Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: "Penjaga Arwana Laut dan Rute Rahasia di Dasar Laut"
Sebelum matahari mulai muncul dari balik cakrawala, Pak Darmo sudah bangun dan mempersiapkan segala sesuatunya. Dia mengecek peralatan penyelaman yang sudah disiapkan sejak beberapa hari yang lalu—masker snorkel, jaket pelampung, dan ember khusus yang akan digunakan untuk membawa bunga bakung laut. Laras dan Jaka pun segera bangun setelah mendengar suara Pak Darmo yang sedang memeriksa tali pengaman di kapal.
“Perluasan matahari hari ini akan sangat bagus untuk menyelam,” ucap Pak Darmo sambil melihat langit yang masih sedikit bernuansa ungu kebiruan. “Arusnya juga akan lebih tenang sekitar jam 6 pagi, itu waktu terbaik kita masuk ke dasar laut.”
Setelah sarapan sederhana dengan bebek bakar dan nasi hangat yang dibawa dari darat, mereka segera berlayar menuju lokasi yang ditandai pada peta kuno yang ditemukan Jaka. Perjalanan kapal hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, namun suasana di atas kapal terasa semakin tegang seiring dengan kedekatan mereka ke lokasi tujuan. Laras merasakan kalung peraknya kembali bersinar lembut, seolah memberi isyarat bahwa mereka sudah berada di area yang tepat.
“Di sini saja, Nak,” kata Pak Darmo sambil menghentikan dayungnya dan mengikat tali kapal pada batu besar yang terapung di permukaan laut. “Lokasi bunga bakung laut ada tepat di bawah kita, sekitar lima puluh meter ke dalam. Tapi ingat, jangan menyentuh apa-apa selain bunga itu. Di dasar laut ini hidup kelompok arwana laut yang menjadi penjaga tempat itu.”
Jaka yang sudah pernah menyelam beberapa kali sebelum ini mengambil alih untuk memeriksa peralatan penyelaman masing-masing. “Kita akan menyelam berbarengan dan tetap dalam jarak pandang satu sama lain ya,” ucapnya dengan suara tegas. Laras mengangguk, meskipun hatinya sedikit berdebar karena ini adalah pertama kalinya dia menyelam ke dasar laut yang dalam.
Setelah semua siap, mereka secara perlahan turun ke dalam air. Suara ombak dan angin segera hilang digantikan oleh kedamaian yang mendalam di bawah laut. Cahaya matahari mulai menembus permukaan air, menerangi terumbu karang yang indah dan berbagai jenis ikan berwarna-warni yang berenang bebas. Namun seiring dengan mereka semakin menyelam ke dalam, warna laut mulai berubah menjadi biru tua pekat, dan suhu air juga semakin dingin.
Tak lama kemudian, mereka melihatnya—suatu hamparan padang lamun yang indah dengan bunga bakung laut yang tumbuh di tengahnya. Bunga itu memiliki kelopak berwarna putih keemasan dengan tengah berwarna merah anggur, dan setiap kelopaknya bersinar dengan cahaya yang lembut di bawah laut. Namun di sekitar hamparan bunga itu, ada beberapa ekor arwana laut berukuran besar dengan sisik berwarna keemasan yang bersinar kilat di bawah cahaya matahari. Ekor mereka panjang dan bergelombang seperti kain sutra, dan mata mereka tampak tajam saat mengawasi setiap gerakan yang ada di sekitar padang lamun.
Salah satu arwana yang terlihat paling besar mendekati Laras dengan lambat. Hidungnya hampir menyentuh tangan Laras yang ingin meraih bunga bakung laut. Laras merasa seperti ada suara yang berbisik di dalam benaknya—“Hanya mereka yang membawa hati suci dan niat baik yang boleh mengambil bunga ini. Bukankah kamu tahu bahwa bunga ini bukan hanya untuk menghapus kutukan, tapi juga bisa digunakan untuk hal yang jahat jika jatuh ke tangan yang salah?”
Laras segera mengangguk perlahan dan mengangkat kalung peraknya yang sedang bersinar terang. Arwana besar itu melihat kalung tersebut, lalu mengangguk kembali sebelum berenang menjauh bersama kelompok arwana lainnya. Mereka seolah memberi izin untuk mengambil satu tangkai bunga saja.
“Ambil hanya satu ya Nak Laras,” teriak Pak Darmo melalui gerakan tangan, karena suara tidak bisa terdengar jelas di bawah laut. Laras mengangguk dan dengan hati-hati meraih satu tangkai bunga bakung laut yang paling indah di tengah hamparan. Saat jari jemari menyentuh kelopak bunga, cahaya terang menyala sejenak sebelum kembali tenang, dan bunga itu terasa hangat di tangan meskipun berada di dalam air dingin.
Setelah berhasil mengambil bunga, mereka mulai berenang kembali ke atas. Namun saat berada di tengah perjalanan, arus tiba-tiba menjadi kencang dan mulai menarik mereka menjauh dari arah kapal. Jaka yang berada di depan segera menangkap tali pengaman yang terpasang pada batu terapung, lalu menarik Laras dan Pak Darmo agar tidak terseret jauh. Mereka berusaha keras melawan arus, dengan bantuan arwana laut yang secara tiba-tiba muncul kembali dan membantu membimbing mereka ke arah yang benar.
Setelah akhirnya berhasil keluar dari air dan naik ke kapal, mereka langsung duduk berbaring untuk menenangkan napas yang terengah-engah. Bunga bakung laut yang dibawa Laras masih tetap segar dan bersinar lembut di dalam ember yang sudah diisi air laut. Pak Darmo melihat bunga itu dengan wajah penuh kagum.
“Bunga ini sudah tidak muncul selama bertahun-tahun,” ucap Pak Darmo dengan suara pelan. “Nenek moyang kita berkata bahwa bunga bakung laut hanya akan tumbuh jika ada orang yang benar-benar memiliki hati untuk menyelamatkan laut Pasuruan. Kamu memang yang terpilih, Nak Laras.”
Saat matahari mulai naik tinggi ke langit, mereka berlayar kembali ke Pulau Cemara Kecil untuk menggunakan bunga bakung laut pada makam karam. Namun di kejauhan, mereka melihat sebuah kapal kayu lain yang sedang mengikuti jejak kapal mereka. Kapal itu tidak dikenal oleh Pak Darmo, dan bendera yang berkibar di atasnya terlihat asing. Jaka segera mengambil teropong dari kantong kapal dan melihat lebih dekat—dia bisa melihat beberapa orang dengan wajah serius yang sedang mengarahkan kapal mereka dengan cepat ke arah Pulau Cemara Kecil.
“Kita harus cepat, Pak,” ucap Jaka dengan suara tegang. “Ada orang lain yang mengikuti kita, dan sepertinya mereka tahu apa yang kita cari.”
Pak Darmo mengangguk dan segera mengayuh dayungnya lebih cepat. Laras mengpegang erat ember yang berisi bunga bakung laut, sambil merasakan bahwa kalungnya kembali bersinar dengan kuat—seolah memberi peringatan bahwa bahaya sudah mulai mendekat. Di dalam benaknya, suara neneknya seolah berkata, “Kutukan tidak akan mudah dihilangkan. Ada orang yang tidak ingin kebenaran terkuak, karena mereka telah mengambil keuntungan dari kesalahpahaman selama ini…”
Saat mereka tiba di pantai Pulau Cemara Kecil, kapal misterius itu juga sudah mulai menyusul dari kejauhan. Mereka segera berlari menuju lokasi makam karam, dengan bunga bakung laut yang terjaga dengan baik di tangan Laras. Di depan mereka, pilar batu dengan aksara kuno sudah mulai bersinar menyambut kedatangan mereka, namun suara langkah kaki yang berat dari arah hutan juga mulai terdengar—seolah ada orang lain yang sudah sampai di sana sebelum mereka…