NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mala Cyphierily BHae

Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?

Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]

Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Atau Dia?

Maya melepaskan pelukan itu, berjalan ke arah ruang keluarga yang berada di sebelah kamarnya, di sana Maya duduk dengan mengusap wajahnya yang sembab.

Mau tidak mau Maya harus membicarakannya, sedangkan Biru yang masih mengikuti Maya itu hanya diam saja, lelaki itu memutuskan akan menerima semua kemarahan istrinya itu, bahkan kalau Maya akan membunuhnya sekalipun!

Biru mendudukkan dirinya berhadapan dengan Maya, menundukkan kepala tak mampu menatap istrinya yang sedang menatapnya penuh benci dan pertanyaan.

Diam...

Keduanya masih diam.

Maya pun membuka pembicaraan, "Sudah berapa lama, Mas?" lirih Maya tanpa melihat ke arah suaminya, air mata kembali menetes dari pelupuk matanya, Maya segera menghapus itu.

"Belum lama," lirih Biru.

"Kamu mencintainya?"

"Entah," jawab Biru dalam hati, karena walau bagaimanapun akhir ini-ini Biru memikirkan gadis itu.

"Kenapa diam, Mas? Apa benar kamu mencintai Hafizah?" tanya Maya membuat Biru bertanya-tanya dari mana Maya tau Hafizah.

"Dari mana kamu tau namanya?" tanya Biru membuat Maya semakin jengkel karena tidak menjawab tetapi bertanya balik.

"Kamu berzina, Mas?"

"Ti-tidak!" jawab Biru terbata, tangannya ingin meraih Maya, ingin mengusap air mata itu, tetap Biru yakin kalau Maya akan menolak untuk di dekati.

"Ok, berarti kalian sudah menikah, seperti apa yang Hafizah ceritakan kemarin padaku!" ucap Maya yang kemudian kembali bangun dari duduknya, Maya pergi ke kamarnya, kembali mengunci kamar itu dan ternyata Ifraz sudah terbangun, bayi itu merengek seolah mengerti kesedihan dari ibunya, Maya pun segera menyusui Ifraz dengan tidak berhenti menangis.

"Kurang apa aku, Mas? Kenapa kamu tidak mengatakan kekuranganku? Aku merasa bodoh karena menganggap rumah tangga kita baik-baik saja, nyatanya tidak," ucap Maya dalam hati, wanita itu menangis dalam diam, menahannya tidak ingin membuat Ifraz mendengar tangis kesedihannya.

Malam ini, Maya tidak dapat tidur, matanya sembab dan seperti ada lem yang membuat dirinya terus ingin memejamkan mata, tetapi luka hatinya membuat Maya tidak dapat berhenti berfikir. Selalu bertanya mengapa Biru melakukan ini.

Dimana letak kesalahan Maya?

Di tengah Malam, Maya mengira kalau Biru sudah tertidur, ia membuka pintu dan ternyata Biru masih duduk di depan pintu, menunggu Maya membukakan pintu itu.

"May...," lirih Biru saat melihat Maya berdiri di pintu.

Biru mengikuti Maya masuk ke kamar, memeluk Maya dari belakang membuat Maya semakin menangis, mengingat kalau suaminya sudah berbagi tubuhnya dengan wanita lain.

"Jangan sentuh aku, Mas! Penghianatan ini masih terasa sangat menyakitkan! Aku tidak bisa terima ini!" ucap Maya seraya berusaha melepaskan pelukan itu, tetapi Biru semakin mengeratkan dan berbisik di telinga Maya.

"Maafkan aku, May. Maaf!" lirih Biru seraya menelusupkan wajahnya di leher Maya.

Maya yang merasa sangat kesal karena Biru tidak mendengarkan apa ucapannya itu pun menginjak kaki Biru sehingga Biru kesakitan dan melepaskan pelukannya itu.

Maya segera naik ke ranjang dan Biru tidak berhenti berusaha, pria itu ikut naik ke ranjang dan memeluk Maya yang sudah tidak lagi merespon.

"Pilih aku atau dia, Mas?" lirih Maya dengan mata terpejam.

"Aku khilaf, May. Aku mohon maafkan aku!"

"Pilih aku atau dia?" Maya mengulangi pertanyaan itu.

"Aku memilih keluargaku, May!"

"Ceraikan dia!"

Biru menganggukkan kepala dan segera mengambil ponselnya, ingin memutuskan hubungannya dengan Hafizah malam itu juga tetapi ponsel wanita itu tidak dapat dihubungi.

"Tidak dapat dihubungi!" kata Biru seraya meletakkan ponsel itu dan Maya diam saja.

"Maya, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa coba sendiri menghubungi dia!" kata Biru.

"Tidak akan, enggak sudi aku hubungi dia!" gumam Maya dalam hati.

****

Sementara itu, Hafizah sedang gelisah, gelisah memikirkan nasibnya setelah ini!

"Apa mungkin mereka sedang bertengkar? Biru pasti tidak akan memperjuangkan ku karena aku hanya selingan baginya, tapi bagaimana? Aku tidak ingin menanggung malu, beberapa hari menikah sudah menjadi janda! Harusnya kalau memang seperti ini permainannya, kenapa aku tidak menikah diam-diam saja! Tapi bagaimana dengan ayah yang akan menjadi wali, pasti ayah akan bertanya banyak saat itu," gumam Hafizah yang sedang berada di sofa, menatap langit-langit kamarnya.

"Apa yang harus ku lakukan?"

"Astaga, kenapa aku sangat bingung, dewa penolongku, aku harap kita masih bisa tetap bersama," harap Hafizah.

Hafizah yang baru saja mematikan ponselnya itu pun kembali menyalakannya dan ternyata ada panggilan masuk, Hafizah merasa beruntung karena tadi tidak dapat dihubungi.

Sekarang Hafizah mengirim pesan pada Biru.

"Sekarang sudah ketahuan, aku tau rasa cintamu padaku tak sebesar pada Mbak Maya, tetapi aku menerima itu, aku juga tau kalau Mas Biru sudah memiliki rasa untukku kan? Aku harap Mbak Maya akan menerima pernikahan kita!"

Hafizah menunggu balasan dari Biru, tetapi Biru sama sekali tak memperdulikan getar ponselnya, lelaki itu masih memeluk Maya yang terdiam.

****

Keesokannya, Biru membuka mata, ia tidak mendapati istri dan anaknya.

"Maya!" seru Biru seraya keluar dari kamar, menuruni tangga.

Biru berfikir kalau Maya sedang membawa Ifraz mencari angin pagi tetapi Biru tidak melihat mobil Maya di garasi.

Biru terus menghubungi Maya, tetapi Maya tidak menanggapi itu.

****

Sementara itu, Gala sedang memperhatikan Maya yang berdiri di tepi jendela kamarnya.

Gala pun mengetuk pintu membuat Maya menyadari kedatangannya.

Maya segera mengusap air mata, tidak ingin mengumbar kesedihannya.

Tetapi tetap saja, Maya tidak dapat menyembunyikan itu dari Gala, Maya segera memeluk adiknya itu, memintanya untuk tidak memberitahu Lisna tentang kesedihannya.

Gala pun mengangguk dan bertanya.

"Mbak kenapa?"

Maya menjawab dengan menggelengkan kepala.

"Baiklah, mungkin mbak membutuhkan waktu untuk menenangkan diri," batin Gala dan lelaki muda itu tidak memaksa Maya untuk segera menceritakannya.

Manggala pun mengajak Maya untuk sarapan bersama dan sebelum keluar dari kamar, Maya menghapus air matanya yang seolah tak pernah habis.

Lisna yang duduk di kursi roda sesekali memperhatikan Maya yang sedang menyembunyikan kesedihannya itu. Maya melupakan kalau Lisna adalah ibunya yang sudah membesarkannya, Lisna menatap Maya yang memberikannya senyum palsu.

"Bunda, ayo makan, biar Maya suapi!" kata Maya seraya menyendokkan buburnya.

Lisna menjawab dengan sedikit menganggukkan kepala.

Di luar rumah, Biru masih berada di mobilnya, memperhatikan rumah Lisna.

"Dia ada di sini," gumam Biru seraya menggenggam erat kemudinya.

Ingin masuk takut akan membuat keributan, Biru mengingat keadaan mertuanya yang sedang tidak sehat. Akhirnya pria itu memutuskan untuk berangkat ke kantornya.

Seraya mengendarai mobilnya, Biru menelepon asisten pribadinya.

"Ran, siapkan baju untukku!" setelah mengatakan itu Biru segera memutuskan sambungan teleponnya.

Sementara itu Ran tengah bingung.

"Baju apa yang dia minta?" gumamnya.

Bersambung...

1
Khairul Azam
sebeuah cerita itu mencerminkan dari diri sipenulis itu sendiri
Mala–Bell: makasih, kak. Sudah memahami si penulisnya. 😇😇
total 1 replies
Khairul Azam
menurutku disini yg aneh bukan siapa" tp othornya yg aneh
Mala–Bell: Makasih, kak. 🥰😇😇
total 1 replies
Khairul Azam
hadeeeehhhh ini yg bikin cereta gak mumet apa
Mala–Bell: Kaaaa 😅😅😅😅
total 1 replies
Khairul Azam
hadeh gak ada yg bener semua, si maya bego, sihafiz pelakor, si biru tukang selingkuh, si bram hadddooohhhhh
Khairul Azam
perempusn psling bodoh maya, sukurlah klo gak bisa jln, tsu suami gak bener tingalkan aja malah nrobros lampu merah
Khairul Azam
hadeeehhh suami kaya gitu di rebutin tinggalin aja
Komang Diani
semangat maya demi masa depan irfas, jangan biarkan perlakor itu menang.. buat dia menderita
Komang Diani
bagusss,, kapok, karmanya instan,..
Komang Diani
bikin gregetttt,, dasar pelakorrrrr
Komang Diani
Luar biasa
Komang Diani
nama aja hafizah tp ular
Siti Nurbaidah
sukses sllu kk sayang..alurcerita ny mantap👍👍👌💕dag dig dug kdg buat sedih..nth lah spt dunia nyata tpi siapa pun itu pasti ada jln terbaik ny
Siti Nurbaidah: 👍👌👌siap
total 2 replies
Siti Nurbaidah
Luar biasa
Mala–Bell: Terimakasih 🥰
total 1 replies
ALNAZTRA ILMU
bodoh
ALNAZTRA ILMU
rasakan
ALNAZTRA ILMU
mampus
ALNAZTRA ILMU
bangkitlah maya. cepat!!
ALNAZTRA ILMU
semoga saja maya bisa bercerai dan nikah sama bram.. biru akan selingkuh lagi dan hafizah tau rasa diselingkuhi.. semoga saja
ALNAZTRA ILMU
otak blue sebab tu kau rosak
ALNAZTRA ILMU
astagaaaa.. brengsekkkk.. ceraisajalah bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!