"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-empat belas
Malam itu, kegelapan di luar rumah besar Suhadi seolah merayap masuk ke dalam lorong-lorong megah yang dingin. Di kamar Raisa, atmosfer terasa begitu menyesakkan. Suara isak tangis Raisa yang dramatis berpadu dengan deru napas Monica yang tidak beraturan.
Monica tiba-tiba berhenti mondar-mandir. Ia mencengkeram tiang ranjang dengan kuku-kuku yang dipoles merah darah, matanya berkilat seperti pemangsa di kegelapan.
"Diam, Raisa! Tangisan tidak akan mengubah keputusan kakekmu yang keras kepala itu!" bentak Monica, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengerikan.
Raisa tersentak, mengusap air matanya dengan kasar, menyisakan maskara yang luntur di pipinya. "Tapi aku takut, Ma! Kakek bilang 'pewaris sah'. Apa aku bukan cucunya...?"
"Jaga mulutmu!" potong Monica dengan tatapan menghunus. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang dan mencengkeram bahu Raisa hingga gadis itu meringis. "tentu saja kamu cucunya, . Tapi sekarang, gadis pesantren itu menjadi ancaman nyata. Kita harus menggunakan pesta itu untuk menghancurkannya." tegas Monica berapi-api.
Raisa menelan ludah, melihat senyum licik yang perlahan terukir di wajah ibunya. "Maksud Mama?"
Monica mendekatkan wajahnya, aroma parfum mahalnya terasa mencekam. "Dia anak pesantren, bukan? Sangat menjaga kehormatan. Bayangkan jika di tengah pesta mewah itu, saat semua kolega bisnis dan media sedang menyorotnya, si 'Gadis Suci' ini menghilang. Lalu..." Monica menjeda kalimatnya, matanya menyipit penuh racun.
"...lalu dia ditemukan di salah satu kamar hotel bersama laki-laki bayaran dalam keadaan... memalukan. Berantakan. Tidak berdaya. Bayangkan raut wajah kakekmu yang kolot itu. Dia sangat menjunjung tinggi moralitas. Dia pasti akan langsung mengusirnya tanpa ampun demi menjaga sisa-sisa nama baik Suhadi."
Raisa terdiam, napasnya tertahan. Ide itu begitu kejam, namun hatinya yang penuh dengki mulai menyukainya. "Tapi Ma, kalau Kakek tahu itu rencana kita? Apalagi ada kak Alendra yang sekarang kayaknya mulai peduli sama dia."
Monica mendengus remeh, ia melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak, merapikan gaun tidurnya yang berbahan sutra. "Kakek tidak akan tahu. Kita akan gunakan tangan orang lain yang tak terdeteksi. Dan Alendra..." Monica mengepalkan tangannya. "Anak itu mulai lembek. Kita harus menjauhkannya dari Najwa malam itu. punya dua anak laki-laki bodoh, sifatnya sama-sama lembek seperti papanya, Aku akan memberikan Alendra tugas untuk menjemput kolega penting di bandara tepat saat acara dimulai. Dia tidak boleh ada di sana untuk menjadi pahlawan."
Raisa tersenyum puas, memang mamanya ini adalah pahlawan baginya.
" aku setuju dengan ide mama, kalau dia benar-benar di depak dari rumah ini, aku akan jadi cucu perempuan satu-satunya di sini ,dan akan mendapatkan bagian warisan yang paling besar " balas Raisa membuat senyum Monica sedikit luntur.
" ada apa mah?" tanya Raisa yang melihat raut wajah mamanya sedikit berubah.
" ah ...tidak apa-apa, mama hanya memikirkan kedua kakakmu" balasnya tersenyum membelai rambut lembut putrinya, walaupun Raisa tidak lahir dari rahimnya sendiri,tapi ia sangat menyayangi Raisa, Monica merawat Raisa sedari bayi , otomatis Raisa sudah seperti putri kandungnya sendiri.
***
Sementara itu, di kamarnya yang luas, Najwa duduk bersimpuh di atas sajadah setelah menyelesaikan shalat malamnya. Di depannya, kotak salep pemberian Alendra masih tergeletak. Ia menyentuh sudut bibirnya yang sudah tidak terlalu sakit lagi.
"Ya Allah... Engkau Yang Maha Membolak-balikkan hati," bisik Najwa, matanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pantulan dirinya. "Aku mencium bau badai yang besar di rumah ini. Kuatkan hamba-Mu ini agar tidak goyah oleh fitnah dunia."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia , orang yang di tugaskan kakeknya untuk menjadi pengawal pribadinya.
"Nona, saya menangkap pergerakan tidak wajar dari kamar Nyonya Monica. Mereka sedang memesan 'layanan' khusus dari orang luar untuk malam pesta. Jangan pernah meninggalkan gelas minuman Anda tanpa pengawasan, dan jangan pernah pergi ke mana pun tanpa instruksi saya atau Tuan besar."
Najwa membaca pesan itu dengan tangan sedikit bergetar. Ia memejamkan mata, teringat pesan Kyai Rahman: "Rukayyah tidak pernah takut pada pedang, ia hanya takut jika hatinya berpaling dari kebenaran."
Najwa mengetik balasan singkat.
"Terima kasih, Om. Aku akan bersiap. Jika mereka ingin menyalakan api, maka aku akan menjadi air yang memadamkannya."
Najwa meletakkan ponselnya di nakas samping tempat tidurnya.
Lalu mencoba merebahkan tidurnya, bibirnya tak henti-hentinya bersholawat untuk ketenangan hatinya.
***
Pagi harinya, Monica keluar dari kamar dengan wajah yang sangat cerah, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Saat melihat Najwa di meja makan, ia bahkan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Najwa, sebuah gestur yang membuat Najwa merinding.
"Najwa sayang, maafkan Mama soal kemarin ya? Mama hanya terlalu stres," ucap Monica dengan nada manis yang dibuat-buat di depan Afkar. "Mama sudah memesankan paket perawatan spa terbaik agar kamu tampil sempurna di pesta nanti. Kamu mau, kan?" tawar Monica dengan lembut. Raisa yang melihatnya , ikut tersenyum penuh arti.
" benar Najwa, kita para perempuan biasanya akan melakukan perawatan seluruh tubuh sebelum melakukan pesta,agar tubuh kita fresh sebelum bertemu banyak orang" timpal Raisa tersenyum.
Najwa mendongak, menatap mata Monica yang tampak ramah namun kosong di bagian dalamnya. Najwa tersenyum sangat tulus, senyum yang membuat Monica sedikit terusik.
"Terima kasih, mama. Kebaikan mama akan selalu Najwa ingat. Tapi Najwa lebih suka bersuci dengan wudhu saja agar hati lebih tenang menghadapi keramaian nanti." jawab Najwa polos.
Afkar tersenyum bangga, sementara Alendra yang baru turun tangga hanya memperhatikan interaksi itu dengan kening berkerut. Ia tahu ibunya sedang merencanakan sesuatu yang besar.
" mama dan adikmu kenapa bang?, kok aku malah jadi merinding ya" bisik Adriansyah yang sedang berjalan di sebelah kakaknya.
" shutttt... tidak usah ikut campur,atau kau akan melihat mama dan adik kesayanganmu murka" balas Alendra ikut berbisik.
cih...
Adriansyah hanya Mencebikkan bibirnya tidak suka dengan ucapan kakaknya yang tidak boleh ikut campur.
Alendra berjalan melewati Monica, membisikkan sesuatu di telinga ibunya "Jangan sampai keterlaluan, Ma. Aku mengawasimu."
Wajah Monica seketika menegang, namun ia segera menutupinya dengan tawa kecil yang kaku.
" oh... selamat pagi putraku yang paling tampan, ayo duduk, mama sudah menyiapkan hidangan spesial juga untuk kalian" ucap Monica memberi jalan pada kedua putranya untuk duduk pada tempatnya masing-masing.
Setelah semua berkumpul,kini kakek Suhadi datang ,dan duduk di kursi kepala keluarga.
" selamat pagi?"
" pagi kek" jawab semuanya dengan berdiri membalas sapaan kakeknya,lalu setelah kakeknya duduk mereka semua ikut duduk.
Najwa dengan cekatan mengambilkan makanan untuk kakeknya, sementara Raisa melirik sinis" dasar caper" gumamnya dalam hati.
lanjuuut Thor 😍😍