Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kode yang salah
Hari itu jam istirahat.
Koridor sekolah ramai seperti biasa. Murid-murid lalu-lalang, suara tawa dan obrolan saling bersahut.
Gina berjalan bersama Siva dan Rahmalia menuju kantin.
Di depan, Siva dan Rahmalia terlihat asyik mengobrol sambil bergandengan. Sesekali mereka tertawa, saling menimpali cerita yang entah tentang apa.
Gina hanya mengikuti dari belakang.
Langkahnya pelan, menjaga jarak tanpa sadar.
Entah sejak kapan, obrolan mereka mulai terasa tidak masuk lagi ke telinganya. Kata-kata itu tetap terdengar… tapi tidak lagi terasa dekat. Ia hanya mendengar, tanpa benar-benar memahami atau ingin ikut menanggapi.
Seperti penonton yang berjalan di belakang dua orang sahabatnya sendiri.
Dari kejauhan, terdengar keributan.
Sekelompok siswa berkumpul di depan mading.
Suara mereka ramai—ada yang bersiul, ada yang bercanda sambil saling menunjuk.
Beberapa menyebut nama pasangan.
Beberapa tertawa malu-malu.
Siva langsung menoleh.
Matanya berbinar penasaran.
Tanpa menunggu, ia mendekat lebih dulu.
“Eh, ada pengumuman apa di mading?” tanyanya pada salah satu siswa.
“Pengumuman tantangan bulanan,” jawab siswa itu santai.
Gina dan Rahmalia ikut mendekat.
Mereka bertiga berdiri di depan mading, membaca lembar pengumuman yang tertempel.
Tulisan besar di bagian atas langsung menarik perhatian.
Ujian Praktik Bulanan
Tema : Duet Lawan Jenis
Lagu : Bebas
Penilaian : Chemistry, Vokal, Harmoni
Di bagian bawah, tertulis aturan tambahan:
Boleh memilih pasangan sendiri.
Jika dalam 2 hari belum menemukan pasangan, silakan menghubungi wali kelas masing-masing untuk ditentukan pasangan.
Beberapa siswa di sekitar mereka langsung bersorak kecil.
“Aduh… harus duet sama cowok?”
“Cari pasangan dari sekarang lah!”
“Eh lo sama gue aja!”
Suasana makin ramai, penuh godaan dan candaan.
Terlihat Siva mulai memasang wajah kesal.
Tangannya langsung menyilang di dada, alisnya sedikit berkerut.
“Males banget aku kalau disuruh duet sama cowok,” gumamnya jujur.
Rahmalia hanya tersenyum kecil, sementara Gina menoleh pelan ke arah Siva, memperhatikan reaksinya.
“Kebanyakan mereka cuma numpang nama,” lanjut Siva.
“Bukannya bantu lagu… malah bikin berat. Belum tentu bisa ngimbangin.”
Nada suaranya terdengar serius. Bagi Siva, tantangan itu bukan kesempatan—justru hambatan. Ia terbiasa tampil kuat dengan kontrol penuh di atas panggung, dan berduet dengan orang yang belum tentu selevel terasa seperti risiko.
Berbeda dengan Rahmalia.
Ia tidak terlihat kesal. Justru tampak berpikir.
Bukan takut.
Tapi bingung.
Selama ini, ia hampir tidak pernah dekat dengan lawan jenis. Tidak pernah mencari. Tidak juga memberi ruang. Bahkan sekadar ngobrol di luar urusan sekolah pun jarang.
Apalagi duet.
Ia belum pernah sama sekali.
Matanya kembali membaca pengumuman di mading, seolah mencari jawaban dari sana.
Kalau harus memilih… siapa?
Satu nama muncul di kepalanya.
Dio.
Satu-satunya cowok yang cukup ia kenal. Yang sudah terbiasa bercanda dengannya. Yang tidak membuatnya canggung.
Pilihan paling aman.
Paling masuk akal.
Rahmalia mengangguk kecil pada pikirannya sendiri, seolah sudah menemukan jawaban.
Sementara itu, Gina hanya berdiri di samping mereka.
Diam.
Tatapannya tertuju ke pengumuman… tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Gina terdiam beberapa saat di depan mading.
Matanya memang tertuju pada pengumuman… tapi pikirannya hanya mengarah ke satu orang.
Azmi.
Kalimat duet lawan jenis itu seperti langsung menarik bayangan Azmi ke kepalanya. Tanpa sadar, ia membayangkan berdiri di satu panggung, bernyanyi berhadapan, suara mereka menyatu.
Namun bayangan itu tidak bertahan lama.
Ia sadar… kemungkinan Azmi memilih orang lain jauh lebih besar.
Dan orang itu—kemungkinan besar Rahmalia.
Dada Gina terasa sedikit menegang.
Ia tahu Rahmalia bukan tipe yang dekat dengan banyak cowok. Justru karena itu… pilihan Rahmalia pasti terbatas.
Dan satu-satunya yang mungkin mendekatinya selama ini hanya Dio.
Kalau Rahmalia memilih Dio… maka Azmi tidak akan punya alasan mendekat ke Rahmalia untuk duet.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Cepat.
Diam-diam.
Tanpa ingin diakui.
Gina menelan pelan, lalu bersuara santai, seolah tidak terlalu memikirkan pengumuman itu.
“Aku sih… udah kepikiran mau duet sama siapa,” ucapnya ringan.
“Lagian kita emang udah deket.”
Nada suaranya dibuat biasa. Tidak menekan.
Tidak serius.
Tapi arah kalimat itu jelas—ditujukan pada Rahmalia.
Tujuannya satu.
Mencegah Rahmalia memilih orang yang sama.
Mencegah Azmi semakin dekat.
Namun…
Siva dan Rahmalia menangkapnya berbeda.
Mereka langsung berpikir Gina sedang membicarakan Dio.
Karena selama ini, yang terlihat paling dekat dengan Gina ya hanya Dio. Mereka sering bercanda, sering pulang bareng, dan tidak canggung satu sama lain.
Siva mengangguk santai.
“Iya sih… kalau sama dia emang udah cocok kamu,” katanya tanpa curiga.
Lagipula, Siva memang tidak berniat duet dengan Dio. Baginya, Dio terlalu santai, terlalu sering bercanda, dan belum tentu serius saat latihan.
Rahmalia yang tadi sempat berpikir memilih Dio… langsung terdiam.
Ia menoleh sebentar ke Gina, lalu kembali ke mading.
Pelan-pelan… niat itu mundur.
Kalau Gina sudah lebih dulu memikirkannya… maka seharusnya ia mengalah.
Lagipula, Gina sahabatnya.
Rahmalia menghela napas kecil.
Di dalam hatinya, ia sebenarnya hanya ingin pilihan yang aman. Duet dengan Dio terasa paling nyaman karena tidak membuatnya canggung.
Tapi kalau Gina yang lebih dulu ingin…
Ia tidak keberatan mundur.
Toh, baginya duet bukan soal siapa orangnya—yang penting tugas selesai.
Namun tanpa disadari siapa pun…
Kesalahpahaman kecil itu mulai menggeser arah.
Gina mengira Rahmalia akan memilih Dio.
Rahmalia justru mundur dari Dio demi Gina.
Tak lama, Dio muncul dari arah belakang koridor.
Di tangannya, bola basket diputar-putar santai, tanda ia sedang bersiap ke lapangan saat jam istirahat. Langkahnya ringan, wajahnya seperti biasa—cuek, tapi penasaran melihat kerumunan di depan mading.
Melihat Gina, Rahmalia, dan Siva berdiri di sana, ia langsung mendekat.
“Eh, ada apa ini?” tanyanya.
Ketiganya spontan menoleh.
Dio ikut melirik ke papan mading, matanya cepat menangkap tulisan besar di tengah.
“Eh… tantangan duet lawan jenis?” gumamnya.
Nada suaranya setengah heran, setengah tertarik.
Tanpa sadar, pandangannya sempat bergeser ke arah Rahmalia.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup terlihat.
Siva yang menangkap arah tatapan itu langsung menyela lebih dulu.
“Pokoknya gue nggak mau sama lo,” ucapnya cepat sambil menyilangkan tangan.
Refleks.
Tanpa basa-basi.
Dio langsung melotot.
“Eh, siapa juga yang mau sama lo,” balasnya cepat, tak mau kalah.
Rahmalia yang berdiri di samping mereka menangkap situasi itu dengan cara berbeda.
Di kepalanya, potongan-potongan kecil langsung tersambung.
Siva jelas menolak Dio.
Berarti kemungkinan Siva duet dengan Dio hampir tidak ada.
Lalu Gina…
Tadi Gina bilang sudah kepikiran mau duet dengan seseorang yang “udah deket”.
Rahmalia menatap Gina sekilas.
Pelan.
Dan di dalam benaknya, satu kesimpulan terbentuk—
Gina punya peluang dengan Dio.
Lebih besar daripada siapa pun.
Rahmalia menelan pelan.
Niat yang tadi sempat muncul untuk memilih Dio… perlahan benar-benar ia lepaskan.
Bukan karena dipaksa.
Tapi karena ia merasa… itu memang bukan bagiannya.
Lebih baik ia mundur.
Lebih baik ia tidak mengganggu pilihan sahabatnya sendiri.
Tanpa ia sadari—
Satu langkah kecil itu justru membuat jarak baru terbentuk.
Dan Gina… sama sekali belum tahu, Rahmalia baru saja mengalah untuk sesuatu yang bahkan bukan seperti yang ia kira.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???