Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Kelompok dan Ujian Kekompakan
Sore itu, Sekar Arum berangkat ke perpustakaan kampus bersama dengan Aisha. Mereka berdua berjalan dengan semangat, membawa buku catatan dan alat tulis di dalam tas masing-masing. Udara sore terasa sejuk, angin berhembus lembut, membelai rambut mereka.
Sesampainya di perpustakaan, mereka bertemu dengan Dika, Rani, dan Toni yang sudah menunggu di depan pintu. Mereka semua saling bertegur sapa dan masuk ke dalam perpustakaan bersama-sama. Suasana di dalam perpustakaan terasa tenang dan nyaman. Para mahasiswa duduk dengan tenang di meja-meja panjang, membaca buku dan mengerjakan tugas.
"Oke, teman-teman. Karena kita sudah berkumpul semua, mari kita mulai mengerjakan tugas presentasi," kata Aisha, mengambil alih peran sebagai pemimpin kelompok dengan percaya diri.
"Siap!" jawab semua anggota kelompok dengan semangat, kecuali Dika yang hanya mengangguk singkat.
Mereka kemudian mencari meja kosong yang cukup besar untuk menampung mereka berlima. Setelah menemukan meja yang cocok, mereka segera duduk dan mengeluarkan buku-buku catatan dan alat tulis mereka.
"Dika, kamu sudah dapat data dan referensi tentang topik kita?" tanya Aisha.
"Sudah," jawab Dika dengan singkat, tanpa menatap Aisha. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku tebal dan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.
"Rani, kamu sudah buat desain slide presentasinya?" tanya Aisha.
"Sudah, tapi belum sempat aku warnai," jawab Rani, mengeluarkan sebuah buku gambar dan beberapa pensil warna dari dalam tasnya.
"Toni, kamu sudah dapat contoh-contoh kasus nyata tentang pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja?" tanya Aisha.
"Sudah, nih," jawab Toni, menunjukkan ponselnya kepada Aisha. Di layar ponselnya, terlihat beberapa artikel dan berita online tentang kasus-kasus bullying, hoax, dan cybercrime yang melibatkan remaja.
"Oke, bagus," kata Aisha. "Sekarang, mari kita mulai menyusun naskah presentasinya."
Aisha dan Sekar Arum kemudian mulai berdiskusi tentang struktur dan isi naskah presentasi. Mereka berdua saling bertukar pendapat dan ide, serta mencatat poin-poin penting di dalam buku catatan mereka.
Namun. setelah beberapa saat, terjadi perbedaan pendapat antara Aisha dan Sekar Arum. Aisha ingin presentasi mereka fokus pada dampak negatif media sosial terhadap perilaku remaja, sedangkan Sekar Arum ingin presentasi mereka juga menjelaskan tentang dampak positif media sosial dan cara memanfaatkannya secara bijak.
"Tapi, Aisha. Kalau kita hanya fokus pada dampak negatifnya, presentasi kita akan terkesan pesimis dan tidak solutif," kata Sekar Arum dengan nada lembut. "Kita juga harus menjelaskan tentang manfaat media sosial dan cara memanfaatkannya secara bijak, agar para remaja bisa menggunakan media sosial dengan lebih cerdas dan bertanggung jawab."
"Tapi, Sekar. Faktanya, dampak negatif media sosial lebih dominan daripada dampak positifnya. Banyak remaja yang terjerumus ke dalam perilaku negatif karena terpengaruh oleh media sosial," bantah Aisha dengan nada tinggi. "Kita harus memberikan peringatan keras kepada para remaja tentang bahaya media sosial."
"Aku setuju dengan Sekar. Kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa semua pengaruh media sosial itu negatif," timpal Rani, mendukung pendapat Sekar Arum. "Ada banyak remaja yang sukses dan berprestasi karena memanfaatkan media sosial dengan baik."
"Iya, benar," kata Toni, ikut menimpali. "Kita harus melihat masalah ini dari berbagai sudut pandang."
"Tapi..." Aisha hendak membantah, namun Dika tiba-tiba berbicara.
"Sudahlah, Aisha. Ikuti saja pendapat teman-teman," kata Dika dengan nada datar. "Yang penting, tugas kita selesai."
Aisha terdiam sejenak, menatap Dika dengan tatapan kecewa. Ia merasa bahwa Dika tidak mendukungnya sebagai pemimpin kelompok. Ia juga merasa bahwa teman-temannya tidak menghargai pendapatnya.
"Baiklah," kata Aisha akhirnya, mengalah. "Kita ikuti saja pendapat kalian. Tapi, aku tidak mau bertanggung jawab jika presentasi kita tidak berhasil."
Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka sepakat untuk membuat presentasi yang seimbang, menjelaskan tentang dampak positif dan negatif media sosial terhadap perilaku remaja, serta memberikan solusi konkret untuk mengatasi masalah tersebut.
Namun suasana di antara mereka sudah tidak sehangat tadi. Aisha tampak murung dan diam, sedangkan teman-teman lain berusaha menghiburnya.
Sekar Arum merasa tidak enak hati melihat Aisha sedih. Ia ingin membantu Aisha untuk merasa lebih baik.
"Aisha, aku minta maaf kalau tadi aku terlalu memaksakan pendapatku," kata Sekar Arum dengan tulus. "Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kecewa."
Aisha menatap Sekar Arum dengan tatapan lembut. "Tidak apa-apa, Sekar. Aku mengerti kok. Aku hanya sedikit kecewa karena merasa tidak didukung," jawab Aisha.
"Aku janji, ke depannya aku akan lebih mendengarkan pendapatmu dan menghargaimu sebagai pemimpin kelompok," kata Sekar Arum.
"Aku juga janji, aku akan lebih terbuka dan fleksibel dalam berdiskusi," kata Aisha.
Mereka berdua kemudian berpelukan, mencairkan suasana yang sempat menegang. Teman-teman lain tersenyum lega melihat mereka berbaikan.
"Nah, gitu dong. Kan enak kalau akur," kata Toni, mencoba mencairkan suasana dengan candaannya.
Setelah berbaikan, mereka kembali fokus mengerjakan tugas presentasi. Mereka saling membantu dan mendukung, serta berusaha mencari solusi terbaik untuk setiap masalah yang muncul.
Dika mulai aktif memberikan informasi dan data yang ia temukan, Rani mulai mewarnai slide presentasi dengan warna-warna yang cerah dan menarik, Toni mulai berbagi contoh-contoh kasus nyata yang ia dapatkan dari internet, dan Aisha dan Sekar Arum mulai menyusun naskah presentasi dengan lebih terstruktur dan terarah.
Meskipun terjadi perbedaan pendapat dan konflik, mereka berhasil melewati semuanya dengan baik. Mereka belajar untuk saling menghargai, mendengarkan, dan memahami. Mereka juga belajar untuk bekerja sama dan mencari solusi bersama.
Setelah bekerja keras selama beberapa jam, akhirnya tugas presentasi mereka selesai. Mereka merasa lega dan puas dengan hasil kerja mereka.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," kata Aisha, menghela napas panjang.
"Iya, nih. Capek banget, tapi senang juga," kata Sekar Arum, tersenyum lebar.
"Semoga presentasi kita nanti berhasil dan mendapatkan nilai yang bagus," kata Dika.
"Aamiin," jawab semua anggota kelompok dengan serentak.
Setelah merapikan barang-barang mereka, mereka berlima keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju halte bus. Mereka berencana untuk pulang ke kos masing-masing dan beristirahat sebelum menghadapi hari esok.
Sekar Arum merasa bahagia karena telah memiliki teman-teman yang baik dan kompak. Ia merasa bahwa ia telah menemukan keluarga baru di kampus. Ia berharap bahwa persahabatan mereka akan terus berlanjut hingga masa depan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*