NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diskusi

Karin menatap aplikasi chat, tak ada respon Aya sama sekali dari pesan terakhir yang ia kirim. Ia menatap jam dinding.

'Sudah jam dua belas, pas waktu istirahat siang, ' batinnya.

"Ke kantor Aya, ah. "

Karin beranjak, melenggang meninggalkan ruang kerjanya yang sudah hampir sepi sejak lima menit yang lalu.

"Eh, kok kayak Aya? itu mobil siapa ya?"

Karin menjulur lehernya saat melihat seorang karyawati yang naik ke sebuah mobil Pajero hitam.

"Itu..bukannya mobil Pak Jaka ya? " tanyanya lagi.

Ia berlalu ke gedung departemen Umum dan keuangan setelah mobil itu menjauh melewati pos security.

CEKLEK

Karin tertegun, tak ada siapa-siapa di ruangan itu. Bahkan Aya yang biasanya menikmati bekal makan siangnya sendiri di kursi sudut juga tak nampak.

"Eh, mas Elang. Aya kemana?"

Kebetulan Elang, senior di departemen umum baru masuk ke ruangan itu.

"Kayaknya tadi sempat ijin besuk keluarga di rumah sakit sama bu Clara, " sahut Elang sambil mengaduk kopi hitam yang dibuatnya.

"Oh, oke mas makasih ya. Eh mas Elang, bag akun instagramnya dong."

Elang tertegun melihat polak Karin yang seperti cacing kecentilan.

"Aduh, maaf ya Karin. Nanti di marahin pacar mas Elang."

"HA?! PACAR?! Kapan mas Elang punya pacae?" tanya Karin tak percaya.

" Baru dua minggu jadian, Aya nggak cerita? "

Karin cemberut sambil menggeleng.

"Ya sudah, aku pergi mas."

Karin berlalu dengan wajah tertekuk. Makin sedikit target gebetannya. Mengejar Rama sudah pasti tak mungkin baginya.

"Aya kok nggak bilang ya ada keluarganya yang di rawat? biasanya dia selalu cerita, " gumam Karin sambil mencari menekan panggil pada kontak Aya.

"Assalamu'alaikum, Besti. Dirimu betul ke rumah sakit? kok nggak cerita ada yang dirawat? Kamu jangan main rahasia-rahasian deh sama aku, " cerca Karin saat telpon diangkat.

"Wa'alaikumsalam. Ya ampun Karin nggak usah teriak juga, aku nggak tuli. Maaf aku nggak sempat cerita. Lagian, keluarga ku yang ini memang belum pernah aku ceritain, " elak Aya.

"Jadi, yang naik mobil Pajero hitam tadi beneran kamu? " tanya Karin lagi.

"Oh, iya kayaknya. Aku nggak perhatikan mobil abang sepupuku. Memang kenapa?"

"Aku tadi nyamperin, kamu nggak ada. Pesanku nggak kamu balas dari tadi. Aku cari teman gosip, Hahaha, "

"Ish kamu ini, aku di kejar inputan sama Bu Clara. Mau rapat beliau siang ini, makanya aku nggak sempat balas lagi. Dasar memang tukang gosip."

"Ya sudah, kalau ada apa-apa cerita ya, ntar stress kalau di pendam," pancing Karin supaya Aya cerita.

"Heleh, bilang aja cari bahan gosip. Ya sudah, makan sana, nanti sakit. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Karin menutup telponnya dan berlalu menuju kantin.

***

"Sejak kapan suami jadi abang sepupu?" sindir Rama.

Aya hanya melengos.

"Aya...Aku tahu sudah berbuat salah waktu itu. Amel terus mendesakku bertemu. Dia tiba-tiba dapat kabar soal pernikahan kita, makanya aku terpaksa temui dia di kafe. Aku nggak bermaksud mengabaikan permintaanmu. Aku benar-benar minta maaf."

"Terus, apa yang kamu bilang ke dia soal pernikahan kita? "

Rama terlihat ragu.

"Aku bilang terpaksa melakukan pernikahan ini karena kondisi mamaku. "

"Lalu? " tanya Aya lagi meminta lebih.

"Dia marah, dan nggak terima. Dia nggak mau putus dari aku. Aku sudah bilang permintaan mu untuk merahasiakan pernikahan kita, tapi melihat kondisi Papa memang tidak bisa selamanya di rahasiakan."

"Intinya semua ada di kamu kan?"

Rama terdiam. Ia membenarkan pertanyaan Aya.

"Bang Rama, Aku tak pernah punya harapan menikah dengan situasi seperti ini. abang pikir aku senang? aku hanya berpikir bagaimana menjaga nama baikku, nama baik Umi dan keluarga ku yang lain. Aku nggak mendapat jaminan apa-apa seandainya menyiarkan pernikahan ini kamu pasti melepas perempuan itu? aku yang bakal malu bang. Abang yang mendesakku segera menikah, tapi abang juga yang membuatku dicampakkan."

Mata Aya mulai berkaca-kaca. Ia sudah terlalu kecewa.

"Aku ngerti kekhawatiran mu, Aya. Kita coba bicarakan satu-satu dengan Papa ya. Alasan menunda resepsi sampai Mama sadar mungkin nggak akan bertahan lama, begitu juga dengan kondisi Papa. Mungkin dalam waktu dekat Papa sudah bisa berjalan lagi. Aku bakal bicarakan sama Amel, Aku janji menjaga pernikahan ini. Tapi aku berharap kamu bisa menunggu, butuh waktu membujuknya mengerti. Aku berharap kamu mau kembali ke rumah, setidaknya sampai situasi mama dan papa ku sudah lebih baik."

"Kamu masih belum mau melepasnya?"

Rama tertegun lagi, "Aya, aku sudah cukup lama bersama Amel. Bahkan sebelum aku kuliah Pasca sarjana di Australia. Aku juga butuh waktu."

Aya tersenyum sinis, "Seharusnya sejak awal aku menolak pernikahan ini. Aku yang bodoh."

Rama terdiam. Mobil berbelok masuk ke dalam parkiran rumah sakit.

Aya bergegas keluar meninggalkan Rama yang galau.

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Assalamu'alaikum, Pa."

"Aya?! Sini masuk, Nak. Mana Rama? "

"Bang Rama, ke kamar Mama sebentar."

Aya menghampiri Jaka, mencium punggung tangannya dan duduk dikursi samping brankar.

"Aya, maaf ya membuatmu meninggalkan pekerjaan."

"Nggak apa, Pa. Tadi pagi sudah Aya selesaikan. Pa, Bang Rama benar mau di angkat manajer umum dan keuangan?"

"Iya, Nak. Papa akan persiapkan dia sebagai dirut menggantikan Papa. Jadi, harus melewati proses seperti itu. Kenapa Aya?"

"Emmm.. sebenarnya alasan Aya menunda resepsi karena Aya masih mau bekerja Pa. Kalau Bang Rama jadi atasan Aya, makin sulit resepsinya."

"Aya, Rama harusnya menanggung nafkah mu. Kamu tidak perlu bekerja lagi. Tapi kalau kamu bersikeras bekerja, bagaimana kalau Papa pindah kamu ke kantor anak perusahaan yang lain?"

Aya terdiam, ia tak bisa mengelak lagi. Ayah mertuanya punya banyak cara membuatnya tetap melakukan resepsi.

"Apa Aya khawatir Rama akan meninggalkan Aya demi perempuan itu?"

Aya tertunduk makin dalam.

"Iya Pa. Kalau sudah resepsi, tapi bang Rama tidak mau melepasnya Aya dan keluarga Aya yang malu Pa."

"Bukan hanya Aya dan keluarga Aya, Papa juga malu, Nak. Ya sudah, bagaimana kalau Aya mengundurkan diri dari Utama Jaya, Papa pastikan Aya dapat posisi yang lebih bagus di perusahaan lain. Jadi, kita bisa langsungkan resepsi segera. Soal perempuan itu, nanti Papa yang urus."

DEG!!

'Aduh, kenapa jadi makin kacau?' batin Aya.

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Pa, Mama sudah sadar, " ujar Rama sumringah.

"Syukurlah, " sahut Jaka.

"Alhamdulillah. Kalau begitu, Aya ke kamar Mama dulu ya, Pa."

Jaka mengangguk.

"Aya, pertimbangkan yang Papa bilang tadi ya? "

Aya mengangguk kecil lalu bersalaman dengan Jaka.

"Pa, Rama langsung kembali ke kantor setelah ini ya. Sekalian antar Aya."

Jaka mengangguk.

***

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Assalamu'alaikum, Ma. "

"Wa'alaikumsalam, Aya, " jawab Harum lemah.

Aya menghampiri dan mencium punggung tangannya.

"Bagaimana kondisi Mama? "

"Masih lemes, tapi Mama sudah merasa lebih baik. Aya, kata Rama kalian sudah menikah, apa betul?"

Aya mengangguk, "Iya Ma, " jawab Aya singkat sambil menunjukkan jari manis tangan kanannya.

"Syukurlah. Jadi, Aya sekarang tinggal di rumah kami kan? "

Aya tertegun, Rama menahan senyum.

"Hari ini mulai tidur di rumah, Ma. Seminggu kemarin masih sama Umi Haura, sekalian berbenah, " jawab Rama cepat.

'Dasar, ' umpat Aya dalam hati.

"Syukurlah, Mama senang kalau Aya tinggal di rumah. Jadi, Mama nggak kesepian."

"Tapi, Aya masih kerja Ma. Sayang kalau berhenti."

"Loh, kenapa kerja? Rama kasihnya kurang ya?"

"Oh bukan, Ma. Cuma sayang aja, dapat kerjaannya Kan susah. Lagian Aya masih kuat kerja kok Ma, " elak Aya.

"Tapi kan Nggak boleh sayang suami istri kerja di perusahaan yang sama?"

"Iya, Ma. Papa sudah kasih tawaran posisi lain buat Aya. Masih Aya pertimbangkan."

Harum tersenyum sambil mengangguk.

Pembicaraan berlanjut, Aya dan Rama memperlihatkan foto nikah mendadak mereka.

Harum sangat senang, semangatnya untuk sembuh makin besar.

Waktu tak terasa, mereka pamit kembali ke kantor.

Diperjalanan Aya lebih banyak diam, memikirkan tawaran Jaka.

"Ya, malam nanti aku jemput ya."

Aya menggeleng cepat, mulutnya cemberut.

"Nanti saja, kalau Mama Papa sudah pulang ke rumah, " sahutnya.

Rama menghela nafas.

KRUCUUK~~

Rama menoleh, Aya tiba-tiba tersipu sambil memegang perutnya.

Rama membelokkan mobil menuju kafe tak jauh dari kantor mereka.

"Kenapa ke sini? " tanya Aya tiba-tiba.

"Keburu masuk angin kalau ditunda lagi. Kita makan sebentar ya, aku juga sudah lapar dari tadi."

Rama melepas sabuk pengaman dan buru-buru keluar.

"Aman nggak tempatnya? " gumam Aya lirih.

KRUCUUK~~

Akhirnya Aya Ikut turun dari mobil.

Mereka duduk di meja agak sudut supaya tak mencolok dan segera memesan makanan.

"Papa bilang apa aja tadi? " tanya Rama memecah kecanggungan diantara keduanya.

"Papa nawarin posisi baru di anak perusahaan, Aku di minta pertimbangkan. Papa tetap mau segera resepsi. Aku sudah berusaha membujuk."

Rama mengangguk sambil tersenyum.

"Mungkin ini yang terbaik, aku juga akan segera bicara dengan Amel."

Makanan mereka datang, mereka menikmati makan siang dengan tenang. Ini kali pertama mereka makan bersama dalam satu meja. Aya merasa canggung dan malu, tapi ia berusaha terlihat tenang.

Tak jauh sepasang mata sedang melihat mereka dengan senyuman menyeringai

CEKREK

Orang itu melihat hasil tangkapan layarnya.

[ Lihat!!berita panas apa yang ku dapat.]

Ia menekan tombol kirim.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!