Diselingkuhi oleh kekasih hatinya Dave, membuat Daniela ingin membalas perbuatan kekasihnya dengan berselingkuh juga. Daniela tidak memikirkan apa yang akan terjadi kepada dirinya jika dia juga berselingkuh.
Akan seperti apa kisah cinta yang diselimuti dengan penghianatan?
Yuk kepoin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Rumit
"Darra, sedang apa kamu di dalam kamar kost Dave?" tanya Daniela dengan hatinya yang terasa begitu sakit.
Lagi-lagi Dave membohongi dirinya, pria itu berkata jika dirinya sudah putus dengan Darra. Namun, justru kini Darra berada di dalam kamar kost Dave. Wanita itu dengan mudahnya masuk ke dalam ruang pribadi pria itu.
Wanita itu bahkan dengan santainya duduk sambil bermain ponsel, kelakuannya benar-benar sudah seperti sang pemilik rumah.
Mendengar pertanyaan dari Daniela, Darra tertawa lalu menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Kelakuannya benar-benar membuat Daniela muak.
"Elu nanya gue lagi apa?" tanya Darra.
Darra memandang remeh ke arah Daniela, wanita yang sudah dua tahun menjadi kekasih Dave itu dia rasa tidak pantas untuk berdampingan dengan Dave. Karena Daniela dirasa tidak bisa memuaskan hasrat Dave di atas ranjang.
Padahal, Dave adalah pria yang haus akan belaian. Karena setiap ada waktu Dave pasti akan meminta Darra untuk memuaskan hasratnya.
Dia merasa jika dirinya yang lebih pantas dengan Dave, karena mereka bisa saling memuaskan dan saling memenuhi kebutuhan masing-masing.
Daniela yang mendengar pertanyaan dari Darra langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan dari wanita itu, karena hanya ada Darra di sana.
"Oh, elu mau tahu gue lagi ngapain. Gue lagi nunggu pacar gue. Kita sudah janjian kalau nanti malam mau main kuda-kudaan lagi, Dave bilang mau diservis lagi. Servis yang luar biasa dari gue, elu mau ikutan? Threesomee kayaknya enak juga," ucap Darra seraya terkekeh.
Daniela langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Darra, dia tidak menyangka jika Darra akan berbicara dengan vulgar.
Dia memang pernah tidur dengan seorang pria yang ternyata adalah bosnya sendiri, tapi hal itu murni dia lakukan bukan dalam keadaan sadar.
Bahkan, dia tidak ingat sama sekali dengan apa yang sudah terjadi di malam itu. Satu hal yang dia ingat dan dia rasakan, rasa sakit yang luar biasa pada area intinya dan pada tubuhnya.
"Gila! Dasar perempuan gila, sorry gue bukan wanita seperti itu," ucap Daniela dengan kesal.
Darra tertawa dengan terbahak-bahak, dia merasa lucu dengan umpatan dari Daniela. Padahal kegiatan berpeluh adalah hal yang paling nikmat, bahkan Darra bisa memiliki uang banyak dari kegiatan berpeluh tersebut.
Dia bisa membeli apartemen dan juga bisa membeli mobil mewah yang jarang sekali dia bawa pergi ke mana-mana, dia hanya akan sesekali membawa mobil mewah itu. Ke suatu tempat yang pantas di mana mobil itu diparkirkan.
Kenapa Daniela malah seperti orang tidak suka, pikirnya. Selain enak, apa pun yang dia inginkan akan terpenuhi di kala dia mau melebarkan kedua kakinya ketika bertemu dengan pria ber-uang.
Kalau ditanya kenapa Darra dekat dengan Dave tapi pria itu tidak memiliki banyak uang, tentu saja jawabannya karena Darra menyukai Dave yang bodoh.
Hati Daniela benar-benar merasa dongkol dengan apa yang dikatakan oleh Darra, menurutnya wanita seperti itu tidak pantas untuk diajak berbicara. Daniela berusaha untuk menekan emosinya, terlihat dari cara dia menghela napas panjang beberapa kali.
"Hem, gue tau. Elu itu bukan wanita yang pandai memuaskan lelaki, makanya Dave meminta gue buat menghangatkan setiap malamnya." Darra tertawa lalu menghampiri Daniela.
Darra tertawa kembali, lalu dia usap kedua pundak Daniela. Namun, dengan cepat Daniela menepis tangan Darra.
"Jangan sentuh gue!" ucap Daniela ketus.
Daniela merasa mual ketika Darra menyentuh dirinya, dia merasa jijik melihat tangan Darra. Tangan selalu wanita itu pakai untuk bermesraan dengan Dave.
"Bagaimana Dave mau setia sama elu? Kalau elu-nya pelit kaya gini, kaya gue dong. Liat deh, selama satu minggu ini kita tinggal di apartemen gue. Dia kayaknya bebas banget main sama gue, ampe bebas teriakin nama gue."
Setelah mengatakan hal itu, Darra memberikan ponselnya kepada Daniela. Di mana di sana ada video yang mempertontonkan Dave dan Darra yang sedang asyik berpeluh.
Dave yang berada di bawah tubuh Darra terdengar berteriak memanggil nama Darra seraya meremat kedua dada wanitanya, sedangkan Darra terlihat begitu asik memompa tubuhnya.
Kedua insan tanpa status itu dengan bebasnya melakukan hubungan suami istri, bahkan tidak lama kemudian Daniela melihat Dave mendorong Darra dan langsung menghentak inti tubuh Darra dari belakang.
Daniela tiba-tiba saja merasa mual, dia langsung melemparkan ponsel milik Darra begitu saja. Dia ingin sekali menangis, tetapi Daniela masih mempertahankan harga dirinya.
Dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, dia berusaha untuk tetap tegar di hadapan Darra.
Tidak lama kemudian Daniela menampilkan senyumnya yang begitu manis di depan Darra, perempuan itu mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya lalu berkata.
"Benar apa yang elu katakan sama gue, kita itu memang berbeda. Gue bukan wanita yang berkelas rendah seperti elu, karenanya gue nggak pernah melayani napsu bejat lelaki."
Darra sangat kesal sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Daniela, sudah ponselnya Daniela buang begitu saja, kini dia merasa tertampar oleh ucapan dari Daniela.
Namun, bukannya sadar dengan apa yang sudah dikatakan oleh Daniela, wanita itu malah terlihat begitu marah dan berkata.
"Halah, elu itu adalah wanita paling munafik yang pernah gue temui. Nggak mungkin elu ngga suka seksualitas, pasti kalau elu udah ngelakuinnya sama Dave, pasti elu mau lagi. Munafik!" seru Darra.
Jika dia berpacaran dengan lelaki, tentu saja mereka harus bermesraan dan berakhir di atas ranjang. Jika tidak, itu bukan pacaran namanya. Itulah apa yang ada di dalam pikirannya Darra.
Berbeda dengan Daniela, slama ini dia berusaha untuk menjaga kesuciannya, hal itu dia lakukan agar nanti lelaki yang menjadi suaminya merasa bangga karena dia pria pertama yang menyentuhnya.
"Gue bukan wanita munafik, tetapi gue adalah wanita bodoh. Dengan mudahnya gue percaya dengan ucapan manis yang keluar dari bibir Dave,'' aku Daniela.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela memutuskan untuk segera pergi. Dia merasakan sakit hati yang sangat luar biasa, padahal niatnya hanya ingin menenangkan hati.
Justru, kini yang dia dapatkan malah luka yang baru. Luka yang membuat hatinya teramat sakit, dia benar-benar tidak menyangka jika hal ini akan terjadi kepada dirinya.
"Kamu jahat, Dave! Seharusnya aku tidak boleh percaya lagi kepada kamu, karena kamu memanglah pria brengsek. Kamu pasti tidak akan bisa berubah, dasar brengsek!" kesal Daniela.
Daniela memutuskan untuk kembali ke pusat kota, dia tidak mau bertemu dengan Dave. Dia berpikir lebih baik tidur, karena besok dia akan mulai bekerja.
Di lain tempat.
Dave terlihat begitu bersemangat karena sebentar lagi akan bertemu dengan Daniela, setelah jam istirahat tiba dia langsung melajukan mobilnya menuju kostnya.
Tentunya dia menyempatkan diri untuk membeli makanan kesukaan Daniela, karena pastinya wanita itu belum makan siang.
Sesampainya di depan kostan, dengan tidak sabar Dave turun dari dalam mobilnya. Lalu, Dia berjalan dengan cepat agar bisa segera menemui kekasih hatinya.
"Daniela, Sayang. Aku pulang, aku juga bawa makanan--"
Ucapan Dave terhenti kala yang dia lihat bukanlah Daniela melainkan Darra, dia sudah berulang-ulang kali berbicara dengan Darra, jika hubungan mereka hanyalah sebatas di atas ranjang saja.
Mereka sudah sepakat akan saling memuaskan di atas ranjang, mereka sepakat akan berhubungan jika memang sedang membutuhkan. Namun, mereka akan tetap hidup pada kenyataan masing-masing.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Dave.
Darra yang sedang duduknya seraya memperhatikan ponselnya langsung menolehkan wajahnya ke arah Dave, dia tersenyum dengan sangat manis ke arah Dave dan berkata.
''Nungguin kamu, Dave. Lagi pula nanti malam kita akan pergi berkencan, jadi... tidak ada salahnya kan, kalau aku di sini?" tanya Darra.
Dave begitu kesal, dia langsung menyimpan makanan kesukaan Daniela yang dia bawa di atas meja. Lalu dia menghampiri Darra dan mendorong tubuh wanita itu dengan cukup kencang.
"Aku sudah berkali-kali berbicara denganmu, aku akan menjalani hidupku dan aku juga akan tetap menemui kamu. Kita akan terus melakukan kegiatan itu bersama, tetapi kamu harus membiarkan aku dengan kehidupanku."
Setelah mengatakan hal itu, Dave mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu, dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, Darra yang kesal langsung berkata.
"Kenapa kamu memarahiku, Dave? Aku tidak tahan Dave, aku tidak tahan jika harus seperti itu. Lagi pula kekasihmu itu sudah tahu jika kita masih berhubungan, dia sudah pergi."
Darra sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang akan dikatakan oleh Dave, yang pasti dia tidak mau jika Dave harus kembali bersama dengan Daniela.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Darra, Dave benar-benar merasa kesal. Dia kembali mendekatkan dirinya ke arah Darra, bahkan kali ini dia sampai mencekik leher Darra karena kesal.
"Apa yang kamu katakan kepada Daniela, hah? Apa maksud kamu? Apa tadi Daniela sudah ke sini? Apa yang kamu katakan sehingga dia pergi?" tanya Dave dengan suara yang menggelegar.
Darra merasakan napasnya sudah mulai tercekat, lehernya terasa perih dan juga sakit. Dia berusaha untuk melepaskan tangan Dave dari lehernya.
"Lepaskan aku, Dave!" pinta Darra dengan suara terbata.
Dave yang takut Darra kehabisan napas langsung melepaskan tangannya, lalu dengan cepat dia pergi dari sana. Dia ingin bertanya tentang alamat Daniela di pusat kota, dia ingin segera menemui Daniela dan ingin meminta maaf padanya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku akan berusaha untuk membuat kamu memaafkan aku, Daniela. Maafkan aku," gumam Dave seraya menyalakan mesin mobilnya.
gak ada yg baiknya , sama² bejat