Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sandiwara Putus Asa
Malam itu, hujan turun deras mengguyur kota Semarang. Senja baru saja ingin mematikan lampu ruang tamu ketika ponselnya berdering berkali-kali dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya ia mengabaikannya, tapi panggilan itu terus masuk hingga lima kali.
Begitu diangkat, bukan suara Rangga yang terdengar, melainkan suara musik jedag-jedug yang keras dan suara orang berteriak-teriak.
"Halo? Ini dengan istri Mas Rangga?" suara seorang pria terdengar panik di seberang sana.
"Saya mantan istrinya. Ada apa ya?" jawab Senja dingin.
"Aduh Mbak, terserahlah mantan atau bukan. Ini Mas Rangga mabuk berat di bar kami. Dia teriak-teriak nama Mbak terus. Sekarang dia berdiri di atas meja, bawa botol pecah, katanya mau mengakhiri hidup kalau Mbak nggak datang menjemput. Kami nggak mau ada keributan di sini, Mbak!"
Jantung Senja sempat mencelos. Rasa kemanusiaannya bereaksi secara otomatis. Bagaimanapun, mereka pernah berbagi tempat tidur dan mimpi selama setahun.
Tapi, sedetik kemudian, ia teringat wajah Rangga saat merangkul wanita lain di video itu. Ia teringat kalimat 'Warteg Gratisan'.
"Panggil polisi saja, Mas. Atau panggil ambulans. Saya bukan dokter kejiwaan," ucap Senja tegas, meski tangannya sedikit bergetar.
"Mbak, tolonglah! Dia bilang dia depresi karena diusir Mbak. Dia bilang semua hartanya diambil. Kalau dia beneran nekat di sini, nama baik Mbak juga yang terseret karena semua orang di sini tahu dia suaminya Arsitek Senja!"
Senja memejamkan mata. Sial. Rangga tahu cara bermain yang kotor. Dia sengaja membuat keributan di tempat umum agar Senja merasa tertekan secara sosial.
Dengan sangat terpaksa, Senja datang ke bar tersebut menggunakan taksi online. Begitu ia masuk, aroma alkohol dan asap rokok langsung menyengat. Di pojok ruangan, Rangga tampak berantakan. Kemejanya terbuka setengah, rambutnya acak-acakan, dan ia sedang memegang potongan leher botol kaca.
"Senja... kamu datang..." Rangga meracau, matanya merah dan berair. Begitu melihat Senja, ia langsung jatuh terduduk di lantai, menangis meraung-raung seperti anak kecil.
Orang-orang di bar mulai mengeluarkan ponsel, merekam kejadian itu. Senja merasa sangat malu. Ia merasa harga dirinya yang ia bangun dengan susah payah, kini diseret kembali ke lumpur oleh Rangga.
"Bangun, Mas. Malu dilihat orang," bisik Senja sambil berusaha menarik lengan Rangga.
"Nggak mau! Aku mau mati saja, Ja! Kamu jahat! Kamu ambil semua alatku, kamu ambil motor ku, kamu ambil jiwaku! Aku nggak punya apa-apa lagi!" teriak Rangga sengaja dikeraskan agar didengar orang-orang.
Senja mendekatkan wajahnya ke telinga Rangga, suaranya kini setajam silet. "Mas, berhenti akting. Aku tahu kamu nggak mabuk-mabuk banget. Bau alkohol di mulutmu nggak sebanding dengan aktingmu yang berlebihan ini. Kalau kamu nggak bangun sekarang, aku bakal tunjukin video perselingkuhanmu ke semua orang yang lagi ngerekam ini. Mau?"
Rangga terdiam sejenak. Tangisannya mereda sedikit. Ia menatap mata Senja yang tidak lagi menunjukkan rasa kasihan, melainkan kemuakan yang mendalam.
"Kamu tega, Ja..." gumam Rangga pelan.
"Kamu yang tega sama dirimu sendiri, Mas."
Senja meminta bantuan dua petugas keamanan bar untuk memapah Rangga keluar. Di parkiran yang basah karena hujan, Senja menyuruh petugas itu mendudukkan Rangga di trotoar.
"Ini terakhir kalinya aku menyelamatkan mukamu di depan umum, Mas," ucap Senja sambil membuka tasnya. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan melemparkannya ke pangkuan Rangga.
"Itu buat bayar tagihan minummu dan ongkos pulang ke kosan. Jangan pernah pakai trik murah begini lagi. Karena besok, aku akan rilis pernyataan resmi di media bahwa kita sudah pisah ranjang dan segala tindakanmu bukan lagi tanggung jawabku."
Rangga memegang uang itu, ia menatap Senja dengan benci. "Kamu berubah, Ja. Kamu jadi wanita yang haus kekuasaan dan harta. Mana Senja yang dulu lembut?"
"Senja yang lembut sudah kamu makan sampai habis, Mas. Yang tersisa sekarang adalah Senja yang tahu cara menjaga miliknya dari pencuri seperti kamu," jawab Senja tenang.
Saat Senja kembali ke rumah, ia merasa sangat lelah secara emosional. Ia masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat, berusaha menghilangkan bau bar yang menempel di bajunya.
Ia menyadari bahwa Rangga akan terus menggunakan narasi "depresi" dan "korban" untuk menarik perhatiannya. Pria itu tidak punya martabat. Ia hanya punya ego yang besar dan kemalasan yang kronis.
Esok paginya, Senja benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Melalui pengacaranya, ia mengeluarkan rilis singkat di media sosial dan koran lokal tentang status pernikahannya yang sedang dalam proses cerai, serta klarifikasi bahwa semua aset yang ditarik adalah mutlak milik pribadi Senja sebelum menikah.
Namun, di tengah kesibukannya mengurus administrasi, sebuah pesan masuk dari Sinta, temannya yang dulu paling ketus itu.
“Ja, aku lihat berita soal Rangga di bar semalam. Kasihan banget ya dia sampai mau bunuh diri gitu. Apa nggak sebaiknya kamu bicara baik-baik? Kayaknya dia beneran depresi dan butuh pegangan. Kadang orang khilaf itu butuh kesempatan kedua, bukan langsung dibuang kayak sampah.”
Senja membaca pesan itu dengan dahi mengernyit. lalu hanya membalas singkat.
“Kalau kamu kasihan, silakan kamu yang jadi pegangannya, Sin. Aku sudah cukup jadi pegangan yang dia patahkan berkali-kali.”
Senja tersenyum sinis. Ia tidak tahu bahwa balasan singkatnya itu adalah awal dari sebuah ramalan yang akan menjadi kenyataan di masa depan. Bahwa Sinta, wanita yang merasa paling bijak itu, nantinya akan benar-benar "memungut" apa yang sudah Senja buang ke tempat sampah.
Perjalanan Senja untuk benar-benar bersih dari Rangga masih jauh. Tapi satu hal yang pasti: Senja tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi. Baginya, masa depan adalah bangunan yang harus ia rancang dengan tangannya sendiri, tanpa campur tangan parasit yang hanya tahu cara merusak estetika hidupnya.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭