NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Sayang, Aku Rindu

Bab 1: Sayang, Aku Rindu

Lampu kristal di ruang makan itu berpendar redup, memantulkan bayangan Arini yang duduk mematung di depan meja kayu jati yang penuh dengan hidangan dingin. Jam dinding berdetak dengan suara yang seolah memekakkan telinga di tengah kesunyian rumah mewah mereka. Pukul 23.15. Setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan, mengingatkan Arini betapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Arini menatap piring di hadapannya. Pasta fettuccine carbonara kesukaan suaminya, Reihan, kini sudah mengeras dan kehilangan aromanya. Keju yang tadi meleleh menggoda kini tampak seperti lapisan lilin yang kaku. Lilin aromaterapi yang tadi ia nyalakan untuk membangun suasana romantis pun sudah habis terbakar hingga ke pangkalnya, menyisakan jelaga hitam di pinggiran gelas kaca. Ini bukan malam pertama. Ini adalah malam ketiga dalam minggu ini ia makan malam ditemani bayangannya sendiri, bercakap-cakap dengan sunyi yang kian lama kian akrab.

Rumah ini terlalu besar untuk satu orang. Arini memandang sekeliling; sofa kulit Italia, lukisan abstrak mahal, dan lantai marmer yang mengilap. Semua itu adalah simbol keberhasilan Reihan. Namun bagi Arini, benda-benda itu hanyalah monumen dari jarak yang membentang di antara mereka. Semakin banyak benda mewah yang mengisi rumah, semakin sedikit ruang bagi mereka untuk sekadar bersentuhan.

Terdengar suara deru mobil di halaman, memecah keheningan malam yang pekat. Disusul suara gerbang otomatis yang bergeser pelan dengan dengungan mesin yang halus. Arini menarik napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya yang terasa seperti dihimpit beban berton-ton. Ia merapikan sedikit rambutnya, mencoba tersenyum di depan pantulan cermin ruang makan, meski matanya yang sembap tidak bisa berbohong.

Pintu depan terbuka dengan suara klik yang tegas. Menampakkan sosok pria dengan setelan jas navy mahal yang tampak kusut di bagian lengan. Reihan masuk dengan langkah yang berat, membawa tas kerja kulit yang terlihat sangat penuh—atau mungkin beban ambisi di dalamnya yang membuatnya terlihat begitu lelah. Dasinya sudah dilonggarkan, kancing teratas kemejanya terbuka, menunjukkan sisa-sisa hari yang panjang dan melelahkan.

"Kau belum tidur?" tanya Reihan singkat tanpa menatap Arini. Suaranya datar, tanpa intonasi kerinduan, apalagi rasa bersalah. Ia langsung berjalan menuju dispenser di sudut dapur bersih, meneguk air dingin dengan terburu-buru seolah tenggorokannya adalah padang pasir yang kerontang.

Arini berdiri pelan, sendinya terasa kaku karena terlalu lama duduk diam. "Aku menunggumu. Aku masak pasta. Kau bilang pagi tadi ingin makan masakan rumah."

Reihan meletakkan gelas dengan bunyi denting yang tajam di atas meja granit. "Aku sudah makan di kantor tadi saat rapat mendadak dengan klien dari Singapura. Mereka hanya punya waktu malam ini sebelum terbang ke Tokyo. Simpan saja di kulkas untuk besok, atau berikan pada asisten rumah tangga pagi-pagi."

Jawaban itu seperti tamparan halus di wajah Arini. "Simpan saja di kulkas," gumamnya pedih. "Semuanya kau minta disimpan untuk besok, Reihan. Makanannya, waktunya, komunikasinya. Tapi besok tidak pernah benar-benar datang untukku."

Reihan mulai melangkah menuju tangga, mengabaikan gumaman istrinya. Namun langkah kaki itu terhenti ketika Arini berbisik pelan, namun cukup tajam untuk menembus keheningan yang menyelimuti mereka, "Kapan terakhir kali kau benar-benar melihatku, Reihan? Bukan melihat keberadaanku di rumah ini, tapi melihat diriku?"

Reihan berbalik, keningnya berkerut dalam. Kelelahan di wajahnya kini bercampur dengan kilatan iritasi. "Apa maksudmu dengan pertanyaan filosofis malam-malam begini, Arini? Aku bekerja keras setiap hari. Aku pergi sebelum matahari terbit dan pulang saat semua orang sudah bermimpi. Aku melakukan ini untuk siapa? Untuk rumah ini, untuk mobilmu, untuk memastikan masa depan kita terjamin. Apa yang kurang? Apakah jatah bulanan yang kukirim ke rekeningmu berkurang?"

Arini mendekat, langkahnya gontai. Aroma parfum kantor yang mahal dan sisa kafein yang tajam tercium dari tubuh suaminya, bukan lagi aroma sabun mandi segar atau wangi tubuh alami yang dulu selalu ia rindukan saat mereka masih tinggal di apartemen sempit satu kamar. Arini memberanikan diri menyentuh lengan suaminya, merasakan otot yang tegang di bawah kain kemeja berkualitas tinggi itu.

"Sayang, aku rindu," ucap Arini dengan suara bergetar, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai luruh. "Kapan kau pulang dan memelukku seperti saat kita awal menikah dulu? Saat kita tidak punya apa-apa, saat kita hanya makan mi instan di atas tikar, tapi kau punya waktu untuk mendengar ceritaku tentang bunga yang mekar di pot depan jendela. Kau punya waktu untuk membelai rambutku sampai aku tertidur."

Reihan menghela napas panjang, ekspresinya menunjukkan ketidaksabaran yang nyata. Ia melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. "Itu dulu, Arini. Kita bukan pengantin baru lagi yang hidup di awan-awan. Realitas hidup butuh uang, butuh stabilitas. Aku sedang mengejar posisi direktur utama. Persaingan di luar sana sangat kejam. Jika aku berhenti sejenak, ada sepuluh orang lain yang siap menginjakku untuk naik."

"Tapi sekarang kau hanya fokus kerja dan cari uang saja!" Arini mulai terisak, suaranya naik satu oktav. "Aku kesepian, Reihan. Aku merasa seperti pajangan di rumah mewah ini. Aku butuh perhatianmu, aku butuh suamiku, bukan sekadar mesin ATM yang bisa bicara tentang target dan profit. Sudah cukup cari uangnya. Tabungan kita sudah lebih dari cukup untuk tujuh turunan. Kapan kau akan merasa cukup?"

Reihan melepaskan tangan Arini dari lengannya. Gerakannya tidak kasar, namun ketegasan di dalamnya terasa lebih menyakitkan daripada dorongan fisik. "Cukup menurutmu, tapi tidak menurut standar suksesku. Aku lelah, Arini. Aku tidak punya energi untuk berdebat soal perasaan malam ini. Jangan mulai drama saat aku baru saja melewati hari yang sangat berat. Aku ada presentasi penting besok pagi jam delapan."

Reihan melanjutkan langkahnya ke atas, suara sepatunya beradu dengan anak tangga kayu, menciptakan irama yang menjauh dan akhirnya hilang saat pintu kamar utama tertutup dengan bunyi 'klik' yang final.

Arini kembali jatuh terduduk di kursi makan yang dingin. Di bawah cahaya lampu kristal yang mahal, ia menatap piring pastanya yang kini benar-benar telah membeku. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit; meskipun mereka tinggal di bawah atap yang sama dan tidur di ranjang yang sama, jiwa mereka telah bermigrasi ke dua dunia yang berbeda. Uang memang telah memenuhi setiap sudut rumah mereka dengan kemewahan, namun perlahan-lahan, setiap lembar rupiah itu pula yang telah merampok nyawa dan kehangatan dari pernikahan mereka. Arini menangis dalam diam, meratapi kemiskinan di tengah kelimpahan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!