Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kecelakaan Tunggal
Langit berubah cepat.
Awan kelabu menutup matahari, membuat jalanan terlihat lebih kusam dari biasanya. Angin sore berembus dingin, membawa bau aspal yang baru saja tersiram hujan tipis.
Lian mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Tidak ngebut.
Tidak terburu-buru.
Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak liar.
Pesan Haikal tadi masih terbayang.
Sudah selesai?
Hanya itu.
Namun cukup untuk membuat dadanya hangat.
Lampu merah menyala.
Lian berhenti.
Ia menghela napas, lalu tersenyum kecil tanpa sadar.
“Bodoh,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Lampu hijau menyala.
Lian menarik gas perlahan.
Jalanan tidak terlalu ramai. Beberapa mobil melintas. Motor-motor lain mendahului. Hujan mulai turun lagi—bukan deras, hanya rintik yang cukup membuat permukaan jalan licin.
Lian tahu.
Ia menurunkan kecepatan.
Namun ada satu hal yang luput ia perhitungkan.
Sebuah genangan air tipis di tikungan.
Ban depan menyentuhnya.
Dan segalanya terjadi terlalu cepat.
Motor oleng.
Refleks Lian menarik setang, terlalu keras.
Kesalahan kecil.
Ban kehilangan cengkeraman.
Tubuhnya terlempar ke samping.
Waktu seperti melambat.
Ada suara logam berdecit.
Ada benturan tumpul.
Ada dunia yang berputar.
Lian jatuh.
Tubuhnya menghantam aspal dan berguling sekali sebelum akhirnya berhenti. Helmnya membentur jalan, menyelamatkan kepalanya dari benturan keras.
Namun rasa sakit tetap datang.
Tajam.
Menyengat.
Membuat napasnya tercekat.
Motor tergeletak beberapa meter darinya.
Mesin masih menyala.
Lampu sein berkedip-kedip.
Lian tidak langsung bergerak.
Dadanya naik turun cepat.
Pandangan berkunang.
Suara-suara datang terlambat.
Klakson jauh.
Langkah kaki orang-orang.
Teriakan samar.
“Eh! Jatuh!”
“Kecelakaan!”
Seseorang berlari mendekat.
“Mb—Mbak? Dengar saya?”
Lian mencoba menjawab.
Namun suaranya tertelan.
Yang terdengar di kepalanya justru suara lain.
“HUMAIRAH!”
Teriakan itu datang tanpa izin.
Nyaring.
Panik.
Penuh tekanan.
Lian memejamkan mata kuat-kuat.
Bukan sekarang…
Tolong, jangan sekarang…
Tangannya gemetar saat mencoba menggerakkan tubuhnya. Nyeri menjalar dari bahu hingga ke kaki. Tidak ada yang terasa patah—namun seluruh badannya berteriak sakit.
“Jangan bergerak dulu,” suara seorang pria berkata. “Helmnya masih terpasang, ya.”
Helm.
Benar.
Lian bernapas sedikit lebih teratur.
Hujan mulai terasa di visor helmnya, menetes pelan.
“Ambulans udah ditelepon,” suara lain menyusul.
Lian menelan ludah.
Dalam kekacauan itu, satu pikiran muncul—jernih, mengejutkannya.
Haikal.
Tangannya bergerak pelan. Mencari saku jaket. Ponselnya ada.
Layarnya retak sedikit, tapi masih menyala.
Jarinya gemetar saat membuka kunci.
Satu nama di kontak favorit.
Ia ingin mengetik.
Namun huruf-huruf bergetar di layar.
Napasnya kembali memburu.
“Tenang, Mbak,” kata seseorang lembut. “Tarik napas pelan-pelan.”
Lian mengikuti.
Masuk.
Keluar.
Ia akhirnya berhasil mengetik.
Lian:
Mas…
Hanya itu.
Pesan terkirim.
Ia tidak sanggup menulis lebih.
Matanya kembali terpejam.
Di antara suara hujan dan orang-orang, dadanya naik turun tak beraturan.
Nama itu—Humairah—kembali mengetuk dari dalam.
Namun kali ini, ada nama lain yang lebih kuat.
Haikal.
Dan untuk pertama kalinya,
di tengah rasa sakit dan takut—
Lian tidak ingin menghilang.
Ia ingin pulang.
Ponsel Haikal bergetar di atas meja dapur.
Ia baru saja selesai mencuci piring. Tangan masih basah. Air menetes pelan ke lantai. Rumah sunyi—terlalu sunyi untuk ukuran sore yang biasanya diisi suara langkah Lian, pintu dibanting asal, atau ocehan tak penting.
Ia melirik layar.
Satu nama.
Lian.
Satu kata.
Mas…
Haikal berhenti bergerak.
Detik itu terasa aneh.
Pendek.
Namun cukup untuk membuat dadanya mengencang tanpa alasan jelas.
“Kenapa cuma itu?” gumamnya pelan.
Ia mengeringkan tangan seadanya, meraih ponsel. Jempolnya baru saja hendak mengetik balasan—
Layar berubah.
Nada dering menggema.
Panggilan masuk — Lian
Alis Haikal mengerut.
“Lian?” katanya sambil menggeser layar. “Kenapa?”
Tidak ada suara Lian.
Yang terdengar hanya desis pelan. Lalu suara lain masuk—asing, formal, dan terlalu tenang untuk jantung Haikal yang mulai berdebar tidak wajar.
“Selamat sore, apakah ini dengan Bapak Haikal?”
Haikal menegakkan punggung.
“Ya. Saya sendiri.”
“Mohon maaf, Pak. Kami menghubungi dari rumah sakit. Ponsel ini milik pasien bernama Lian—pemilik nomor ini mengalami kecelakaan tunggal dan saat ini sedang berada di UGD.”
Haikal tidak langsung menjawab.
Kata-kata itu masuk—namun tidak mendarat.
“Kecelakaan…?” ulangnya pelan, seolah sedang menguji apakah kata itu benar-benar nyata.
“Benar, Pak. Pasien ditemukan warga dan langsung dibawa ke sini. Saat ini dalam penanganan.”
Tangan Haikal mengencang di ponsel.
“Di mana?” suaranya terdengar lebih datar dari yang ia rasakan. “Rumah sakit mana?”
Perawat menyebutkan nama rumah sakit dan lokasi.
Haikal mengangguk meski sadar lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Saya ke sana sekarang.”
Telepon ditutup.
Sunyi kembali jatuh.
Namun kali ini, sunyi itu berisik.
Haikal berdiri kaku di tengah dapur. Air dari keran masih menetes. Detaknya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri.
Ini tidak masuk akal.
Lian tadi pagi baik-baik saja.
Ia pergi dengan tas selempang, rambut masih sedikit basah, dan wajah setengah mengantuk.
Kecelakaan tunggal.
Haikal meraih kunci mobil dengan gerakan cepat, hampir menjatuhkannya. Ia tidak mengganti baju. Tidak mematikan lampu dapur.
Tangannya gemetar saat membuka pintu.
Di perjalanan, pikirannya kosong dan penuh di saat yang sama.
Ia mengemudi terlalu cepat, lalu melambat, lalu kembali menekan gas tanpa sadar. Lampu merah terasa terlalu lama. Klakson mobil lain terdengar seperti gangguan yang tidak penting.
Lian.
Kata itu berputar-putar di kepalanya.
Bukan Humairah.
Bukan siapa pun di masa lalu.
Lian.
Saat tiba di rumah sakit, Haikal hampir berlari masuk. UGD penuh suara—langkah cepat, roda brankar, instruksi singkat, bau antiseptik yang menusuk.
“Permisi,” katanya pada perawat di meja depan. “Saya suami pasien Lian. Katanya kecelakaan.”
Perawat mengecek data, lalu menunjuk ke arah tirai hijau.
“Masih ditangani, Pak. Silakan tunggu sebentar.”
Sebentar.
Kata itu terasa kejam.
Haikal berdiri. Duduk. Berdiri lagi.
Lalu tirai terbuka sedikit.
Ia melihatnya.
Lian terbaring di atas ranjang UGD.
Masih memakai jaketnya.
Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Rambutnya sedikit basah—entah oleh hujan atau keringat.
Lututnya diperban tebal. Ada noda merah tua yang sudah mengering. Siku kirinya juga diperban. Lengan kanan—dibuka sebagian—terlihat jahitan rapi, garis hitam kecil di kulitnya yang pucat.
Bukan luka parah.
Namun cukup untuk membuat dada Haikal terasa seperti diremas.
Seorang dokter keluar menghampirinya.
“Pak Haikal?”
“Ya.”
“Pasien mengalami luka robek di lengan kanan, siku, dan lutut akibat jatuh. Sudah kami jahit dan bersihkan. Tidak ada patah tulang. Namun dia sempat syok ringan dan kelelahan.”
Haikal mengangguk.
“Dia… sadar?”
“Setengah sadar. Bisa merespons, tapi masih lemas.”
Haikal menarik napas panjang—baru sadar sejak tadi ia menahannya.
Ia masuk mendekat.
Berdiri di samping ranjang.
Lian bergerak sedikit. Alisnya berkerut. Nafasnya tidak teratur.
“Mas…” suaranya serak. Hampir tidak terdengar.
Haikal refleks menggenggam tangannya.
Hangat.
Masih hangat.
“Iya,” jawabnya pelan. “Aku di sini.”
Lian tidak membuka mata. Namun genggaman jarinya menguat—sangat kecil, tapi cukup jelas.
Seperti takut ditinggal.
Haikal menelan ludah.
Di dadanya, sesuatu retak pelan.
Bukan suara keras.
Bukan ledakan.
Hanya kesadaran yang datang terlambat—
Bahwa perempuan ini, dengan luka di lutut dan jahitan di lengannya,
bukan sekadar tanggung jawab.
Dan pesan satu kata itu—
Mas…
Bukan panggilan.
Itu alarm.
___
Baik. Ini BAB 12 — Lian sadar, ditulis lebih panjang dan detail, fokus pada rasa sakit yang nyata, ketakutan yang sunyi, dan genggaman yang berubah menjadi permintaan pulang.
Sakit....
Itu hal pertama yang Lian sadari.
Bukan sakit yang datang tiba-tiba seperti benturan, tapi sakit yang menetap, berdenyut pelan namun terus-menerus, seolah tubuhnya sedang mengingatkan satu per satu bagian yang terluka.
Lututnya terasa panas.
Siku kirinya nyeri setiap kali ia bernapas.
Lengannya—yang kanan—terasa berat, seperti bukan miliknya sendiri.
Kelopak matanya bergerak perlahan.
Cahaya putih menembus penglihatannya, membuat kepalanya pening. Bau antiseptik menusuk hidung. Suara langkah kaki, alat medis, dan percakapan samar bercampur jadi satu.
Rumah sakit.
Kesadaran itu membuat dadanya mengencang.
Tangannya bergerak refleks—mencari sesuatu. Seseorang.
Dan ia menemukannya.
Hangat.
Jari-jari besar yang menggenggam tangannya sejak entah kapan.
Lian menarik napas pendek, lalu menggenggam lebih erat.
Takut.
Ia tidak tahu takut pada apa. Tapi rasa itu nyata, seperti lubang di dada yang tiba-tiba terbuka.
“Mas…”
Suara itu keluar sebelum ia sempat berpikir.
Serak. Kecil. Hampir memalukan.
Namun genggaman di tangannya langsung menguat.
“Iya,” suara Haikal terdengar dekat. Tenang, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang bergetar. “Aku di sini.”
Lian membuka mata sepenuhnya sekarang.
Wajah Haikal ada di sana.
Dekat.
Rahangnya tegang. Alisnya sedikit berkerut. Mata itu—yang biasanya dingin dan terkontrol—kini menatapnya tanpa dinding.
Lian menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Sakit itu datang lagi saat ia mencoba bergerak sedikit.
“A—” suaranya terhenti. Ia meringis, napasnya memburu.
Haikal langsung mendekat. Tangannya yang lain terangkat, menahan bahu Lian agar tidak bergerak terlalu banyak.
“Jangan gerak dulu,” katanya pelan tapi tegas. “Luka kamu baru dijahit.”
Dijahit.
Kata itu membuat perut Lian mengeras.
Ia melirik ke arah lengannya. Perban putih. Tebal. Bersih. Tapi rasa perihnya tidak bisa dibohongi.
Matanya terasa panas.
Bukan karena sakit saja.
Tapi karena semuanya datang bersamaan—jatuh, suara benturan, rasa takut saat tubuhnya tergeletak di aspal, dan satu pikiran yang tidak bisa ia hentikan:
Aku mau pulang Mas.
Dan ia mengirim pesan itu.
Lian menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menggenggam tangan Haikal. Kali ini bukan refleks. Ini sengaja.
Erat.
Seperti jika ia melepasnya, semuanya akan runtuh.
“Mas…” panggilnya lagi, lebih pelan.
“Iya.”
“Aku…” bibirnya bergetar. Ia menutup mata sejenak, mengumpulkan keberanian yang bahkan tidak ia tahu dari mana datangnya. “Aku mau pulang.”
Kalimat itu keluar sederhana.
Namun di baliknya, ada terlalu banyak hal.
Bukan sekadar pulang dari rumah sakit.
Bukan sekadar keluar dari ruangan putih ini.
Pulang ke tempat aman.
Pulang ke suara yang dikenalnya.
Pulang ke seseorang yang tidak pergi saat ia jatuh.
Haikal tidak langsung menjawab.
Lian membuka mata, takut.
Namun yang ia lihat bukan penolakan.
Haikal menatapnya lama. Sangat lama. Seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar keputusan medis.
Lalu, dengan suara rendah dan mantap, ia berkata,
“Kita pulang. Tapi setelah dokter bilang kamu aman.”
Kita.
Kata itu membuat dada Lian terasa aneh.
Hangat.
Sakit.
Tenang.
Ia mengangguk kecil, lalu tanpa sadar menarik tangan Haikal lebih dekat—menempelkan punggung tangan pria itu ke dadanya.
Seperti memastikan ia benar-benar nyata.
Haikal tidak menarik tangannya. Tidak juga menegur.
Ia membiarkannya.
Bahkan saat Lian perlahan tertidur kembali, napasnya melembut, jari-jarinya masih menggenggam tangan Haikal erat—seolah itu satu-satunya jangkar yang ia miliki di dunia.
Dan Haikal tetap di sana.
Tidak bergerak.
Tidak pergi.
Membiarkan tangannya digenggam…
seolah itu adalah tempatnya sejak awal.