NovelToon NovelToon
Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi
Popularitas:268
Nilai: 5
Nama Author: aryaa_v2

Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.

Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.

Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karantina dan Mimpi yang Terbangun

Kubah itu tumbuh seperti kanker kristal di langit.

Dari pusat di atas kapal Pengawas, struktur energi berwarna madu-transparan merambat keluar dengan kecepatan yang membuat hati sakit, menutupi langit dari cakrawala ke cakrawala. Tidak padat, tetapi membuat matahari pagi terdistorsi, seperti dilihat melalui kaca yang tebal dan beriak. Suaranya berubah—angin laut terdengar teredam, seolah-olah dunia dibungkus kapas.

Tim Aeternum berdiri di dermaga, menyaksikan dengan ngeri saat kubah mencapai puncaknya, mungkin seratus kilometer di atas, lalu mulai melengkung ke bawah, bertemu dengan dirinya sendiri di suatu tempat jauh di bawah cakrawala, membentuk gelembung raksasa yang mencakup seluruh Jabodetabek dan perairan sekitarnya.

Karantina Planet, dalam bentuk mini.

Dr. Arif memeriksa instrumennya dengan panik. "Gelombang radio terblokir. Tidak ada sinyal GPS. Bahkan transmisi satelit low-band terputus. Kita benar-benar terisolasi."

Leo mengabaikannya untuk saat ini. Pikirannya tertuju pada kilatan hijau di kejauhan, di suatu tempat di Segitiga Emas Jakarta. Rafael sedang mengamuk. Dia bisa merasakannya melalui gioknya—getaran yang liar dan tidak terkendali, seperti alarm yang berdering di tulangnya. Dan di dalam Vault, entitas yang lapar itu bergolak, bersemangat oleh dua sumber makanan yang sekarang terbuka.

"Kita harus pergi," kata Leo, suaranya parau karena kelelahan. "Sekarang."

"Mengungsi? Ke mana? Mereka mengunci kita!"

"Ke darat. Ke sumber kekacauan lainnya." Leo menatap Dr. Arif. "Jika Pengawas ingin 'menetralisir ancaman', mereka akan menuju ke Rafael dulu. Dia memancarkan sinyal yang lebih kuat, lebih... berantakan. Itu memberi kita waktu."

"Waktu untuk apa? Untuk bersembunyi?"

"Untuk belajar," desis Leo. Dia mengangkat tangannya yang bermarka. "Mereka takut pada ini. Pada singularitas. Pada kontaminasi dimensi. Itu berarti kita memiliki sesuatu yang mereka tidak miliki, atau sesuatu yang terlalu berbahaya untuk mereka gunakan. Itu adalah keunggulan kita."

"Keunggulan? Leo, mereka baru saja membuat kubah sepanjang seratus kilometer! Mereka berjalan di atas air dan menghapus ingatan orang! Kita tidak bisa melawan itu!"

"Kita tidak harus melawan mereka," kata Leo, matanya menyala dengan pemahaman yang berbahaya. "Kita harus melawan apa yang mereka takuti."

Dia berbalik dan berjalan cepat ke Hati Prometheus. "Kita ambil generator intinya. Dan semua singularitas mikro yang kita miliki. Kita tinggalkan sisanya. Tim harus menyebar, kembali ke kehidupan sipil, menghilang. Aeternum Foundation bubar untuk saat ini."

Proses evakuasi berlangsung cepat dan tanpa perasaan. Tim, yang dilatih untuk keadaan darurat, mengemas data inti dan menghancurkan perangkat keras yang tersisa. Dalam dua jam, hanya tersisa Leo, Dr. Arif, dan sebuah kapal cepat yang dimuat dengan generator fusi mini seukuran koper dan sebuah peti besi yang berisi dua puluh wadah graphene.

Saat mereka melaju ke arah pantai Ancol, melalui air yang anehnya tenang di bawah kubah madu, Dr. Arif bertanya, "Bagaimana kita menemukannya? Rafael?"

Leo menutup matanya. Dia fokus pada getaran di markanya, pada tarikan magnetik yang kotor dan penuh amarah yang berasal dari pusat kota. Itu seperti merasakan jantung yang berdetak kencang dari sesuatu yang sedang sekarat.

"Dia memanggil kita," gumam Leo. "Dia memanggil ini." Dia menepuk peti besi yang berisi singularitas.

Jakarta di bawah kubah adalah gambaran dari kecemasan yang terpendam. Langit yang terdistorsi memancarkan cahaya aneh, kuning-hijau. Orang-orang berkumpul di jalanan, menatap ke atas, ponsel mereka tidak berguna. Beberapa berteriak, beberapa berdoa. Lalu, mereka melihat kilatan hijau lainnya—lebih dekat kali ini—dan mendengar gemuruh rendah, bukan dari langit, tapi dari tanah.

Rafael tidak lagi bersembunyi. Dia sedang memamerkan diri.

Leo memandu kapal mereka ke dermaga pribadi yang sepi di Pluit. Dari sana, mereka menggunakan mobil listrik yang sudah diparkir untuk keadaan darurat. Kota ini macet, tapi bukan karena lalu lintas—tapi karena kepanikan yang diam. Polisi mencoba mengatur, tapi mereka sendiri terlihat bingung.

Kilatan hijau berikutnya berasal dari sekitar Sudirman. Diikuti oleh jeritan.

"Tidak," bisik Dr. Arif, melihat layar tablet yang terhubung ke satelit low-orbit terakhir yang masih berfungsi di dalam kubah. "Dia... dia tidak."

"Tunjukkan padaku."

Dr. Arif memutar tabletnya. Itu adalah rekaman dari CCTV yang di-hack. Di tengah plaza yang luas, Rafael Wijaya berdiri, dengan pakaian yang compang-camping dan mata yang bersinar dengan cahaya hijau gila. Di sekelilingnya, di tanah, terdapat pola rumit—digores dengan sesuatu yang cair dan berkilauan. Dan di tengah pola itu, ada sebuah objek: giok lainnya, tetapi retak, dengan cahaya hijau yang berdenyut tak menentu seperti jantung yang berdetak.

Tapi bukan itu yang membuat Leo tersedak.

Di udara di atas pola itu, tergantung beberapa... benda. Mereka seperti gelembung hitam legam, masing-masing sebesar manusia, berputar perlahan. Setiap kali mereka berputar, potongan kecil dari lingkungan sekitar—sebuah pot bunga, sebuah bangku, sepotong pagar—menghilang, terisap ke dalam kehitaman mereka.

Rafael tidak hanya menciptakan singularitas mikro. Dia menciptakan Singularitas Makro. Dan dia memberinya makan.

"Dia mempersembahkan kota ini," kata Leo, suaranya datar karena ngeri. "Kepada entitas itu. Untuk mendapatkan lebih banyak kekuatan."

"Mobil tidak akan bisa melewati ini," kata Dr. Arif, melihat ke arah kemacetan yang semakin parah.

Leo memarkir mobil. "Kita akan berjalan."

Mereka membawa peralatan mereka dan menyusuri gang-gang, menghindari kerumunan. Suasana kota berubah dari bingung menjadi takut. Udara terasa statis, dan bau ozon serta sesuatu yang manis dan busuk—seperti daging yang terbakar dan gula—menguat.

Saat mereka mendekati Sudirman, suara itu berubah. Bukan lagi gemuruh, tapi jeritan. Suara yang ditarik dari ratusan paru-paru sekaligus, dipotong tiba-tiba. Dan di atas gedung-gedung pencakar langit, Leo melihatnya: salah satu gelembung hitam itu telah membesar. Sekarang selebar jalan raya. Ia bergerak dengan lambat, melayang di atas jalan, dan apa pun yang disentuhnya—mobil, halte bus, orang—lenyap tanpa suara.

Ini bukan lagi serangan terhadap Leo. Ini adalah wabah.

Leo merasakan tarikan yang kuat dari markanya. Rafael tahu dia datang. Dan dia menyambutnya.

Di seberang plaza yang luas, di depan kerangka sebuah gedung yang setengah terkikis oleh gelembung hitam, Rafael berdiri. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua, kulitnya kencang di atas tulang, tapi senyumnya lebar dan gila.

"Leo! Saudaraku! Lihatlah! Lihatlah apa yang dia berikan padaku karena aku memberinya makan!"

Rafael mengangkat tangannya. Di telapaknya, marka gioknya tidak lagi hijau, tapi hitam pekat, seperti singularitas di ujung jarinya.

Di atas mereka, di langit madu, sebuah bentuk baru muncul. Bukan kapal Pengawas. Ini sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, dengan garis-garis cahaya merah yang dingin seperti mata yang terbuka.

Pengawas tidak akan menunggu karantina berjalan. Mereka akan turun tangan.

Dan mereka akan membersihkan semuanya.

1
Arya Saputra
jangan-jangan ada identitas tersembunyi nih dari batu akiknya, jadi penasaran🤔
Arya Saputra
yok lah bisa otw ke peradaban tipe 1 nih
Arya Saputra
Jujur ini cerita yang layak masuk rekomendasi sih, perkembangan karakter Leo yang signifikan dari diinjak-injak bahkan dikubur lalu bangkit dengan identitas berbeda dan merubah sikap 180°, sistem kekuatan giok juga logis dibarengi cerita sains.
Arya Saputra
saya suka nih kalo ada cerita bertemakan sains🤩
Arya Saputra
awal yang lumayan bagus👏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!