Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 Tumbang
Mentari pagi bersinar cerah, menerangi kota dengan cahaya keemasan. Namun, keadaan Resa tidak secerah mentari yang bersinar. Dia merasa lelah dan lesu, tubuhnya masih terasa kurang fit setelah sakit beberapa hari sebelumnya.
Dengan berat hati, Resa memandang sekeliling rumah. Di salah satu sudut ruangan, numpuk cucian kotor yang belum dicuci. Resa menghela napas, "Aku tidak boleh mengerjakan apapun, tapi aku tidak bisa hanya duduk diam tanpa melakukan sesuatu."
Suaminya sudah berangkat bekerja, ibu mertuanya sedang pulang ke rumahnya, dan Haji Surya masih terbaring di kamarnya karena sedang tidak sehat. Resa memutuskan untuk mencuci cucian kotor itu sendirian.
Tak butuh waktu lama, cucian yang menumpuk telah selesai dan sudah dijemur. Resa kembali ke dalam rumah, merasa sedikit lega karena sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia memutuskan untuk melihat pamannya, Haji Surya, namun urung ketika melihat pria paruh baya itu sedang tidur pulas.
Akhirnya, Resa memutuskan untuk membuat teh manis hangat dan duduk di ruang tamu menikmati kesunyian rumah. Sambil menyeruput teh hangat, Resa merasa tubuhnya mulai menggigil lagi.
"Tadi pagi sudah baikan, kenapa sekarang terasa tubuhku mulai menggigil? Apa mau tumbang lagi ya?" Resa berbicara sendiri, merasa khawatir dengan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk. Dia merasa lelah dan lesu, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat dirinya merasa lebih baik.
Tubuhnya mulai merasa menggigil, dia berjalan dengan sempoyongan menuju kamar. Resa merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ternyata efek dari kena air yang cukup lama tadi membuat tubuhnya tidak enak.
"Aku beneran sakit lagi," ujar Resa merasakan tubuhnya semakin tidak baik-baik saja. Dia merasakan rasa sakitnya sendiri di dalam kamar. Dia tidak ingin menelepon suaminya, tapi urung karena takut mengganggu suaminya yang sedang bekerja.
Tubuhnya bergetar, ia mulai meriang dan suhu badannya mulai naik lagi. Resa mencoba menutup matanya, supaya rasa sakitnya itu tidak ia rasakan lagi.
Sementara itu, Ibu Tika baru sampai di kediaman Surya. Dia menatap jemuran yang sudah penuh pakaian yang masih terlihat basah. "Anak ini disuruh diam, gak pernah mau dengar. Baju sebanyak ini dia cuci sekali, Gus," gerutu Bu Tika yang langsung masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi.
Wanita paruh baya tersebut masuk ke dapur, menyiapkan makan untuk Haji Surya dan menantunya, Resa. Saat membuka tudung saji sarapan yang ia sajikan untuk menantu, masih utuh di atas meja. Kemudian dia bergumam, "Kenapa makanannya masih utuh? Padahal dia sengaja menyiapkan makanan dan buah-buahan di atas meja tersebut supaya dimakan."
Tapi ternyata masih utuh, bahkan ia menengok toples yang berjejer di meja ruang tamu pun masih terlihat penuh. Setelah dia mengurus keperluan kakaknya dan menyiapkan makan siangnya, dia masih tak melihat keberadaan menantunya.
Wanita paruh baya tersebut mengetuk pintu kamar anaknya. Namun dari dalam tidak ada jawaban, ia langsung membuka pintu saja. Untungnya tidak dikunci.
Bu Tika memasuki kamar Resa dan melihat gadis itu terbaring di tempat tidur, terlihat lelah dan sakit. "Resa, kamu tidur! Ini sudah siang loh. Kenapa kamu belum makan?" ucap Bu Tika sambil mendekat kepada Resa.
Resa mendongak, membuka matanya, dan tersenyum tipis dengan ketidakberdayaannya. "Lagi gak nafsu makan, mah. Nanti Resa makan kalau udah lapar," sahutnya dengan nada bergetar.
Bu Tika mendekati menantunya dan merasakan suhu tubuh Resa yang naik. "Kamu panas! Sudah minum obat?" tanyanya dengan khawatir.
"Belum, mah. Nanti saja habis makan," jawab Resa.
Bu Tika menatap Resa dengan kesabaran. "Mamah udah bilang tadi, supaya diam aja jangan beres-beres dulu. Biar Hari yang nyuci, kamu mah ngeyel saja. Padahal dari semalam wajah kamu udah keliatan pucat."
Resa tersenyum lemah. "Gak papa, mah. Kasian A Hari pasti cape kalau pulang kerja harus nyuci."
Bu Tika mengangguk. "Ya udah, kamu istirahat dulu aja. Mamah gak bisa lama-lama di sini, kasian Yeni kalau harus jaga dua anak di rumah. Soalnya Thia lagi banyak orderan. Nanti sore mamah baru kesini lagi. Keperluan Haji Surya udah mamah siapin semua, jadi kamu gak perlu sering nengokin lagi karena takut Haji butuh sesuatu."
Resa mengangguk lemah. "Iya, mah."
Bu Tika kemudian keluar dari kamar itu dan berpamitan terlebih dulu pada kakaknya, Haji Surya.
Sore hari telah tiba, sinar matahari mulai memudar dan cahaya keemasan yang terang mulai berubah menjadi warna oranye yang hangat. Udara mulai sejuk dan angin lembut mulai berhembus, membawa aroma bunga dan tanah yang basah.
Di rumah Resa, suasana masih sunyi. Resa masih terbaring di tempat tidur, tubuhnya masih terasa lelah dan lesu. Ibu Tika telah kembali ke rumahnya, meninggalkan Resa untuk beristirahat.
Haji Surya masih terbaring di kamarnya, tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan segera bangun. Rumah yang biasanya ramai dengan suara-suara keluarga, kini terasa sunyi dan sepi.
Namun, di luar rumah, suara-suara anak-anak yang bermain dan suara-suara kendaraan yang berlalu-lalang mulai terdengar, menandakan bahwa hari masih berlanjut dan kehidupan masih berjalan seperti biasa.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru motor berhenti di halaman rumah. Hari turun dari motor dan berjalan, lalu masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi. Dia mengedarkan pandangan, melihat sekeliling, tapi tidak ada tanda-tanda siapapun.
"Sepi sekali," gumam Hari, merasa heran.
Kakinya melangkah ke arah kamar sang paman, Haji Surya. Hari menyapa dan menanyakan kabar pamannya.
Setelah itu, dia baru menemui istrinya, ke kamar karena dia tak datang untuk menyambut kedatangannya.
"Ai, kamu tidak menyambut aku?" tanya Hari, memasuki kamar Resa.
Resa terbaring di tempat tidur, terlihat lelah dan lesu. Hari segera mendekati istrinya, khawatir dengan kondisi Resa.
"Kamu sakit,Ai?" tanya Hari, mengambil tangan Resa.Hari bergegas mengambil air dan waslap untuk mengompres istri yang terbaring di tempat tidur. Ketika melewati meja makan, dia menyingkap tudung saji dan terlihat masih utuh. Rupanya Resa tak makan apapun, membuat Hari makin cemas dengan keadaan istrinya.
Dia segera kembali ke dalam kamar dan menempelkan waslap yang sudah dibasahi ke dahi Resa. Tapi tidak ada respon dari istrinya. Saat sesekali Hari mengajaknya bicara, mata indah milik Resa terpejam sempurna. Tubuhnya gemetar dan terlihat bulir air keringat dingin membasahi, padahal tubuhnya sedang demam tinggi.
Dengan telaten, Hari terus mengganti kompres'an yang sangat cepat kering akibat panasnya yang terlalu tinggi. Dia khawatir dengan keadaan istrinya yang semakin memburuk. Hari berharap bahwa Resa segera sembuh dan kembali sehat seperti biasanya.
"Aini, sadar hey, liat AA," bisik Hari menepuk pipinya dengan lembut. Resa hanya menjawab dengan lenguhan, tidak ada respon yang jelas.
"Badan kamu panas banget, Ai. Padahal tadi pagi kayanya baik-baik aja saat AA tinggal kerja," kata Hari, khawatir dengan keadaan istrinya. Resa tak menjawab, hanya terbaring diam.
"Kamu juga habis nyuci ya, itu jemuran sampe penuh gitu. Harusnya kamu istirahat aja kalau lagi gak enak badan," gerutu Hari, meski tak ada respon dari istrinya.
"Ai, Makan dulu ya? AA ambilin," ajak Hari, berharap Resa akan makan sesuatu untuk memulihkan tenaganya. Tapi Resa menggeleng, saat ini dirinya tak ingin apa pun. Tubuhnya terasa tidak karuan karena semua sakit yang dia rasakan.
Antara setengah sadar, Resa hanya merespon sekedarnya, tidak bisa berbicara dengan jelas. Hari khawatir dengan keadaan istrinya yang semakin memburuk, dia berharap bahwa Resa segera sembuh dan kembali sehat seperti biasanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ibu Tika dari ruang keluarga. "Hari,kamu di dalam!" teriak ibu Tika.
Hari keluar dari kamar setelah memastikan Resa masih tertidur. Dia menyapa ibu dan anaknya yang baru keluar dari kamar Haji Surya. "Iya mah,Hai Umai," kata Hari dengan senyum.
Humaira,berlari menghampiri Ayah nya dan memeluknya. "Ayah! Aku kangen!" teriak Humaira dengan gembira.
Ibu Tika memandang Hari dengan khawatir. "Hari, bagaimana Resa? Apakah dia sudah sembuh?" tanya ibu Tika dengan suara yang lembut.
Hari menggeleng. "Belum, Bu. Badannya panas banget. Aku khawatir dengan keadaannya," jawab Hari dengan khawatir.