NovelToon NovelToon
Satu Alasan Untuk Bertahan

Satu Alasan Untuk Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Gadis nakal / CEO / Cintamanis / Psikopat itu cintaku / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: LIXX

Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.

Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.

Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.

Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Pria Asing

Akhirnya kisah ini up juga. Lixx sudah berusaha menulis kisah ini dari dua bulan lalu. Tapi karena banyak sekali kesibukan di realita, akhirnya ditunda terus. Tapi sekarang, Alhamdulillah, bisa nulis juga. Semoga istiqomah, deh.

Oke, kita langsung aja dan jangan lupa setia 😘

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Brooummm...

Deru knalpot Scorpion terdengar dari motor besar yang melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Rambut panjang melambai terbawa angin, namun wanita itu justru terdiam saat matanya tertuju pada seekor kucing di tepi jalan.

"Mbul!" teriaknya dan motornya berhenti di tepi jalan. Seekor kucing Persia dengan warna jingga tampak di pinggir jalan.

"Mbul, jadi makondo di rumah aja susah banget sih! Hidup enak dinafkahin, jajan enak dijajanin, makan enak dimakanin, tempat tidur nggak usah bayar kosan, masih aja nakal. Mau kabur dari rumah? Oke, fine!" ucap wanita tersebut menggerutu pada kucing itu.

"Meong, meong," kucing itu mengeong tanpa rasa bersalah. Wajahnya manis membuat gadis itu jelas tak tega.

"Gak usah pakai mata ala sinetron ikan terbang kamu, Mbul! Nggak mempan, deh. Ayo pulang!" ajaknya, namun kucing itu justru berbalik dari gadis tersebut dan membawa Elyra ke sebuah persimpangan jalan.

"A-astaghfirullah," gadis itu menutup mulutnya tak percaya. Dia melihat seorang pria berlumuran darah.

"Dia buronan atau bukan? Ah, nanti aja mikirnya. Penjahat juga manusia, kan." Tanpa pikir panjang, gadis itu membopong pria tersebut di punggungnya. Tubuh mungilnya tak menyerah, berjuang membawa pria itu naik ke atas sepeda motornya. Kucing jingga itu seolah sudah tahu posisinya, dia duduk di depan sang gadis dengan patuh.

Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah kos-kosan sederhana. Dia membopong pria itu masuk ke dalam kosan tersebut.

Elyra Azzahra, itulah nama gadis itu. Dia gadis sederhana namun juga mandiri. Ibunya sudah meninggal sejak Elyra bayi, dan sang ayah sudah menikah lagi, membuatnya jadi lebih peka dan hidup mandiri sejak dini. Kini usianya baru 16 tahun, namun dia sudah mampu hidup mandiri.

Dia memiliki warnet kecil. Dia juga menjadi agen Wi-Fi dan penghasilannya cukup untuk menafkahi dirinya sendiri dan kucingnya. Bahkan Elyra sudah mampu menabung sedikit demi sedikit. Tabungannya dia gunakan untuk memperbesar jangkauan usahanya lagi dan terus-menerus seperti itu, hingga kini dia sudah mampu membeli sepeda motor sendiri dan membayar sekolahnya sendiri.

Wajah Elyra kini pucat pasi. Dia tak pernah melihat darah sebanyak itu. Penyesalan terlintas di otaknya. Elyra merasa bodoh sendiri. Kenapa dia membawa pria itu justru ke kosannya? Kenapa tidak ke rumah sakit saja?

"Duh, gimana nih?" panik Elyra. Dia membuka jaket kulit pria tersebut dan wajah pria yang belum jelas terlihat itu kini mulai tampak. Dia seperti bule dari luar negeri. Pria itu berkulit putih, dengan rambut cokelat dan hidung mancung seperti Gunung Tangkuban Perahu. Begitulah istilah Elyra menggambarkan sosok pria tersebut.

Elyra melihat sebuah luka yang cukup dalam. Meski kecil, Elyra teringat saat dirinya terjatuh dari motor dulu. Saat diobati oleh temannya di UKS, semua keperluan itu masih ada di kosannya.

Elyra dengan cepat mengambil obat merah, air infus, kain kasa steril, dan perban antiair. Elyra mulai tak percaya pada dirinya sendiri, tapi pria itu masih bernapas. Elyra membawa pria itu untuk tidur di ranjangnya. Dia menggunting baju pria itu hingga lukanya terpampang nyata.

Ukurannya cukup besar, tapi tidak dalam. Ukurannya sekitar tiga jari. Elyra menghela napas kasar. Dia membersihkan darah pada luka pria itu dengan air infus, entah apa istilahnya, Elyra tak peduli, dia hanya membersihkannya sampai benar-benar bersih dan menambahkan obat merah.

Elyra lalu menempelkan kasa steril dan perban anti air. Elyra menatap bagian perut pria tersebut, dan matanya enggan pensiun melihatnya.

"Gila, roti sobek kah ini?" Elyra menyentuh perut pria itu dan terkekeh setelahnya.

"Sudah puas?" Suara serak dan sedikit bergema membuat Elyra terperanjat dan hampir terjungkal ke belakang.

"Astaghfirullah! Buat orang jantungan aja! Udah hidup kamu? Kamu bukan hantu, kan?" tanya Elyra konyol. Pria tersebut menatap wajah Elyra dari ujung rambut hingga kaki, dan sesuatu yang menyenangkan kini menggelitiki perutnya.

"Terima kasih," ucap pria tersebut. Elyra mengangkat bahunya enteng dan mengambil makanan kucing dari lemari penyimpanannya.

"Mbul, kamu temenin dia ya. Aku mau keluar dulu. Jangan nakal ya, Mbul!" Elyra memberi makan kucingnya dan menatap pria itu beberapa saat.

"Kamu punya pantangan makan, bro?" tanya Elyra. Pria itu menggeleng pelan.

"Oke," jawab Elyra lagi. Dia membawa lap dari rumahnya dan membersihkan sepeda motornya yang sedikit terkena noda darah.

Elyra bergegas pergi dari kosannya dan membeli beberapa makanan siap saji dari minimarket. Dia juga membeli obat pereda nyeri. Elyra kembali dalam waktu kurang dari setengah jam, dan kini kucingnya sudah tidur di bagian ranjangnya, sedangkan pria itu tampak bersandar di kepala ranjang.

"Bentar dulu, aku hangatkan dulu. Nih, hubungin keluargamu, suruh jemput ke sini. Ini kosan umum sih, tapi tetap aja aku nggak nyaman kalau ada orang lain di tempatku," ungkap Elyra seolah mengusir dengan halus.

"Aku tidak hafal nomor siapa pun di sini," ungkap pria itu lagi. Elyra membulatkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Kamu dari mana?" tanya Elyra lagi, merasa sangat terbebani. Pria itu memperhatikan punggung Elyra dan rambut panjang yang terkucir seperti buntut kuda itu.

"Prancis, tapi aku sudah lama tinggal di Indonesia," jawabnya. Elyra menganggukkan kepalanya.

"Siapa namanya? Aku Elyra." Elyra merapikan meja lipat di hadapan pria tersebut. Dia tak sadar kini pria itu amat terpesona dengan kecantikan yang terpampang di hadapan matanya.

"Leon," jawabnya. Ya, dia bernama Leonard Attahaya. Putra satu-satunya keluarga Attahaya dan memang sudah lama tinggal di Indonesia sebagai mahasiswa.

"Kamu tahu dunia sosial Indonesia tidak seperti di luar sana. Selain, harus taat hukum negara, kita juga harus patuh hukum sosial yang tidak tertulis di masyarakat kalau mau bertahan di negeri ini. Dan salah satunya adalah kita bukan keluarga, bukan teman, dan bukan juga sahabat, jadi kita nggak bisa tinggal di satu atap yang sama. Dan meskipun kamu sahabatku atau temanku, kamu juga nggak akan bisa tinggal di bawah atap rumahku," ucap Elyra tegas sambil menyusun tempat makan di depan Leon.

"Bisa jelaskan lebih detail? Apa maksudnya aku harus membayar ini dengan menjadi keluargamu?" tanya Leon. Elyra menghela napas kasar dan menyajikan bento yang baru saja dia hangatkan.

"Itu juga ide yang bagus kalau memang tidak ada cara lain, tapi aku tidak suka diusik." Leon kebingungan, dan dalam perhatiannya dia mengartikan lain ucapan tersebut.

"Kamu punya uang?" tanya Elyra lagi sambil menyantap makannya.

"Tidak ada, tapi saya punya." Elyra mengangguk. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dua lembar uang kertas warna merah.

"Di mana alamatnya? Nanti aku pesankan taksi online." Elyra mengunyah dengan lahap sambil menyerahkan uang di tangannya. Sayang, hal itu malah membuat Leon semakin tertarik dengan gadis di hadapannya.

"Bukannya kamu ingin agar aku jadi keluargamu?" Elyra mengerutkan keningnya dan terkekeh setelahnya.

"Otak kamu disimpan di mana, sih? Kita bukan keluarga dan kamu nggak bisa tinggal di sini. Gitu intinya. Dan kalau besok pagi ada tetangga yang tanya kamu siapa, jawab aja kamu itu omku atau keluargaku. Ngerti, kan?" tanya Elyra lagi. Leon tertegun mendengar itu. Rupanya dia sudah berpikir terlalu jauh tadi.

1
vita
bagus ceritanya
LEX ALEX
menyala om Ziyan😍
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞Rؚͬzͧoᷤnͧeͪ°ˢᵒᶠ
dia bilang "Jir, nanti anu gua jadi kecil pas hidup. Gua malu sama Elyra,"
🤣
LIXX: bener lagi🤣🤣
total 1 replies
LIXX
mang iya? wah Icut icut/Facepalm/
☠🏡⃟ªʸ🍾⃝ ᴀʏͩᴜᷞᴅͧɪᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
Ini nih yg gak bener, selalu membanding-bandingkan anak. Setiap anak itu berbeda, mungkin aja Fahmi emy gak jago di pelajaran. Tapi dia jago di bidang lain
☠🏡⃟ªʸ🍾⃝ ᴀʏͩᴜᷞᴅͧɪᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
Wahh ada calon idol nih
☠🏡⃟ªʸ🍾⃝ ᴀʏͩᴜᷞᴅͧɪᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
Ternyata begini ya awal pertemuan antara Lyra dan Leon.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!