NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 **Meresahkan karena Polos**

"Assalamu’alaikum..." ucap dua kembar dan Ila secara bersamaan saat melangkah masuk ke dalam rumah yang megah itu. Suara mereka memecah keheningan sore di kediaman keluarga Bryan.

Bryan dan Zeline yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi lantas menoleh ke arah pintu utama. Senyum hangat langsung terbit di wajah keduanya saat melihat anak-anak mereka sudah pulang sekolah.

"Wa’alaikumsalam," sahut Zeline dan Bryan serempak.

Ila, yang melihat kedua orang tuanya ada di sana, langsung melepaskan genggaman tangannya dari sang kakak. "AYAHHH! BUNDAAAA!" serunya dengan suara melengking menggemaskan sambil berlari kecil dengan tas ransel yang bergoyang di punggungnya.

"Jangan lari-lari, Princess!" peringat Bryan dan Zeline hampir bersamaan. Mereka dibuat gemas sekaligus waswas. Sudah tak terhitung berapa kali Ila diperingati agar tidak berlarian di dalam rumah, tapi gadis imut itu tetap saja melakukannya setiap kali merasa antusias.

Ila hanya menyengir lucu dengan wajah tanpa dosa saat lagi-lagi ditegur. "Bunda, Ayah, look! Nilai Ila besar, hihi!" Ila segera memperlihatkan kertas ulangan yang sedari tadi ia genggam erat dengan bangga. Tanpa menunggu izin, ia langsung naik dan duduk manis di pangkuan sang ayah.

Zeline menerima kertas itu, lalu mendekat agar Bryan juga bisa melihatnya. Sepasang suami istri itu tersenyum lebar melihat angka yang tertera di sana. Sangat memuaskan.

"Pinter banget sih putri Ayah ini," puji Bryan gemas, lalu mendaratkan ciuman sayang di pipi Ila yang sedang duduk di pangkuannya.

"Bunda senang sekali kamu bisa dapat nilai sebagus ini. Bunda bangga," tambah Zeline sambil mengusap lembut pipi chubby Ila yang terasa kenyal.

"Ila pinter, hihihi. Gak kayak Bang El," celetuk Ila sambil terkikik nakal. Alzian tersenyum gemas mendengar ejekan adiknya, sementara Elzion hanya berdecak pelan, merasa terpojok oleh prestasi sang adik kecil.

Zeline dan Bryan tertawa kecil mendengar persaingan saudara itu. "Iya, Ila memang pinter banget," ujar mereka berdua mendukung sang putri.

Tiba-tiba, raut wajah Ila berubah menjadi serius, namun tetap terlihat lucu. "Ayah ingat janji kan?" tagihnya sambil menatap lurus ke mata Bryan.

"Apa emang? Ayah lupa tuh," goda Bryan pura-pura lupa.

Ila seketika memanyunkan bibirnya dengan sangat lucu. Pipinya yang gembul semakin menonjol, membuat siapa pun yang melihatnya ingin mencubit karena gemas.

"Bunda ingat?" tanya Ila beralih pada Zeline dengan tatapan penuh harap.

Zeline terkekeh, tidak tega menggoda lebih lama. "Ingat, Sayang," jawab Zeline yang seketika membuat wajah Ila cerah kembali.

"Yeayyy! Ila mau punya HP!" serunya girang sambil bertepuk tangan kecil.

"Adek gak boleh punya HP," sela Elzion dengan suara lantang dan tegas. Ucapan itu seketika mematikan keceriaan di wajah Ila. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis.

"Kenapa?" tanya Zeline bingung melihat reaksi keras Elzion.

Elzion membuang napas kasar. Ia kemudian menceritakan detail kejadian memalukan sekaligus berbahaya di kantin sekolah tadi. Zeline dan Bryan mendengarkan dengan seksama, lalu beralih menatap Ila yang hanya diam mendengarkan cerita abangnya dengan wajah polos—seakan ia sendiri tidak mengerti bahwa apa yang ia tonton tadi adalah hal terlarang.

"Ila lihat video apa tadi di sekolah? Kenapa Ila lihat video itu?" tanya Zeline dengan nada lembut namun menyelidik.

Ila memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lucu, tampak berpikir keras. "Ila gak tahu. Ila cuma pencet pesan yang masuk, dan Ila lihat laki-laki sedang memakan perempuan. Perempuan itu kesakitan dan bersuara... Ahhhh." Ila menceritakan kronologinya dengan jujur, bahkan tanpa ragu ia mempraktikkan suara desahan yang didengarnya tadi.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Suasana ruang keluarga yang hangat mendadak kacau. Bryan, Zeline, Alzian, dan Elzion tersedak ludah masing-masing secara bersamaan. Mereka benar-benar terkejut mendengar suara itu keluar dari mulut mungil Ila.

"Why?" tanya Ila polos. Ia menatap bingung melihat orang tua dan abang kembarannya tiba-tiba batuk-batuk hebat.

'Pfftt... bocil satu ini benar-benar meresahkan karena terlalu polos,' batin Elzion sekuat tenaga menahan tawa melihat ekspresi tanpa dosa adiknya setelah mengeluarkan suara "maut" tadi.

"Coba sekali lagi, praktekkan suaranya!" pinta Elzion jahil, ingin melihat reaksi ayahnya lebih jauh.

"Ahhhh..." desah Ila dengan patuh. Ia segera mempraktikkannya lagi, tepat sebelum Bryan sempat membuka mulut untuk menegur kejahilan Elzion.

"Heh!" tegur Zeline, Bryan, dan Alzian secara bersamaan dengan wajah memerah menahan malu.

"Hahahah!" Sementara itu, Elzion akhirnya meledakkan tawanya. Ia terbahak-bahak melihat betapa polosnya adiknya itu sampai mau saja disuruh melakukan hal konyol seperti itu.

Zeline menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya setelah mendengar suara desahan polos putrinya. Ia menatap Ila dengan tatapan serius namun tetap lembut. "Ila masih kecil, sayang. Gak boleh liat video gituan," ucap Zeline memberi pengertian.

Ila mengerjapkan matanya yang bulat, menatap Bundanya dengan rasa ingin tahu yang besar. "Berarti kalau Ila besar, Ila boleh liat video itu, Bun?" tanya Ila dengan kepolosan yang hakiki.

Suasana yang sempat menegang kembali pecah. Elzion yang memang dasarnya receh langsung menyemburkan tawanya. "Hufftt... adek que emang beda ni bosss, hahaha!" seru Elzion di sela tawa yang membuat bahunya terguncang hebat.

Bryan berdeham, mencoba mengambil alih situasi sebelum logika Ila semakin melenceng. Ia mengusap rambut putrinya dengan sayang. "Dengar ya, Princess. Melihat video gitu gak baik buat otak. Ila mau kalau Ila gak pintar lagi gara-gara nonton itu?" tanya Bryan memberikan analogi yang menakutkan bagi anak seusia Ila.

Mendengar kata 'tidak pintar', Ila langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat hingga rambutnya ikut bergoyang. Ketakutan menyelinap di wajah imutnya. "Huhu... Ila gak mau seperti Bang El..." ucap Ila dengan nada sedih yang terdengar sangat lucu.

Elzion yang tadinya tertawa seketika terdiam. Wajahnya berubah masam. "Heh, kok Abang?" tanya Elzion merasa tersinggung sekaligus heran kenapa namanya yang terseret.

"Iya, Abang kan gak pinter," sahut Ila tanpa beban.

Jawaban itu telak membuat Zeline, Bryan, dan Alzian tak bisa menahan diri. Mereka tertawa kecil melihat ekspresi Elzion yang kena mental oleh ucapan adiknya sendiri. Meskipun tawanya tidak seheboh Elzion tadi, tetap saja itu membuat sang abang merasa terpojok.

Dasar Elzion, dia yang tadi paling semangat menceritakan kejadian di kantin, tapi dia juga yang paling keras menertawakan kepolosan adiknya. Namun jujur saja, siapa pun yang berada di posisi Elzion pasti akan tertawa melihat bagaimana Ila memproses informasi dengan cara yang sangat unik. Beruntung Ila hanya mempraktikkan suara itu di depan keluarga. Bayangkan jika di depan teman-temannya—mungkin satu sekolah akan tertawa berjamaah. Kecuali Lanka, mungkin cowok dingin itu bukannya tertawa malah akan merasakan sensasi lain yang berbahaya. Maybe, xixi.

"Abang pinter kok," ujar Elzion dengan nada angkuh, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang jatuh di depan sang Ayah.

"Kalau pinter, kenapa nilai Abang kecil?" tanya Ila lagi, memberikan pertanyaan skakmat yang membuat Elzion memutar otak untuk berbohong.

"Itu... itu karena Abang sengaja minta nilai kecil, Dek! Biar Abang bisa pamer ke teman-teman yang nilainya tinggi. Abang bangga karena cuma Abang yang nilainya paling unik. Terus juga, Abang disayang sama guru karena perhatian guru cuma buat Abang yang nilainya kecil..." dusta Elzion dengan wajah meyakinkan.

Kesalahan terbesar Elzion hari itu adalah memberikan kebohongan kepada anak kecil yang polosnya minta ampun. Ila tampak manggut-manggut, seolah logika aneh abangnya itu masuk akal di otaknya yang masih suci.

"Kalau begitu, Ila juga mau nilai kecil agar disayang guru! Yeayyy!" seru Ila girang dengan tangan terkepal ke udara.

"HEH!" lagi dan lagi, Ila mendapatkan teguran serentak dari tiga manusia di depannya: Zeline, Bryan, dan Alzian. Mereka melotot ngeri membayangkan Ila benar-benar mengejar nilai kecil.

"Hahaha!" Elzion malah kembali terbahak sampai memegangi perutnya yang mulai sakit. Ia merasa sangat terhibur. Baginya, kepolosan Ila adalah bahan hiburan terbaik yang bisa ia manfaatkan nanti.

Zeline memberikan tatapan tajam nan mematikan ke arah Elzion. Seketika, tawa cowok itu lenyap, digantikan dengan dehaman canggung karena takut kena semprot sang Bunda.

"Ila mau HP, kan? Kalau mau, berjanjilah untuk terus mendapatkan nilai besar," ucap Zeline memberikan syarat mutlak.

Ila mengangguk patuh dengan sangat cepat. Namun, sifat tidak sabarannya muncul. "Tapi Ila mau HP-nya sekarang, Bun," pinta Ila dengan mata berbinar-binar penuh harap.

"Boleh. Tapi janji, gak liat video aneh-aneh yang seperti tadi ya?" sela Bryan dengan cepat sebelum Zeline sempat mengeluarkan larangan. Bryan tahu jika Zeline yang bicara, kemungkinan besar ponsel itu akan ditunda sampai minggu depan.

Mata Ila seketika berbinar terang, seolah ada bintang di dalamnya. "Iyaaa! Yeayyy! Sayang Ayah banyak-banyak!" Ila langsung menghambur dan memeluk erat tubuh Bryan.

Bryan hanya bisa terkekeh geli, membalas pelukan hangat dari putri kecilnya yang meresahkan sekaligus menggemaskan itu.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!