NovelToon NovelToon
Bersinar Lah Bersama Matahari

Bersinar Lah Bersama Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Menjadi Pengusaha
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Mengetuk Gerbang Benua Biru

BAB 29: Mengetuk Gerbang Benua Biru

Januari 2026 membawa angin segar yang aromanya sangat berbeda di Pabrik Matahari Terbit. Di meja kerja Nayla, kini tidak hanya ada dokumen dalam bahasa Inggris dan Arab, tetapi juga dokumen tebal dengan stempel Uni Eropa. Setelah menaklukkan Dubai dan Melbourne, tantangan berikutnya muncul di depan mata: Eropa. Benua yang memiliki standar keamanan pangan, hak pekerja, dan jejak karbon paling ketat di dunia.

"Nay, ini bukan cuma soal rasa lagi," ujar Ranti sambil meletakkan draf kontrak dari sebuah jaringan ritel organik di Jerman. "Mereka meminta sertifikasi Fair Trade dan bukti bahwa kemasan kita seratus persen bisa didaur ulang (biodegradable). Mereka tidak mau ada plastik sekali pakai di rak mereka pada tahun 2026 ini."

Nayla menatap gulungan plastik kemasannya yang selama ini ia banggakan. Meskipun sudah berkualitas tinggi, ia sadar itu masih mengandung unsur polimer yang sulit terurai. Untuk menembus Jerman, Perancis, dan Belanda, ia harus merombak total sistem pengemasan yang sudah mapan.

"Ini artinya kita harus investasi mesin packaging baru lagi, Ran. Dan harga bahan baku kemasan organik itu tiga kali lipat dari yang sekarang," gumam Nayla. Ia memutar kursi kerjanya, menatap ke arah kebun sayur organik yang kini mengelilingi pabrik hijaunya.

"Tapi Nay, kalau kita lolos ke Eropa, Basreng Matahari bukan lagi sekadar camilan. Kita akan menjadi merek kuliner global yang setara dengan produk-produk mewah dunia. Jejak karbon kita yang rendah karena panel surya ini sudah jadi modal besar," sahut Bagas yang baru masuk membawakan laporan energi.

Nayla menarik napas panjang. Ia tahu, di tahun 2026, menjadi sukses bukan hanya soal seberapa banyak barang yang terjual, tapi seberapa kecil luka yang kita tinggalkan pada bumi. Ia memutuskan untuk mengambil risiko tersebut. Ia mulai menghubungi pemasok kemasan dari serat singkong yang bisa hancur di tanah dalam waktu enam bulan.

Di tengah persiapan teknis itu, Nayla mendapat kunjungan dari seorang jurnalis ekonomi ternama dari Eropa. Mereka ingin meliput fenomena "Gadis Matahari" yang berhasil mengguncang dominasi korporasi besar hanya dengan modal integritas.

"Mbak Nayla, kenapa Anda begitu terobsesi dengan standar lingkungan? Bukankah itu hanya akan mengurangi keuntungan Anda?" tanya sang jurnalis dalam sesi wawancara di taman pabrik.

Nayla tersenyum, matanya menatap matahari yang mulai turun di ufuk barat Garut. "Bagi saya, bisnis adalah tentang keberlanjutan. Saya tidak mau membangun kerajaan di atas tanah yang rusak. Matahari memberikan energinya secara cuma-cuma tanpa merusak bumi, dan saya ingin bisnis saya meniru filosofi itu. Keuntungan memang penting, tapi warisan untuk generasi mendatang jauh lebih berharga."

Wawancara itu menjadi berita utama di portal bisnis internasional. Hal ini memicu gelombang dukungan baru. Bahkan, sebuah yayasan lingkungan dunia menawarkan hibah untuk pengembangan teknologi pengolahan limbah mandiri bagi Matahari Food.

Namun, tantangan sesungguhnya datang saat pengiriman pertama ke Eropa dilakukan. Nayla harus memastikan bumbunya tidak mengandung zat pewarna tertentu yang dilarang di sana. Ia harus mengganti salah satu bahan bumbunya dengan kunyit dan cabai pilihan yang tersertifikasi organik.

"Nay, rasanya jadi sedikit berbeda. Lebih 'lembut', tapi pedasnya tetap nendang," ujar ibunya saat mencicipi batch khusus Eropa.

"Itu yang mereka mau, Bu. Mereka mau rasa yang 'bersih'," jelas Nayla.

Malam harinya, sebelum pengiriman kontainer pertama ke pelabuhan Rotterdam, Nayla mengadakan doa bersama di tengah pabrik. Ia melihat Ibu-ibu karyawannya kini tampak sangat profesional dengan seragam khusus standar internasional. Mereka bukan lagi sekadar buruh; mereka adalah bagian dari revolusi pangan dunia.

Nayla membuka laptopnya di meja kantor yang kini dipenuhi miniatur bendera negara-negara tujuan ekspornya.

"Eropa bukan sekadar pasar, ia adalah ujian bagi martabat kita sebagai pengusaha. Di tahun ini, dunia menuntut kita untuk tidak hanya menjadi kaya, tapi juga menjadi bijaksana. Mengganti kemasan dan merombak resep bukan berarti kita kehilangan jati diri, tapi itu adalah cara kita beradaptasi untuk menyinari bumi yang lebih luas. Matahari kini siap mengetuk gerbang benua biru. Kami datang bukan membawa limbah, tapi membawa berkah dan rasa yang jujur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!