Ini kelanjutan kisah aku istri Gus Zidan ya, semoga kalau. suka🥰🥰🥰
****
"Mas, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil tercengang, matanya membesar sempurna, ia ingin sekali beranjak dari tempatnya tapi kakinya untuk saat itu belum mampu ia gerakkan,
"Apa?" Ia duduk lebih tegap, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
Gadis itu menganggukan kepalanya pelan, kemudian menatap Gus Syakil dengan wajah serius. "Saya bilang, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil menelan ludah, merasa percakapan ini terlalu mendadak. "Tunggu... tunggu sebentar. mbak ini... siapa? Saya bahkan tidak tahu siapa Anda, dan... apa yang membuat Anda berpikir saya akan setuju?"
Gadis itu tersenyum tipis, meski sorot matanya tetap serius. "Nama saya Sifa. Saya bukan orang sembarangan, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Anda adalah Syakil, bukan? Anak dari Bu Chusna? Saya tahu siapa Anda."
Gus Syakil mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba memahami situasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Pagi yang heboh
Suara azan Subuh dari masjid sebelah membangunkan Gus Syakil dari tidurnya. Matanya masih setengah terbuka, pikirannya masih berusaha menyadari keadaan sekitar. Namun, dalam hitungan detik, kantuknya hilang seketika.
Matanya melebar sempurna saat menyadari sesuatu yang ganjil. Kaki Sifa menimpa kakinya, lengannya juga melintang begitu saja di dadanya. Lebih dari itu, tubuh mereka begitu dekat, bahkan wajah Sifa berada tepat di samping wajahnya. Napas lembut istrinya terasa di kulitnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ya Allah, apa-apaan ini.
Tubuhnya menegang, tidak berani bergerak. Ia tahu Sifa pasti tidak sadar telah tidur dengan posisi seperti ini, tapi tetap saja, situasi ini membuatnya canggung luar biasa. Ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan seorang wanita. Meskipun Sifa adalah istrinya, tetap saja ada rasa aneh yang menggelitik dalam dadanya.
Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membangunkannya? Tapi bagaimana kalau dia malah panik dan berteriak? Bisa-bisa aku dikira macam-macam.
Syakil menelan ludah, mencoba mengalihkan pikirannya. Tapi sulit. Parfum lembut yang biasa dipakai Sifa kini begitu tercium jelas, dan itu semakin membuatnya gelisah. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami situasi seperti ini.
astaghfirullah hal azim, kenapa aku yang jadi salah tingkah begini. Harusnya kan aku yang lebih tenang.
Tapi nyatanya, tidak.
Dengan hati-hati, ia mencoba menggeser tangannya yang tertindih. Namun, baru sedikit saja ia bergerak, Sifa malah semakin menenggelamkan wajahnya ke bahunya. Napasnya semakin berantakan.
Ya Allah, cobaan macam apa ini.
Syakil menghela napas panjang. Ia harus segera bangun, harus segera sholat. Tapi bagaimana caranya tanpa membangunkan Sifa dan membuat situasi jadi semakin memalukan?
Ia menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan diri. Ini bukan masalah besar. Ini hanya insiden kecil yang pasti bisa ia atasi dengan kepala dingin.
Tapi jujur saja, ini adalah insiden kecil yang berdampak besar bagi hatinya.
Syakil menahan napas saat ia kembali mencoba menyingkirkan tangan Sifa dengan gerakan paling halus yang bisa ia lakukan. Namun, di saat yang sama, Sifa menggeliat pelan dan mulai terbangun.
Kelopak matanya yang masih berat terbuka sedikit, lalu—
"Aaaaaaaaaa!!!"
Sifa menjerit histeris. Dengan spontan, ia langsung mendorong tubuh Syakil tanpa pikir panjang.
"Astaghfirullah, Sifa!" Syakil terkesiap, tubuhnya hampir saja terlempar dari tempat tidur.
Sifa yang masih setengah sadar buru-buru mundur, duduk sambil memeluk lututnya. Matanya masih mengerjap-ngerjap bingung. "Apaan sih! Kok bisa kita— Astaga, tadi kita—"
"Tidak ada apa-apa!" potong Syakil cepat, wajahnya sedikit memerah.
Sifa mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Syakil yang masih terbaring dengan posisi yang sangat tidak berdaya. Pandangannya turun ke kursi roda yang berada tak jauh dari tempat tidur. Perlahan, kepanikan di wajahnya berubah menjadi tatapan menyelidik.
"Eh, tadi aku tidur di sebelah sana kan?" tanyanya sambil menunjuk sisi kasur yang lebih jauh dari Syakil.
Syakil meneguk ludah. "I-iya…"
"Terus kenapa bisa geser ke sini?!" Sifa menunjuk dirinya sendiri.
Syakil mengangkat kedua tangannya. "Jangan nuduh aku! Aku juga nggak tahu!"
Sifa memicingkan mata curiga, lalu menunduk, mengusap wajahnya yang masih setengah mengantuk. Ia mengambil napas panjang, lalu—
"Udah, buruan bangun. Subuh, kan?"
Tanpa aba-aba, ia meraih lengan Syakil dan menariknya dengan tenaga penuh.
"Eh, Sifa, jangan—"
Bruk!
Syakil nyaris terjungkal dari tempat tidur.
"Astaghfirullah! Kamu mau membunuh suamimu sendiri, ya?!" seru Syakil panik, kedua tangannya buru-buru berpegangan pada sprei agar tidak jatuh.
Sifa malah terkekeh tanpa dosa. "Maaf, maaf! Nggak sengaja. Aku kan belum biasa bantu orang yang ...." Sifa menghentikan ucapannya, ia tidak ingin menyinggung syakil dengan kata-kata bar barnya.
Syakil mendelik. "Bisakah kamu lebih lembut sedikit?"
Sifa mendecak, lalu kembali meraih lengan Syakil. Kali ini, ia berusaha lebih hati-hati, tapi tetap saja, gayanya masih terlalu ‘bar-bar’ untuk ukuran seorang istri yang membantu suaminya bangun.
"Ayo, satu… dua… tiga!" Sifa menarik lagi, tapi kali ini terlalu kuat hingga kepala Syakil hampir membentur bahunya.
"Astaghfirullah, Sifa! Aku ini orang loh, bukan kantong kresek yang bisa ditarik sesukamu!" keluh Syakil, merasa tubuhnya diperlakukan seperti barang bawaan.
Sifa kembali cekikikan. "Yah, kan aku bantuin. Harusnya kamu berterima kasih, bukan protes!"
Syakil hanya bisa menghela napas panjang. Kalau begini caranya, bisa-bisa umurnya lebih pendek karena stres menghadapi istrinya yang super cuek ini.
"Udah, ayo sholat Subuh, sebelum aku berpikir untuk menyerah jadi suamimu," gumamnya sambil mengusap wajah.
Sifa tersenyum kecil, lalu menepuk bahu Syakil dengan santai. "Siap, Bos! Aku siap jadi istri yang taat!"
Syakil meliriknya dengan tatapan penuh keraguan. "Hmm… kita lihat saja nanti."
Dan dengan itu, pagi mereka dimulai dengan kehebohan seperti biasa.
Akhirnya Sifa pun membantu syakil ke kamar mandi dengan mendorong kursi rodanya untuk mengambil wudhu,
Syakil duduk di kursi rodanya dengan sabar, memperhatikan Sifa yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah mengerut.
"Ayo, ambil wudhu," perintahnya dengan tenang.
Sifa menatapnya dengan ekspresi malas. "Ngapain? Aku kan nggak harus sholat."
Syakil mendesah. "Sholat itu kewajiban umat muslim."
"Ya udahlah, nanti aja." ucap Sifa cuek.
"Kamu harus mulai sekarang, biar kamu terbiasa. Ayo, nggak usah banyak alasan."
Sifa mengerang kesal. "Duh, mas! Ini masih pagi, aku masih ngantuk, perut masih kosong, dan sekarang kamu nyuruh aku wudhu? Ngapain juga?"
Syakil menyandarkan punggungnya dengan santai. "Biar bersih. Lagian, siapa tahu nanti dapat hidayah terus kamu jadi rajin sholat."
Sifa mendengus. "Hidayah itu bukan kayak hujan yang tiba-tiba turun, tahu!"
Syakil tersenyum tipis. "Ya makanya, jangan menghindar. Ayo, aku ajarin caranya yang benar."
Sifa mendengus lagi, tapi akhirnya menurut. "Oke, oke! Tapi jangan cerewet!"
Dengan langkah malas, ia berjalan ke wastafel dan membuka keran air dengan hentakan yang terlalu kuat. Cipratan air langsung mengenai bajunya.
"Astaga, dingin!" Sifa mundur sambil mendelik ke arah keran yang masih menyembur deras.
Syakil menahan tawa. "Pelan-pelan, Sifa. Itu keran, bukan musuh yang harus kamu serang habis-habisan."
Sifa mendecak kesal. "Kenapa sih semua benda di rumah ini nggak bisa bekerja sama sama aku?!"
Syakil menggeleng-geleng, lalu mulai memberi arahan. "Oke, pertama-tama niat dulu."
Sifa menatapnya dengan malas. "Dalam hati, kan? Udah."
"Lalu basuh tangan sampai pergelangan tiga kali."
Sifa mengikuti instruksi, meskipun gayanya seperti orang sedang mencuci piring dengan brutal. Air terciprat ke mana-mana.
"Heh, jangan basah-basahin lantai!" protes Syakil.
Sifa menyeringai. "Ups, nggak sengaja!"
Syakil menghela napas panjang. "Ya udah, lanjut. Sekarang kumur tiga kali."
Sifa mengambil air dengan tangannya dan berkumur. Tapi karena terlalu semangat, ia malah tersedak.
"Ugh! Astaga, hampir kelelep!" Sifa terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.
Syakil menepuk dahinya. "Ya Allah… Sifa, wudhu itu bukan challenge minum air satu galon!"
Sifa mengibas-ngibaskan tangannya. "Oke, oke! Lanjut, lanjut!"
Syakil menatapnya dengan penuh kesabaran yang mulai menipis. "Sekarang, basuh hidung tiga kali."
Sifa mengambil air lagi dan menariknya ke hidung terlalu kuat.
"Hhhh—AAACHOOO!!"
Syakil nyaris terlonjak dari kursi rodanya. "Ya Allah, Sifa! Mau wudhu apa perang sama air?! Kamu ngisep air apa angin topan barusan?!"
Sifa mengusap hidungnya dengan wajah merah. "T-tadi aku terlalu semangat, oke?!"
Syakil menghela napas panjang. "Oke, sekarang basuh muka tiga kali."
Sifa menurut, tapi lagi-lagi terlalu brutal. Airnya meluber ke leher dan bahkan sedikit mengenai rambutnya.
"Ya ampun, aku kayak orang selesai renang!" keluhnya.
Syakil hanya bisa geleng-geleng kepala. "Nggak heran kalau kamu susah dapat hidayah. Wudhu aja kayak gini."
Sifa mendelik. "Heh! Aku belajar, tahu!"
"Oke, sekarang tangan sampai siku tiga kali. Pelan-pelan."
Sifa menurut, tapi tiba-tiba ia tersenyum jahil dan memercikkan air ke arah Syakil.
Syakil terkesiap. "SIFA!"
Sifa malah cekikikan. "Dingin, kan?"
Syakil menatapnya dengan tatapan datar. "Aku sabar karena ini ibadah. Tapi kalau kamu nyebelin lagi, aku bisa berubah pikiran."
Sifa pura-pura memasang wajah polos. "Siap, siap! Maaf, mas, lanjut, lanjut!"
Dengan sisa kesabarannya, Syakil akhirnya berhasil membimbing Sifa sampai akhir. Setelah selesai, Sifa menatap wajahnya di cermin dengan wajah puas.
"Wow, mukaku jadi kinclong!"
Syakil menutup wajah dengan tangannya. "Ya Allah… Aku menyerah."
Sifa malah tertawa senang. "Tenang, mas! Kalau aku udah rajin, nanti aku bakal wudhu lebih anggun dan elegan!"
Syakil menatapnya dengan lelah. "Ya… aku nggak yakin.
Dan pagi itu berakhir dengan Sifa yang merasa bangga, sementara Syakil hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa mengajari istrinya satu hal saja sudah menguras separuh tenaganya.
Bersambung
malu 2 tapi mau🤭
saranku ya sif jujur saja kalau kamu yg nabrak syakil biar gak terlalu kecewa syakil nya