidikan, dan kehormatan keluarganya.
Di tengah tekanan itu, ia terpaksa menikah dengan Alan Ravindra Sanjaya, pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Alan, yang sebenarnya tunangan kakaknya, memperlakukannya dingin dan penuh kebencian. Keluarga Alan pun tak pernah menerima kehadirannya. Alan bukan hanya tunangan kakaknya, tapi juga calon jaksa besar yang dihormati. Namun, pernikahan itu jauh dari kata bahagia. Identitas Nara sebagai istri Alan disembunyikan dari publik, dan sikap Alan yang dingin membuatnya merasa terasing
Tapi di balik semua itu, ada rahasia besar yang perlahan terungkap—sebuah pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan datang dari orang terdekatnya. Sementara Alan mulai menyadari perasaan yang selama ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phoebeee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Nara
Entah sudah berapa banyak dirinya singgah di tempat makanan, mulai dari jagung bakar, es krim, belum lagi permintaan konyol Nara yang ingin naik wahana sialan itu.
“Yahh, hujan”
Alan mendongakkan kepalanya melihat ke arah langit menurunkan bulir air ke tanah. Dirinya melihat beberapa orang berlari ke tempat teduh dekat bangunan besar.
Untung saja mereka berada di sini. “Ini Mas, Mbak, Baksonya”
Nara tersenyum lebar melihat makanan yang baru saja datang, dirinya tanpa sadar menepuk tangan kecil bersemangat melihat makanan yang menggugah seleranya itu.
“Tiga bakso?” tanya Alan bingung
Nara yang sibuk mengaduk dan menghirup kuah bakso sontak bangun menatap Alan yang tampak terkejut dengan makananya.
“Engga tau, cuman dua bakso aja. Ini buat kamu,” ujar Nara dengan santai memberikan satu mangkok bakso kepada Alan.
Alan menatap bingung Nara memberikan semangkok bakso kepada dirinya. Ia menatap bakso itu lama, jujur ini kali pertama dirinya mencoba bakso. Ia memandang ke arah sekitar, hujan masih turun dan orang-orang sibuk berbincang untuk mengisi waktu.
Untung saja tempat duduk Nara dan Alan berada di ujung belakang, tidak seberisik di tengah dan sedingin di depan. Alan sengaja mengajak Nara untuk keluar dari pasar malam tersebut, bagaimana tidak, wanita itu kembali merengek untuk mencoba wahana bianglala dan itu tidak mungkin dengan keadaanya.
Saat Alan ingin menarik tangan Nara untuk menyebrang ke arah Cafe milik Varo, Nara malah berjalan ke samping menuju ruko sedang yang menjual bakso dan di sinilah mereka sekarang.
“Kenapa? Kamu ga suka bakso?” tanya Nara bingung melihat Alan yang sedari tadi hanya diam menatap ke arah bakso.
Alan menggelengkan kepalanya, bukan, dirinya bukan menjawab bahwa bakso itu tidak enak melainkan dirinya bingung. “Apakah ini aman?” tanya Alan dengan ragu.
Nara menaikan alisnya sejenak kemudian menganggukan kepala seolah paham apa yang terjadi. “Ooh, kamu takut makanan ini ga higienis ya?” tanya Nara.
Alan terdiam, dirinya tidak menjawab pertanyaan Nara. “Tenang aja, ini bersih kok? Inii aku makan,” ujar Nara menyeruput mie bakso dengan nikmat.
Alan masih diam, dirinya menelan ludahnya dengan kasar melihat bagaimana Nara memakan makanan aneh ini yang tampak menggiurkan.
Apakah ini seenak udon atau ramen?
Tapi tidak mungkin, dilihat dari bentuknya saja nampak sederhana lebih menggugah udon dan ramen restoran langganan keluarganya.
“Kalo kamu ga mau yasudah ga usah makan. Maaf, aku lupa pasti kamu ga pernah ke tempat seperti ini dan juga, pasti ini kali pertamanya kamu ke pasar malam, kan?” tanya Nara menebak ke arah Alan.
Ya wajar saja, melihat bagaimana Alan dibesarkan tentu saja Mama mertuanya, Dwi tidak mengizinkan anaknya ke tempat seperti ini. Alan lahir dari keluarga berada bahkan lebih dari kata berada, ia keluarga darah bangsawan dengan kehidupan yang mewah. Nara tau Alan tidak bisa makan sembarangan, ia terbiasa makanan buatan chef atau di restoran mewah bintang lima dengan pelayanan memuaskan menjadikan dia raja.
Alan lahir dari golden spoon yang tidak pernah merasakan kepahitan, yang selalu difasilitasi dalam segala hal. Ayah yang merupakan seorang hakim besar Negara dan Alan, anaknya juga merupakan calon Jaksa besar dan keluarga besarnya memiliki latar belakang pendidikan hukum atau politik.
“Udah, ga usah dimakan aja,” ujar Nara singkat kembali memakan baksonya. Ia membiarkan Alan dengan dilemanya, ia yakin pada akhirnya pria itu tidak akan berani memakan makanan miskin menurutnya.
Alan menatap tajam Nara, dirinya mengambil sendok dan garpu meniru bagaimana Nara makan sebelumnya. “Ck, jangan mengaturku,” ujar Alan dengan ketus.
Nara terbelalak melihat bagaimana Alan menyedokan kuah ke dalam mulutnya dengan ragu. Ia tidak menyangka Alan mau memakanya, Nara menatap Alan was-was menunggu bagaimana reaksi pria itu.
“Gimana? Kalo ga suka ga usah dimakan,” lanjut Nara.
Alan mengabaikan Nara, dirinya kembali menyuapkan mie dan setengah bakso ke dalam mulutnya sekarang.
“Ternyata tidak seburuk itu,” ujar Alan singkat menganggukan kepalanya merasakan bagaimana rasa makanan aneh ini.
Nara melihat itu terkekeh pelan, dirinya melihat bagaimana Alan berusaha mengikutinya memasukan sambal dan juga kecap ke dalam kuah, jeruk nipis dan mencicipinya apakah sudah pas atau belum.
Hingga sesuai dengan selera pria itu.
Nara menghabiskan baksonya, dirinya menoleh ke sekitar yang perlahan pengunjung mulai pergi karena hujan sudah mulai reda menambah keheningan di antara dirinya dan Alan.
Ia memperhatikan bagaimana Alan fokus memakan baksonya dengan lahap membuat Nara tersenyum tipis akan itu.
“Maaf,” ujar Nara.
Alan mendongakkan kepalanya melihat ke tepat ke arah mata Nara.
“Maaf, sudah membuat hidupmu hancur. Maaf membuat hubungan kamu dan Ka Senja menjadi renggang,” ujar Nara dengan lirih
Alan terdiam, dirinya semakin menatap Nara dengan dalam.
Melihat tidak respon dari Alan membuat Nara tersenyum getir, ia memejamkan matanya sejenak berusaha menahan perasaanya. Ia berusaha mengalihkan kembali memakan bakso pesananya tadi.
Untung saja bakso ini enak.
“Kamu suka tempat seperti ini?”
Nara mendongakkan kepalanya melihat ke arah Alan, ia menganggukan kepalanya dengan antusias saat Alan mau memulai pembicaraan dengan dirinya.
“Iyaa, di sini tu mengingatkanku kembali saat kecil. Saat Bunda membawaku pertama kalinya ke pasar malam karena Bunda tidak bisa membawaku ke taman ataupun yang lebih mahal seperti dufan-”
“Malam itu, pasar malam buka dan Bunda pertama kalinya mengajaku ke sana, Ia baru saja mendapatkan uang saat itu. Ia mengajak untuk menaiki wahana, memberikanmu gulali, kue, eskrim dan makanan enak yang belum pernah aku coba sebelumnya. Ia tersenyum, senyum yang sangat tulus pernah aku dapatkan di dunia ini,” ujar Nara dengan lirih.
Alan terdiam, dirinya tahu bagaimana cerita Nara. Ia tahu bahwa Nara merupakan anak dari selingkuhan Ayah Senja, ia tahu bahwa Nara dan Senja bukan saudara kandung, oleh sebab itu Dwi, Mama tidak menyukai Nara.
“Kemana wanita itu sekarang?” tanya Alan dengan singkat.
Nara menolehkan kepalanya, dirinya melihat ke arah Alan yang sedang menatap lurus ke arah luar. Ia tidak menyangka Alan mau mendengarnya, biasanya pria itu akan acuh dan tak mendengarkannya.
“Bersama tuhan,” ujar Nara singkat dengan senyum tipisnya.
Bukan, bukan dirinya yang mencari latar belakang Nara. Ia tidak peduli dengan itu, namun ia tahu saat Mami Senja yang mengatakannya saat di pernikahan mereka di atas altar, di depan mereka berdua.
Cih, saya kira kamu yang akan menjadi menantu saya Alan, ternyata kamu memilih wanita murah ini. Kamu sama saja seperti suami saya yang tidak pandai memilih wanita.
Dan kamu Nara, kamu ternyata sama saja seperti ibumu. Murah, Sialan, liar dan perebut kebahagian orang. Saya tidak akan pernah memaafkan kamu dan ibumu yang telah merebut kebahagiaan saya dan Senja.
“Aku janji, aku akan mengembalikan semuanya kembali kepada Kak Senja. Aku janji aku tidak akan lagi membuat hidupmu hancur,” ujar Nara dengan pasti
Alan menolehkan pandangannya fokus ke arah Nara, ia melihat Nara yang mengelus pelan perutnya dan tersenyum tipis.
“Setelah Baby lahir, aku janji akan pergi dan saat itu juga aku mengharapkan kamu bahagia bersama Kak senja.” Nara mendengakkan kepalanya, menatap tepat ke arah mata kelam Alan dengan senyum tipisnya.
Alan terdiam, dirinya terlena melihat mata coklat terang itu. Ia senang mendengar bahwa ia akan lepas dari wanita di depannya ini namun entah kenapa hatinya merasakan aneh, sesak dan perih.
Sakit
Ia seolah tidak terima bahwa wanita di depanya ini akan pergi dari hidupnya, membawa darah dagingnya yang belum terbentuk itu. Janin yang ada di dalam lembar kertas foto abu-abu yang diberikan oleh Dokter, Suara detak jantung yang membuat dirinya lebih hidup dari sebelumnya.
“Kau memang membuat semuanya berantakan dan ingat tidak mudah untuk lepas dari diriku, Nara”
Alan berdiri dari tempat duduknya, ia menatap Nara dengan dalam kemudian meninggalkan wanita itu di tempat. Hatinya seolah marah tidak terima namun bukankah ini yang ia inginkan? bukankah ini rencana awalnya? atau bukan ini yang sebenarnya Alan mau?
"Alana" alan-nara nama yg indah
makasih thor untuk extra part nyaa
di tunggu karya baru nyaa..
sukses slalu...
inilah last chapter dari buku ini, semoga kalian sukanya.
dengan ini aku menyatakan bahwa buku ini sudah tamat
maaf sepertinya tidak ada seos 2 karena aku berpikir lebih baik cukup di sini dan juga rencananya ak mau nulis buku baru.
jadi bagi kalian nyari cerita baru boleh ke buku baru aku yaa.
aku bakal mulai update minggu depan
terima kasih guys always waiting this story ❤ love you
Kalau Bisa SEASON 2 KU BERHARAP ADA THOR 😍😍😍😭😭😭😭❤️❤️💚❤️❤️