NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekar Arum Naik Panggung

Desa Plumbon malam itu tampak meriah. Lampu-lampu hias warna-warni bergelantungan di sepanjang jalan, dan suara gamelan campur sari terdengar menghentak, memecah kesunyian malam. Keluarga Pak Lurah sedang menggelar hajatan sunatan putranya, dan seperti tradisi di desa Plumbon, hiburan campur sari menjadi bagian tak terpisahkan dari acara tersebut.

Para pemuda-pemudi desa sibuk nyinom (menyajikan makanan dan minuman) kepada para tamu undangan. Sekar Arum, sebagai salah satu anggota karang taruna, juga tak ketinggalan membantu. Bagi masyarakat Wonogiri, nyinom adalah bagian tak terpisahkan dari setiap acara hajatan.

Rini, yang datang dari Ngadirejo, menikmati alunan musik campur sari sambil sesekali melirik ke arah Sekar Arum yang sibuk melayani tamu. Ia tahu, tradisi nyinom sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa seperti Plumbon.

Sekar Arum lewat di dekat Rini dengan membawa nampan berisi makanan. "Capek nggak, Kar?" tanya Rini.

Sekar Arum tersenyum tipis. "Lumayan, Rin. Tapi, ya dinikmati saja," jawab Sekar Arum.

Malam semakin larut, Dian Kirana, sang penyanyi campur sari, terus menghibur para penonton dengan suara merdunya. Lagu-lagu populer dibawakannya dengan suara merdu, membuat para penonton ikut bergoyang dan bernyanyi bersama.

Setelah menyanyikan beberapa lagu, Dian Kirana berhenti sejenak untuk beristirahat. Ia melihat Sekar Arum yang sedang sibuk melayani tamu di dekat panggung.

"Wah, Mbak-mbak yang cantik ini pasti capek ya nyinom terus?" sapa Dian Kirana dengan ramah.

Sekar Arum sedikit terkejut dan tersenyum malu. "Iya, Mbak. Lumayan capek," jawab Sekar Arum.

"Sini-sini, istirahat dulu sebentar. Sambil dengerin aku nyanyi," kata Dian Kirana sambil tertawa.

Kemudian, Dian Kirana memiliki ide untuk mengajak salah satu penonton berduet dengannya.

"Nah, biar tambah seru, aku mau ngajak salah satu dari kalian untuk nyanyi bareng sama aku!" seru Dian Kirana. "Siapa yang berani maju ke depan?"

Para penonton tampak ragu dan saling melihat satu sama lain. Beberapa orang mengangkat tangan lalu segera menariknya kembali, sementara yang lain hanya tersenyum pemalu. Rini yang berada di dekat Sekar Arum tiba-tiba menarik lengan temannya.

"Kar, kamu aja dong! Aku tahu kamu bisa nyanyi lho," bisik Rini dengan penuh semangat.

Sekar Arum terkejut dan menggeleng-geleng kepala. "Enggak lah, Rin. Aku kan belum pernah tampil di depan banyak orang seperti ini," ujarnya dengan suara pelan.

Namun suara Rini sepertinya terdengar oleh beberapa tamu di sekitar mereka, dan segera saja ada yang mulai menyorot Sekar Arum. "Mbak yang lagi duduk sana aja dong!" teriak salah satu tamu. Berikutnya, suara dukungan mulai terdengar beramai-ramai.

"Ya udah, ya udah! Mbak cantik itu aja!" panggil beberapa orang lainnya.

Dian Kirana pun melihat ke arah Sekar Arum dan mengangkat mikrofonnya. "Wah, rupanya banyak yang memilih kamu, Mbak. Yuk dong, jangan sungkan! Kita cuma main-main aja kok," ajaknya dengan senyum hangat.

Dengan hati yang berdebar-debar, Sekar Arum berdiri perlahan. Rini memberikan dukungan dengan mengangkat dua jari menunjukkan tanda semangat. Setelah mengambil napas dalam-dalam, Sekar Arum melangkah ke arah panggung sambil tersenyum pemalu.

Setelah berada di sisi Dian Kirana, ia menerima mikrofon yang diberikan. "Kita nyanyi lagu apa ya? Kalau kamu punya lagu favorit bisa bilang aja," kata Dian Kirana.

"Kalau bolehnya, Mbak... lagu 'Banyu Langit' aja ya?" ujar Sekar Arum dengan suara lembut namun tegas.

"Bagus sekali! Lagu yang pas buat malam meriah ini!" seru Dian Kirana.

Saat musik mulai mengalir, awalnya Sekar Arum masih sedikit gugup, namun seiring berjalannya alunan, suara merdunya mulai terdengar jelas dan merdu. Para penonton langsung terkejut dan mulai bersorak serta mengikuti irama dengan tepukan tangan. Rini bahkan berdiri dan bergoyang sambil menyanyi bersama dari tempat duduknya.

Setelah lagu selesai, tepukan dan sorakan meriah memenuhi udara desa Plumbon. Dian Kirana mengelu-elukan suara Sekar Arum. "Wah luar biasa! Kamu sangat berbakat, Mbak Sekar Arum!" ujarnya sambil mengangkat tangan Sekar Arum ke atas.

Sekar Arum tersenyum bahagia, rasa gugup tadi telah hilang digantikan oleh kebanggaan. Malam itu menjadi momen tak terlupakan baginya, dan juga menjadi bagian dari kenangan indah hajatan putra Pak Lurah di desa Plumbon.

"Nah, gimana nih teman-teman? Suaranya kan mantap sekali bukan?" teriak Dian Kirana ke arah penonton sambil mengangkat mikrofonnya.

Tepukan tangan yang semula sudah mulai reda, kini kembali bergemuruh lebih keras dan lebih panjang. Beberapa pemuda desa bahkan membangunkan tepukan irama yang meriah, diikuti oleh sorakan "Encore! Encore!" yang makin menggelegar.

Pak Lurah beserta istri datang mendekati panggung dengan wajah bersinar bahagia. Anak kecil itu mengenakan baju adat warna merah emas yang sangat cantik, dan meskipun sudah mulai menguap, wajahnya penuh kegembiraan menyaksikan suasana meriah ini. Ia tetap duduk di dekat ibunya, menikmati acara dari tempatnya.

"Hai hai semua tamu yang kami hormati!" ucap Pak Lurah sambil mengangkat tangan untuk menyapa dari tepi panggung. "Malam ini bukan hanya hari bahagia bagi keluarga kami, tapi juga bagi seluruh desa Plumbon! Lihatlah, anak-anak muda kita punya bakat luar biasa yang membuat acara ini semakin berharga!"

Ia kemudian menghadapkan diri ke arah Sekar Arum. "Mbak Sekar Arum, dari seluruh keluarga kami, terima kasih banyak telah menghiasi malam ini. Kamu bukan hanya membantu nyinom dengan penuh kesediaan, tapi juga menunjukkan bahwa generasi muda kita siap membawa nama baik desa ini lebih jauh!"

Pak Lurah kemudian memberikan sebuah bingkisan berupa kain batik khas Wonogiri dan sebuah plakat kecil bertuliskan "Pembawa Kebahagiaan Acara Hajatan" kepada Sekar Arum. Saat itu pula, seluruh penonton berdiri dan memberikan aplaus yang luar biasa panjangnya suara tepukan tangan bergema hingga ke ujung jalan desa yang berkelok ke arah perkampungan tetangga.

Sekar Arum merasa mata sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih Pak Lurah, terima kasih Mbak Dian, terima kasih semua teman-teman," ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar tapi penuh semangat. "Saya hanya ikut saja, tapi semoga apa yang saya lakukan bisa membuat semua orang senang!"

Dian Kirana kemudian menarik Sekar Arum berdampingan dengannya. "Teman-teman, mari kita akhiri malam ini dengan satu lagu besar yang bisa kita nyanyikan bersama! Siap tidak?"

"Siap!" seru seluruh penonton dengan suara bulat.

Musik gamelan campur sari mulai mengalir dengan irama yang lebih meriah lagi lagu "Gending Sriwijaya" yang selalu jadi favorit di acara hajatan Wonogiri. Sekar Arum memegang mikrofon dengan percaya diri, suara merdunya menyatu dengan suara Dian Kirana dan ribuan suara tamu yang ikut bernyanyi dengan penuh semangat.

Orang-orang mulai bergerak ke arah panggung, bergoyang dan bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Lampu-lampu hias berkelip-kelip seolah menari bersama irama, sementara aroma bunga melati dan makanan khas desa masih tercium di udara malam.

Aplaus tidak pernah berhenti bahkan setelah lagu selesai, para tamu masih memberikan tepukan tangan yang hangat, sambil menyapa Sekar Arum dengan senyum penuh kagum. Karang taruna desa bahkan mengangkat Sekar Arum ke atas bahu mereka dan mengelilingi area hajatan sambil disambut sorakan meriah dari setiap tenda yang masih menyala terang.

Malam itu, desa Plumbon tidak hanya merayakan sunatan putra Pak Lurah, tapi juga merayakan kelahiran seorang bakat baru yang siap menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat Wonogiri. Suara aplaus yang meriah itu akan terus terngiang di benak setiap warga desa sebagai bukti bahwa keberanian untuk tampil bisa membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!