"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Hadiah Berdarah di Pintu Vila
Perjalanan kembali ke vila terasa seperti barisan mimpi buruk yang berjalan dalam gerak lambat.
Di dalam kabin SUV yang kedap suara, Elena menyandarkan kepalanya di bahu Eros. Ia bisa merasakan detak jantung Eros yang kuat dan stabil melalui lapisan kemeja flanel yang ia kenakan. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau mesiu tipis dari tubuh pria itu seharusnya menakutkan, tapi bagi Elena, itu adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak hanyut dalam lautan trauma.
Elena memejamkan mata, tapi yang muncul bukanlah kegelapan yang menenangkan. Ia melihat kembali wajah Arkan yang hancur, mendengar jeritan Marco saat kakinya ditembus peluru Vanya, dan yang paling menghantui: tatapan mata Vanya yang sedingin es.
Kontrak mati.
Kata-kata itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Elena merapatkan pelukannya pada lengan Eros. Ia merasa seperti seekor burung yang baru saja lepas dari sangkar bambu yang sempit, hanya untuk menyadari bahwa ia kini terbang di tengah badai petir yang siap menyambarnya kapan saja. Apakah ini harga yang harus ia bayar untuk kebebasan? Menjadi titik lemah bagi seorang raja mafia?
"El? Kamu kedinginan?" suara Eros terdengar lembut, kontras dengan kedinginan yang Elena rasakan di jiwanya.
"Hanya... hanya lelah, Eros," bisik Elena. Ia tidak ingin menambah beban di pundak Eros. Ia tahu pria itu sedang memikirkan ancaman Vanya tentang "Keluarga di Rusia".
Mobil akhirnya mendaki jalanan setapak menuju vila. Lampu sorot mobil menyapu pepohonan pinus yang bergoyang tertiup angin malam.
Tapi, saat gerbang kayu vila mulai terlihat, Eros tiba-tiba menginjak rem dengan mendadak. Ban mobil berdecit di atas kerikil, membuat Elena terperanjat.
"Ada apa?" tanya Elena, jantungnya kembali berdegup kencang.
Eros tidak menjawab. Matanya menyipit, menatap ke arah pintu depan vila yang seharusnya dijaga ketat dua anak buahnya. Pintu itu terbuka sedikit, dan lampu teras yang biasanya terang benderang kini padam. Keheningan yang menyelimuti bangunan itu terasa tidak wajar—seperti keheningan sebuah kuburan.
"Tetap di dalam mobil. Kunci pintunya. Jangan keluar sampai aku memanggilmu," perintah Eros. Suaranya kembali menjadi nada komando yang dingin. Ia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, memeriksa magasin dengan gerakan mekanis yang cepat.
"Eros, Ayah..." Elena mencengkeram lengan Eros, matanya membelalak ketakutan.
"Aku akan membawanya keluar, El. Aku janji," ucap Eros sebelum ia keluar dari mobil dan menghilang dalam kegelapan teras.
Elena duduk mematung di kursi penumpang. Tangannya gemetar hebat saat ia menekan tombol kunci pintu. Ia melihat melalui kaca depan yang mulai berembun. Detik demi detik berlalu seperti siksaan. Ia melihat bayangan Eros bergerak masuk ke dalam rumah.
Hening. Tidak ada suara tembakan. Tidak ada teriakan. Dan justru itulah yang membuat Elena semakin histeris. Ia tidak bisa hanya duduk diam sementara ayahnya mungkin sedang dalam bahaya. Melupakan perintah Eros, Elena membuka kunci pintu dan berlari keluar. Udara dingin pegunungan menghantam wajahnya, tapi ia tidak peduli.
"Ayah! Eros!" teriaknya pelan saat mencapai teras.
Ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Ruangan itu rapi, tidak ada tanda-tanda perkelahian. Tapi, bau amis yang tajam menusuk hidungnya—bau yang sama dengan yang ia cium di pelabuhan tadi. Di tengah ruangan, Eros berdiri mematung di depan pintu kamar Ayah.
"Eros? Di mana Ayah?" Elena mendekat dengan langkah ragu.
Eros berbalik dengan cepat, mencoba menghalangi jalan Elena. Wajahnya pucat pasi, ekspresi yang belum pernah Elena lihat sebelumnya—bahkan saat menghadapi moncong senjata Vanya sekalipun.
"El, jangan lihat. Kembali ke mobil sekarang!" bentak Eros, suaranya bergetar karena amarah dan kesedihan.
Tapi, Elena sudah melihatnya melalui celah lengan Eros.
Di atas meja kayu di depan kamar Ayah, terletak sebuah kotak beludru hitam yang indah—jenis kotak yang biasanya digunakan untuk perhiasan mahal.
Namun, kotak itu terbuka, dan isinya bukan berlian. Di dalamnya terletak sebuah jari manis pria yang masih mengenakan cincin perak usang—cincin yang Elena kenali sebagai milik ayahnya. Di samping kotak itu, ada sebuah amplop putih bersih yang tertempel dengan noda darah segar.
Elena merasa seluruh tenaganya tersedot habis. Lututnya lemas, dan ia jatuh terduduk di lantai yang dingin. Sebuah jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya, tapi suaranya seolah hilang di udara.
"Ayah..." bisiknya, dunianya runtuh seketika.
Eros segera berlutut di sampingnya, memeluknya dengan erat, tapi Elena memberontak. Ia memukul dada Eros dengan sisa kekuatannya.
"Kamu bilang dia aman! Kamu bilang tempat ini rahasia!" teriak Elena di tengah tangisnya yang pecah. "Mereka membawanya, Eros! Mereka menyakitinya karena kamu!"
Eros hanya diam, menerima setiap pukulan dan makian Elena. Ia tahu Elena benar. Keberadaan Elena di sisinya telah membuat orang-orang yang dicintai Elena menjadi target. Ia mengambil amplop itu dan membukanya dengan tangan bergetar.
Isinya hanya satu kalimat pendek dalam bahasa Rusia yang diterjemahkan di bawahnya:
"Hadiah kecil untuk menyambut kepulanganmu, Sang Pengkhianat. Kembalilah ke Moskow dalam tiga hari, atau sisa dari tubuh ini akan dikirimkan satu per satu setiap pagi."
Eros meremas kertas itu hingga hancur. Ini bukan ulah Arkan. Ini adalah pesan dari 'The Great Council'—para tetua mafia di Rusia yang merasa dikhianati saat Eros mengambil alih organisasi secara paksa lima tahun lalu.
Elena masih terisak di lantai, menatapi jari yang terputus itu dengan pandangan kosong. Rasa perih akibat deterjen di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di hatinya. Arkan mungkin sudah pergi, tapi dia telah digantikan oleh iblis-iblis yang jauh lebih besar.
"El, dengarkan aku," Eros memegang wajah Elena, memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat penuh dendam. "Mereka tidak akan membunuhnya sekarang. Dia adalah satu-satunya kartu as mereka untuk membawaku kembali. Ayahmu masih hidup. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku akan membawanya kembali utuh."
Elena menatap Eros melalui air matanya. Ia melihat pria yang ia cintai, tapi ia juga melihat kehancuran yang dibawa pria itu ke dalam hidupnya.
"Apa ini tidak akan pernah berakhir, Eros?" tanya Elena dengan suara yang nyaris hilang. "Apa kita akan selalu membayar kebahagiaan kita dengan darah?"
Eros tidak menjawab. Ia tahu di dunia yang ia tinggali, kedamaian adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah ada harganya. Ia menggendong Elena, membawanya ke kamar lain yang lebih aman, sementara ia memerintahkan timnya untuk membersihkan TKP dan melacak rute penculikan tersebut.
Malam itu, Elena tidak tidur. Ia duduk di pojok tempat tidur, menatap jari manis ayahnya yang kini sudah diamankan oleh tim medis Eros untuk kemungkinan disambung kembali (meskipun kemungkinannya kecil). Ia menyadari satu hal yang pahit: Arkan adalah penjara fisiknya, tapi Eros adalah penjara bagi takdirnya.
Di ruang kerja vila, Eros sedang menatap peta dunia. Ia mengambil sebuah paspor palsu dan sebuah kunci emas tua.
"Siapkan pesawat pribadi," perintah Eros pada asistennya melalui telepon. "Kita berangkat ke Moskow besok pagi."
"Bagaimana dengan Nyonya Elena, Tuan?"
Eros menoleh ke arah kamar Elena. Matanya menggelap. "Dia ikut denganku. Membiarkannya di sini jauh lebih berbahaya. Jika aku harus masuk ke mulut singa untuk mengambil kembali ayahnya, maka dia harus ada di bawah perlindunganku setiap detik."
Di saat yang sama, di sebuah lokasi rahasia di pinggiran kota, Arkan yang sedang diseret menuju penjara bawah tanah oleh anak buah Eros, tiba-tiba dihentikan oleh sebuah mobil hitam yang mencegat jalan. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria dengan seragam militer Rusia turun.
Pria itu menatap Arkan yang babak belur, kemudian tersenyum tipis. "Tuan Arkan... sepertinya kita punya musuh yang sama. Mau bekerja sama untuk terakhir kalinya?"
Arkan mendongak, matanya yang bengkak berkilat dengan sisa-sisa kegilaan. "Siapa kalian?"
"Kami adalah orang-orang yang akan memastikan Eros dan Elena tidak akan pernah melihat matahari terbit di Moskow."
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya