Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua
Alana menelan ludah.
Jadi pelayan? Di rumah pria asing yang baru saja hampir menabraknya?
Refleks Alana mengangkat wajah, menatap pria itu tak percaya. “Pelayan …?” ulangnya lirih, memastikan telinganya tidak salah dengar.
“Iya.” Pria itu menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, seolah tak memberi ruang untuk bantahan. “Kau bekerja padaku sampai utangmu lunas. Tidak ada gaji. Makan dan tempat tinggal aku sediakan. Kau setuju atau aku laporkan ke polisi sekarang juga.”
Alana terdiam. Pilihan yang disodorkan sama-sama pahit. Dipenjara jelas bukan opsi. Pulang ke rumah? Tidak mungkin. Ayahnya pasti sudah menyiapkan segala cara agar ia tak kabur lagi. Bahkan mungkin besok pagi ia sudah diseret ke hadapan keluarga Handoko.
“Berapa lama?” tanya Alana akhirnya, suaranya nyaris bergetar.
“Itu tergantung seberapa cepat kau bekerja dengan benar,” jawab pria itu dingin.
Alana mengembuskan napas panjang. Dadanya sesak, tapi ia tidak punya pilihan lain. “Baiklah … aku setuju.”
Pria itu menatapnya beberapa detik, seolah menilai. “Bagus. Namaku Arka.”
“Alana,” jawab Alana pelan.
Arka berbalik, berjalan menuju mobilnya yang ringsek. Ia mengeluarkan ponsel, menelpon seseorang. Tak lama kemudian, mobil derek datang. Alana hanya berdiri memeluk tubuhnya sendiri, kedinginan, basah oleh gerimis dan kelelahan.
Beberapa menit kemudian, Arka kembali mendekat. “Ikut.”
Tanpa banyak bicara, Alana menurut. Dalam pikiran Alana, mungkin ini lebih baik dari pada ia harus kembali ke rumah dan dijual oleh ayah kandungnya dan ibu tirinya.
Perjalanan menuju rumah Arka berlangsung dalam keheningan. Mobil pengganti yang dikirimkan asistennya melaju stabil di jalanan kota yang masih lengang. Alana duduk kaku di kursi belakang, menatap keluar jendela.
Kepalanya penuh. Tentang ayahnya. Tentang Adel. Tentang pernikahan yang hampir merenggut hidupnya. Dan kini … menjadi pelayan.
Kalau ibu masih hidup, apa ia akan membiarkannya sejauh ini? Tanya Alana dalam hatinya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar berpagar tinggi. Bangunannya modern, elegan, dan jelas mahal. Alana mendongak, tercekat.
“Masuk,” ujar Arka singkat.
Begitu gerbang terbuka, Alana seperti masuk ke dunia lain. Taman luas terawat, lampu-lampu temaram menyala rapi. Rumah itu terasa dingin, bukan karena suhu, tapi karena aura penghuninya.
Begitu pintu utama terbuka, seorang wanita paruh baya keluar dengan wajah terkejut. “Tuan Arka? Anda terluka!”
“Tidak parah, Bi Marni,” jawab Arka. “Ini Alana. Mulai malam ini dia bekerja di sini."
Tatapan Bi Marni berpindah ke Alana. Dari kepala sampai kaki. Alana refleks merapatkan jaket tipis yang ia kenakan.
“Kerja … sebagai apa, Tuan?” tanya Bi Marni hati-hati.
“Pelayan. Semua pekerjaan dapur serahkan padanya. Sekalian bantu urus anak Bang Rafa.”
Alana terbelalak. Anak? Tadi dia hanya diminta sebagai pelayan, tapi sekarang ada lagi kerja tambahan sebagai baby sitter.
Namun sebelum sempat bertanya, Arka sudah berjalan masuk. “Besok pagi jelaskan semua. Sekarang aku mau istirahat.”
Bi Marni mengangguk patuh. Tak ada bantahan.
Begitu Arka menghilang di tangga, Bi Marni menarik napas panjang. “Astaghfirullah … Nak, ikut saya.”
Alana menurut, berjalan mengikuti wanita itu ke area dapur dan kamar kecil di belakang. “Ini kamar kamu,” ujar Bi Marni sambil membuka pintu. Kecil, sederhana, tapi bersih. “Kamu bisa mandi dan istirahat. Nanti bibi berikan pakaianmu."
“Terima kasih,” ucap Alana tulus.
Saat pintu tertutup, Alana akhirnya menjatuhkan diri ke kasur. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Bukan karena sakit, tapi karena lelah dan takut.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang ia sadari. Setidaknya saat ini dia selamat dari pernikahan dengan bandot tua yang dijodohkan orang tuanya.
Pagi datang terlalu cepat.
Alana terbangun oleh ketukan pintu. “Alana, bangun. Sudah jam enam,” suara Bi Marni terdengar sambil mengetuk pintu.
Alana segera bangkit, panik. Setelah mandi dan berganti pakaian sederhana yang dipinjamkan Bi Marni, ia mulai bekerja. Menyapu, mengepel, membantu di dapur.
Rumah itu besar. Terlalu besar untuk satu orang. Tapi Alana tak mau protes. Dalam pikirannya, rumah ini adalah tempat yang aman baginya untuk bersembunyi.
“Di rumah ini hanya ada Tuan Arka, keponakannya, dan saya serta dua orang pria lain, yaitu penjaga keamanan dan satu tukang kebun,” jelas Bi Marni sambil memotong sayur. “Tuan Arka jarang di rumah. Kalau pulang pun, dia selalu bersikap dingin.”
“Keponakannya …?” tanya Alana penasaran. Dari malam dia penasaran, dimana ponakannya itu.
“Namanya Revan. Umurnya empat tahun. Anak dari almarhum kakak Tuan Arka.”
Alana mengangguk. Entah kenapa, dadanya terasa hangat membayangkan anak kecil.
Belum sempat ia bertanya lebih jauh, terdengar suara kecil dari ruang keluarga. “Bibi …?”
Alana menoleh. Seorang bocah lelaki berdiri dengan mata mengantuk, memeluk boneka dinosaurus. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya chubby, dan Alana terpaku menatapnya, matanya sangat mirip Arka.
“Revan, sudah bangun!" ucap Bi Marni lembut. “Ini Mbak Alana.”
Ares menatap Alana lama. Lalu, tanpa peringatan, ia berlari dan memeluk kaki Alana.
“Mbak Alana wangi,” ucapnya polos.
Alana terkejut. Tapi perlahan ia tersenyum dan berlutut. “Hai … Revan. Kamu tampan banget.”
Alana belum menyadari jika sejak saat ini, hidupnya tidak akan sesederhana menjadi pelayan biasa. Dia juga akan menjadi baby sitter dari seorang bocah.
Arka memperhatikan dari kejauhan. Biasanya Revan tak mudah akrab dengan orang asing. Entah kenapa bocah itu bisa langsung memeluk Alana.
Ia berdiri di lantai dua, bersandar di pagar, menatap pemandangan yang tak biasa. Revan tertawa, sesuatu yang jarang terjadi. Anak itu bahkan menarik tangan Alana, menunjukkan mainannya dengan antusias.
Ada sesuatu yang mengganggu Arka. Entah kenapa, dia merasa perempuan itu berbeda.
Namun, Arka segera menepis pikirannya. Ia tidak boleh lengah. Ia sudah terlalu sering dikhianati.
“Jangan macam-macam,” gumam Arka pada dirinya.
Sementara itu, di bawah sana, Alana sama sekali tidak menyadari tatapan Arka. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bekerja sebaik mungkin agar dia bisa berlindung di sini hingga waktu yang belum pasti.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭