Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bbab 26. Sekte pemuja iblis.
Sreettt!
Da*ah segar mengalir memenuhi cawan. Tubuh korban persembahan kelojotan meregang nyawa hingga akhirnya diam kaku.
Suara kidung jemaat berhenti. Semua diam memperhatikan ke altar. Seolah terhipnotis, semua jemaat meliuk-liukkan tubuhnya. Saat instrumen mengiringi. Tarian ritual memanggil kekuasaan gelap.
Sang pimpinan ritual mengangkat cawan tinggi-tinggi. Mulutnya komat-kamit merapal doa. Diikuti tarian jemaat yang semakin lama semakin bergerak liar. Seperti orang kesurupan.
Sepasang mata milik pimpinan berubah merah. Pertanda kehadiran yang dipanggil sudah muncul. Pimpinan sekte itu meminum darah dari cawan. Lalu menghampiri jemaat yang sudah tenang, seiring suara musik berhenti.
" DATANGLAH WAHAI JUNJUNGAN KU. AMBILAH DARAH DARI CAWAN INI."
Kata-kata itu terucap lirih dari mulut jemaat. Seperti desis ular. Pimpinan jemaat mengoleskan darah di kening setiap jemaat yang hadir. Sebagai meterai bahwa mereka telah resmi milik penguasa kegelapan.
Tubuh Carol bergetar hebat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sprei tempat tidurnya sudah acak-acakan. Dia terlihat menderita sekali oleh mimpi buruk!
Dalam mimpinya dia melihat ritual persembahan. Seorang perempuan dikurban di atas altar batu. Lalu makhluk hitam menelan kurban itu. Lalu makhluk itu berbalik ke arahnya dan hendak menelannya.
"Aaaahh!" Carol terjaga dari tidurnya. Dia terduduk di atas tempat tidur. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Nafasnya memburu. Carol ketakutan sekali.
Teriakan itu terdengar oleh Zack. Buru-buru Zach keluar dari kamarnya.
"Carol! Kamu tidak apa-apa?" ketuknya pada pintu kamar Carol. Terdengar suara tangisan Carol. Zach membuka pintu. Dilihatnya Carol meringkuk ketakutan.
"Ada apa?" Zach memeluk tubuh Carol yang bergetar hebat. " Kamu mimpi buruk lagi ya?" Carol menggangguk
"Tidak apa-apa cuma mimpi kok." Zach mengusap kepala Carol. Kasihan juga dia melihat keadaan Carol.
"Tapi mimpiku serasa nyata. Di tempat ini, sepertinya telah terjadi sesuatu.Aku merasakannya Zach." protes Carol.
"Kamu masih terguncang Carol. Mana situasi juga buruk saat ini. Ayo tidur lagi."
"Aku takut Zach. Temani aku ya." ucap Carol menghiba.
Di kamar sebelah John yang masih terlelap, juga terjaga karena sebuah mimpi. Mimpi yang sudah berulang kali muncul dalam tidurnya.John mengusap wajahnya yang berkeringat. Suara berisik dari kamar sebelah menarik perhatiannya. Terutama karena Zach tidak ada di tempat tidurnya.
John menyeret langkahnya, mendengar percakapan Zach dan Carol. John membuka pintu setelah mengetuknya lebih dulu.
"Ada apa?" John melangkah masuk. Heran melihat Carol yang nampak ketakutan.
"Carol mimpi buruk, Om."
"Lagi? Tentang apa?" John bertanya serius.
"Kali ini beda Om. Aku melihat seseorang di altar. Dipersembahkan kepada makhluk. Aku tidak jelas melihatnya. Wujudnya seperti kepulan asap hitam." ekspresi wajah Carol menunjukkan kengerian dalam mimpinya.
John menghela nafas berat. Mimpi yang sama seperti yang dialaminya.
"Tidak apa-apa. Mungkin ini pengaruh pikiranmu yang berat. Cobalah bersikap santai. Tidurlah, besok kita melanjutkan perjalanan kita." John berdiri dan memutar badannya hendak pergi.
"Om, tapi aku takut,"
"Kamu takut tidur sendirian? Baiklah kita gantian. Om pindah ke kamar ini. Kamu dan Zach satu kamar."
"Ta-tapi Om?"
"Kalian sudah dinyatakan suami istri kan? Ya, gak pa-pa. Sekalipun pernikahan kalian karena terpaksa. Kalian tetap sudah suami istri."
John memberi kode supaya membawa Carol pindah kamar. Setelah Carol dan Zach pergi. John malah merenung. Tidak ada lagi hasrat untuk melanjutkan tidur. John keluar dari kamar. Niatnya mau ke taman untuk menghirup udara segar. Cahaya remang karena lampu temaram membuat John tidak terlihat.
John hendak menyulut rokok tapi tertunda ketika dia melihat banyak orang keluar dari arah utara. Pakaian mereka sama, serba hitam. Kalau cuma satu dua orang, John mungkin tidak akan heran. Tapi ini jumlahnya puluhan. Mereka mengenakan pakaian yang sama pula.
'Ngapain mereka di malam selarut masih berkeliaran?'
John mengamati para tamu di penginapan itu. Ada yang masuk ke ke kamar mereka. Tapi ada yang pergi dengan kendraan masing-masing. Sepertinya mereka usai menghadiri pertemuan.
John penasaran dan ingin tahu. Diam-diam John menuju ke arah Utara. Mencegat seseorang yang kebetulan berjalan sendiri. Memukul tengkuknya, setelah tidak sadarkan, John menyeretnya ke balik semak-semak. Mencopot pakaiannya yang dikenakan. Lalu berjalan melawan arah.
"Hei! Mau kemana lagi?" tegur seorang penjaga. Mencegat lagkah John.
"Maaf Pak, barangku ada yang tertingal." sebut John memberi alasan. Penjaga itu menatap John curiga. Tapi saat melihat lambang di krah baju John akhirnya dia diijinkan masuk.
"Ayo cepat! Pintu ini harus segera di tutup!".
John menuruni anak tangga, langkahnya tersendat karena berlawanan arus. Susah payah dia akhirnya sampai di sebuah ruangan yang yang cukup luas. Cahaya temaram memudahkan John bergerak bebas karena lepas dari pengawasan.
John terpaku, saat melihat di depan sana, beberapa orang menggotong tubuh tak berdaya, dan dibawa ke belakang . Menghilang di balik pintu. Namun, saat John bergerak menuju ke arah pintu seseorang menarik tubuhnya.
"Jangan pergi ke sana. Kamu bisa celaka. Ayo segera pergi dari sini sebelum ada yang curiga." tanpa menunggu jawaban John, lengannya ditarik menuju ke arah pintu.
Mau tidak mau John menurut. "Tundukkan kepalamu. Kamu akan dicurigai karena keningmu tidak ditandai." John menarik tudung kepalanya, supaya keningnya tidak terlihat. Dia heran dengan peringatan pria yang tidak ia kenal itu.
"Sekarang sudah aman." pria itu melepas tudung kepalanya setelah mereka berhasil keluar. "Kamu siapa. Kenapa nekad mau masuk kesana?" ucap pria itu. "Aku seorang wartawan. Kamu hampir saja membongkar penyamaranku." tukas pria itu sedikit kesal.
"Aku sudah sejauh ini mengikuti sekte ini. Jangan kacaukan rencanaku. Kalau kamu tadi tertangkap, mereka akan memeriksa setiap anggota. Itu artinya aku tertangkap juga!" gertaknya.
"Hem, kamu bukan salah satu dari mereka?" John menyipitkan kedua matanya.
"Tidak! Aku tau sekte itu sudah lama berdiri. Dan tengah mencari darah seseorang untuk dikurbankan."
"Bukankah tadi sudah? Aku sempat melihat mayat di gotong keluar."
"Itu hanya persembahan rutin. Tapi yang mereka cari adalah darah seorang bayi. Bayi yang istimewa. Darahnya akan membuka portal menuju kehidupan yang abadi. Dan mereka percaya di kota inilah bayi itu akan lahir." ucap pria itu yang lebih mirip bisikan. Sambil melirik ke kanan kiri. Takut ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Jadi, itu semua pengikut sekte itu. apakah mereka warga disini atau dari luar?" tanya John penasaran.
"Anggotanya menyebar di seluruh dunia. Menurut ramalan, di kota ini akan terjadi sesuati yang luar biasa. Sesuatu yang mereka nantikan selama ini."
"Darah bayi itu akan dipersembahkan. Tepat pada bulan purnama pertengahan tahun ini. Itulah sebabya mereka menebar wabah itu disini. Siapa yang bertahan darahnya lah yang dicari."
John terdiam. Benarkah mereka mencari Zach dan Carol?" ***