NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Serigala

Keesokkan harinya, Aruna berada dalam ruangnya untuk mandi. Dia bisa melihat dan mendengar keributan di luar, para warga sedang mengerumu ngi dua kereta kuda, ini pertama kali bagi mereka bisa melihat dari jarak dekat.

Aruna keluar dari kamar mandi, dia berjalan menuju kerumunan. Kali ini dia menggunakan baju serba hitam, terlihat seperti seorang jenderal wanita yang bersiap menuju area peperangan.

Semua warga selalu dibuat takjub, mereka merasa tidak pernah bosan untuk memandangnya, semakin dilihat semakin cantik. Seakan ada magnet dari dalam diri Aruna, yang mengikat mereka.

"Waahhh, Kakak Aruna cantik sekali" Su Qian berseru dengan memegang tangan Aruna.

"Hmm, besar nanti, Aku juga ingin jadi cantik seperti Kak Aruna," Su Nian tak mau kalah, dia juga memegang tangan Aruna.

Aruna hanya tertawa pelan. "Ya ya,, adik-adiknya Kak Aruna memang yang paling cantik!"

Setiba dikerumunan, Aruna melihat empat orang pengawal sedang berbincang dengan Kepala Desa dan para tetua lainnya.

"Nak, akhirnya kamu datang juga, orang-orang dari keluarga Yu sudah datang" seru Kepala Desa dengan sedikit bersemangat.

"Ya, maaf saya sedikit lama!" katanya kepada Para pengawal.

"Tidak masalah! Nona, silahkan dilihat, apakah kereta kudanya sesuai yang Anda inginkan.? Tanyanya.

Aruna hanya melihatnya sebentar, lalu mengangguk. "Ya, ini sudah sesuai yang Saya maksud!"

Para pengawal tersenyum puas, Tuan mereka sudah berpesan agar tidak melakukan kesalahan. "Syukurlah, Tuan kami juga minta maaf, karena tidak bisa datang, pagi sekali Harus ke kantor pemerintah."

"Oh, apa pelakunya sudah ketangkap?" tanya Aruna dengan pura-pura tidak tau. Semalam, karena tidak bisa tidur, dia masuk kota tanpa diketahui orang lain.

Aruna langsung menuju rumah Lusi, dia mengetahui alamatnya dari Tabib Jung. Dia sudah curiga dengan gelagatnya yang mencurigakan. Di atap rumah, Aruna melihat Lusi berjalan dengan seorang wanita sambil menggendong anak kecil di punggungnya.

Pendengarannya yang tajam, tentu membuat Aruna bisa mendengar percakapan mereka. Mata Aruna berkilat dingin, dia tersenyum mengejek lalu mengikuti wanita tersebut yang pergi dari kediaman itu.

"Ya, sebenarnya bukan tertangkap. Tapi dia datang sendiri mengakui kesalahannya," ucap yang lainnya.

"Tapi, aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu.." yang satu lagi juga ikut menyahut, dia melihat wanita itu datang dari arah berlawanan.

"Hmm, mungkin dia menyesal telah melakukannya." ujar Aruna. Padahal dia sendiri yang menemui wanita itu dan memintanya untuk mengaku.

Awalnya wanita itu tidak ingin mengaku, tapi Aruna malah memasukkan sesuatu di dalam mulut Anaknya, saat mendengar satu kata dari Aruna 'Racun' badannya bergetar ketakutan. Dia tidak ingin kehilangan anaknya, jadi dia bersedia datang ke rumah Tuan Yu, asalkan Aruna memberi penawarnya.

"Yaa. Nona, tugas kami di sini sudah selesai. Kami harus pergi sekarang, Nyonya pasti sudah menunggu kami."

"Silahkan!" Aruna tak menahan. Mereka juga harus bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Saat para pengawal sudah jauh, Kepala Desa menyuruh warganya untuk segera bersiap, karena setelah sarapan mereka harus segera pergi. Namun dia menahan Aruna, memintanya untuk mengecek ke dalam kereta.

Aruna pun mengeceknya, ternyata kedua kereta itu penuh dengan barang, apalagi kalau bukan perbekalan. Kepala Desa sudah mengetahuinya dari pengawal, tapi tidak memberitahu kepada warga yang lain, mau bagaimanapun, semua itu milik Aruna.

Setelah memasukkan barang itu ke dalam ruangnya, dalam kereta terlihat lebih luas. Mungkin cukup untuk 10 orang dewasa.

Dalam amplop yang dia terima semalam berisi 2 lembar uang kertas. Satu lembarnya 1 tael emas, jadi totalnya 2 tael emas. Menurutnya itu sangat banyak, memang dia butuh uang, tapi dia tidak serakah. Masih banyak cara menghasilkan uang, seperti menjual emasnya yang masih menggunung.

Aruna hanya mengambil 1 lembar saja, dan meminta dua kereta kuda yang biasa saja. Tapi tak disangka dalam kereta ada banyak barang, padahal saat Tuan Yu datang, kereta itu juga penuh dengan barang.

...----------------...

Di Kantor Pemerintah, di ruang pengadilan, tampak keluarga besar Yu duduk dengan raut wajah penuh amarah setelah mendengar pengakuan wanita itu, yang tak lain pelayan dari keluarga Lusi.

"Dasar jalang... Berani-beraninya kau meracuni anakku..!" teriaknya dengan emosi. Dia sudah beranjak untuk memukul Lusi, tapi dicegat oleh suaminya.

Nyonya Yu menatap suaminya lalu bertanya. "Suamiku kenapa kau menahanku? Kau tidak dengar ya? Dia meracuni Yui kita karena cemburu dengan apa yang milikinya!" suaranya bergetar karena menangis.

"Tentu aku mendengarnya, tapi kita tidak bisa gegabah, kita masih di ruang pengadilan." Dia bahkan lebih marah daripada Istrinya. Saat wanita itu datang ke rumanya dan menjelaskan semuanya, dia langsung menendangnya.

Pelayan itu disuruh oleh Lusi membuat roti isi daging kesuakaan Yui. Dalam adonan itu diteteskan racun Rumput Pelangi, dan dua biji kacang. Racun Pelangi hanya akan aktif pada manusia jika ada pemicunya, yaitu kacang-kacangan.

Pelayan itu sebenarnya tidak ingin melakukannya, tapi Lusi mengancam akan menjual anaknya ke rumah bordil. Demi anak diapun membuat roti itu.

Masalahnya hanya sepele, Lusi iri dengan Yui yang sangat disayangi keluarganya. Berbeda dengan dirinya yang sangat dibenci dan selalu kena marah. Apalagi Yui adalah kecantikan no 2 di kota Nuwu, yang makin membuat rasa irinya meningkat, sampai nekat melakukan pembunuhan berencana.

Roti itu dia berikan kepada Yui, satu jam sebelum mereka pergi ke Restoran Boilu. Dan yang mengajak mereka adalah Yumi, racun itu akan beraksi setelah satu jam, tepat saat mereka sedang makan di Restoran. Yumi dan pemilik Restoran pasti yang akan dicurigai. Tapi, dengan kehadiran Aruna, rencananya berantakan, Aruna berhasil menyelamatkan Yui.

Dengan percaya diri dia pergi ke kantor pemerintah, kata orang yang menjemputnya dia akan menjadi saksi. Tapi saat melihat pelayan itu juga ada di sana, Lusi terdiam kaku, dia ingin berbalik pergi, tapi semua orang sudah melihatnya, dan pintu ruang sidang sudah ditutup.

Lusi dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 50 kali, dan dipenjara selama 20 tahun. Sedangkan pelayannya, hanya dihukum cambuk 20 kali. Keluarga Lusi hanya menatapnya penuh kebencian, tidak ada yang merasa iba kepadanya, bagaimana bisa dia bertindak ceroboh. Reputasi buruk pasti akan berpengaruh ke bisnis mereka.

Setelah dipukul cambuk, Pelayan itu bangkit dengan menahan sakit. Dia harus pergi menemui Aruna, karena dia berjanji akan memberi penawarnya setelah mengakui kesalahannya. Tapi sebelum itu, dia ingin mengecek kondisi anaknya terlebih dahulu di bangunan kosong. Semalam,dia sudah berusaha membangunkan anaknya dengan berbagai cara tapi tak kunjung bangun.

Tapi setelah sampai di bangunan kosong, dia melihat anaknya sudah bangun, dia sangat bahagia, langsung menanyakan keadaan anaknya, 'Ibu aku baik-baik saja'..Barulah dia sadar, yang dimakan anaknya ternyata bukan racun, dia menangis menyesali perbuatannya, namun dia tidak menyesal telah membongkar semuanya.

...----------------...

Di sisi lain, rombongan Desa Suning sudah berjalan jauh, mereka sudah meninggalkan Kota Nuwu dengan lancar tanpa kendala. Keluar dari kota Nuwu, mereka harus melewati dua desa lagi yang masih di bawah naungan Kota Nuwu. Ada banyak orang yang menanti mereka lewat, karena penasaran dengan Tabib Sakti itu.

Adanya dua kereta kuda, perjalanan mereka lebih cepat lagi. Orang yang naik kereta semua yang sudah berumur, yang tidak bisa berjalan jauh lagi. Sebelumnya, mereka hanya duduk di atas gerobak dorong, tentu hal itu memperlambat langkah mereka. Dan sekarang beban mereka sedikit berukurang, lagi-lagi berkat Aruna.

Tepat pukul 12 siang, Kepala Desa memutuskan untuk beristirahat, jalanan yang mereka lewati sebuah tanah lapang, kanan kirinya kosong tanpa tumbuhan-tumbuhan. Jika memasang tenda akan memakan waktu lagi, tapi jika tidak memasang tenda mereka akan kepanasan..

Kakek Ji bertanya kepada warganya, ternyata mereka sepakat memasang tenda saja daripada harus kepinggiran hutan. Tak butuh waktu lama tenda pun berdiri dengan kokoh, Nenek Suyu dan kedua menantunya yang memasak dan dibantu oleh ibu-ibu lainnya.

Aruna menatap hutan yang lumayan jauh, dia merasakan ada banyak buruan di sana. Dia berjalan menghampiri Kakek Ji lalu berkata, "Kakek, aku ingin pergi ke hutan, aku ingin mencari obat-obatan.!"

Kakek Ji juga memandang hutan itu, "Pergilah, kamu harus pergi dengan Ozian!" hatinya tidak tenang, setiap kali Aruna masuk hutan.

"Kakek, tidak perlu. Aku hanya dipinggiran saja, aku akan kembali tepat waktu."

"Bagaimana kalau Kakek yang ikut denganmu?" Tiba-tiba Tabib Gu ikut menyela.. Mendengar Aruna ingin mencari obat-obatan membuatnya tertarik. Sudah lama sekali tidak menemukan tanaman obat liar.

"Tidak, kakek harus di sini. Bagaimana jika ada yang jatuh sakit, dan kita berdua tidak ada?" Aruna menolak keras, bukan tidak mengizinkan ikut pergi mencari obat dengannya, tapi dia ingin masuk hutan bagian dalam.

Tabib Gu dan Kakek Ji mengangguk paham, Keduanya hanya bisa mengingatkan Aruna untuk berhati-hati dan kembali untuk makan siang bersama.

Sebelum pergi, Aruna menghampiri Ozian yang masih sibuk mengurus kuda, "Aku ingin masuk hutan, kau di sini jaga yang lainnya. Kau pasti juga sudah merasakan kehadiran mereka. Jadi tangkap mereka untukku." dia langsung pergi tanpa menunggu jawaban Ozian. Dia tidak khawatir, dia mengetahui tingkat kekuatan Ozian.

Ozian hanya bisa memandangi Aruna yang sudah berlari pergi. Dia ingin ikut, tapi apa yang dikatakan Aruna juga benar, dirinya harus menjaga para warga. Dari sejak keluar dari Kota Nuwu, dia sudah merasakan ada yang mengikuti mereka. Dan sekarang Aruna memintanya untuk menangkap mereka, sedikit membuatnya bersemangat, karena dia bisa berlatih.

Aruna sudah tiba di pinggiran hutan, matanya berbinar melihat beberapa pohon yang sangat dikenalinya. Dia berjalan ke bawah pohon, dan benar saja itu adalah jeruk nipis. Ini sangat berguna, tak membuang waktu, dia langsung memetik yang sudah tua, dan hasilnya sangat banyak.

Mata Aruna menyipit melihat jeruk satu keranjang penuh. "Ck ck,, pasti mereka tidak tau jika buah ini sangat berguna. Makanya buahnya masih banyak tak tersentuh."

Berjalan masuk hutan melalui jalan yang terlihat sering dilalui. Aruna memetik banyak tanaman obat, dan juga buah liar. Dia menggunakan tenaga dalam untuk berlari, dia ingin segera sampai di hutan dalam.

Semakin jauh, hutan makin lebat. Tidak ada tanda jika manusia pernah sampai ke situ. Semuanya hanya jejak binatang, Aruna berhenti di sebuah sungai kecil.

"Hmm, pantas saja tidak ada yang berani masuk sampai sini karena ada rajanya. Mari kita lihat, sampai kapan dia akan bersembunyi." Aruna sudah merasakan tatapan dari semak-semak yang seakan sudah siap menerkamnya.

Kress..

"Ah segarnya, apel ini sangat manis. Pasti para bocah itu sangat senang, jika aku bawa pulang untuk mereka." Ternyata ada pohon apel liar yang berbuah lebat di tepi sungai.

Aruna melihat ada pergerakan dari sungai, "Ehh, itu ikan. Tidak sia-sia aku masuk sini. Sudah lama aku tidak makan ikan bakar dengan sambel matah." ucapnya sambil menelan ludah.

Terakhir dia makan ikan, sebelum hari kiamat terjadi, sekitar lima tahun yang lalu. "Aku akan membakarnya nanti malam." suaranya penuh keceriaan, seakan-akan tidak ada bahaya disekitarnya.

Aruna mengambil makanan ikan, melemparkannya ke sungai. Seketika ikan-ikan itu muncul di permukaan untuk makan secara berebut..

"Uhh kalian sangat banyak.." Aruna hanya tinggal menyeroknya menggunakan jaring ikan, lalu memasukkannya ke sebuah box.

Satu ekornya bisa mencapai 2kg, Aruna hanya mengambil yang besar saja, biarkan yang kecil berkembang biak lagi.. Setelah semua box penuh, dimasukkan ke dalam ruang, ikan-ikan itu akan tetap hidup, jadi bisa dimakan kapan saja.

"Heheh panen besar" Aruna sangat puas. "Hmm, aku sudah pergi terlalu lama" Aruna memutuskan untuk pulang, sebelum pergi dia sempat melihat kearah semak-semak itu, padahal dia sudah menunggu sejak tadi, tapi bintang itu tak menghampirinya juga.

Aruna berjalan pergi, barulah dia merasakan jika binatang itu keluar dan berjalan mengikutinya. Aruna berbalik dan melihat dua ekor serigala putih, satu sangat besar dan yang satunya lagi sebesar anjing.

Aruna kembali berjalan, dan dua ekor serigala juga ikut berjalan sampai di pinggiran hutan, Aruna sangat kesel lalu berbalik. "Hais,, lihatkan gara-gara kalian berdua semua hewan kabur, padahal aku bisa menangkapnya tanpa mengeluarkan tenaga."

Geerrrr.

Geeerrrr...

Kedua serigala itu hanya menggeram seolah mengatakan sesuatu. Aruna malah terpana mendengar suaranya, terlihat sangat gagah, tiba-tiba hatinya langsung membaik.

Serigala besar jalan mendekat kearahnya, Aruna tidak takut sama sekali, dia bisa membunuhnya tanpa berkedip jika dia mau, meski level kekuatannya masih terlalu lemah.

Sang serigala juga bingung, baru kali ini ada manusia yang tidak takut melihatnya, Bahkan dia sudah mendekat, tapi tetap saja Aruna terlihat sangat santai..

Geeerrr..

Dia kembali menggeram, dan mengusap kepalanya di kaki Aruna lalu berjalan pergi. Seolah-olah berkata 'ikuti aku'.

Mata Aruna menyipit, dia paham bahasa tubuh serigala itu. Di tahun 3000, bukan lagi kucing atau anjing yang menjadi peliharaan yang lucu, tapi para raja hutan. "Kau ingin aku ikut? Baiklah, maka berlarilah, aku tidak punya banyak waktu lagi."

Seolah paham yang dikatakan Aruna, serigala itu berlari dan Aruna mengikutinya, di belakang, serigala kecil juga berlari. Sekitar sepuluh menit serigala berhenti di bawah pohon besar yang berjejer.

Aruna masih bingung, dia tidak tau apa tujuan serigala itu. Tapi lagi-lagi serigala memintanya untuk berjalan ke balik pohon.

"Waaahhh, kelincinya sangat banyak. Apa bukit kecil itu sarang mereka?" dia bertanya ke pada serigala, tapi dia tidak mendengar jawabanya.

Aruna heran, dia tidak merasakan keberadaan kelinci-kelinci itu saat menggunakan tenaga mentalnya, mungkin ada kekuatan lain yang melindungi bukit itu. Tanpa berlama-lama, Aruna berjalan mendekat, dan memasukkan setengah dari ratusan kelinci itu.----- Panen besar lagi.

Aruna mengusap kepala serigala, "Hmm kau ternyata tau diri juga!" Dia memahami, jika serigala itu merasa bersalah, kerana kehadirannya, semua bintang lari bersembunyi.

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!