Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mencoba ..
Langkah mereka meninggalkan rumah makan terasa berat, terutama bagi Arelion.
Sejak masuk ke dalam mobil, tak satu kata pun keluar dari bibirnya.
Elora duduk di kursi belakang, menunduk, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri. Ia bisa merasakan udara di dalam mobil begitu tegang bahkan tanpa menoleh, ia tahu Arelion sedang menahan sesuatu.
Begitu mobil berhenti di halaman kediaman Arkaven, Arelion turun lebih dulu. Tanpa menunggu, ia melangkah cepat memasuki rumah.
“Lion,” panggil Nyonya Arkaven menyusul. “Tunggu.”
Arelion berhenti di tengah lorong. Ia berbalik perlahan, sorot matanya dingin..berbeda dari biasanya.
“Aku tahu maksud ibu membawa Elora ke sana,” ucapnya datar. “Ibu ingin memastikan sesuatu, bukan?”
Nyonya Arkaven terdiam sesaat. “Ibu hanya ingin menghindari masalah. Maria terus menghubungi ibu. Ibu pikir… lebih baik semuanya diselesaikan baik-baik.”
“Dengan mempertemukan Elora dengan orang yang menyiksanya?” suara Arelion meninggi untuk pertama kalinya. “Itu yang ibu sebut baik-baik?”
“Ibu tidak tahu perlakuan Maria separah itu,” balasnya, sedikit defensif. Nyonya Arkaven sangat terkejut saat diperjalanan ,Arelion menceritakan perlakuan Maria pada Elora.
Meski Elora sendiri merasa hal itu tak perlu Arelion katakan .
Arelion terkekeh pelan...pahit.
“Tentu saja dia tidak mengadu. Dia bahkan takut dianggap tidak tahu diri hanya karena meminta makan.”
Kata-kata itu membuat wajah Nyonya Arkaven memucat.
“Sejak kapan ibu memutuskan sesuatu tentang Elora tanpa berbicara denganku?” lanjut Arelion. “Atau… sejak kapan perasaan dan keselamatan orang lain bukan hal penting di rumah ini?”
Nyonya Arkaven menelan ludah. “Lion, ibu hanya—”
“Aku kecewa, Bu,” potong Arelion tegas. Tidak ada amarah meledak, justru nada tenang itulah yang paling menusuk. “Bukan karena ibu salah menilai Maria. Tapi karena ibu melihat Elora hanya sebagai pelayan… bukan sebagai manusia.”
Hening menyelimuti lorong itu.
Elora, yang berdiri agak jauh bersama Ana, menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia tak pernah membayangkan seseorang akan membelanya sejauh ini..bahkan berani berseberangan dengan ibunya sendiri.
Arelion menarik napas panjang.
“Mulai sekarang,” katanya mantap, “tidak ada seorang pun..termasuk ibu..yang boleh mengatur hidup Elora tanpa izinku.”
Ia menoleh sekilas ke arah Elora. Tatapan mereka bertemu.
“Dia berada di bawah perlindunganku.”
Nyonya Arkaven menutup mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorotnya berubah..lebih rapuh, lebih sadar.
“Ibu… tidak menyangka akan sejauh ini,” ucapnya lirih.
Namun Arelion sudah berbalik.
“Kita bicarakan lain waktu,” katanya singkat. “Saat ibu siap benar-benar mendengarkan.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan ibunya dalam diam dan Elora dengan perasaan yang bercampur antara haru dan takut.
Lorong belakang kediaman Arkaven lengang saat Arelion akhirnya menemukan Elora. Gadis itu berdiri di dekat jendela kecil, menatap taman tanpa benar-benar melihat apa pun. Bahunya sedikit turun, seolah ia baru saja menahan sesuatu yang terlalu berat.
“Elora.”
Ia tersentak, lalu menoleh. Wajahnya pucat, namun ia segera menunduk begitu menyadari siapa yang memanggilnya.
“Tuan…” ucapnya pelan.
Arelion melangkah mendekat. Di tangannya ada sebuah tas kecil dan satu paperbag. Ia menyodorkannya tanpa banyak kata.
“Ini,” katanya.
Elora ragu sesaat sebelum menerimanya. Saat jemarinya menyentuh tas kain itu, dadanya terasa sesak. Ia mengenali jahitan di sudutnya tas berisi baju-bajunya yang tak sempat ia ambil. Lalu matanya jatuh pada paperbag.
“Buku…?” suaranya hampir berbisik.
Arelion mengangguk. “Katanya itu milikmu.”
Elora membuka sedikit paperbag itu. Sampul buku dongeng dengan tepi yang mulai usang menyambutnya. Seketika matanya mengembun. Ia memeluk buku itu ke dadanya, seolah memeluk sesuatu yang hidup.
“Terima kasih, Tuan,” ucapnya lirih. " Berterimakasih lh pada Hana..karena kemarin dia yang menitipkannya padaku."
Bu Hana..apa dia mengalami hal yang sulit karena kepergianku?..
Pandangan Elora kini terpaku pada buku dongeng miliknya .
Arelion memperhatikannya. Ada sesuatu yang berubah di wajah Elora setiap kali ia menyentuh buku itu ketenangan yang aneh, seperti pulang ke tempat yang aman.
“Kenapa buku itu penting bagimu?” tanya Arelion, suaranya lebih lembut dari yang ia sadari.
Elora terdiam sejenak. “Karena… di saat aku tidak punya siapa-siapa, cerita di dalamnya menemani aku bertahan.”
Arelion menelan ludah. Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa menohok.
“Elora,” katanya akhirnya, lebih pelan, “tentang hari ini… maafkan aku. Aku tidak tahu ibuku akan—”
“Tidak apa-apa,” potong Elora cepat, masih menunduk. “Aku mengerti. Aku memang seharusnya tidak berada di sini.”
Kata-kata itu membuat Arelion mengeraskan rahangnya.
“Kau berada di sini karena aku mengizinkannya,” tegasnya. “Dan selama aku masih berdiri di rumah ini, tak seorang pun berhak memaksamu pergi.”
Elora mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, mata mereka bertemu—dan ada sesuatu yang bergetar di antara keduanya.
“Tapi aku tidak ingin menjadi alasan pertengkaran antara Tuan dan keluarga Tuan,” ucap Elora pelan. “Aku tidak ingin… merepotkan.”
Arelion melangkah satu langkah lagi, kini berdiri sejajar dengannya. Suaranya tetap tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan. “Tidak ada yang berhak menyeretmu kembali hanya karena mereka merasa memiliki.”
Elora membuka mata. Pandangannya buram, namun ia berusaha menahan air mata agar tak jatuh. “Tuan… saya tidak ingin membuat masalah,” ucapnya lirih. “Saya hanya ingin semuanya baik-baik saja.”
“Dan menurutmu,” Arelion menoleh, menatapnya lekat, “apa yang kau alami selama ini disebut baik-baik saja?”
Elora terdiam. Bibirnya bergetar tipis. Ia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa ia kuat, bahwa ia terbiasa. Namun suara itu tak pernah benar-benar keluar.
Arelion menarik napas pelan. “Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi.
Arelion menghela napas.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukanmu seolah kau tidak berarti.”
Elora menggenggam buku itu lebih erat. Di dadanya, rasa hangat dan takut bercampur jadi satu.
" Jika bukan aku..apakah anda akan melakukan hal yang sama ?" ujar Elora sambil menatap Arelion
Arelion terdiam.
Pertanyaan itu sederhana..namun justru itulah yang membuatnya terasa berbahaya. Malam terasa lebih sunyi, seolah taman dan dinding-dinding rumah Arkaven ikut menahan napas.
Ia menatap Elora. Tidak segera menjawab.
Elora mengucapkannya tanpa nada menuntut. Hanya ingin tahu. Namun di balik tatapannya, ada luka lama yang terbiasa bersiap menerima jawaban paling pahit.
Arelion menghela napas pelan. “Aku tidak tahu,” katanya jujur.
Elora menunduk sedikit. Jawaban itu cukup untuk membuat dadanya mengencang.
“Tapi aku tahu satu hal,” lanjut Arelion, suaranya lebih rendah, lebih dalam. “Aku tidak menyesal menolongmu.”
Elora mendongak. Matanya bertemu dengan mata Arelion dan kali ini tak ada jarak dingin di sana. Hanya kejujuran yang telanjang.
Ia merasa ada seseorang yang berdiri di depannya
bukan sebagai tuan,
melainkan sebagai pelindung.
“Aku akan kembali ke kamarku,” ucapnya pelan. “Terima kasih… untuk semuanya, Tuan.”
Ia melangkah pergi, namun baru dua langkah, suara Arelion menahannya.
“Elora.”
Ia berhenti.
“Besok,” kata Arelion, nada suaranya lebih terkendali, “kau tetap bekerja seperti biasa."
Elora mengangguk kecil tanpa menoleh, lalu melanjutkan langkahnya hingga sosoknya menghilang di balik lorong.
Malam kian larut.
Di kamarnya, Elora duduk di tepi ranjang. Ia membuka buku dongeng itu dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh. Di halaman terakhir, tinta keperakan itu masih ada—berkilau samar di bawah cahaya lampu.
Bertahanlah untuk berjalan menuju takdirmu…
Elora menghela napas panjang. “Aku mencoba,” bisiknya.
Di luar jendela, bayangan sayap berkilau melintas cepat, lalu menghilang di balik pepohonan.