Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalian menumpang dirumahku
"Bibi masuk lebih dulu, aku ada kerjaan mendesak," ucap Elina sambil menghentikan mobilnya tepat di depan paviliun kecil yang biasa ditempati Bi Wati.
"Baik, Non. Makasih ya untuk hari ini," jawab Bi Wati tulus. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya berbinar melihat beberapa paper bag butik ternama yang Elina belikan tanpa banyak kata tanya.
"Sama-sama, Bi," sahut Elina sambil tersenyum tipis.
Bi Wati turun dari mobil, menggenggam beberapa tas belanja yang terasa berat di tangannya. Kakinya melangkah perlahan menuju kamarnya. Sore itu udara terasa sejuk, tapi hatinya terasa hangat—setidaknya sampai ia mendengar suara yang membuat langkahnya terhenti.
"Bagus ya, seharian keluyuran," ucap Amelia dengan nada sinis, berdiri di dekat ruang tengah sambil menatap Bi Wati dari ujung kepala hingga kaki.
Bi Wati menghentikan langkahnya. Tangannya yang memegang paper bag berlogo butik ternama itu sedikit bergetar.
"Maaf, Nyah... Bibi hanya—"
"Hanya apa hah?" Amelia memotong tajam.
Amelia melangkah lebih dekat, tatapannya menusuk. "Enak sekali hidup kamu sekarang. Pergi pagi, pulang sore, bawa belanjaan segembreng. Sementara kami di rumah sampai harus pesan makanan karena kamu tidak ada!"
Belum sempat Bi Wati menjawab, langkah kaki Ares terdengar mendekat dari arah ruang kerja. Ia menatap belanjaan di tangan Bi Wati, alisnya langsung terangkat.
"Ini semua dari Elina?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Iya, Den," jawab Bi Wati pelan, berusaha tetap tenang meski dadanya terasa sesak.
"Lihat, Res!" Amelia kembali berseru. "Untuk pembantu saja dia royal begini. Ke Mama kamu saja perhitungan setengah mati!"
"Masalah buat kalian kalau aku yang bayarin Bi Wati?" suara Elina tiba-tiba terdengar dari belakang mereka, dingin dan tajam.
Ketiganya kompak menoleh. Elina berdiri beberapa langkah dari mereka, wajahnya datar dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.
"Elina, kenapa kamu belanjain Bi Wati sebanyak ini?" ucap Amelia cepat mengganti raut kesalnya menjadi wajah pura-pura lembut. "Dia hanya seorang pembantu, Nak. Sedangkan Mama kamu gak pernah kamu ajak shopping."
Elina menatap malas. Ia tahu betul mertuanya ini sangat pandai berakting.—seolah-olah tidak pernah berkata kasar pada Bi Wati sebelumnya.
"Mama bisa beli apa yang Mama inginkan, kan?Mas Ares setiap bulan juga selalu transfer ke Mama," ucap Elina datar. "Bahkan uang bulanan aku yang diberikan Mas Ares lebih banyak dibandingkan Mama."
Amelia terdiam, napasnya tercekat.
"Elina..." tegur Ares.
"Apa, Mas?" Elina menoleh tajam. "Fakta, kan, yang aku katakan? Jadi kalian gak usah marah kalau aku membelikan sesuatu pada siapa pun, termasuk Bi Wati. Ingat, uang yang aku pakai itu uang aku sendiri."
Amelia mengepalkan tangannya diam-diam. "Elina, ingat, dia hanya seorang pembantu. Dia melupakan pekerjaannya, membuat Mama dan yang lain kelaparan..."
"Jangan bilang Bi Wati hanya seorang pembantu!" potong Elina cepat. "Bi Wati sudah kuanggap Ibu aku sendiri. Soal kelaparan, apa kalian tidak bisa memasak sendiri, hah? Jangan bertingkah seolah-olah kalian ini tidak punya tangan dan kaki!"
Suasana mendadak hening. Suara Elina menggema di lorong rumah, dingin namun penuh tekanan.
"Selama ini Bi Wati yang mengurus rumah ini dari pagi sampai malam, mengurus kalian tanpa mengeluh," lanjut Elina menatap satu per satu wajah mereka. "Sekali saja dia pergi denganku, kalian merasa dunia runtuh?"
Bi Wati menunduk, matanya berkaca-kaca. "Non, Bibi tidak apa-apa. Jangan sampai Non ribut karena Bibi," ucapnya lirih.
Elina menoleh, nada suaranya langsung melunak. "Bibi tidak salah apa pun. Yang salah itu orang-orang yang terbiasa dilayani tapi tidak pernah tahu berterima kasih."
"Elina! Kamu sudah kelewatan pada Mama!" bentak Ares. "Mama hanya mengingatkan Bi Wati pada kewajibannya. Dia digaji untuk bekerja, bukan untuk dimanjakan."
Elina menatap Ares tanpa berkedip. "Digaji untuk bekerja?" ulangnya pelan. "Mas tahu tidak, sejak aku menikah denganmu, satu-satunya orang yang benar mengurus rumah ini cuma Bi Wati. Mama kamu? Papa kamu? Kamu sendiri?" Elina tertawa kecil pahit. "Kalian cuma tahu terima beres."
Ares hendak membalas, tapi Elina melangkah mendekat. Ares refleks mundur setengah langkah.
“Kalau Bi Wati digaji, aku juga berhak memperlakukannya dengan hormat,” lanjut Elina dingin. “Dan satu hal lagi—jangan pernah lagi merendahkan orang yang setia padaku. Itu sama saja merendahkanku.”
Amelia naik pitam. “Berani sekali kamu mengajari kami di rumah ini, Elina! Jangan lupa, kamu itu menantu di sini!”
Elina tersenyum tipis.
“Menantu?” katanya ringan.
“Ya, aku tidak lupa aku menantu di sini. Dan kalian juga jangan lupa… kalian menumpang di rumah aku.”
Amelia tercekat.
“Elina…” Ares mencoba menyela.
Elina menoleh tajam. “Mas, kalau kamu masih mau disebut suamiku, belajar dulu menghargai orang-orang di sekitarmu. Mulai dari Bi Wati.”
Ia menatap Bi Wati. “Bibi, masuk kamar. Simpan belanjaannya. Jangan dengarkan siapa pun.”
Bi Wati mengangguk dengan air mata yang jatuh di pipinya, lalu melangkah pergi.
Begitu Bi Wati menghilang, Elina kembali menatap mereka.
“Dan satu lagi,” ucapnya dingin.
“Rumah ini bukan panti asuhan orang dewasa. Kalau besok Bi Wati libur lagi dan kalian kelaparan… masak sendiri.”
Setelah itu Elina pergi, meninggalkan keheningan.
“Res, bagaimana ini? Elina sudah sangat berubah,” gumam Amelia kesal.
“Aku tahu itu, Mah…”
“Kita tidak bisa begini. Elina sudah terang-terangan menginjak kita,” ucap Amelia penuh dendam. “Res, kamu harus mengalihkan semua aset Elina.”
Ares mengangguk pelan, tangannya mengepal. “Iya, Mah… aku harus segera mengalihkan semuanya.”