Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Gawat ....
Bab 5
Udara semakin dingin dan Lisa tidak sanggup berlama dengan Asoka. Tidak sanggup karena dibalik sosok cool sang dokter ternyata bisa sehangat dan sereceh itu. Rasanya sulit untuk tidak terkekeh karena ucapan Asoka yang menggodanya.
“Makin dingin, mending kamu istirahat dan pakai jaket yang lebih tebal.” Asoka dengan gentle memintanya ke kamar untuk ke kamar.
“Iya, saya duluan ya dok.”
“Hm, silahkan.”
Sampai di kamar, Lisa tersenyum bahkan tertawa tanpa suara dengan menutup mulutnya. Sejak tadi dia menahan untuk tidak terkikik apalagi tergelak.
“What? Mau jadi pacar dia? Siapa yang nggak mau. Parah dah, kalau dia ngegombal mulu bisa semaput gue,” gumam Lisa pelan lalu membuka lemari di mana bagian untuknya baru ada tiga stel seragam perawat yang tergantung. Belum mengantuk, akhirnya ia melanjutkan membongkar isi koper dan memindahkannya ke lemari.
“Kalau Rama yang ngegombal cuma bikin gatal telinga doang, tapi Asoka …. Bikin merinding.”
Terdengar pergerakan di ranjang. “Sa, lo ngapain? Mau kabur ya?”
“Astaga Yul, masa kabur sih.” Lisa menoleh mendapati Yuli sudah duduk sambil mengucek matanya.
“Gue aja deh yang kabur. Sumpah di sini nggak jelas Sa. Dingin kayak di kutub, toiletnya begitu dan jalanan setapaknya ampun, becek banget. Entah kayak gimana situasi kerja kita besok. Gue nggak betah Sa,” keluh Yuli dengan mata sudah berkaca-kaca membuat Lisa beranjak dan menghampirinya lalu duduk di tepi ranjang.
“Kalau ada sultan yang mau melamar, gue nggak pikir-pikir lagi langsung aja gue terima nikahnya saat ini juga.”
“Ish, kalau itu aku juga mau.” Lisa terkekeh sedangkan Yuli malah cemberut. “Tapi Yul, gimana kalau Sapri ternyata bukan Sapri yang kita kenal.”
“Maksud lo?”
“Iya, dibalik diam dan polosnya Sapri ternyata dia CEO Yu Long Company dan pewaris tunggal. Lebih tinggi dari Sultan. Gas Yul, sebelum ada yang meminang Sapri.”
“Kebanyakan nonton dracin kayak gini nih.” Yuli menunjuk Lisa. “Logatnya aja jawa medok masa pewaris perusahaan asing, ngaco lo.”
Lisa terkekeh melihat Yuli merengut kesal.
“Woy, jangan berisik. Hampir aja gue baca yasin, kirain kunti lagi beraksi.” Terdengar suara Rama meski pelan dan suara obrolan. Sepertinya Rama terbangun lalu berbincang dengan Asoka.
“Nyebelin ‘kan. Gue berusaha untuk nggak takut, di sini horror Sa.” Yuli menatap sekeliling. “Eh si pe4 malah bilang kunti. Tambah merinding gue.”
“Udah, kita tidur lagi.” Lisa mengabaikan dulu kopernya, kelamaan interaksi dengan Yuli memang bikin senewen juga. yang ada mereka hanya mengeluh dan ghibah sana sini sampai pagi.
“Koper lo?”
“bisa besok.”
***
Lisa sedang meneguk minuman sereal, ia bangun terlambat. Yang lain sudah bersiap berangkat dia baru beres mandi. Sapri bahkan sudah jalan bersama Beni. Di depan Rama juga sudah pamit. Memang berdasarkan info pelayanan di tempatnya bertugas dimulai pukul delapan, tapi ini sudah pukul tujuh.
Asoka keluar dari kamar, menutup pintu dan menghampirinya. “Jangan lupa kunci pintu.”
Lisa mengusap bibirnya yang belepotan cairan sereal. “Iya, dok.”
Mengenakan kemeja navy lengan panjang dan bawahan celana hitam, menatap dari belakang saja terlihat gagah apalagi dari depan. rasanya ingin berlari lalu memeluk pria itu.
“Yul, ayo!”
Lisa kembali ke kamar untuk mengambil tas ransel dan melapisi seragam perawatnya dipakai dengan jaket. Yuli baru saja selesai memakai maskara berdecak dan ikut bergegas.
“Nggak bisa nih, nggak bisa gue buru-buru kayak gini.”
“Makanya jangan kesiangan.”
“Ya kita berdua kesiangan kali, semalam bangun malah ngegibah,” seru Yuli menyusul Lisa yang sudah meninggalkan kamar. “Eh, ini dikunci gak?”
“Kunci aja,” seru Lisa sudah memakai flatshoesnya.
Kunci kamar mereka dibawa oleh Yuli. Lisa menutup pintu rumah dan meletakan di ventilasi tepat di atas pintu seperti yang disepakati semalam. Agar siapapun yang pulang tidak harus kebingungan menanyakan di mana kunci rumah.
“Hah, masih dingin aja,” keluh Yuli.
“Makanya jaketan.”
Sepanjang menuju lokasi, Yuli mengoceh karena jalanan yang becek. Di depan pusat kesehatan sudah ada banyak motor dan pasien. Pagi ini mereka akan briefing dengan kepala puskes juga dengan tim yang kemarin baru selesai bertugas untuk serah terima kegiatan.
“Mbak, ditunggu di ruangan,” seru Sapri.
Ada ruang kecil untuk rapat, meja besar dan beberapa kursi di kiri kanan yang tidak sampai dua puluh. Rupanya tim sebelumnya sudah serah terima tadi, hanya simbolis saja. Asoka terlihat berbincang dengan pria paruh baya yang menggunakan setelan batik. Ada pula wanita dengan raut wajah datar dengan tangan bersedekap menatap tim baru itu. Menggunakan jas putih, dengan name tag Marina berprofesi seperti Asoka.
“Oke, kita briefing pagi ya”, seru pria yang tadi berdiskusi dengan Asoka.
Lisa sudah menempati kursi di sebelah Yuli sebaris dengan Marina. Asoka yang menempati kursi paling ujung berseberangan dengan Lisa sempat menoleh dan menatapnya. Ada beberapa orang lagi yang bergabung, sepertinya karyawan aktif di tempat itu.
“Perkenalkan saya Wahid, ketua puskes di sini. Selamat datang dan selamat bertugas untuk satu tahun ke depan.”
Pria bernama Wahid mengenalkan tim yang dipimpin oleh Asoka, juga petugas lain seperti bagian pendaftaran, farmasi, dapur juga penjaga keamanan. Fasilitas di sana masih standar dan sederhana, ada ambulance yang siap mengantar pasien darurat atau yang tidak bisa ditangani di sana.
“Dokter Asoka bertugas setiap hari, dokter Marina hanya di hari senin, rabu dan jum’at sesuai dengan praktek poli gigi. Dokter umum lainnya, yaitu dokter Agus hanya hari senin dan kamis.”
Lisa mengangguk begitu pun dengan yang lain. setelah Wahid menutup arahannya, semua beranjak untuk siap bertugas. Menuju meja pemeriksaan awal, untuk memeriksa suhu tubuh, tensi dan berat badan pasien sebelum dipanggil dokter. Yuli sudah sibuk karena ada ibu hamil yang pecah ketuban. Dibantu oleh Rama yang memang tugasnya di poned, IGD dan pasien perawatan.
Hampir pukul 12 saat Lisa mengantarkan pasien terakhir ke dalam ruangan untuk diperiksa oleh Asoka. Sejak tadi ponsel di saku seragamnya bergetar, tapi masih diabaikan.
Menuju toilet karena panggilan alam dan mencuci tangannya.
“Lisa, ya ampun. Hari pertama gue udah se-hetic ini,” keluh Yuli.
“Kenapa?” tanyanya lalu meninggalkan toilet kembali ke meja pemeriksaan diikuti oleh Yuli.
Hanya ada beberapa pasien yang menunggu obat di depan farmasi. Lisa duduk sambil menghela pelan. Masih lebih sibuk saat bekerja di rumah sakit atau mungkin belum sibuk.
Yuli menempati kursi di seberang meja lalu menjelaskan pasien yang ditangani. Bukan karena pasiennya, tapi fasilitas yang ada terbatas apalagi bidan yang bertugas rutin hanya dirinya.
“Rama mana ya, gue mau cari bakso. Dia katanya mau nganter. Lo mau ikut?”
Lisa menggeleng pelan mengabaikan Yuli yang sudah beranjak pergi memanggil Rama. Di depan, Beni sedang mengobrol bersama petugas keamanan dan Sapri. Membuka ponsel dan mendapati panggilan tidak terjawab dari Inka juga beberapa pesan lain.
Manda Nurse
Sa, gimana di sana? Ada yang ganteng nggak?
Lisa tersenyum membaca pesan dari Manda lalu membuka pesan berikutnya.
Inka Penjaga Neraka
[Foto]
[Foto]
Pagi ini gue diantar sama Doni, lo jangan iri ya. Awas kalau sampai CLBK. Doni bilang dia udah tertarik sama gue sejak masih sama lo.
“Ck, nggak jelas. Bangga amat sama mantan orang. Gantengan juga dokter Oka,” gumam Lisa. Doni adalah mantan pacarnya dan tidak cemburu atau marah mendapati pria itu bersama Inka.
“Saya, kenapa?”
Lisa terkejut, Asoka sudah berdiri di sampingnya. Sejak kapan pria itu di sana, apa Oka mendengar apa yang diucapkannya.
“Gawat!”
\=\=\=\=\=\=
Gawat gaesss, cuaca Bogor seminggu ini dingin beud. Hujan terus, bikin mager untuk selimutan terus.
Rama : Halah dasar aja males
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭