Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bersama Asoka
Bab 6
Asoka menghela nafas lalu menekan tutup botol hand sanitizer dan mengusap di kedua tangannya. Pasien terakhir baru saja keluar dari ruangan, ia melepas stetoskop dan memasukan ke dalam kantong jas.
Beranjak dari kursi untuk melepas jas putihnya dan menggantung di tiang gantung yang ada di pojok ruangan tidak jauh dari kursinya. Sejak memasuki ruang periksa dan melakukan pemeriksaan pasien pertama sampai pasien terakhir belum membuka ponsel. Masih dengan posisi berdiri membaca beberapa pesan masuk dan menjawabnya. Menggulir jarinya ke grup chat tim kerja di rumah sakit, tidak ada informasi berarti untuk dirinya. Saat masuk ke grup pesan tim UGD, beberapa pertanyaan untuknya menanyakan kondisi serta situasi di sini.
Hanya tersenyum membaca pertanyaan kepo menanyakan kondisi di sini. Namun, ada satu pertanyaan yang cukup mengganggu.
Deri_Dok_UGD : Lisa, perawat lantai 3 berangkat juga ya? Salamin ya, dok@dokter Asoka
Bukan hanya dirinya yang terpesona oleh Lisa. Sering wara wiri di UGD juga poli anak untuk transfer pasien atau mengantar pemeriksaan. Penampilan Lisa tidak ada yang aneh dan mencolok, apalagi dengan seragam perawat. Bukan tipe perempuan yang sekali lihat bikin betah dan penasaran karena ada sesuatu yang mencolok, seperti keseksiannya. Namun, cukup menjadi perhatian untuk terus ditatap.
Perutnya sudah meronta minta diisi, Asoka memasukan ponsel ke saku celananya. Lisa dibicarakan di grup membuatnya rindu untuk melihat wajah gadis itu, padahal sejak tadi bolak-balik ke ruangannya.
Bibirnya tertarik membentuk senyum simpul, saat keluar ruangan mendapati gadis itu masih berada di meja tugasnya fokus dengan ponsel. Mendekat dan hendak menyapa, tapi urung demi memperhatikan wajah yang menunduk itu terlihat merengut.
“Ck, nggak jelas. Bangga amat. Gantengan juga dokter Oka.”
Apa tidak salah dengar, Lisa menyebut namanya. Kalau dipuji ganteng sudah biasa, bukan karena sombong. Mungkin kenyataannya memang begitu.
“Saya kenapa?” tanyanya dan Lisa langsung menoleh. Wajah gadis itu tampak terkejut menatap ke arahnya.
“Gawat,” gumam Lisa.
“Apanya yang gawat?” tanyanya lagi.
Lisa menggaruk kepalanya dan terlihat salah tingkah. “Hm, nggak dok. Nggak pa-pa.”
“Kamu bandingkan saya dengan siapa?”
“Itu ….”
“Dokter Oka, Mbak Lisa,” seru Sapri. “Kita foto dulu.”
“Foto dulu, dok,” ujar Lisa gegas beranjak bahkan setengah berlari keluar.
Saat Asoka bergabung di depan gedung puskes, Rama dan Yuli sedang berdebat dengan posisi berfoto.
“Halah, foto resmi aja kalian ribut. Gimana nanti foto resepsi,” ejek Beni sudah berdiri di antara Rama dan Sapri. Sedangkan Yuli menempati sisi Rama yang lain.
“Ayo, Sa. Gue udah laper nih.”
Lisa sudah ikut berbaris, merasa terselamatkan dengan panggilan Sapri. Meski detak jantung masih bertalu-talu. Namun, semesta tidak mendukung. Saat ia menoleh Asoka sudah berdiri di sampingnya.
A Ujang, petugas keamanan yang diminta Rama untuk mengambil gambar dengan ponselnya mengarahkan Asoka agar lebih merapat. Lengan mereka bersentuhan lalu saling menatap.
“Siap, ya. Satu, dua … tiga.”
Berkali-kali foto diambil karena ulah Rama.
“Ish, cepetan dong. Rama nggak jelas deh," pekik Lisa.
“Mau kemana? Nggak nyaman saya ada di sini?” tanya Oka agak berbisik dan Lisa langsung menoleh membuat mereka kembali beradu tatap. Beruntung Yuli masih berteriak karena ulah Rama tidak mendengar dan tidak melihat adegan itu.
“Nggak, bukan gitu.” Lisa kembali menatap ke depan karena arahan pengambil gambar yang sudah pasti amatir. Bukan tidak nyaman justru takut makin nyaman.
“Gaes, serius dulu. ini untuk laporan,” seru Rama.
“Bah, kau yang dari tadi nggak serius,” ejek Beni kesal.
“Mas, ayolah. Saya udah engap ini nahan nafas biar di foto perut saya nggak kelihatan gendut,” sahut Sapri yang perutnya agak membuncit.
“Satu, dua … tiga.”
Lisa seolah membeku mana kala Oka semakin merapatkan tubuhnya.
***
Lisa sudah memakai tasnya lengkap dengan jaket, keluar dari puskes melalui IGD untuk menemui Rama yang sedang piket sampai dengan malam. Nyatanya yang dicari sedang menikmati bakso cuanki yang dipikul di bawah pohon area parkir.
“Cie, mesra amat.” Lisa terkekeh sendiri. “Biar kata Cuma makan bakso di bawah pohon, terasa di cafe.”
“Siapa yang mesra, sama Jule nggak ada mesra-mesranya. Badan gue udah kayak samsak, dari tadi digaplokin terus.”
“Mulut sama kelakuan lo tuh, bikin kesel aja.”
“Ck, kesel tapi nyariin gue terus. Rama, gue laper. Rama, jaringan gue nge-lag, Rama ini dong, Rama itu-lah.”
“Bod0,” seru Yuli menyerahkan mangkok yang sudah kosong.
“Busyet, lapar apa doyan. Itu mangkok nggak usah dicuci lagi sama abangnya udah licin.”
“Ram, mana iuran.” Lisa mengulurkan tangan. Sesuai kesepakatan tadi malam, dia ditunjuk menjadi bendahara untuk mengumpulkan uang dan memastikan kebutuhan sabun, kopi, teh. dan lain-lain. Tidak termasuk makan, dikembalikan masing-masing.
Rama membuka dompet dan mengeluarkan dua lembaran merah menyerahkan pada Lisa.
“Kopi jangan lupa.”
“Iya, bawel ih.”
“Belanja sekarang? Sama siapa?” cecar Yuli sudah fokus pada ponselnya.
“Hm, belum tau.”
“Bang Beni noh ajak, dari pada video call mulu sama anak-anaknya yang ada nggak betah dia lama di sini," usul Rama.
“Lagi ngecek mesin, tadi ambulance dicoba muter katanya kenapa gitu,” sahut Lisa sambil mengedikan bahu. Beni adalah anggota tim yang paling senior, umurnya sudah 32. Berkeluarga dan belum lama mendapatkan anak kembar yang umurnya belum genap satu tahun. “ Mas Sapri udah balik ke rumah.”
“Terus sama siapa?” tanya Yuli lagi. Sama-sama tidak tahu daerah itu dan Yuli sudah menyampaikan dia malas berkeliaran kalau harus jalan kaki atau dengan motor.
“Bareng saya, kebetulan saya mau cari ATM dan ada barang yang harus dibeli. Kayaknya selama di sini harus sedia uang cash.”
Lisa merasa kepekaannya sudah sangat minus. Lagi-lagi kecolongan dengan kehadiran Asoka sudah berada di sampingnya. Sejak kapan pria itu datang atau memang bisa menghilang dan datang hanya dengan kedipan mata.
Menatap Asoka yang juga menatapnya. Seolah pria itu bertanya, nggak pa-pa ‘kan kita pergi berdua.
Ya ampun, jantung. Yang kuat ya.
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭