NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jejak Karbon Di Atas Sungai

Hawa panas dari ledakan Benteng Kendal masih terasa di punggung Jatmika saat ia dan timnya berlari menembus rapatnya hutan jati. Di belakang mereka, langit malam berubah menjadi jingga pekat. Suara lonceng peringatan dari kota terdengar bersahut-saut, menandakan keadaan darurat militer telah diberlakukan.

"Raden, kita tidak bisa kembali lewat jalur darat biasa," bisik Suro sambil mengatur napasnya yang memburu. "Pasukan berkuda Belanda dari Semarang pasti sudah dikirim untuk menutup semua jalan utama."

Jatmika berhenti sejenak, ia melihat ke arah aliran Sungai Bodri yang mengalir deras di sisi kiri mereka. Dalam otaknya, ia sedang memetakan topografi wilayah tersebut.

"Kita gunakan sungai. Tapi bukan dengan perahu biasa," ucap Jatmika.

Ia mengarahkan timnya menuju sebuah teluk kecil yang tersembunyi, tempat di mana Darman telah menyembunyikan dua buah rakit bambu yang dimodifikasi. Rakit itu tidak memiliki dayung besar, melainkan sebuah Sistem Pedal Kayu yang terhubung ke kincir air kecil di bagian belakang rakit—sebuah prototipe kapal kayuh (pedal boat) yang dirancang Jatmika untuk bergerak senyap melawan atau mengikuti arus tanpa suara kecipak dayung yang mencolok.

"Naik! Tutup rakit dengan daun-daun lebar dan ranting. Kita akan menyamar sebagai tumpukan sampah hutan yang hanyut," perintah Jatmika.

Saat mereka mulai bergerak di atas air, Jatmika melihat ke arah kejauhan. Dari posisi ketinggian di jalan raya pos, terlihat barisan obor yang bergerak sangat cepat. Itu adalah pasukan kavaleri Belanda. Di barisan paling depan, menunggangi kuda hitam yang gagah, Kapten Van De Berg menatap ke arah hutan dengan mata yang seolah bisa menembus kegelapan.

Van De Berg berhenti di tepi sungai. Ia tidak berteriak. Ia tidak memaki. Ia hanya turun dari kudanya dan berlutut, menyentuh tanah yang masih menyisakan jejak sepatu bot lumpur milik para pengikut Jatmika.

"Letnan," suara Van De Berg terdengar sangat tenang, yang justru membuatnya terasa lebih mengerikan. "Siapkan anjing pelacak. Dan kirim pesan ke kapal patroli di muara. Katakan pada mereka untuk memasang jaring rantai di bawah air. Siapa pun yang bisa meledakkan gudang mesiu bawah tanah tidak akan melarikan diri lewat jalan yang mudah ditebak."

Di atas rakit, suasana sangat tegang. Darman dan Suro terus mengayuh pedal kayu dengan kaki mereka, membuat rakit meluncur stabil di permukaan air.

"Jatmika," bisik Darman. "Kenapa kamu terlihat gelisah? Kita sudah jauh dari benteng."

Jatmika menatap aliran air yang berbuih. "Van De Berg bukan orang bodoh, Darman. Dia tahu aku seorang insinyur. Dia akan berpikir seperti aku. Jika aku jadi dia, aku akan menutup muara."

Jatmika segera mengambil tas kecilnya. Di dalamnya terdapat sisa-sisa bahan kimia dari sabotase sebelumnya: serbuk aluminium (hasil kikir dari peralatan dapur Belanda yang ia curi) dan oksida besi. Itu adalah bahan dasar Termit.

"Suro, berikan aku batangan besi penyangga itu," perintah Jatmika.

Ia mulai meracik sesuatu yang baru. Jika Belanda memasang jaring rantai baja di bawah air untuk menghentikan mereka, Jatmika butuh sesuatu yang bisa memotong baja dalam hitungan detik di bawah permukaan air.

"Apa yang kamu buat kali ini? Ledakan lagi?" tanya Suro.

"Bukan ledakan. Tapi panas," jawab Jatmika. "Panas yang sanggup melelehkan gerendel neraka."

Tiba-tiba, dari arah depan, terdengar suara gemericik air yang aneh. Sebuah cahaya lampu badai dari kapal patroli kecil Belanda terlihat menyisir permukaan sungai. Kapal itu tidak bergerak, mereka sedang berlabuh melintang, menutup jalur sungai.

"Berhenti!" bisik Jatmika.

Mereka menepi di bawah rimbunnya pohon bakau yang mulai muncul saat sungai mendekati payau. Jatmika merayap ke depan untuk mengintai. Benar saja, Belanda telah membentangkan rantai besi besar yang diikatkan ke dua sisi pohon kuat di tepi sungai, tenggelam beberapa sentimeter di bawah permukaan air. Rakit mereka akan tersangkut jika nekat lewat.

"Kita terjebak," desis Darman ketakutan. "Anjing pelacak mereka akan sampai di sini dalam hitungan jam lewat jalur darat."

Jatmika mengeluarkan tabung bambu yang sudah berisi campuran Termit-nya. Ia melilitkan sumbu yang dilapisi lilin agar tahan air.

"Aku butuh satu orang untuk berenang bersamaku. Kita harus memasang ini tepat di sambungan rantai utama," ucap Jatmika sambil melepas baju luriknya.

"Aku ikut, Raden," Suro menawarkan diri.

Keduanya terjun ke air yang dingin dan keruh. Dengan sangat hati-hati, mereka berenang di bawah permukaan, menghindari sorotan lampu badai dari kapal patroli yang hanya berjarak lima puluh meter. Jatmika menemukan mata rantai utama. Ia menempelkan tabung Termit-nya, mengikatnya kuat dengan serat nanas, lalu menarik sumbu pemicunya.

Sssssssttttt....

Di bawah air, muncul cahaya putih yang menyilaukan namun tertutup oleh keruhnya lumpur sungai. Reaksi Termit menciptakan suhu lebih dari 2.500°C. Besi rantai itu tidak patah karena ledakan, melainkan meleleh seperti mentega yang terkena pisau panas.

CLANK!

Rantai itu putus dan tenggelam ke dasar sungai. Kapal patroli Belanda bergoyang karena tegangan rantai yang tiba-tiba hilang, tapi para serdadu di atasnya mengira itu hanya karena batang pohon yang hanyut menabrak rantai.

Jatmika dan Suro kembali ke rakit dengan napas terengah-engah.

"Jalan terbuka. Kayuh sekarang! Secepat mungkin!" perintah Jatmika.

Saat rakit mereka melewati kapal patroli dengan penyamaran ranting-ranting, seorang serdadu Belanda menatap ke arah mereka. Jatmika menahan napas, tangannya sudah memegang pisau kecil. Serdadu itu hanya meludah ke air dan kembali memunggungi mereka.

Mereka berhasil lolos ke arah muara yang lebih luas. Namun, Jatmika tahu ini hanya awal. Saat fajar menyingsing nanti, Van De Berg akan menemukan rantai yang meleleh itu. Dan saat itulah sang Kapten akan sadar bahwa Jatmika tidak hanya membawa mesiu, tapi ia membawa Teknologi Logam yang melampaui zamannya.

"Ke mana kita sekarang, Raden?" tanya Suro.

Jatmika melihat ke arah laut lepas yang mulai menampakkan garis fajar. "Ke selatan. Ke wilayah pegunungan kapur. Kita butuh markas permanen yang punya sumber daya mineral. Kita tidak bisa terus berpindah di rawa."

Jatmika menyadari bahwa untuk mengalahkan sebuah kekaisaran, ia tidak bisa hanya menjadi sabotase. Ia harus menjadi sebuah Negara.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!