Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang dan Barisan Para Mantan
Pagi itu dimulai dengan Nara yang lagi gulung-gulung di kasur sambil pegang HP dengan tangan gemeteran. Sesuai perjanjian kalah main Pump It Up semalam, dia punya tugas suci: menelepon Rian buat bangunin dia.
"Aduh, kenapa gue harus nantang si Robot sih? Dia kan emang jago kalau soal presisi," gerutu Nara sambil ngeliatin jam di HP-nya. Udah jam 06:30 pagi.
Nara narik napas dalem-dalem, lalu mencet tombol panggil. Nggak butuh waktu lama, suara bariton Rian terdengar dari seberang sana.
"Halo?" Suaranya khas banget orang baru bangun tidur—berat, serak, dan entah kenapa kedengeran seksi banget di kuping Nara.
"E-ehem... Pagi, Rian... sa-sayang," ucap Nara sambil tutup muka pakai bantal, suaranya kecil banget kayak semut lagi bisik-bisik.
Hening sejenak di seberang sana. Nara udah mau mati gaya kalau Rian nggak bales.
"Apa, Nara? Nggak denger. Bisa diulang lebih jelas?" balas Rian, kedengeran banget kalau dia lagi nahan tawa.
"Ih! Mas Rian denger kan?! Pokoknya udah ya! Janji terpenuhi! Selamat kerja!" Nara langsung tutup teleponnya tanpa nunggu jawaban. Mukanya udah merah sampe ke telinga.
Nggak lama kemudian, ada chat masuk.
Rian ❤️: "Suaramu manis banget kalau baru bangun. Makasih ya. Jangan lupa sarapan, nanti siang saya jemput buat makan siang bareng di kantor. See you, asisten kesayangan."
Nara melempar HP-nya ke kasur lalu teriak kegirangan. "Aaaaa! Kenapa dia jadi jago banget bikin baper sih?!"
Siang harinya, Nara tampil cantik pakai blouse putih dan celana kulot warna cokelat susu. Dia nunggu di lobi kantor Rian yang megah banget. Begitu Rian turun dari lift bareng beberapa kolega kantornya, semua mata tertuju ke mereka. Rian yang biasanya dingin dan kaku, tiba-tiba senyum lebar pas liat Nara dan langsung ngerangkul pinggangnya di depan umum.
"Yuk, makan siang sekarang?" ajak Rian.
Tapi, pas mereka baru mau jalan ke pintu keluar, langkah mereka terhenti. Seorang wanita tinggi semampai, pakai baju branded dari ujung kaki sampai ujung kepala, berdiri di depan mereka dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya.
"Rian? Long time no see," ucap wanita itu dengan suara yang dibuat manis banget, tapi kerasa ada racunnya.
Rian langsung membeku. Rangkulannya di pinggang Nara sedikit mengencang. "Karin? Ngapain kamu di sini?"
Nara ngerasain ada aura yang nggak enak. Dia ngeliatin wanita bernama Karin itu. Cantik? Banget. Tapi tatapannya ke Nara itu kayak lagi liat debu di bawah sepatu.
"Aku baru balik dari London, Ian. Dan aku pikir kita perlu bicara soal... kelanjutan hubungan kita yang dulu sempat tertunda," kata Karin sambil maju selangkah, seolah Nara itu nggak ada di sana.
Nara ngerasa hatinya kayak dicubit. Hubungan yang tertunda? Mantan terindah? batin Nara. Dia ngerasa tiba-tiba jadi kecil banget di depan Karin yang kelihatan sangat sempurna dan setara sama Rian.
Rian narik napas panjang. Dia balik natap Karin dengan tatapan dingin khas "Pak Robot" yang dulu. "Karin, nggak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah selesai tiga tahun lalu pas kamu mutusin buat pergi tanpa kabar."
"Tapi Ian, aku punya alasan—"
"Kenalin, ini Nara. Pacar saya," potong Rian tegas. Dia ngenalin Nara dengan bangga, bikin Karin langsung ngerutin dahi liat penampilan Nara yang "sederhana" menurutnya.
Karin senyum ngeremehin. "Oh, jadi selera kamu sekarang turun ya, Ian? Dari desainer di London jadi... apa ini? Mahasiswi magang?"
Nara yang tadinya diem aja, tiba-tiba ngerasa emosinya naik. Dia nggak suka diremehin, apalagi di depan pacarnya sendiri. Nara langsung genggam tangan Rian erat-erat, terus dia senyum paling manis ke arah Karin.
"Halo Mbak Karin. Saya Nara, desainer grafis freelance yang lagi sukses-suksesnya. Dan soal selera Mas Rian, mungkin dia bosen sama yang cuma modal 'merk' tapi nggak punya 'hati'. Iya kan, Mas?" Nara ngelirik Rian sambil kedipin mata.
Rian hampir aja ketawa liat keberanian Nara. Dia langsung ngerangkul pundak Nara lebih erat. "Tepat sekali. Yuk Nara, kita pergi. Saya udah laper banget dan nggak mau selera makan saya hilang gara-gara masa lalu yang nggak penting."
Mereka berdua jalan ngelewatin Karin gitu aja. Karin cuma bisa berdiri di sana sambil ngepalin tangannya, mukanya merah karena malu dikatain di depan umum.
Pas udah di dalam mobil, suasana mendadak hening lagi. Nara sebenernya mau marah, mau nanya banyak hal, tapi dia takut ngerusak suasana.
"Nara," panggil Rian sambil nyetir.
"Ya?"
"Makasih ya udah belain saya tadi. Dan maaf... saya nggak tahu kalau dia bakal muncul lagi."
Nara ngehela napas, dia nyenderin kepalanya ke jendela mobil. "Dia cantik banget ya, Mas. Kayaknya dia cocok banget sama Mas yang pinter dan berkelas."
Rian langsung ngerem mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia muter badannya menghadap Nara. "Nara, dengerin saya. Cantik itu relatif, tapi kecocokan itu soal hati. Karin mungkin punya gelar dari London, tapi dia nggak pernah bisa bikin saya ketawa cuma gara-gara wajan gosong. Dia nggak pernah bikin saya pengen jadi 'manusia' lagi."
Rian megang kedua tangan Nara. "Cuma kamu yang bisa bikin saya ngerasa kalau hidup itu bukan cuma soal kerjaan. Jangan pernah ngerasa kurang dari siapapun, oke? Kamu itu... satu-satunya buat saya."
Nara ngerasa matanya berkaca-kaca. Dia langsung meluk Rian erat-erat. "Jangan tinggalin saya buat dia ya, Mas. Saya nggak punya barang branded, saya cuma punya daster buah naga."
Rian ketawa renyah, dia nyium kening Nara lama banget. "Saya lebih suka kamu pakai daster buah naga daripada dia pakai gaun mahal tapi bikin pusing. Janji ya, kita bakal hadapi ini bareng-bareng."
Makan siang itu akhirnya jadi ajang mereka buat saling terbuka. Rian cerita kalau Karin itu emang mantan tunangannya yang ninggalin dia pas Rian lagi di titik terendah kariernya. Itu yang bikin Rian jadi kaku dan dingin, karena dia takut disakiti lagi.
"Sekarang saya paham kenapa Mas jadi robot," bisik Nara sambil makan spageti-nya.
"Tapi sekarang robotnya udah punya baterai cinta dari kamu, jadi nggak bakal konslet lagi," canda Rian.
Tapi di sisi lain kota, Karin lagi nelpon seseorang dengan raut wajah licik. "Cari tahu segalanya tentang cewek bernama Nara itu. Saya nggak bakal biarin Rian jatuh ke tangan cewek murahan kayak dia."