Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: RUANG KOSONG YANG BERBICARA
Bulan pertama tanpa Maya terasa seperti berjalan di air setiap langkah berat, dunia terdistorsi, dan napas selalu terengah-engah. Rumah yang dulu penuh dengan gumaman bingung Maya, sekarang sunyi dengan cara yang berbeda. Sunyi yang lebih keras daripada kebisingan apa pun.
Aisyah, yang baru belajar berjalan, sering merangkak ke kamar Maya dan berdiri di depan tempat tidur kosong itu. "Ma?" panggilnya, lalu menoleh padaku dengan wajah bertanya. Aku tidak pernah tahu jawaban yang tepat. Bagaimana menjelaskan kematian pada bayi yang bahkan belum paham kehidupan?
Bima mengambil alih peran yang membuat hatiku sakit: dia sekarang yang membangunkan Kinan untuk sekolah, yang membuatkan sarapan sederhana, yang memastikan Aisyah tidak merangkak ke tempat berbahaya. Di usianya yang baru sepuluh tahun, dia sudah menjadi "ibu kecil".
Suatu pagi, kudapati dia berdiri di depan cermin kamar mandi, mencoba mengikat rambut Kinan yang kusut. Tangannya canggung, tapi tekun.
"Biar Om saja," tawarku.
"Gak usah. Mama dulu selalu iketin rambut Kinan. Adek suka model poni." Bima berkonsentrasi, lidahnya terjulur sedikit. "Harus bisa."
Aku melihat dari pintu, jantung seperti diremas. Seharusnya aku yang mengajari Bima naik sepeda, bukan mengikat rambut adiknya. Seharusnya aku yang mengajarinya soal pertandingan bola, bukan tentang cara menghilangkan noda darah di sprei.
---
Rangga datang seminggu sekali sekarang. Bukan sebagai mantan suami yang menuntut hak, tapi sebagai ayah yang menawarkan dukungan. Dia bawa makanan, mainan untuk anak-anak, dan yang paling berharga kesediaan untuk diam.
Suatu sore, kami duduk di teras sementara anak-anak bermain di halaman.
"Dia... tidak menderita di akhir, kan?" tanya Rangga, suara serak.
"Tidak. Damai."
"Syukur." Dia memandangi Bima yang sedang mendorong Aisyah di ayunan. "Dia kuat sekali. Seperti ibunya."
"Terlalu kuat. Aku khawatir."
"Kenapa?"
"Karena dia tidak pernah menangis. Setelah pemakaman, tidak pernah lagi. Seperti... menyimpan semuanya di dalam."
Rangga mengangguk. "Aku dulu juga begitu. Setelah ayahku meninggal. Dan lihat hasilnya hancur berantakan di kemudian hari."
"Bagaimana membuatnya membuka?"
"Waktu. Dan... mungkin ini." Rangga mengeluarkan amplop dari tas. "Surat dari Maya. Untuk Bima. Dia titip padaku setahun yang lalu, ketika penyakitnya mulai parah. Bilang, 'berikan ketika aku sudah pergi'."
Amplop cokelat, tulisan tangan Maya yang sudah mulai tidak stabil. Namanya Bima tercantum di depan dengan hati kecil.
"Aku tidak tahu harus kapan memberikannya," kata Rangga.
"Sekarang mungkin tepat."
Tapi ketika aku menyerahkan surat itu pada Bima malam itu, reaksinya di luar dugaan.
Dia memandangi amplop itu, lalu meletakkannya di meja tanpa membuka. "Nanti."
"Kenapa?"
"Aku takut."
"Takuti apa?"
"Kalau... kalau membaca surat itu berarti benar-benar mengakui Mama sudah pergi." Matanya berkaca-kaca untuk pertama kalinya sejak lama. "Selama belum baca, rasanya... rasanya Mama masih ada di suatu tempat. Cuma lagi pergi lama."
Aku memeluknya. "Mau kubacakan?"
Dia mengangguk pelan.
Kami duduk di tempat tidur Maya sekarang sudah diganti sprei baru, tapi baunya masih seperti dia. Aku membuka amplop dengan hati-hati.
"Bima sayang,
Jika kamu membaca surat ini, berarti Mama sudah pergi. Maafkan Mama tidak bisa bertahan lebih lama. Maafkan Mama sudah membuatmu menjadi dewasa terlalu cepat.
Tapi dengarkan baik-baik, Nak: Mama bangga padamu. Lebih bangga dari kata-kata bisa ungkapkan. Kamu sudah menjadi kakak terbaik untuk Kinan, menjadi anak terbaik untuk Mama, menjadi penyelamat untuk keluarga kita.
Jangan pernah merasa semua ini bebanmu. Kamu bebas sekarang. Bebas jadi anak-anak. Bebas menangis kalau sedih. Bebas marah kalau kecewa. Bebas... menjadi Bima, bukan 'anak kuat yang harus mengurus semuanya'.
Mama meninggalkan sesuatu untukmu di bawah tempat tidur. Buka lantainya yang ketiga dari dinding. Di sana ada kotak kecil. Isinya... sesuatu yang Mama tahu akan kamu butuhkan suatu hari nanti.
Jaga Kinan. Jaga Aisyah. Tapi jangan lupa jaga dirimu sendiri.
Mama mencintaimu. Selamanya. Meski Mama sudah pergi, cinta Mama tetap. Seperti bintang yang tetap bersinar meski kita tidak melihatnya di siang hari.
Mama."
Bima menangis. Bukan tangisan pelan, tapi isakan yang mengguncang seluruh tubuhnya. Tangisan yang tertahan selama berbulan-bulan. Tangisan anak sepuluh tahun yang kehilangan ibunya, yang dipaksa kuat, yang akhirnya diperbolehkan lemah.
Aku memeluknya erat, membiarkannya menangis sampai habis. Dan di sudut kamar, Kinan berdiri diam, juga menangis, mengerti bahwa inilah yang dibutuhkan kakaknya.
---
Esok harinya, kami membuka lantai seperti petunjuk surat. Dan di sana, benar, ada kotak kayu kecil berukir sederhana.
Di dalamnya: album foto bayi Bima foto-foto yang bahkan tidak kami tahu ada. Maya hamil. Maya menggendong bayi Bima. Foto pertama Bima tersenyum. Dan surat lain.
"Untuk masa depan Bima: ini adalah kamu sebelum dunia menuntutmu menjadi kuat. Ingatlah bahwa kamu pernah menjadi bayi kecil yang hanya butuh pelukan dan susu. Dan itu tidak pernah berubah di dalam, kita semua tetap bayi yang butuh dicintai."
Bima memegang foto-foto itu, air matanya jatuh di kaca foto. "Aku... aku lupa Mama pernah muda seperti ini."
"Kita semua lupa," bisikku.
Di dasar kotak, ada satu benda terakhir: kalung liontin hati perak. Dan catatan kecil: "Untuk perempuan yang akan kamu cintai suatu hari nanti. Berikan padanya, dan katakan bahwa ibumu menyetujui."
Bima memegang liontin itu. "Mama... pikirkan semuanya ya?"
"Selalu. Sampai akhir."
---
Kinan, melihat kakaknya mendapat "hadiah" dari Mama, diam-diam mencari-cari di kamar Maya. Dan dia menemukan sesuatu di dalam buku resep tua surat untuknya.
"Kinan manis,
Mama tahu kamu pencari harta karun. Jadi Mama sembunyikan surat ini di tempat favoritmu dalam buku resep kue coklat kesukaanmu.
Kamu adalah cahaya keluarga kita. Senyumanmu yang membuat hari-hari sulit terasa lebih ringan. Jangan pernah kehilangan itu.
Mama meninggalkan sesuatu untukmu di dalam toples kue di dapur. Yang paling belakang, yang bertuliskan 'Khusus Kinan'.
Teruslah menggambar. Teruslah bernyanyi. Teruslah mencintai dengan bebas. Dan ingat: pelukanmu menyembuhkan lebih banyak luka daripada kamu tahu.
Mama mencintaimu, sayangku. Selamanya."
Kinan berlari ke dapur, menemukan toples bertuliskan namanya. Di dalamnya: set pensil warna profesional (yang selalu dia idamkan), buku sketsa kosong, dan... resep kue coklat tulisan tangan Maya dengan catatan: "Buatlah untuk keluarga ketika mereka sedih. Kue coklatmu akan menyembuhkan, seperti pelukanmu."
Dia menangis sambil tersenyum. "Mama... Mama tahu."
"Tentu saja Mama tahu," kata Bima, memeluk adiknya. "Mama selalu tahu segalanya tentang kita."
---
Untuk Aisyah, tidak ada surat karena Maya sudah terlalu sakit ketika Aisyah lahir. Tapi ada hadiah: album foto Aisyah dari lahir sampai sekarang, dengan tulisan di setiap foto.
"Hari pertama: Aisyah membuka mata. Warna mata seperti ayahnya."
"Bulan ketiga: tersenyum pertama. Dunia menjadi lebih terang."
"Enam bulan: gigi pertama. Akan menggigit segalanya!"
"Satu tahun: berjalan pertama. Menuju dunia yang lebih luas."
Dan di halaman terakhir, tulisan: "Untuk Aisyah, ketika kamu besar: Mama mungkin tidak punya banyak waktu bersamamu. Tapi setiap detik yang kita miliki, Mama perhatikan. Mama ingat. Mama cinta. Kamu adalah keajaiban terakhir Mama. Terima kasih sudah datang."
Aku membaca itu untuk Aisyah, meski dia belum paham. Tapi suatu hari nanti, dia akan baca. Dan tahu bahwa meski ibunya tidak banyak ada, cintanya ada di setiap detail pertumbuhannya.
---
Malam itu, setelah semua "hadiah" dari Maya ditemukan, kami mengadakan semacam upacara kecil. Setiap anak menceritakan memori favorit mereka tentang Mama.
Bima: "Waktu aku demam tinggi, Mama duduk di sampingku sepanjang malam. Tangannya selalu di dahiku. Aku tidur nyenyak karena tahu dia jaga."
Kinan: "Waktu pertama kali masuk TK, aku takut. Mama bikinkan gambar hati di tangan aku pakai spidol. Bilang, 'kalau rindu Mama, lihat hati ini'. Aku lihat sepanjang hari."
Aku: "Waktu kita memutuskan menikah. Dia bilang, 'kita sudah terlambat delapan tahun. Jangan terlambat lagi'. Dan dia tersenyum, senyum yang membuat segalanya masuk akal."
Lalu kami makan kue coklat yang dibuat Kinan dari resep Maya. Dan rasanya... persis seperti dulu. Seperti Maya masih di dapur, bersiul kecil sambil mengaduk adonan.
Di tengah makan, Bima tiba-tiba berkata: "Ruang kosong di meja ini... sekarang tidak terasa kosong lagi."
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena kita membawanya bersama kita. Dalam cerita. Dalam kue. Dalam foto. Dalam... cinta."
Dan benar. Ruang kosong itu masih ada. Tempat tidur kosong. Kursi kosong di meja makan. Tapi sekarang terisi oleh kenangan yang hidup, oleh cinta yang tidak pergi, oleh warisan seorang ibu yang merencanakan semuanya sampai akhir.
---
Tidur malam itu, Kinan bertanya: "Om, apakah surga itu nyata?"
"Aku tidak tahu, Sayang."
"Tapi kalau Mama ada di surga, berarti dia lihat kita kan?"
"Mungkin."
"Kalau gitu, Adek mau buat surga di sini. Biar Mama nggak jauh-jauh."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan terus jadi keluarga. Dengan terus mencintai. Dengan... dengan tidak pernah lupa."
Aku memeluknya. "Kita tidak akan pernah lupa, Kinan. Janji."
Dan di kamar sebelah, Bima sedang menulis surat balasan untuk Maya. Tidak akan pernah dikirim, tapi perlu ditulis.
"Mama,
Aku terima suratmu. Dan hadiahmu. Terima kasih.
Aku janji akan jadi anak-anak. Aku janji akan menangis kalau sedih. Aku janji akan jaga Kinan dan Aisyah, tapi juga jaga diriku.
Tapi Mama harus janji juga: kalau di surga ada taman, tanami bunga untuk kita. Warna-warni. Seperti Kinan suka.
Dan kalau bertemu Tuhan, bilang terima kasih. Karena memberi kami Mama, meski sebentar.
Kami rindu. Tapi kami baik-baik saja. Karena Mama ajari kami bagaimana tetap bertahan.
Selamat tinggal, Mama. Sampai bertemu lagi.
Bima."
Surat itu dia simpan di kotak kayu bersama surat Maya. Dan mungkin, pikirku sambil memandanginya dari pintu, itulah cara terbaik untuk mengatasi kehilangan: tidak melupakan, tapi juga tidak terperangkap dalam kesedihan. Membawa yang pergi bersama kita, sambil terus berjalan.
Karena hidup terus berjalan.
Anak-anak terus tumbuh.
Cinta terus berkembang.
Dan ruang kosong itu...
Ruang kosong itu sekarang bukan tempat yang hampa.
Tapi tempat yang penuh dengan gema.
Gema tawa Maya.
Gema lagunya.
Gema cintanya.
Yang akan terus bergema, sepanjang kami masih bernapas.
Sehingga kematian tidak pernah benar-benar menang.
Karena selama masih ada yang mengingat, yang dikenang tetap hidup.
Dan kami akan mengingat.
Selamanya.